Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Izin


__ADS_3

Nia segera pergi ke dapur. Beberapa asisten rumah tangga sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Nia dan Reyhan.


"Nyonya kenapa disini?, Apa ada sarapan yang nyonya inginkan?" Tanya seorang pria dengan pakaian khas seorang chef.


"Maaf paman. Boleh pinjam dapurnya sebentar?"Tanya Nia ramah.


"Tapi..."


"Tuan suruh nyonya buat sarapan." Jawab Rani melihat Chef Arjun enggan meminjamkan dapurnya.


"Terimakasih" Ucap Nia sewaktu chef Arjun mundur.


Nia segera mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng, dan membuat nasi goreng dalam jumlah banyak, karena kebetulan ada nasi yang cukup banyak untuk dibuat nasi goreng.


Tanpa Nia sadari, Reyhan sedang memperhatikan Nia melalui CCTV. Reyhan sempat menelan salivanya, melihat keringat yang mengalir menuruni wajah dan leher Nia. Nia benar-benar terlihat cantik dan menarik ketika masak.


Sewaktu Nia masak, Reyhan meminta yang lain keluar dapur, kecuali Rani, karena Reyhan tidak mau ada yang menikmati kecantikan Nia selain dirinya.


"Ok. Done. Itu aku masak banyak, mbak Rani dan yang lainnya sarapan itu aja ya. Aku mau bersih-bersih dulu." Kata Nia lalu segera menuju lantai 2.


Begitu masuk kamar, Nia melihat Reyhan yang masih duduk di atas tempat tidur, mengenakan piyama dan menyandarkan tubuhnya di headboard.


"Mas kok masih pakai piyama? Sarapannya sudah siap. Aku mau mandi dulu."Kata Nia lalu segera menuju walking closet untuk menyiapkan baju yang akan dipakainya, lalu segera ke kamar mandi, tanpa menunggu Reyhan menjawab pertanyaannya, membuat Reyhan hanya bisa menghela nafas melihat tingkah istrinya.


Reyhan baru sempat membaca informasi yang dia minta kepada asistennya, dan Reyhan baru tahu kisah hidup Nia yang membuat Reyhan makin kagum dengan istri kecilnya. Reyhan juga baru tahu kalau Nia adalah anak yang cerdas, dan ternyata beda umur mereka cukup jauh, tapi Nia kelihatan lebih dewasa, tidak seperti perempuan seusianya, walaupun memiliki wajah yang imut seperti anak SMA.


Nia tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi, kurang dari 10 menit, Nia sudah keluar dari kamar mandi menggunakan celana jeans pensil di atas mata kaki berwarna putih, dan kemeja polos berwarna mint lembut.


Nia menyisir rambutnya rapi, menggunakan softlense hitam, kaca mata bulat besar, dan tidak lupa, tanda hitam yang tidak terlalu besar, dan tidak kecil pula menempel di tulang pipi kirinya.


Reyhan yang tidak pernah melihat Nia Versi jelek, jadi agak terkejut waktu lihat Nia berjalan mendekatinya.


"Astagfirullah. Kamu mau pentas teater?" Tanya Reyhan heran.


"Mau kuliah loh mas." Jawab Nia.


"Memang siapa yang izinkan kamu kuliah?" Tanya Reyhan.


"Mas kan udah izinkan semalam. Dan aku juga udah bilang, kalau aku hari ini ada jadwal kuliah." Jawab Nia protes.


"Iya. Itu sebelum kamu dorong saya dari tempat tidur. Kan kamu masih harus tanggung jawab." Kata Reyhan dengan nada suara datar, yang membuat Nia geram dan hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Jangan kesal sama suami. Dosa kamu." Kata Reyhan yang tahu kalau Nia lagi kesal.


"Ya udah, mas mau apa?, tapi izinin aku kuliah ya, kalau tanggungjawab ku udah selesai?" Tanya Nia penuh harap.


"Tergantung. Kalau saya puas, saya izinkan. Kalau tidak, kamu tetap harus tanggungjawab." Kata Reyhan santai.


"Mas Please. Pulang kuliah, nanti aku langsung pulang. Ini hari pertama semester baru." Kata Nia memohon, yang membuat Reyhan luluh, tidak tahan dengan rengekan istri kecilnya.


"Dasar bocah. Ya udah, mas izinkan." Ucap Reyhan yang membuat Nia langsung tersenyum bahagia.


"Mas mau apa?" Tanya Nia dengan suara lembut dan senyum semanis mungkin, walaupun lagi mode cewek culun.


"Saya mau sarapan disini saja. Kamu ambilkan gih." Titah Reyhan pada Nia.

__ADS_1


"Ok bos." Kata Nia lalu segera lari ke dapur, yang membuat beberapa ART yang papasan dengan Nia, heran melihat penampilan Nia yang berbeda sekali.


"Nyonya mau maen teater?" Tanya Sekar yang sedang menyiapkan sarapan Reyhan.


"Iya mbak. Seru tahu main teater gini. Udah beda bangetkan seperti biasanya?" Tanya Nia sambil nyomot kerupuk dan memasukkan ke mulutnya.


"Iya nyonya, beda banget, tapi walau di jelek-jelekin gitu, kok nyonya tetap cantik sih?" Tanya Sekar heran.


"Cantik?" Tanya Nia juga heran


"Iya, nyonya tetap cantik." Kata Sekar lagi.


"Karena mbak Sekar simpan memori sewaktu aku tidak seperti ini." Jawab Nia sambil tersenyum, lalu mengambil nampan yang berisi sarapan Reyhan.


"Biar saya yang bawa nyonya." Kata Sekar yang menyusul Nia.


"Nggak apa. Aku biasa kok bawak sarapan begini kalau Sean lagi ngambek sama maminya." Terang Nia menyebutkan nama Sean, yang membuat wajah Nia tiba-tiba sendu karena kangen dengan Sean, tapi sudah tidak mungkin, karena sekarang status Nia, istri orang.


Nia meletakkan nampan berisi nasi goreng masih dengan wajah sendunya yang tiba-tiba kengen Sean. Kangen kebersamaan mereka dan kejahilan Sean.


"Aku udah boleh pergi kuliah mas?" Tanya Nia sambil menatap Reyhan yang terlihat sibuk dengan gadgetnya.


"Perjanjiannya apa?" Tanya Reyhan masih memandang gadgetnya.


"Iya." kata Nia pasrah,mengingat ia janji kalau Rryhan puas, baru dia diizinkan untuk kuliah.


Nia menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke depan mulut Reyhan. Reyhan segera melahap nasi goreng yang Nia suapkan sambil melihat beberapa laporan dari laptopnya.


Nia menyuapi Reyhan, hingga nasi goreng yang Nia suapkan habis tak bersisa.


Nia mengambil semester pendek, karena ingin kuliahya cepat selesai. Waktu libur kuliah masih ada sekitar sebulan setengah lagi, sehingga Nia bisa mengambil beberapa matakuliah semester pendek.


Semakin hari, Reyhan semakin posesif dan tentu saja itu membuat Nia jadi tidak nyaman. Bahkan mau main dengan teman-temannya saja tidak bisa, karena Reyhan benar-benar membatasi pertemanan Nia.


Nia POV


Sudah sebulan lebih aku menikah dengan mas Reyhan, kami menjalani pernikahan yang aneh. Di luar kamar, kami akan terlihat seperti sepasang suami istri yang romantis dan saling mencintai, sementara di dalam kamar, mas Reyhan akan bersikap cuek.


Aku akui, mas Reyhan adalah laki-laki yang hebat. Karena walau tidur sekamar, tapi dia tidak pernah curi-curi kesempatan untuk mengambil salah satu haknya sebagai suami. Dia pegang janjinya, kalau tidak akan menyentuh atau menggmbil haknya tanpa seijin aku.


"Mas, minggu depan ada acara penyambutan mahasiswa baru. Aku jadi panitia acara yang udah ditunjuk dari sebelum kita menikah. bolehkan aku berpartisipasi?" tanya ku dengan memasang senyum semanis gula, biar diabetes yang mandang, eh janganlah. Kasihan nanti suami aku kalau diabetes.


"Hmm" Jawab mas Reyhan yang masih memandang laptopnya.


"Ck. Kebiasaan mas ih. Aku nggak ngerti loh bahasa hmm?" Kata ku bingung.


"Iya" Jawabnya masih tidak lepas dari laptopnya.


"Alhamdulillah. Makasih ya mas. Wah pasti seru nih, kamping di alam terbuka." Ucapku bahagia lalu bermaksud meninggalkan mas Reyhan yang sepertinya sedang sibuk.


"Tunggu. Kamu bilang apa barusan?" Tanya mas Reyhan yang langsung menutup laptopnya dan memandang ku dengan tatapan setajam siluet.


"Nia bego" rutuk ku pada diri ku sendiri yang keceplosan,karena sangking senangnya ketika mas Reyhan memberikan izin.


"Kata yang mana mas?" Kata ku pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Mas Reyhan yang paling tidak suka bertele-tele langsung memangil mbak Rani melalui handphonenya yang membuat aku jadi lemas seketika, membayangkan izin ku jadi panitia untuk ikut kamping akan sirna. Hiks...Hiks...


"Ada acara apa untuk mahasiswa baru?" tanya mas Reyhan begitu mbak Rani datang.


"Mereka akan ngadain kamping selama tiga hari di Desa G, dekat pinggir sungai S tuan." Jawab mbak Rani yang membuat aku merasa nyawa ku terbang melayang.


"Tidak saya izinkan" Kata mas Reyhan ketika mendengar penjelasan mbak Rani.


"Tapi mas sudah jawab iya." kataku cepat, berusaha meyakinkan mas Reyhan.


"Karena saya kira acara nya diadakan di kampus seperti biasa." Jawab mas Reyhan sambil meminta mbak Rani pergi, hanya denga kode lirikan mata.


"Hebat sekali cara komunikasi atasan dan bawahan satu ini" pikir ku, yang malah kagum dengan gaya komunikasi mbak Rani dan mas Reyhan.


"Mas please. Aku nungguin acara iniloh. Karena konsep kegiatan aku yang buat. Kan nggak lucu, pengkonsep kegiatan malah tidak ada." Jelas ku panjang kali lebar, dengan suara yang aku lembutin, lebih lembut dari pada bolu gulung yang telornya 12.


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Mas please..." pujuk ku sambil memegang tangan mas Reyhan agar mau mengizinkan ku.


"No" Jawabnya sambil mengibaskan tanganku pelan, yang membuat aku jadi kesal dan memutuskan keluar dari kamar dan sedikit membanting pintu agar mas Reyhan tahu kalau aku lagi kesal.


Walau baru sebulanan aku menikah dengan mas reyhan, aku sudah hapal karakter dan kebiasaannya yang absurd.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sudah dua hari aku diamin mas Reyhan karena dia tidak mengizinkan aku untuk ikut camping. Menyebalkan sekali. Walaupun kesal, aku tetap harus masak sarapan atau makan malam untuk mas Reyhan, karena kalau siang biasanya mas Reyhan akan makan di luar.


"Saya nggak mau pakai dasi yang ini." Katanya yang sedang komplain dengan dasi yang sudah aku siapkan. Tanpa berbicara, aku segera mengganti dasi mas Reyhan dengan dasi warna lain.


"Nggak mau ini." Katanya lagi.


"Saya nggak mau pakai yang ini." Tolaknya lagi yang membuat aku kesal karena sudah 5 kali bolak balek, akhirnya aku mengangkat kotak dasi ke hadapan mas Reyhan, tapi dia malah diam saja.


"Mas pilih sendiri" kata ku akhirnya setelah mendiamkan mas reyhan selama dua hari.


"Kamu pasangkan saya dasi yang ini." katanya sambil menyerahkan dasi yang awal sudah aku persiapkan.


Argh... kesel nggak tuh. Rasa pengen aku krauk wajah tampannya yang selalu datar tanpa senyum. Dasi itu kan sudah aku siapin dari tadi Sarkonah, kenapa ujung-ujungnya itu juga yang dipakai.


Dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun, akhirnya aku membantu mas Reyhan menggunakan dasi, bahkan menariknya agak sedikit ketat, hingga matanya melotot marah.


"Kamu mau jadi janda?, mau bunuh saya?" Katanya sambil sedikit melonggarkan dasinya, tapi aku hanys diam saja.


"Rasain kamu mas, emang enak kecekik." Kataku dalam hati.


"Saya izinkan kamu kamping, tanpa bantahan, dengan syarat Rani dan Johan harus ikut."


"Serius mas?. Terimakasih." Kata ku bahagia dan reflek memeluk mas Reyhan sangking senangnya.


"Ehem" Dehemnya yang membuat aku sadar, kalau aku sedang memeluk mas Reyhan, dan buru-buru melepaskan pelukan ku.


"Bisa kusut pakain saya." katanya sambil merapikan pakaiannya.


"Dasar mr perfeksionis." cibir ku di sebalik tubuh mas Reyhan yang membelakangi ku.

__ADS_1


__ADS_2