
Hari ini Nia mulai magang di perusahaan yang sudah di tentukan dari kampus. Seperti biasa, untuk kesan pertama, orang-orang akan selalu perhatian dengan yang kelihatan cantik. Karena Dian selalu memperhatikan penampilannya, jadinya Dian selalu menjadi pusat perhatian.
"Anak magang, tolong buatin saya kopi ya? Gulanya dua sendok, kopinya satu sendok. Pakai cangkir kopi, trus buatnya pakai sendok teh." Kata salah satu karyawan yang bernama Nadine sambil menunjuk Nia.
"Dian, temanin saya ke lapangan ya? Kita cek buat persiapan pameran." Kata Reno mengajak Dian pergi.
"Nggak apa-apa Ni?" Tanya Dian tidak enak.
"Its ok." Jawab Nia, lalu segera menuju pantry.
Selama jam magang, Nia lebih sering melakukan hal-hal yang tidak begitu penting, tapi memang dasarnya Nia cuek, dia nggak terlalu perduli.
"Ni, kamu pindah ke divisi aku aja. Bantuin aku." Kata Oget sewaktu mereka makan siang bertiga di kantin kantor.
"Aduh, baru juga sehari magang, dah minta pindah aja. Ntar nilai aku bermasalah. Aku nggak mau. Akhir tahun ini aku sudah harus wisuda."
"Bukannya tahun depan lagi baru wisuda?" Tanya Dian bingung.
"Aku ambil semester pendek setiap libur, makanya mata kuliah semester atas, aku udah selesaikan." Jawab Nia sambil nyengir.
"What? Kamu kok nggak bilang-bilang ambil semester pendek?" Tanya Dian.
"Kan kalian setiap habis ujian pembicaraannya liburan. Iya kali, aku ganggu liburan kalian dengan ngajakin ambil SP." Kata Nia sambil memasukkan dimsum ke mulutnya.
"Jadi kita nggak wisuda sama-sama nih. Nggak seru. Padahal aku kan mau wisuda sama calon istri. Ntar pas wisuda aku bawa penghulu, soalnya kan kamu udah dandan cantik." Kata Oget sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nia, tanda jahilnya kumat, yang langsung di geplak sama Nia.
"Sakit Nia. KDRT kamu. Aku laporin ke komnas perlindungan pria tampan." Rajuk Oget yang membuat Nia tertawa melihat tingkah absurd Oget, yang justru menyebabkan mereka jadi pusat perhatian, karena walaupun konyol, Oget adalah pria yang tampan.
"Komnas pria tampan dari mana? Beneran ada?" Tanya Dian lugu, yang membuat Nia semakin tertawa, bahkan mulai mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
"Kebiasaan nih." Kata Oget sambil menyeka air mata Nia, yang membuat Nia reflek menjauh. Untung nggak ada Rani. Kalau ada, bisa ngamuk Reyhan lihat ada cowok yang menyentuh wajah Nia.
"Oget jangan sentuh orang sembarangan dong." Protes Nia.
"Sembarangan gimana. Kan aku nyentuh calon istri aku, ibu dari anak-anak aku nanti." Kata Oget lagi sambil senyum-senyum membayangkan dia akan menikah dengan Nia.
"Hel to the lo. Hallo... tunangan kamu mau dikemanain?." Kata Nia yang membuat senyum Oget langsung hilang.
"Ish, nggak asik kamu. Buat bad mood aja." Kata Oget, yang memang tidak suka kalau ada yang menyebutkan tunangannya.
"Di, sudah siap makan siangnya?" Tanya salah satu karyawan cowok yang ada di divisi tempat Nia dan Dian magang.
"Sudah pak." Jawab Dian sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kamu bantu saya buat rancang event ya? Ayok." Ajak karyawan itu.
"Iya pak. Guys aku duluan ya." Kata Dian agak bangga, karena dia selalu di ajak melakukan kegiatan penting padahal baru sehari magang.
Sudah sebulan lebih mereka magang, di perusahaan distributor terbesar berbagai macam produk yang ada di negara I.
__ADS_1
Dian selalu saja mendapatkan perlakuan istimewa karena wajahnya yang cantik, sementara Nia lebih sering melakukan hal remeh.
"Ni, buntu ide nih. Bantu dong." Kata Dian sewaktu bertemu Nia yang baru selesai mengarsipkan dokumen di ruang arsip.
"Produknya apa?" Tanya Nia.
"Minuman kesehatan kekinian." Jawab Dian.
"Ntar aku jelasin di WA." Jawab Nia.
"Jelasin langsung aja Ni. Aku paham kok." Desak Dian.
Lalu Nia menjelaskan secara garis besar ide event kegiatan untuk memperkenalkan produk baru yang akan di distribusikan.
"Paham?" Tanya Nia
"Sedikit." Kata Dian sambil nyengir, karena walaupun cantik, Dian agak sedikit lambat mencerna perintah. Ia selalu tertolong karena memang wajah dan penampilannya yang memukau.
"Sudah aku duga. Ya sudah, aku WA aja ntar pas jam istirahat. Ini mau antar dokumen yang diminta mbak Nita." Kata Nia lalu meninggalkan Dian.
Selama kerja hanya Nita yang memperlakukan Nia dengan baik. Meminta tolong dengan baik. Mengajak Nia membuat proyeksi pengadaan event dengan ide yang bagus, tapi selalu diakui jadi ide leader groupnya Nita.
"Mbak. Kok mau sih idenya di akui jadi punya pak Nandar? Kan mbak yang ngerjakan?" Tanya Nia karena selama Nia magang, sudah dua kali Nia melihat pekerjaan yang dilakukan Nita di akui oleh team leadernya.
"Kan mbak bawahan, jadi ya mbak bantu teamleadernya mbak, biar team ini tetap ada. Karena team disini ada berdasarkan prestasi. Kasian teman-teman yang lain kalau mbak egois. Soalnya mereka semua punya keluarga yang membutuhkan banyak uang." Terang Nita yang membuat Nia jadi terharu.
"Mbak baik banget." Kata Nia sambil memeluk Nita dengan air mata yang sudah mengelir deras dari kedua matanya.
"Ni, mata kamu?" Tanya Nita heran karena melihat softlense hitam Nia bergeser karena habis menangis, yang membuat Nia cepat-cepat mengerjapkan matanya, agar softlensenya kembali bergeser.
Nita menangkup wajah Nia dengan kedua tangannya, melihat mata Nia yang masih belum tertutup sempurna dengan softlense.
"Mata kamu..."
"Mbak jangan bilang siapa-siapa ya,? Nggak ada yang tahu, kecuali keluarga terdekat aku." Kata Nia sambil tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Kamu bule?" Tanya Nita heran.
"Nggak." Jawab Nia sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus mata kamu kok hijau? kamu keturunan Celtic (Jerman)?" Tanya Nita heran.
"Nggak tahu juga, kalau papa sih jelas keturunan A dan I, tapi ibuk yang nggak tahu keturunan Celtic atau nggak. Karena ibuk dari bayi di panti asuhan." Terang Nia.
"Kamu ini cantik banget pasti kalau nggak pakai softlense sama itu, maaf, tanda lahir lumayan gede di wajah. Nggak coba kamu operasi? Mbak yakin kamu pasti cantik banget." Kata Nita.
"Nggak ah. Gini aja seru. Jadi orang cantik nggak enak. Banyak godaannya." Kata Nia sambil tertawa.
Hari ini setiap team leader akan mempresentasikan ide event besar yang akan mereka lakukan di awal tahun depan.
__ADS_1
Nia dan Dian berada di dua team yang berbeda. Di bagian peencanaan ada 4 team yang biasanya bergantian mengadakan event buat penjualan. Team tempat Nia adalah team yang terakhir presentasi.
Sewaktu team tempat Dian magang presentasi, mereka mendapat pujian karena ide yang disampaikan sangat menarik. Bahkan teamleadernya mengatakan kalau itu ide Dian, dan Dian adalah orang yang sangat jenius, meebuat Dian jadi tersipu bangga di puji oleh teamleadernya.
Teamleader Nita dan Nia tidak mendapat pujian, karena secara ide, yang akan di ajukan menarik, tetapi untuk proyeksi budget dan target market ada yang tidak sesuai.
"Mbak, bukannya proyeksi budget kita kemaren nggak seperti itu? Aku masih ingat setiap detail dan angkanya. Itu beda banget." Kata Nia yang berbisik kepada Nita.
"Iya sih, tapikan biasanya proyeksi itu memang tidak akan diterima mentah-mentah, pasti ada revisi." Terang Nita.
"Ini sebenarnya ide dan kerjaan Nita pak. Saya kasihan kalau Nita tidak punya prestasi, makanya saya ajukan proposal event Nita." Kata Pak Nandar yang merupakan teamleader Nita.
"Loh, Kok jadi mbak yang disalahkan?" Tanya Nia masih dengan suara pelan.
"Sudah biasa seperti itu." Kata Nita dengan wajah sedih.
"Mbak protes dong." Kata Nia geram.
"Sudahlah. Mbak malas kalau harus berdebat dan ribut." Kata Nita lagi.
"Ya sudah, karena Nita tidak pernah memiliki prestasi, kamu saya pindahkan ke bagian marketing." Kata Pak Yoga yang merupakan manager perencanaan, yang membuat Nita sedikit terkejut, karena dia paling tidak bisa jadi staff marketing, karena gaji yang diterima tidak begitu banyak kalau tidak mencapai target.
"Maaf pak. Tidak bisa seperti itu." Protes Nia yang membuat semua yang berada di ruang rapat agak terkejut, karena berani-beraninya anak magang berbicara.
"Kamu ! Tidak punya etika. Kamu itu orang luar, anak magang yang tidak punya hak untuk berbicara disini." Kata pak Nandar marah.
"Maaf pak, saya tahu betul bagaimana mbak Nita membuat proposal event itu, dan proyeksi biayanya tidak seperti itu." Terang Nia dengan wajah seriusnya.
"Tau apa kamu!" Bentak pak Nandar lagi.
"Kalau bapak pimpinan yang baik, bapak tidak akan menjudge sesuatu begitu saja tanpa menganalisanya terlebih dahulu. Beri saya kesempatan untuk menuliskan ulang proyeksi biayanya. Saya sangat ingat betul. Lagian pasca event juga bukan seperti itu rencananya, nanti mbak Nita yang jelaskan. Apakah bapak bisa menjadi pemimpin yang bijak?" Tanya Nia.
"Kamu.."
"Sudah pak Nandar, coba kita lihat dan dengarkan dulu." kata pak Yoga menenangkan pak Nandar.
Nia mengambil spidol dan segera menulis proyeksi biaya yang memang dia hapal betul, karena Nia juga membantu Nita untuk membuat proyeksi biaya.
Kurang dari 10 menit Nia sudah selesai menuliskan proyeksi biayanya secara detail, bahkan dengan catatan tambahan.
Semua yang hadir dalam ruang rapat kagum melihat hasil yang Nia tulis, kecuali pak Nandar, yang tidak suka karena sebenarnya dia yang merubah agar Nita dipindahkan sehingga, keponakannya yang dibagian umum dapat dimasukkan ke teamnya.
"Biar bapak yakin kalau ini mbak Nita yang buat, izinkan mbak Nita yang menjelaskan. Karena kalau saya yang jelaskan, pasti tidak ada yang percaya kalau ini pekerjaan mbak Nita." Terang Nia.
"Nita silahkan" Kata pak Yoga.
"Terimakasih pak." Kata Nita lalu mulai menjelaskan detail proyeksi biaya serta langkah setelah event yang akan dilakukan.
"Wah.. ternyata kamu ini memiliki bakat terpendam. Kenapa selama ini tidak pernah memberi ide?" Tanya pak Yoga.
__ADS_1
"Maaf pak, baru dapat inspirasi akhir-akhir ini setelah dibantu Nia." Kata Nita yang tidak mau menyampaikan kebusukan teamleadernya.
"Wah... anak magang keren kamu. Nanti tamat kuliah, langsung disini saja. Nggak usah pakai tahapan percobaan." Kata pak Yoga sambil tertawa yang membuat suasana yang tadinya sedikit tegang menjadi mencair.