
"Lo mau bawa Om Bian kemana?" Tanya Sean sambil mengikuti Nia.
"Gue mau bawa papa ke salah satu rumah sakit yang ada di negara J." Jawab Nia
"Lo keren banget sekarang. Udah pandai galak." Kata Sean.
"Lah dari dulu juga gue galak. Lupa lo, yang tukang labrak cewek-cewek lo kalau mau putus." Kata Nia.
"Maksud gue galak ke keluarga lo. Biasanya lo ngalah mulu." Kata Sean lagi.
"Itu karena aku masih menghargai semua nasehat ibuk. Ibuk selalu bilang untuk mengalah sama keluarga baru papa." Jelas Nia.
"Sekarang lo udah nggak ngehargai tante Lily?" Tanya Sean heran.
"Karena mereka sudah membahayakan satu-satunya orang tua yang gue miliki." Kata Nia lagi.
"Maksud lo?" Tanya Sean heran.
"Lo udah seperti detektif aja, nanya mulu. Bantuin gue napa." Protes Nia karena Sean banyak tanya.
"Iya gue bantuin lo. Apasih yang nggak buat Michin gue." Kata Sean dengab tingkah tengilnya.
"Ok, sekarang lo bantu gue, lacak keberadaan bang Erik, asisten papa. Soalnya tidak lama setelah papa sakit, bang Erik menghilang. Bang Erik sempat ngirim email penting ke gue, tapi gue nggak bisa bilang isinyanapa sama elo. Intinya lo bantu gue cari keberadaan bang Erik." Jelas Nia.
"Siap. Gue bantu lo. Terus lo ke negara J sama semuanya?" Tanya Sean.
"Twin untuk sementara gue tinggal dengan Eis dan buk Des, karena gue nggak lama. Nanti ibuk yang akan urus papa." Jelas Nia.
"Tante Jasmine?" Tanya Sean.
"Yup, ibuk yang akan urus dan memantau perkembangan papa. Terima kasih, karena lo masih mau bantuin gue."Kata Nia sambil tersenyum.
__ADS_1
Untung saja Nia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dengan tulus, jadi walaupun Nia menghadapi masalah yang cukup berat, tapi Nia merasa tidak sendirian untuk menghadapinya.
Sebelum berangkat, Nia sudah memastikan kalau twin akan baik-baik saja dengan Eis dan buk Des, karena bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang selalu bersama twin ketika masih dalam kandungan Nia.
Dengan menggunakan ambulans rumah sakit, Nia segera menuju ke Bandara yang sudah di tunggu oleh Jasmine, untuk melakukan penerbangan ke negara J.
Elsa PoV
Argh... menyebalkan sekali, bagaimana mungkin Nia bisa kembali lagi. Aku kira dia akan menghilang selamanya. Setelah bersusah payah aku membuat Nia bercerai dari mas Rey, agar aku menjadi satu-satunya istri mas Rey.
Segala macam cara aku lakukan untuk membuat mereka berpisah, termasuk merekayasa penyakit yang aku derita. Banyak hal yang aku korbankan, termasuk menghilangkan rambut ku, sebagai bentuk efek samping dari kemoterapi dan menggugurkan anak yang tidak aku harapkan keberadaannya, karena tergoda dengan salah satu rekan model ku sewaktu di luar negeri.
Mami juga berusaha berangsur-angsur mengalihkan harta yang dimiliki papi atas nama ku, menurutku sih nggak perlu, sampai akhirnya aku tahu sebuah kenyataan kalau aku bukanlah anak kandung papi.
Aku sangat syok begitu mengetahui kalau aku bukan anak kandung papi, padahal aku sangat menyayangi papi, karena dari aku mengenal orang, aku tahunya papi adalah papi ku. Bahkan papi lebih sayang aku dari pada Nia, tapi kenyataan aku bukan anak papi benar-benar membuat aku terpukul untuk beberapa saat.
"Jangan bodoh Els. Mami perjuangkan semua ini buat kamu. Jangan kamu sia-siakan. Kita harus mengambil alih semua harta papi kamu. Kamu nggak mau kan jatuh miskin?" Tanya mami yang hanya bisa aku jawab dengan gelengan kepala, karena aku tidak mau hidup miskin.
"Jadi kamu harus bantu mami. Kita buat papi kamu terkena efek serangan jantung secara perlahan. Bantu mami kasi obat ini ke papi kamu." Kata mami sambil menyerahkan sebotol obat yang aku tidak tahu itu obat apa.
Papi yang terus berusaha mencari Nia membuat aku semakin kesal, hingga akhirnya aku menuruti keinginan mami, untuk membuat papi seperti efek terkena seranga jantung.
Akhirnya usaha ku dan mami berhasil, papi koma, dan dokter mendiaknosa kalau papi terkena serangan jantung yang kedua, setelah sebelumnya pernah juga dan juga membuat papi tidak sadar.
Walaupun papi bukanlah ayah biologis ku, tapi aku tetap tidak ingin papi meninggal, karena aku sayang dengan papi.
Selama papi koma, mami berusaha mengalihkan beberapa aset berharga dan perushaan papi, tetapi selalu dihalangi oleh Erik, asisten pribadi papi, yang membuat mami memutuskan untuk menyuruh orang bayarannya melenyapkan Erik.
Mami berhasil membuat Erik lenyap, dan mengalihkan semua harta papi atas nama ku, sebagai ahli waris papi.
Aku tidak menyangka kalau kepergian mas Rey ke negara D, akan mempertemukannya dengan Nia, bahkan membawa Nia kembali ke negara I.
__ADS_1
Aku sempat menghalangi Nia untuk tidak bertemu papi, dan bahkan pura-pura kalau Nia mendorongku dengan keras, sewaktu mas Reyhan datang.
Mas Reyhan sempat memarahi Nia karena khawatir melihat aku yang di dorong Nia. Tidak apalah sakit sedikit, yang penting mas Rey lebih bela aku dibanding Nia.
Karena tidak ingin terlihat jahat, terpaksa aku membiarkan Nia menjenguk papi.
"Els, kita harus bicara." Kata Mas Reyhan dengan wajah dinginnya.
Mati aku. Mas Reyhan pasti sudah tahu soal aku yang mengurus perceraianya dengan Nia. Aku harus mencari cara agar mas Rey tidak bisa menanyakan masalah perceraian itu, sampai aku menemukan jawaban yang tepat.
"Els masih harus jagain papi mas." Kataku beralasan, karena aku tahu betul kalau mas Rey akan marah besar, tapi akan ditahannya karena kami sedang berada di rumah sakit.
Walaupun aku istri mas Rey, tapi kami suami istri hanya status saja. Mas Rey tidak pernah sedikitpun menyentuh ku, dengan alasan agar aku fokus untuk penyembuhan pemyakit ku. Padahal aku tahu betul seperti apa mas Rey, dia hanya akan setia sama satu orang jika dia sudah benar-benar mencintai perempuan itu.
Dulu sewaktu masih pacaran, mas Rey benar-bear cinta dan menjaga ku dengan sangat baik, tidak pernah ada kontak fisik secara langsung dengan ku, hanya sebatas aku menggandeng lengannya ketika kami berjalan.
Tapi karena kebodohan yang aku lakukan demi mengejar karier modelling ku, aku meninggalkan mas Rey dihari pernikahan kami. Aku kira mas Rey akan membatalkan pernikahannya dan menungguku, karena mas Rey sangat mencintaiku. Kenyataannya mas Rey menikah dengan Nia yang merupakan adik tiri ku dengan alasan ingin menyelamatkan nama baik kedua keluarga.
Aku saja butuh waktu yang sangat lama untuk membuat mas Rey jatuh cinta, tapi kenapa Nia bisa sebentar saja membuat mas Rey jatuh cinta.
Merasa kalah saing dari Nia, akhirnya aku memutuskan pulang, dan kembali merebut mas Rey, karena dari awal mas Reyhan adalah milik ku.
"Kamu kenapa Els?, mami kenapa?" Tanya mas Rey ketika sampai rumah sakit.
"Nia bawa papi pergi." Kata ku sambil memeluk mas Rey, mencari simpatinya.
"Pergi?!, maksud kamu?" Tanya mas Rey mulai emosi.
"Iya anak sial itu bawa papi pergi." Kata ku kesal.
"Jaga ucapan kamu Els." Kata Mas Rey lagi sambil menahan geram, karena dia paling tidak suka ketika aku menghina Nia.
__ADS_1
"Itu kenyataan mas. Dia itu pembawa sial. Hidup aku kacau kalau sudah ada dia." Kata ku nggak kalah kesal, memang mas Rey saja yang bisa kesal?, aku juga bisa, lebih malah.
"Berarti kamu sudah tidak sibuk urusin papi. Ada yang mau mas tanyakan. Kita pulang untuk bicara." Kata Reyhan sambil menarik tangan Elsa karena tidak sabar sebulan lebih harus menahan rasa penasaran, bagaimana Elsa bisa mengurus perceraiannya, walaupun Alex sudah menjelaskan, tapi Reyhan mau dengar penjelasan langsung dari Elsa.