Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Kembali


__ADS_3

"Its ok. Lagian aku sudah menduganya sejak lama. Tapi yah... kamu tahulah ego laki-laki ku menolak menerima fakta bahwa kamu sudah menikah. Lagian aku juga sebenarnya tu sudah menikah dari sejak kecil. Tuh istri aku nyusulin." Kata Oget sambil menunjuk seorang wanita cantik dengan wajah khas negara J yang berjalan ke arah mereka.


"Hai." Sapanya ramah kepada Nia sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh Nia.


"Perkenalkan nama saya Harumako Hito, kamu panggil aku Haru aja. Senang bisa bertemu dengan kamu langsung seperti ini." Kata Haru dengan wajah senang dan justru membuat Nia heran.


"Odie talked all about you." Kata Haru menjawab keheranan Nia.


"Oh.. Nice to meet you." Kata Nia lalu memeluk Haru senang.


"Ini ada babynya?" Tanya Haru karena merasa ada yang mengganjal sewaktu memeluk Nia.


"Yup. Kok bahasa kamu lancar banget?" Tanya Nia heran.


"My husband teach me." Kata Haru senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Nia. Perempuan yang sangat dikagumi suaminya, bahkan dicintai suaminya, tapi anehnya, Haru tidak marah dengan Nia, justru sangat senang bertemu dengan Nia.


Mereka berlima mengobrol tentang banyak hal. Alvaro dan Oget bahagia melihat Nia bisa akrab dan bahagia ketika berbicara dengan Harumako dan Eis.


Setelah beberapa jam mengobrol, mereka akhirnya berpisah. Harumako meminta Nia untuk ikut ke negaranya, karena Oget juga akan kembali ke negara mereka. Karena Oget harus menghentikan petualangannya ketika kuliahnya selesai.


"Selamat sore Non." sapa Rani sambil tersenyum yang membuat Nia sedikit terkejut, tapi dia bisa menduganya kalau hal ini akan terjadi.


"Tuan Rey meminta anda untuk pulang." Kata Rani ramah.


"Nggak bisa mbak. Mas Rey dan aku tuh udah pisah. Mas Rey sudah ucapin talak." Kata Nia yang tiba-tiba merasa sedih ketika mengingat saat Rey mengucapkan kata talak.


"Maaf non, kita sudah cari informasi. Syarat talaknya tidak terpenuhi, lagian secara negara nona masih istri tuan Rey, karena tuan belum mengurusnya." Jelas Rani.


"Nggak, pokoknya aku nggak mau balik ke rumah mas Rey." Kata Nia yang segera berjalan meninggalkan Rani tapi ditahan oleh Rani.


"Mbak please." Kata Nia sambil berusaha melepaskan pegangan Rani yang mulai kuat.


"Lepaskan Sasa." Kata Alvaro yang mulai marah, membuat beberapa orang bodyguard yang dibawa Rani langsung menghalangi Alvaro, dan mereka menjadi pusat perhatian.


"Aa' bawa mami dan Eis pulang dulu, biar aku selesaikan urusan dengan mbak Rani. Mereka nggak akan jahatin aku." Kata Nia yang berusaha menenangkan situasi.


"Tapi Sa..."


"A' Please." Potong Nia cepat karena tidak mau berlama-lama dalam kondisi menjadi pusat perhatian.


"Ok. Kamu hubungi Aa' secepatnya." Kata Alvaro lalu segera mengajak Eis dan maminya pulang.


Nia terpaksa mengikuti Rani karena Nia tahu betul bagaimana Reyhan. Jika Nia tidak ikut, maka Reyhan akan menghukum Rani dan teman-temannya.


Sepanjang perjalanan Nia dan Rani hanya diam saja, walaupun dulu mereka sempat dekat, tapi situasi sekarang membuat mereka menjadi canggung.


Nia PoV

__ADS_1


Begitu sampai rumah mas Rey, rumah tempat aku tinggal kurang lebih tiga tahun bersama mas Rey, membuat aku mengingat kembali ketika mas Rey mengucapkan kata yang membuat kami harus berakhir sebagai suami istri.


"Aku di kamar tamu aja mbak." Kata ku yang menuju kamar tamu.


"Tapi non..."


"Ini batas toleransi aku. Jangan paksa aku lagi mbak. Please." Kata ku yang sengaja memperlihatkan wajah senduku agar mbak Rani mau menurutiku.


"Baik. Tapi sebelumnya maaf non. Tuan Rey tidak mengizinkan anda untuk memegang atau menggunakan hp." Jelas mbak Rani.


"What?" kata ku spontan karena terkejut.


"Maaf non. Non harus segera istirahat. Bisa non serahkan hp non sekarang?" Tanya mbak Rani sambil mengulurkan tangannya.


Aku segera menyerahkan hpku kepada mbak Rani. Hp yang mas Reyhan belikan diawal kami menikah, karena Ia membuang hp ku yang lama agar aku tidak lagi berkomunikasi dengan teman-temanku terutama laki-laki. Yah, seposesif itu sifat mas Reyhan.


"Terima kasih non." Kata mbak Rani lalu pergi meninggalkan ku, yang memilih segera duduk di pinggir tempat tidur, karena sejak hamil, aku sering merasa cepat lelah, mungkin karena ada dua nyawa yang sedang berkembang di dalam perutku yang sudah mulai membuncit.


"Sabarb ya sayang. Ibuk akan cari cara supaya kita pergi dari sini." Kataku sambil mengelus perut buncitku yang mulai memberikan respon ketika aku ajak bicara.


Dari sejak awal tahu bahwa ada nyawa yang berada dalam rahimku, aku selalu berkata dan menjelaskan kepada kedua anak ku, tentang situasi yang aku hadapi. Terdengar konyol memang, tapi dari berbagai informasi yang aku baca, walaupun masih dalam kandungan, tapi janin mengerti apa yang disampaikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Makanya banyak ibu hamil yang menstimulus janinnya dengan mendengarkan lantunan ayat suci Alquran atau mendengarkan musik klasik, agar kelak ketika lahi mereka menjadi pribadi yang baik atau cerdas.


Aku sengaja, lebih suka menyampaikan semua hal yang terjadi kepada janin yang ada dalam rahimku saat ini, karena aku ingin mereka mengerti, dan tidak pernah ada keinginan untuk ngidam yang berhubungan dengan ayah mereka, dan mereka sangat paham. Tidak tahu kenapa, selama tahu aku hamil, tidak pernah sedikitpun aku merindukan mas Rey, atau menginginkan sesuatu yang harus dipenuhi mas Rey.


Aku segera membersihkan diri, berganti pakaian dan melaksanakan kewajibanku sebagai muslim, dan membacakan ayat suci Alqur'an, karena sikembar akan tenang ketika aku sedang mengaji.


Pada saat tidur nyenyak, aku merasa ada seseorang yang mengelus pipi dan mencium perut ku, yang membuat aku geli, dan terpaksa terbangun, karena bingung, ini mimpi atau nyata.


"Astagfirullah. Mas?! Ngapain disini?" Tanya ku terkejut ketika melihat mas Reyhan sudah duduk disampingku sambil megelus pipiku.


"Kok gitu banget reaksinya lihat suami sendiri sayang?" Tanya Mas Rey dengan gaya biasanya yang membuat aku bingung.


"Mas lagi sakit?" Tanyaku heran.


"Nggak. Mas baik-baik aja. Sangat baik malah, waktu tahu kamu pulang." Katanya sambil tersenyum dan mencoba kembali mengelus pipi ku tapi segera aku tepis. Aneh rasanya mas Rey tiba-tiba bersikap seperti ini setelah kejadian di rumah sakit.


"Mas udah ucapkan talak. Kita udah bukan suami istri lagi." Kata ku sambil mengehembuskan nafas kasar, karena mengingat kejadian ketika Mas Rey mengucapkan kata talak.


"Mas minta maaf. Mas tahu mas salah. Tapi mas punya alasan melakukan itu semua. Tapi mas nggak bisa bilang sama kamu sekarang. Satu hal yang harus kamu tahu, sejak mas jatuh cinta dengan kamu, mas akan cinta kamu selamanya." Ucap mas Reyhan yang sempat membuat aku merasa senang, namun kembali tidak senang ketika mengingat hal yang dilakukan mas Rey sebelumnya.


"Sudahlah mas. Nia lelah. Mau istirahat. Mas kembali ke kamar aja." Kata ku meminta mas Reyhan pergi, karena bagaimanapun aku masih belum yakin, apakah benar kata talaknya tidak sah atau tidak.


"Mas ini suami kamu sayang. Jadi mas akan kembali ke kamar, kalau kamu juga kembali. Mas akan disini kalau kamu juga disini." Kata Mas Reyhan yang kumat sikap dominannya yang selalu tida terbantahkan.


"Terserah mas. Jangan ganggu Nia. Jangan dekat-dekat, jangan sentuh. Ini batasnya." Kata ku sambil menyusun bantal pembatas diatas tempat tidur.


Aku melihat mas Reyhan hanya tersenyum, lalu merebahkan tubuhya dengan wajah menghadap langit-langit lamar.

__ADS_1


"Selamat tidur sayang. Jangan lupa baca doa tidur Allahumma bariklana..."


"Itu doa makan mas." Protes ku tidak tahan karena mas Reyhan malah membaca doa makan ketika mau tidur, yang membuat aku jadi tertawa, karena baru kali ini mas Reyhan bercanda.


"Mimpi indah twins." Katanya lagi sambil mengusap perut buncit ku dan langsung aku pukul pelan, karena tidak ingin anak-anak ku menjadi alasan mas Rey untuk pegang-pegang.


"Galak bener. Ntar anak kita galak kayak singa loh. Meong." Katanya menirukan suara kucing yang reflek membuat aku tertawa.


"Mas senang lihat kamu tertawa. Semoga anak kita selalu bahagia." Kata mas Rey, yang kembali curi-curi, malah mencium kening ku cepat.


"Mas... Jangan lewat batas. Nggak boleh pegang-pegang apalagi cium-cium. Curi-curi kesempatan aja dari tadi." Protes ku sambil memperbaiki batas yang mulai berantakan.


"Sudah tidur. Besok pagi mas panggil pak Kyai Ahmad. Beliau yang akan jelaskan soal talak yang mas ucapkan sebelumnya." Kata mas Reyhan dengan mata terpejam.


Tanpa banyak kata, dan malas berdebat, aku segera tidur miring menghadap dinding, dan mulai memejamkan mata.


"Dosa loh tidur sengaja kasi suami punggung." Katanya lagi, yang membuat aku mau tidak mau membalikkan badan menghadap mas Reyhan dan segera menutup mata agar tidak tergoda wajahnya yang tampan ketika tidur.


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


Aku mulai terbangun dari tidur, karena sudah jadwalnya bangun, tapi pada saat membuka mata dengan sempurna, aku sangat terkejut karena tidur diatas lengan mas Reyhan, dengan telapak tangannya yang mengusap-usap perut ku.


"Sudah bangun sayang?" Tanya mas Reyhan yang membuat aku otomatis mendorongnya dan menjauh dari dekapan mas Reyhan yang membuatnya tersenyum melihat tingkah ku.


"Kenapa mas melewati batas?" Tanya ku protes.


"Hei sayang. Kamu tidak lihat siapa yang melewati batas?" Tanyanya sambil melihat ke arah batasan bantal yang aku buat, dan membuat ku menjadi malu, karena ternyata aku yang memasuki wilayah mas Reyhan.


"Twins kangen sama Daddy nya, tadi kamu gelisah tidurnya, terus mas elus twins, eh kamu malah mendekat. Ya udah, biar kamu istirahatnya cukup, jadi mas biarkan aja kamu tidur di lengan mas, bahkan kamu loh yang naruh tangan mas di perut kamu." Jelas mas Reyhan sambil tersenyum.


"Ngarang." Kata ku nggak terima cerita mas Reyhan yang ntah benar ntah tidak.


Aku segera bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, karena suara adzan di HP ku sudah berkumandang.


Keluar dari kamar mandi, aku melihat mas Rey yang sedang duduk bersandar di headboard kasur sambil mengecek hpnya.


"Tungguin mas." Katanya segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


"Cup" Mas Reyhan mengecup sekilas bibir ku ketika kami berpapasan di pintu kamar mandi.


"Mas..... Nia udah wudu." Protes ku yang hanya diketawain oleh mas Reyhan, menyebalkan, tapi senang, eh..🤭.


Selesai mas Reyhan keluar dari kamar mandi, aku bermaksud balas dendam dengan menyentuhnya agar wudunya batal.


"Ntar kita nggak sholat-sholat kalau kamu batalkan wudu mas." Katanya yang seolah-olah tahu apa yang mau aku lakukan.


"Kok mas tahu?" Tanya ku heran.

__ADS_1


"Tahu lah. Cepetan wudu, mas tunggu di kamar kita." Kata mas Reyhan lalu pergi meninggalkan ku, yang segera mengambil wudu, lalu menyusul mas Reyhan ke kamar kami.


__ADS_2