
Nia POV
Perubahan hidup yang benar-benar drastis membuat aku sedikit lelah. Walaupun ibuk selalu mengajarkan untuk ikhlas menjalani takdir agar tidak terasa berat, tapi tetap saja ada rasa sesak. Huaaaa jadi kangen sama ibuk 😭.
Kembali cepat ke kota P sebenarnya ingin melepaskan sejenak beban menjadi seorang istri mas Reyhan, yang tadinya jadi calon kakak ipar, dalam waktu kurang dari 5 jam, malah berubah jadi suami, membuat aku agak tertekan. Walaupun mas Rey itu tampan, punya body yang bagus, wangi yang menenangkan, tapi tetap aja ada bayang-bayang kak Elsa dipernikahan kami.
Sikapnya yang absurd membuat aku jadi bingung, kadang cuek, jutek, dingin, tapi malah over protektif seolah-olah aku adalah orang yang berharga. Agak sedikit tersanjung sih, tapi tetap saja ada perasaan tidak nyaman. Belum sehari menikah sudah di sodorin surat perjanjian, dia kira ini cerita novel kawin kontrak apa? Menyebalkan kalau mengingat hal itu.
Katanya tidak akan saling mengganggu kehidupan. Urus kehidupan masing-masing, kenyataannya malah dia yang ngatur-ngatur hidup aku. Seenak udelnya mutusin aku tinggal di mana, bahkan barang-barang aku yang di asrama sudah dipindahin tanpa sepengetahuan aku, kan menyebalkan itu namanya.
Hmmm.. BTW barang-barang aku yang dari asrama di letakkan di mana ya?.🤔. Nanti aja deh tanya mbak Rani. Nah ngomong-ngomong tentang mbak Rani, kok bisa sih mas Rey punya pasukan yang ekspresi dan kelakuannya sama, seperti tuannya. Ini karena teori motivasi X dan Y kali ya?, dimana pimpinan atau anak buah akan merasa nyaman bekerja ketika mereka memiliki persamaan sifat atau karakter. Lah, tapikan aku beda banget sifatnya dengan mereka. Argh.... serasa bakalan hidup di hutan belantara.
Untuk orang-orang yang tidak mengenal ku, aku termasuk cewek belagu. Bagaimana tidak dibilang belagu, sudah jelek, cupu, sombong lagi. Belum tahu aja mereka kalau akutuh aslinya nggak gitu. Itu mah hanya pencitraan saja, supaya waktu dulu sering barengan Sean, aku tidak diserang atau dimusuhi Fans Sean garis keras, yang tindakannya suka bar-bar bahkan kadang nggak masuk akal.
Jadi kangen Sean. Udah setahun ninggalin Sean, ternyata rasa itu nggak bisa hilang. Mungkin karena Sean cinta pertama aku. Ya gimana nggak cinta, kalau dari bocil berdua mulu dah kayak anak kembar di belah pakai kapak, jadinya yang satu ganteng banget, yang satu ancur habis.
Kalau jalan dengan Sean, mereka yang lihat selalu bilang handsome and the beast. Lah busyet, nggak tahu saja mereka gimana kalau aku buka mode pencitraan aku.
Hidup memang terkadang nggak seperti yang kita rencanakan, tapi kalau ikhlas ngejalaninnya, maka tidak akan menjadi beban.
Tadinya agak senang, waktu di antar ke kamar yang katanya kamar aku. Begitu buka pintu kamar terpampang ruangan yang sangat luas dengan nuansa laki banget. Sempat agak senang, ternyata walau jutek, mas Rey tetap kasi aku yang terbaik.
Aku mengamati kamar yang akan menjadi tempat peraduan ku di kala lelah dengan dunia luar, maka kamar ini akan menjadi dunia ku, dimana aku bisa menjadi diri sendiri.
Tempat tidur ukuran sangat besar dan nyaman. Dua buah sofa yang terlihat sangat nyaman mengapit sebuah meja kayu bergaya klasik dan unik, 2 pintu yang aku belum tahu pintu apa. Kalau salah satunya pintu kemana saja... wah pasti seru nih.. 😁.
Aku membuka pintu pertama yang ternyata kamar mandi. Terpampang kamar mandi yang cukup besar dan nyaman, bahkan lebih besar dan nyaman nih kamar mandi dibandingkan kamar aku dulu atau yang di asrama.
Peralatan dan perlengkapan mandi tertata rapi sesuai dengan warnanya, bahkan terdapat sebuah Jacuzzi yang indah dengan di kelilingi batu alam. Busyet, berapa duit nih buat bangun beginian?, pikir ku. Akupun berencana untuk berendam, merilekskan diri yang lelah, tapi nanti saja. Masih banyak waktu ini.
Aku segera melangkahkan kaki keluar kamar mandi, menuju pintu satu lagi yang ternyata walking closet. Di dalamnya terdapat banyak pakain pria dan wanita yang berjajar rapi lengkap dengan aksesorisnya.
__ADS_1
Aku mengamati satu persatu pakaian wanita yang tersedia, semuanya kebanyakan gaun, bahkan ada yang sangat kurang bahan sekali. Pakaian-pakaian itu mengingatkan aku pada kak Elsa. Ya itu gaya pakaian yang kak Elsa gunakan. Tiba-tiba saja dada ku terasa sakit, begitu mengetahui kalau kamar ini dipersiapkan mas Reyhan buat kak Elsa.
Aku segera melangkahkan kaki ke lantai bawah, mencari keberadaan mbak Rani. Tapi bukan mbak Rani yang aku dapat, malah sederet orang dengan pakain khas pelayan seperti yang aku lihat kalau nonton film atau drakor tentang orang kaya.
Aku cukup terkejut dan sempat tidak percaya kalau di dunia nyata beneran ada yang seperti ini. Bedanya kalau di film atau drakor yang aku tonton, usia mereka ada yang tua, tapi yang sekarang dihadapan ku muda semua kecuali para pria yang diperkenalkan sebagai supir pribadi ku dan security yang akan menjaga rumah.
Perempuan yang terlihat tidak begitu tua, kalau aku nggak salah tebak, usia mereka tidak lebih dari 40 tahun, tapi mereka tidak mnunjukkan ekspresi apapun yang membuat aku semakin frustasi.
Perempuan yang terlihat sebagai Leader memperkenalkan dirinya bernama Sekar. Mbak sekar juga menyebutkan nama yang lain, tapi karena aku memang tipe yang tidak terlalu suka mengingat nama dan wajah orang, hanya mengiyakan saja dulu, biar cepat.
Aku juga sempat protes dan sedikit menjahili mbak Sekar, tetapi mereka semua tetap tenang dan diam, yang membuat aku jadi kelihatan seperti kerupuk. Krezzz, garing banget.
Aku menanyakan apakah ada kamar lain?, lalu dengan panik mbak Sekar bertanya apakah aku tidak menyukai kamar itu? Padahal kamar itu sudah disiapkan mas Reyhan jauh-jauh hari. Fix, berarti kamar itu dipersiapkan mas Reyhan untuk kak Elsa. Tidak tahu kenapa ada perasaan tidak nyaman yang membuat ekspresiku berubah seketika.
Mbak Sekar yang menyadari ekspresi wajah ku yang berubah, langsung minta maaf, karena mengira ada kata-katanya yang salah.
Akupun menyampaikan kalau tidak ada perkataan mbak Sekar yang salah, dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar, menatap kamar dengan seksama, membuat aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Cengeng kamu Ni." Kata ku pada diri sendiri karena air mata yang mulai luruh. Aku menangis sesegukan untuk melepaskan perasaan tidak nyaman yang aku rasakan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Habis menangis membuat aku merasa sedikit lega dan beban sedikit berkurang, membuat aku tertidur sangat nyenyak. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidur. Tetapi aku terbangun karena merasa ada seseorang yang mengelus pipi ku, yang menimbulkan rasa geli.
Aku berusaha membuka kelopak mata ku yang masih terasa berat, karena sisa-sisa air mata, dan retina iris emerald ku menangkap sosok seorang pria yang tengah tersenyum menatapku, yang membuat refleks aku terduduk, dan segera menjauh dari pria itu.
"Kamu habis menangis?" Tanya pria yang tadi menatap ku sambil tersenyum, dan sekarang duduk di tepi ranjang yang aku tiduri.
"Iya. Aku Kangen ibuk." Kata ku setengah berbohong, karena aku menangis bukan hanya karena kangen dengan ibu ku, tapi mengingat kamar ini dipersiapkan untuk kak Elsa, membuat hatiku jadi sakit. Mas Reyhan hanya tersenyum samar mendengar jawaban ku.
"Mas kenapa disini?" Tanya ku heran.
__ADS_1
"Ini rumah saya. Kamar ini kamar saya. Suka-suka saya dong." Jawabnya.
"Ya elah... nenek berkuda juga tahu kali kalau ini rumah lo, jadi suka-suka lo, tapi kan pasti ada alasan lain bambang." Dumel ku dalam hati.
"Jangan dumelin suami." Katanya pada ku yang membuat aku heran, ini si Bambang tahu aja lagi aku lagi ngedumel. Eh, kok laki aku jadi bambang ya....? Bukannya Reyhan? 🤦.
"Nggak ngedumel mas, cuma sedikit protes aja." Kata ku lagi.
"Sama aja." Jawabnya cepat.
"Terserah mas deh, yang waras ngalah." Kata ku yang membuat mas Reyhan memelototkan matanya kepada ku.
"Jadi maksud kamu saya nggak waras?" Protesnya dengan ekspresi marah.
"Lah, kapan aku bilang? Mas sendiri loh barusan yang bilang mas nggak waras." Kata ku sambil terkikik karena berhasil mengerjai suami ku yang jutek, lalu aku memutuskan segera kabur kekamar mandi.
Dari balik pintu kamar mandi aku mendengar suara mas Reyhan yang marah-marah dan tidak terima dengan perkataan ku, yang membuat aku terkikik geli dengan suara pelan. Padahal kalau aku ketawa ngakak, mas Reyhan nggak dengar deh. Secara kamar mandi horang kaya, pasti kedap suara ini.
Aku melihat jam besar yang ada di atas cermin besar yang ada di kamar mandi. Astagfirullah, aku belum melaksanakan sholat Ashar, padahal hari sudah menunjukkan pukul 5 sore lewat 10 menit.
Gegas aku mengambil wudhu, karena tidak mau berlama-lama dengan kelalaian ku. Selesai wudhu, aku segera keluar kamar, dan celingukan mencari keberadaan mas Rey, tapi tidak aku temukan si pria jutek, yang sekarang sah menjadi imam ku. Kualat kamu Nia, ngatain suami jutek 😅.
Aku mengendap-ngendap seperti maling menuju tas ransel ku, yang memang selalu tersedia mukenah mini lengkap dengan sajadah kain yang tipis, jadi bisa di gulung menjadi kecil.
"ehem" Suara deheman yang membuat aku terkejut, dan spontan menjatuhkan mukenah yang sedang ku pegang. Refleks aku langsung melihat ke arah sumber suara. Terlihat sosok pria tampan dengan ekspresi kaku seperti kanebo kering sambil besidekap tangan di depan dada.
"Eh, mas masih ada di sini. Aku kira sudah pergi. Aku izin sholat dulu. Mas mau bareng nggak?" Tanya ku.
"Saya sudah sholat." Jawabnya masih dengan ekspresi kanebo keringnya. Argh... rasa pengen aku cakar tuh muka, tapi sayang wajahnya cakep.
"Maaf, kiblatnya kemana ya mas?" Tanya ku bingung sambil nyengir. Ya secara baru beberapa jam di rumah ini.
__ADS_1
"Lihat atas." Jawabnya singkat membuat aku otomatis mendongakkan kepala ku menatap langit-langit kamar menjulang tinggi, lalu terlihat arah tanda panah.
"Oh makasih mas." Jawab ku lalu segera membentang sejadah ku menghadap ke arah tanda panah yang di tunjukkan langit-langit kamar.