
Di luar perkiraan, ternyata Reyhan berada di negara S lebih dari seminggu, karena urusannya belum selesai.
"Sayang..." Kata Yangti yang baru sampai ke Desa Sumber Sari menyusul Nia. Selama Reyhan di negara S, Nia memutuskan untuk tetap tinggal di desa Sumber Sari.
"Yangti?, Masya Allah. Nia kangen banget." Kata Nia sambil memeluk Yangti dengan air mata yang mengalir, karena terharu bahagia.
"Sayang... ini cicit yangti?" Tanya Yangti sambil mengelus perut Nia, dan hanya di jawab anggukan dan senyum bahagia oleh Nia.
"Sudah berapa bulan?, sudah gede banget." Kata Yangti yang masih mengelus perut Nia.
"Masuk 4 bulan Yangti. InsyaAllah baby twins." Kata Nia sambil nyengir.
"Apa sayang?! Kembar?" Tanya Yangti terkejut.
"Iya Yangti." Kata Nia sambil tersenyum.
Sejak tahu Nia hamil anak kembar, Yangti tidak pernah jauh dari Nia. Yangti selalu menemani Nia yang membuat Yangkung ikutan nyusul ke Desa Sumber Sari.
Hari ini, walaupun tidak ada Reyhan, karena usia kehamilan Nia memasuki usia empat bulan lebih, Yangti memutuskan untuk mengadakan upacara 4 bulanan, tanpa Reyhan, karena tidak tahu kenapa, sudah seminggu Reyhan tidak bisa dihubungi.
Nia yang sedang menikmati udara sore duduk diteras rumah bersama Yangti sambil menikmati secangkir teh melati hangat.
"Ibu hamil itu minumnya susu hamil sayang." Tegur Yangti karena Nia tidak suka minum susu hamil.
"Twins nggak mau Yangti. Asal minum susu hamil pasti di muntahin." Terang Nia, yang membuat Yangti hanya bisa menghela nafas gusar.
"Reyhan masih belum ada kabar?" Tanya Yangti lagi, dan hanya dijawab gelengan kepala dengan raut wajah sedih.
"Ya udah, nanti Yangti suruh Yangkung jemput Reyhan. Istrinlagi hamil kok ditinggal-tinggal, dasar laki-laki, mau enaknya aja. Nggak tahu mereka apa, kalau hamil itu penuh perjuangan, semua serba nggak nyaman, satu aja susah, apalagi dua." Dumel Yangti yang justru malah membuat Nia tersenyum.
Nia yang merasakan getaran hp dari kantong saku bajunya, mengambil HP dan memeriksa apakah ada pesan yang masuk dari Reyhan.
Setelah memeriksa pesan yang masuk Nia terdiam dan Hpnya jatuh dari tangannya.
"Ya Allah Nia, kamu kenapa?" Tanya Yangti ketika melihat Nia yang terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
Yangti segera mengambil hp yang terjatuh, dan memeriksa pesan apa yang Nia lihat sehingga membuatnya syok.
"Astagfirullah Rey. Keterlaluan kamu." Geram Yangti, lalu segera mengambil HPnya dan menghubungi supir pribadinya.
"Kamu yang sabar ya sayang. Yangti akan jewer cucu tidak bertanggungjawab itu. Bisa-bisanya. Kamu istirahat dulu Nia. Minum tehnya biar sedikit tenang. Eis.." Teriak Yangti sambil menyodorkan teh manis hangat ke mulut Nia, dan Nia meminumnya masih dengan wajah syoknya.
"Iya Yangti?, Ada yang kurang?, Ya ampun, Teh Nia kenapa?, Kenapa teteh nangis?, Ada yang sakit?, Eis panggil bu Bidan?" Tanya Eis bertubi-tubi melihat Nia yang masih diam saja dengan air mata yang mengalir.
"Kamu bawa Nia sekarang istirahat, Yangti ada urusan." Kata Yangti ketika melihat supir pribadinya sudah datang, karena menginap tidak jauh dari rumah Nia.
Yangti segera mengambil tasnya, lalu pamit pergi meninggalkan Nia.
"Kamu sabar ya sayang. Yangti yang akan kasi pelajaran." Kata Yangti geram lalu segera masuk ke mobilnya.
Setelah Yangti pergi, Eis segera menuntun Nia ke kamarnya.
"Teteh kenapa?, Jangan nangis." Kata Eis ikutan sedih.
"Saya mau istirahat." Jawab Nia sambil memejamkan matanya, berharap Video yang tadi dilihatnya hanya mimpi.
Eis yang paham Nia ingin sendiri, pergi meninggalkan Nia dan duduk di sofa yang tidak jauh dari pintu kamar Nia, jaga-jaga jika Nia membutuhkannya.
Tidur adalah cara terbaik bagi Nia untuk menenangkan dirinya.
"Teh, bangun teh. Udah masuk waktu magrib." Kata Eis sambil mengguncang bahu Nia pelan.
"enhm... ya Eis?" Kata Nia sambil mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya.
"Sudah magrib teh. Teteh belum sholat magrib." Kata Eis.
"Iya. Kamu duluan saja." Kata Nia lalu mulai mendudukkan dirinya.
Nia segera pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu, lalu keluar menggunakan mukenah, bermaksud mengajak Yanti untuk sholat.
"Yangti mana Eis?" Tanya Nia ketika melihat Eis yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.
__ADS_1
"Tadi sore sepertinya Yanti pergi teh. Buru-buru gitu, nggak tahu kemana. Yangti cuma pesan suruh jagain teteh dan antar teteh ke kamar." Jelas Eis, yang membuat Nia ingat kejadian tadi sore.
Nia segera kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan kata apapun.
Nia segera melaksanakan sholat magrib dengan air mata yang terus mengalir. Dulu Nia adalah wanita yang kuat, paling sangat tidak suka menangis, tapi sejak hamil, Nia jadi sangat gampang menangis, dan swring overthinking.
Lama Nia berzikir setelah sholat untuk menenangkan hatinya, tapi tetap saja kejadian tadi sore benar-benar membuat Nia sedih.
Reyhan menghianati janjinya. Sudah cukup Nia memberikan Reyhan kesempatan, tapi ternyata Reyhan tidak bisa menjaga kesempatan yang Nia berikan.
Setelah selesai sholat isya dan merasa sedikit tenang, Nia memutuskan untuk keluar, karena perutnya terasa lapar. Twin meminta hak mereka untuk mendapatkan nutrisi.
"Teteh mau makan sekarang?" Tanya Eis.
"Iya. Nik Kos masak apa buat makan malam?" Tanya Nia yang sudah duduk manis di depan meja makan.
"Tadi Yangti minta tumis bunga pepaya, sama ikan lele goreng sambal terasi teh." Jelas Eis.
"Yangti? Astagfirullah. Teteh belum telpon Yangti. Pinjam Hp kamu Eis." Kata Nia karena Nia sudah tidak ingin menyentuh hp lamanya.
"Ini teh." Kata Eis sambil menyerahkan hpnya.
Nia lalu menghubungi nomor hp Yangti yang tersimpan di hp Eis.
"Kenapa teh?" Tanya Eis karena Nia beberapa kali menghubungi ulang.
"Nomor Yangti nggak aktif." Kata Nia yang tiba-tiba mulai cemas.
"Teteh makan dulu. Mungkin baterai hp Yangti habis." Kata Eis yang berusaha menenangkan Nia.
Eis mengambilkan sedikit nasi, tumis pepaya dan meletakkan seekor lele yang gemuk, namun garing lengkap dengan sambal terasinya.
Nia mulai memakan makanannya ditemani Eis, walaupun dengan pikiran yang masih memikirkan Yangti.
Selesai makan, Nia memutuskan untuk menghubungi Rani, karena sejak Yangti datang, Yangti mengusir semua bodyguard Reyhan, karena tahu Nia tidak suka keberadaan mereka. Dengan negosiasi yang alot antara Yangti dan Reyhan, akhirnya Reyhan menyuruh semua bodyguardnya meninggalkan desa Sumber Sari.
"Syukurlan Nona telpon." Kata Rani begitu mendengar suara Nia.
"Kenapa mbak?" Tanya Nia heran.
"Nggak. Nia nggak mau pulang. Nia disini aja." Kata Nia bersikeras karenw menduga kalau Rani menjemputnya untuk membawa Nia kembali ke rumah Reyhan.
"Tapi ini penting non. Non siap-siap, sekitar 30 menit lagi saya sampai. Non jangan kabur, atau non akan meyesal." Kata Rani.
"Nggak perduli. Nia nggak akan menyesal." Kata Nia yang mulai kesal karena Rani mengancamnya.
"Ini bukan soal tuan Rey. Ini soal Yangti." Kata Rani karena tidak ingin Nia kabur.
"Yangti?, Yangti kenapa?" Tanya Nia mulai panik.
"Nona siap-siap saja. Saya lagi dijalan bersama Leo. Kita tidak punya banyak waktu." Jelas Rani.
"Ok." Kata Nia mengalah, karena mulai khawatir, dan berfikir yang buruk tentang Yangti.
"Eis, kamu siap-siap. Temani saya. Nanti mbak Rani jemput." Kata Nia sambil menyerahkan hp Eis.
"Siap-siap kemana teh?" Tanya Eis bingung.
"Pokoknya siap-siap. Bawa beberapa pakaian. Mana tahu kita beberapa hari disana." Kata Nia lalu masuk ke kamarnya untul menyiapkan tas ransel yang selalu dibawanya.
Nia dan Eis yang sudah bersiap, menunggu Rani dan Leo, mereka tidak lupa pamit kepada Nik Kos, begitu melihat mobil yang dibawa Leo memasuki halaman rumah Nia.
"Ayo non." Kata Rani begitu turun dari mobil, dan membukakan pintu bagian tengah.
"Yangti kenapa?" Tanya Nia sambil masuk ke mobil.
"Saya tidak bisa jelaskan." Kata Rani lalu menutup pintu mobil Nia, dan segera masuk ke bagian samping pemgemudi.
Mereka segera berangkat, menuju tempat yang Rani tidak mau menyebutkannya.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Tidak ada yang bersuara diantara mereka, apalagi hari sudah gelap, dan Nia kembali terlelap sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Kurang lebih 3 jam lamanya perjalanan yang mereka tempuh, sampai akhirnya mobil yang dibawa Leo berhenti di pelataran rumah sakit.
"Non, bangun non." Kata Rani sambil mengguncang tubuh Nia pelan dari samping.
"Kita sudah sampai?" Tanya Nia sambil mengucek matanya.
"Iya non." Kata Rani sambil mebantu Nia turun.
"Siapa yang sakit mbak,?" Tanya Nia begitu tahu kalau mereka berada dirumah sakit.
Rani segera mengajak Nia menuju ruang ICU. Nia melihat kedua papi Reyhan yang sedang menangis dan berusaha ditenangkan oleh maminya Rey. Nia juga melihat beberapa sodara dekat Reyhan.
"Mi Pi." Sapa Nia dan bermaksud mencium tangan kedua mertuanya, namun ditepis oleh papinya dan Rey juga maminya yang membuat Nia semakin bingung.
Di sudut kursi tunggu, Nia mlihat Reyhan yang sedang memeluk Elsa dan berusaha menenangkannya, dsn tidak menyadari kehadiran Nia.
Rani membawa Nia untuk masuk ke ruang ICU, dan memakaikan barascoat.
Nia yang bingung hanya mngikuti nalurinya masuk ke ruang ICU.
"Yangti?!" Ucap Nia sedikit keras karena syok melihat orang yang berada di ICU, penuh dengan peralatan medis, dengan wajah pucat, dan tangan digenggam oleh Yangkung.
Nia segera menghampiri Yangti dengan air mata yang tidak bisa berhenti.
"Yangti kenapa Eyang?" Tanya Nia sambil sesegukan.
Yangkung hanya menatap Nia sekilas, lalu kembali menatap Yangti, istri yang sangat dicintainya.
"Sayang, bangun. Ini Nia, kamu harus kuat. Kamu mau lihat cici kamu kan?, kamu harus kuat." Kata Yangkung.
Yangti menggerakkan tangannya, dan membuka kelopak matanya. Yangti memandang Nia dan berusaha untuk tersenyum. Ingin berucap, tapi suara dan mulutnya tidak bisa digerakkan.
Yangti hanya meneteskan air matanya sambil menggeleng lemah, ketik melihat Nia yang sedang menangis.
Nia segera menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"Nia disini. Yangti pasti sembuh. Yangti pasti baik-baik saja. Yangti kan janji mau jaga twins bareng Nia." Kata Nia sambil sesegukan, yang hanya di jawab senyuman oleh Yangti.
Yangti berusaha mengulurkan tangannya untuk menyentuh Nia. Nia yang melihat hal itu, segera menggenggam tangan Yangti lembut.
Yangti hanya memandang Nia dengan air mata yang terus mengalir, lalu menutup matanya sambil tersenyum.
"Yangti.. Yangti... Yangti.." panggil Nia panik karena suara EKG melengking panjang, dna menunjukkan garis lurus.
Tim dokter yang sudah bersiap diluar, segera masuk dan meminta Yangkung dan Nia untuk keluar.
Nia segera memeluk Eis, karena kakinya mulai terasa lemas.
"Teh!, kita duduk dulu." Kata Eis sambil membawa Nia duduk di bangku tunggu dekar pintu ICU.
Reyhan yang melihat Nia, segera menghampirinya dwn bermaksud memeluk Nia untuk menenangkannya, tetapi Nia menolaknya dengan memeluk Eis erat.
"Bagaimana istri saya dok?" Tanya Yangkung begitu melihat dokter keluar.
"Maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan pasien. Ini sebenarnya suatu keajaiban pasien masih bisa sadar sebelumnya, mengingat parahnya benturan yang dialami pasien sewaktu mengalami kecelakaan.
"Pembunuh. Dasar kamu perempuan pembawa sial. Semua yang ada di dekat kamu pasti meninggal." Kata Elsa tiba-tiba sambil menunjuk-nunjuk Nia, yang sudah lemas ketika mendengar ucapan dokter, kalau Yangti meninggal.
Kejadian ini mengingatkan Nia sewaktu ibunya dulu meninggal, sekarang ICU adalah tempat yang paling dibenci Nia, karena dua orang yang sangat disayanginya, meninggal di ruang ICU.
"Tenang Els. Kamu jangan ngomong seperti itu." Kata Rey yang berusaha menenangkan Elsa.
"Dia memang pembawa sial. Dia yang nyebabkan Yangti meninggal. Kalau tidak karena mengikuti keinginannya untuk tinggal di perkampungan yang jauh, nggak munkin Yangti kecelakaan. Yangti... Yangti..." Kata Elsa sambil menangis memanggil-manggil Yangti.
"Rani, tolong bawa non Nia pulang." Kata Reyhan yang masih memeluk Elsa untuk menenangkannya.
"Aku mau disini." Tolak Nia.
"Kamu pergi saja dari sini. Semuanya tu, nggak ada yang suka lihat kamu disini. Gara-gara kamu Yangti meninggal. Paham nggak sih, kamu itu pembawa sial." Kata Elsa lagi penuh emosi.
"Els cukup." Bentak Reyhan yang membuat Elsa memandang Reyhan dengan tatapan sayu, lalu tidak sadarkan diri yang membuat Reyhan panik, lalu segera membopong Elsa.
__ADS_1
"Mas mohon Ni." Kata Reyhan sebelum membawa Elsa pergi ke ruang rawat.
"Izinkan Nia lihat Yangti untuk yang terakhir. Nia mohon." Kata Nia memohon kepada Yangkung yang terduduk didepan pintu ICU.