
Nia keluar ruangan ganti bersama Sarah, dan Sarah segera pamit kepada Nia untuk mengantarkan gaun yang tadi di kenakan Nia sewaktu akad nikah.
"Michin. Lo harus jelasin sama gue." Kata Sean sambil memegang tangan Nia.
"Gue gantiin kak Els yang kabur, karena ada tawaran pekerjaan." Jawab Nia.
"Tapi kenapa harus Lo Ni?, Lo tahukan bagaiamana kak Rey?" tanya Sean yang hanya dijawab gelengan oleh Nia.
"Pernikahan itu nggak main-main Ni. Lo akan terikat dengan kak Rey." Kata Sean lagi yang membuat Nia menunduk semakin dalam.
Nia tahu kalau ia tidak mungkin mempermainkan pernikahannya. Nia sebenarnya juga sempat berfikir, pernikahan seperti apa yang akan dihadapinya bersama Reyhan, mengingat betapa cintanya Reyhan kepada Elsa.
"Ni, gue nggak mau kalau lo nggak bahagia. Gue mau lo bahagia. Nanti kalau kak Rey..."
"Kak Rey kenapa?" Tanya Reyhan yang menarik Nia dari pegangan Sean di bahu Nia, dan memeluk pinggang rapmping Nia, mengeluarkan sifat posesivenya.
"Kak Rey?!" Beo Sean terkejut. Sementara Nia yang tidak biasa di peluk oleh cowok berusaha melepaskan diri dari pelukan Reyhan, tapi justru Reyhan menahannya semakin kuat.
"Kalau kak Rey nyakitin Nia, aku akan jadi orang pertama yang marah sama kakak." Jawab Sean tegas.
"Dia istri kakak, tanggung jawab kakak, hak kakak, jadi jangan coba-coba dekatin dia lagi." Kata Reyhan dengan wajah galaknya, lalu menarik tangan Nia pergi meninggalkan Sean.
"Lepasin kak. Aku tuh bisa jalan sendiri." Kata Nia yang mulai kesal karena Reyhan menarik tangan Nia dan melangkah dengan lebar-lebar, sehingga Nia jadi kesusahan berjalan.
"Reyhan yang sudah kesal tidak perduli, bahkan semakin mengeratkan pegangannya dan membawa Nia masuk ke sebuah kamar president suite yang sudah disiapkan untuk Reyhan dan Elsa, yang sekarang di ganti oleh Nia.
Reyhan mendorong Nia, hingga terduduk di sofa yang ada di hotel.
"Kenapa sih kak? Baru juga nikah udah KDRT aja." Tanya Nia kesal sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah, karena di genggam Reyhan erat.
"Lo memang beda banget dari Els. Els itu nggak pernah suka dekat dengan cowok lain selain gue. Nah Lo, baru juga beberapa jam nikah sudah keganjenan sama semua cowok." Tuduh Reyhan yang membuat hati Nia merasa sakit. Karena tanpa Nia tahu, sewaktu ngobrol dengan Monica, Aldo dan Dean, sebenarnya Reyhan kembali ke ruangan akad, bermaksud untuk menjemput Nia dan mengajaknya ke ruangannya. Tapi Reyhan justru melihat Nia sedang asyik mengobrol dengan para sahabat Reyhan, di tambah selesai ganti baju, Nia masih mengobrol dengan Sean.
Nia hanya diam saja mendengarkan semua uneg-uneg dan kekesalan Reyhan, kata-kata kasar Reyhan hanya mampu dijawab dengan helaan nafas oleh Nia, karena Nia tahu, percuma saja mau membalas perkataan Reyhan, tidak ada gunanya membantah orang yang sedang emosi.
"Lo bisu? dari tadi gue lihat, lo bisa bicara banyak hal sama Dean, Aldo, Monica dan Sean. Sekarang sama gue kenapa lo diam aja?" bentak Reyhan yang semakin kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di belakangnya, kemudian melanjutkan omelannya.
Reyhan yang kesal melihat sikap Nia yang hanya diam saja, memutuskan untuk mengambil surat perjanjian yang sudah dipersiapkannya sewaktu tahu pengantinnya diganti.
"Tandatangan !" Perintah Sean sambil melemparkan map coklat ke atas meja yang ada di hadapan Nia.
Nia mengambil map tersebut dan membaca perjanjian yang Reyhan buat untuk ditandatangani Nia.
__ADS_1
"Maaf kak. Aku nggak bisa menikah dengan perjanjian seperti ini. Aku tahu kakak sangat mencintai kak elsa dan aku hanya sebatas pengganti. Tapi bagaimanapun kita sah sebagai suami istri, baik dimata Agama maupun negara. Jika nanti kakak tidak nyaman untuk membina rumah tangga dengan aku, aku akan relakan perceraian kita. Aku nggak akan mempersulit prosesnya jika nanti kakak ingin kembali sama kak Elsa. Jadi aku mohon, nggak ada perjanjian seperti ini untuk pernikahan kita." Terang Nia dengan lambat, agar Reyhan paham dan tidak marah.
"arghhhh.. Gue pegang kata-kata lo. Ingat hubungan kita hanya status sebagai suami istri di hadapan keluarga dan masyarakat, tapi tidak di dalam rumah. Jangan berharap hubungan yang lebih jauh lagi untuk pernikahan kita. Mulai besok, lo harus tinggal di rumah gue, untuk mempermudah urusan kita, gue nggak akan mempekerjakan asisten rumah tangga. Jadi lo yang harus atur semuanya sendiri." kata Reyhan panjang lebar.
"Boleh nggak aku balik ke asrama aja? Soalnya tiga hari lagi mulai kuliah. Lagian nggak akan ada yang curiga kalau kita hidup masing-masing, karen aku ada di kota P, dan kakak bisa menjalankan kehidupan kakak seperti biasanya di kota ini." Kata Nia.
"Nggak bisa. Eyang pasti akan curiga. Lo boleh tetap kuliah, tapi tidak tinggal di asrama. Lo akan tinggal di rumah gue yang ada di kota P. Tidak ada pembantahan." Kata Reyhan sambil menatap Nia galak.
"Satu lagi. Gue nggak mau, orang-orang tahu kalau lo istri gue. Karena gue maunya orang-orang tahu kalau Els istri gue, wajah lo dan Els agak mirip, jadi nggak susah meyakinkan orang-orang kalau lo Els." Kata Reyhan lLu pergi meninggalkan Nia.
Walaupun baru menikah dan mengenal Reyhan, tapi hati Nia sakit ketika Reyhan mengatakan hal yang baru saja dikatakannya. Cairan bening terjun dengan bebasnya membasahi pipi nia yang putih bersih, tanpa bisa ditahan oleh Nia.
Nia menahan tangisannya karena Nia nggak mau Reyhan melihat sisi lemah Nia, menjadi perempuan cengeng.
Nia memutuskan untuk ke kamar mandi, meluapkan rasa sakitnya dengan menangis sepuasnya.
Setelah menangis hampir 10 menit, perasaan Nia mulai lega. Nia memandang wajahnya yang mulai berantakan, karena matanya agak bengkak, maskara yang luntur, dan makeup yang sudah mulai luntur.
Nia segera membasuh wajahnya, membersihkan wajahnya dari makeup yang tadi dikenakannya. Kemudian Nia keluar dari kamar mandi, dan merasa lega, karena Reyhan belum kembali lagi, sewaktu tadi meninggalkan Nia.
Nia bingung harus ngapain, karena tasnya tertinggal di kamar Elsa, sehingga Nia tidak membawa ponselnya. Mau keluar kamar, Nia tidak mau nanti Reyhan akan memakinya lagi dengan sebutan perempuan yang tidak benar karena dekat dengan laki-laki lain. Mau kabur, pergi begitu saja dari hotel ini, Nia masih berfikir, hal itu akan mempermalukan kedua keluarga besar. Akhirnya setelah menyelesaikan sholat zuhur Nia memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa panjang yang ada di kamar itu. Karena Nia tidak mau tidur di kasur yaag sudah di tata dengan indah.
Reyhan yang tadi keluar, berkumpul sebentar dengan para sahabatnya, memutuskan kembali ke kamarnya. Begitu masuk kamar, Reyhan tidak melihat Nia, membuat Rey agak sedikit cemas takut Nia kabur. Begitu melihat Nia yang sedang tertidur pulas di sofa, membuat Reyhan bernafas lega.
Hampir satu jam Nia tertidur, dan selama itu pula Reyhan hanya memandang Nia, dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Sebagian diri Reyhan merasa kasihan dan menyesal untuk setiap kata kasar yang ia ucapkan sebelumnya. Tapi sebagian dirinya yang lain, tetap belum bisa menerima Nia dan masih mengutamakan Elsa.
Nia perlahan-lahan membuka matanya, dan terkejut melihat Reyhan yang sedang duduk di sofa yang ada di hadapan Nia. Nia yang terkejut, langsung duduk, yang membuat kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
Reyhan yang juga terkejut, memutuskan untuk mengambilkan Nia segelas air putih, dan menyerahkannya pada Nia tanpa suara.
"Terimakasih." Ucap Nia lalu meminum air putih yang diberikan Reyhan.
"Maaf tadi aku pakai mukenah yang jadi mas kawin yang kakak kasi untuk sholat. Soalnya aku nggak ada lihat mukenah." Kata Nia karena merasa tidak enak sudah menggunakan mukenah yang Reyhan pilih untuk Elsa sebagai mas kawin.
"Its ok. That's yours." Jawab Reyhan yang membuat Nia lega, karena tadinya Nia berfikir kalau Reyhan akan marah.
"Krucuk" Suara perut Nia terdengar, karena cacing yang ada diperutnya mulai berdemo minta diisi. Wajah Nia blushing seketika karena malu suara perutnya terdengar oleh Reyhan, yang membuat Reyhan terpana dengan perempuan yang sekarang sudah sah menyandang gelar istri Reyhan Ahmadinedja.
Reyhan segera menelpon room service hotel untuk memesan makanan. Setelah itu Reyhan kembali duduk ditempatnya semula.
"Maaf." Kata Nia merasa tidak enak, dan Reyhan hanya diam saja.
__ADS_1
Tidak lama kemudian suara bel kamar berbunyi, Reyhan segera berdiri dan membukakan pintu. Tampak seorang petugas hotel membawa troli makanan dan segera menghidangkannya dihadapan Nia.
"Terimakasih" Ucap Nia ramah, yang membuat petugas hotel yang mengantarkan makanan menjadi salah tingkah, dan hal itu membuat Reyhan tidak suka.
"Cepat" Ucap Reyhan datar, yang membuat petugas tersebut segera menyelesaikan tugasnya dan pamit meninggalkan kamar Reyhan daa Nia.
"Terimakasih kak." Kata Nia sambil tersenyum lalu segera mengambil sepiring dim sum yang ada di hadapannya, dna memasukkan dimsum tersebut kemulutnya setwlah mengucapkan doa makan.
Nia memang tipe orang yang tidak pendendam, dan suka lupa diri kalau sedang menghadapi makanan, apalagi perutnya merasa sangat lapar. Tanpa basa basi dan ragu, Nia segera memakan beberapa hidangan yang ada di depannya.
"Pelan-pelan makannya. Gue nggak akan ambil makanan Lo. Dan kalau kurang, gue bisa minta lagi petugas hotel mengantarkan." Kata Reyhan dengan ekspresi dingin dan datarnya, sambil menatap Nia yang memakan, makananya dengan lahap.
"Ini sudah cukup." Kata Nia lalu kembali mengunyah gyoza yang garing di luar dan terasa lembut dalamnya, membuat Reyhan meneguk saliva dan merasa tiba-tiba lapar melihat Nia makan dengan lahap dan semangat.
"Lo mau Sea...n?" Tanya Nia sambil menyodorkan dimsum ke hadapan Reyhan menggunakan sumpit, yang membuat Nia merasa tidak enak melihat ekspresi Reyhan yang marah, karena bisa-bisanya Nia menyebut Sean.
"Maaf." Cicit Nia cepat karena sadar kalau Nia melakukan kesalahan. Nia lupa kalau dia sedang bersama Reyhan, bukan Sean. Karena Nia selalu makan dim sum bersama dengan Sean, dan selalu menawarkan Sean dan menyuapinya ketika mereka makan dim sum.
"Cepat habiskan. Gue siap-siap sholat ashar ke mesjid." Kata Reyhan lalu pergi karena Reyhan tidak ingin meeperlihatkan kemarahannya kepada Nia.
Nia segera menghabiskan makanannya, dan membereskan piring kotor dan perlengkapan makan yang digunakannya. Kemudian Nia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
Selesai sholat Nia memutuskan untuk menghubungi Sean menggunakan telpon hotel, karena Nia tidak membawa tasnya pada saat datang ke hotel.
"Sean lo bisa tolongin gue nggak? please.... Iya gue mau mintak tolong, Lo ke rumah papa, ambilkan tas gue, tadi gue nggak bawa karena buru-buru. Thank you Sean." Kata Nia lalu menutup telponnya, dan Nia terkejut karena Reyhan sudah duduk di sofa sambil menatap Nia tajam.
"Kan sudah gue bilangin. Jangan pernah dekatin atau hubungi Sean. Gue suami Lo. Kalau Lo ada perlu, seharusnya lo bilang ke gue. Bukan ke Sean." Kata Reyhan kesal.
"Maaf. Aku cuma hapal nomor Sean. Mau nelpon papa, nggak hapal nomornya. Maaf kalau udah buat kakak kesal." Kata Nia dengan wajah menyesal.
"Mulai sekarang, kalau lo di depan orang lain atau keluarga kita, bersikaplah seolah-olah kita bukan menikah karena terpaksa. Lo bisa panggil gue mas, gue nggak suka lo manggil gue kakak, seperti lo manggil yang lain." Kata Reyhan mengatur.
"Iya ka.. eh Mas." Kata Nia sambil mengangguk paham.
"Ya udah. Gue mau mandi dulu. Lo nggak boleh keluar, kecuali sama gue." perintah Reyhan.
"Dasar aneh" Kata Nia dalam hati.
"Jangan ngatain saya. Kualat kamu ngatain suami." Kata Reyhan yang seolah-olah tahu kalau Nia sedang mengatainya.
"Lah, siapa yang ngatain mas." Protes Nia karena tidak terima Reyhan memuduhnya mengatainya, padahal Nia memang mengatai Reyhan.
__ADS_1
Reyhan segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang gerah karena beraktifitas dari pagi. Sementara Nia memilih duduk di sofa sambil membaca majalah yang tersedia di meja. Nia tidak menyalakan televisi karena Nia memang tidak suka menonton siaran televisi.