
"Tapi mas..."
"Tidak ada tapi-tapi. Saya tidak bisa hidup dengan pengkhianat. Kamu memang berbeda sekali dengan Els. Mungkin karena kamu tidak dibesarkan oleh keluarga yang utuh, jadi kamu selalu mencari kasih sayang dari banyak laki-laki." Terang mas Reyhan yang membuat aku marah dan reflek mendekati mas Reyhan dan menamparnya.
"Jangan hina ibu yang sudah membesarkan aku dengan sangat baik sekali. Tidak ada sedikitpun didikan ibu yang salah. Jika mau kita cerai. Ya sudah kita cerai. Tapi jangan pernah hina ibu aku." Kata ku kesal lalu segera pergi meninggalkan rumah mas Reyhan. Rumah yang hampir tiga tahun ini menjadi tempat aku pulang.
Aku segera berjalan menuju jalan besar.
"Non Nia mau kemana?" Tanya pak Joko security yang menjaga rumah mas Rey.
"Nia mau pergi pak. Terima kasih karena selama ini jagain Nia. Sampaikan salam Nia untuk yang lain." Kata ku sambil berusaha tersenyum.
Aku segera keluar dari gerbang, dan menghubungi transportasi online, yang mudah di dapat di lingkungan rumah mas Reyhan.
Tidak perlu menunggu waktu lama, aku segera menaiki tranportasi online yang aku pesan.
Begitu mobil berjalan, air mata aku luruh tanpa bisa aku tahan. Sakit rasanya diperlakukan seperti itu. Aku tidak tahu pengkhianatan apa yang aku lakukan, sampai-sampai mas Reyhan menceraikan ku.
"Sesuai aplikasi nona?" Tanya supir itu ramah sambil memandang ku dari kaca spion yang ada di tengah.
"Iya pak." Jawab ku, berusaha menghapus air mata ku.
Aku segera memesan tiket penerbangan menuju kota B, kota dimana aku dibesarkan. Dan beruntungnya aku mendapatkan penerbangan yang akan berangkat kurang dari satu jam lagi, sehingga aku bisa langsung berangkat tanpa menunggu lama.
Untung saja, jika pergi aku selalu membawa tas ransel yang berisi semua barang-barang pribadiku seperti laptop dan dompet.
Sesampainya di bandara, aku segera mengeprint tiket pesawat yang kubeli secara online. Sedih rasanya meninggalkan kota tempat aku dilahirkan, tempat aku pernah merasakan bahagia dan juga merasakan sakit.
Sesampainya di kota B, aku bingung mau kemana. Karena aku tidak mungkin ke rumah Sean. Bisa banyak pertanyaan yang diajukan Bu Rozza.
Aku memutuskan pergi ke salah satu homestay yang tidak jauh dari Bandara, untuk mengistirahatkan tubuh dan hati yang lelah.
Jika lelah dan banyak pikiran, tidur adalah cara aku merefresh semuanya, sehingga aku memutuskan untuk tidur.
Author POV
Setelah beberapa hari mematikan hpnya dan memutuskan untuk tinggal di home stay yang dekat bandara, Nia akhirnya memutuskan untuk pergi ke desa salah satu pegawai homestay yang kebetulan akan pulang kampung karena neneknya sakit.
"Teteh nggak masalah ikut saya?" Tanya perempuan yang bernama Eis.
Eis adalah salah satu pegawai homestay yang bekerja sebagai cleaning service karena hanya tamatan SMP. Eis harus meninggalkan neneknya yang sudah tua, karena di desanya tidak ada pekerjaan
"Nggak apa-apa Eis. Teteh senang tahu, bisa ikut ke kampung kamu." Kata Nia sambil tersenyum kepada Eis.
"Teteh itu geulis pisan. Kenapa atuh dandan begini?" Tanya Eis sewaktu melihat Nia yang penampilannya berbeda ketika akan berangkat ke terminal bersama Eis.
"Ntar banyak yang nanya dan nyangkut, riwekh Teteh malas jadi pusat perhatian." Jawab Nia.
"Iya, teteh tuh garelis pisan. Kayak bule. Teteh bule?" Tanya Eis dengan polosnya.
"Asli orang negara ini." Jawab Nia sambil tersenyum.
"Orang negara kita mana ada matanya yang hejo seperti mata teteh. Cantik bener teh." Kata Eis lagi.
"Namanya dikasi, ya terima dan nikmati aja." Jawab Nia lagi.
Setelah menempuh perjalanan hampir 6 jam yang membuat tulang punggung Nia sedikit kaku. Sewaktu terun, Nia sedikit melakukan streching agar tubuhnya menjadi rilex.
"Ini suda sampai?" Tanya Nia sewaktu turun
"Belum atuh teh, masih nyambung naik delman." Kata Eis.
__ADS_1
"Delman? Wah seru. Udah lama nggak naik delman." Kata Nia semangat.
Nia segera menggendong tas ransel yang tidak terlalu besar, karena Nia hanya membeli sedikit pakain. Sedangkan Eis membawa tas yang cukup besar, karena rencananya ia tidak akan kembali ke kota. Karena kasihan neneknya tidak ada yang jaga.
Nia sangat senang berada di desanya Eis, karena masih hijau dan sangat asri. Ditambah orang-orang yang ditemuinya sangat ramah.
"Hayuk teh. Maaf, rumah Eis teh cuma begini. Kecil dan reot." Terang Eis begitu sampai di depan rumah kecil dan sangat sederhana, terbuat dari balai bambu.
Eis mengucapkan salam ketika sampai di depan pintu, dan terlihat perempuan yang sudah sangat tua, membuka pintu dengan susah payah.
Eis dan wanita tua itu saling berpelukan dan menangis, yang membuat Nia ikut terharu.
"Ayo teh masuk. Nik, ini teh Khanza. Teh Khanza akan tinggal bersama kita. Bolehkan Nik?" Tanya Eis.
"Rumah kita seperti ini. Apakah teman kamu tidak keberatan Gelis?" Tanya neneknya Eis.
"Nggak apa-apa kok Nik. Za itu batang ubi, bisa hidup dimana saja." Kata Nia bercanda yang membuat Eis dan neneknya tertawa.
"Nama ninik Kosasih, panggil aja Nik Kos." kata Nik Kos.
"Nik tidak keberatan Za tinggal disini?" Tanya Nia yang sengaja memperkenalkan dirinya dengan nama tengahnya.
"Ninik seneng banget, rumah jadi ramai. Tapi yah beginilah keadaan ninik dan Eis." Terang Nik Kos.
Setelah ngobrol sebentar di lantai yang beralaskan tikar lusuh, Eis mengajak Nia untuk istirahat dikamarnya. Kamar yang sangat sederhana dengan ukuran sekitar 4 x 3 meter, yang hanya ada sebuah lemari usang dan sebuah kasur kapuk yang tertup seprai bunga-bunga berwarna pink.
"Maaf teh. Kamarnya kecil." Terang Eis nggak enak hati.
"Nggak apa-apa. Maaf Eis, teteh boleh tahu nggak toko perabotan apa ada di kampung ini?" Tanya Nia.
"Ada teh, di terminal tadi kita turun. Teteh mau beli apa" Tanya Eis.
"Nggak perlu teh. Nanti Eis tidur dilantai saja pakai tikar." Kata Eis.
"Nggak boleh. Ayok kita pergi beli." Ajak Nia yang sedikit memaksa sehingga Eis tidak bisa menolak.
Sesampainya di toko perabot Nia segera membeli 3 kasur In the bo*, satu untuk Nia, satu untuk Eis dan satu untuk Nik Kos. Nia juga membeli beberapa seprai baru dan karpet untuk ruang tamu agar duduk lebih nyaman.
"Banyak bener yang teteh beli." Tanya Eis heran.
"Nggak apa-apa. Biar Nik kos sama Eis nyaman. Itu rumah ninik tanah sendiri?" Tanya Nia
"Iya, itu tanah warisan akik." terang Eis.
"Boleh rumahnya teteh renovasi?" Tanya Nia.
"Masya Allah teh. Nggak perlu. Kita ini baru kenal, teteh udah kasi Eis dan ninik begitu banyak." Kata Eis tidak enak.
"Nggak apa-apa. Nanti Eis cari ya tukangnya." Kata Nia lalu mengajak Eis pulang dengan menumpang mobil bak terbuka milik toko meubel tempat mereka membeli barang-barang.
"Aduh, ini banyak bener belanjaannya neng." Kata nik Kos melihat 2 orang pegawai toko meubel memasukkan barang-barang yang Nia pesan.
"Nggak apa-apa. Biar ninik tidurnya nyaman." Terang Nia sambil mengelus punggung Nik Kos yang sedikit bongkok, karena sudah tua, dan membuat Nik kos terharu, karena baru kali ini melihat barang-barang bagus ada di rumahnya.
Bahkan beberapa tetangga juga ada yang datang karena melihat ada banyak barang yang datang ke rumah Nik Kos dan Eis.
"Itu perempuan siapa Eis?, Sudah lapor pak RT belum?" Kata salah seorang warga yang terlihat sinis dengan Nia.
"Maaf, saya belum lapor. Nanti rencananya sore baru ngelapor. Takutnya kalau ngelapor sekarang pak RT lagi kerja." Jelas Nia ramah, walau dijutekin.
"Iya harus segera lapor atuh. Kami nggak mau ada orang yang tidak jelas ada di kampung ini."Kata perempuan itu lagi masih dengan wajah juteknya.
__ADS_1
"Iya teh Mayang. Nanti Eis antar teh Kanza ke rumah pak RT sore. Kan lapor itu paling lambat 2 x 24 jam, ini juga teh Khanza baru beberapa jam dimari." Protes Eis yang tidak suka tetangganya yang bernama Mayang memojokkan Nia.
"Maaf, ninik mau istirahat dulu. Maklum sudah tua, gampang lelah." Kata Nik kos yang bermaksud mengusir tetangganya secara tidak langsung, yang akhirnya membubarkan diri ke rumah mereka masing-masing.
"Neng diajak atuh neng Khanza makan siang. Tadi ninik masak seadanya yang dikebon samping. Cuma ada ikn asir bakar, sambal terasi sama bening bayam." Terang Nik Kos.
"Ayok teh, kita makan. Sudah lama Eis nggak makan masakan Ninik. Masakan Ninik di kampung ini top markotop teh, dulu waktu masih muda dan kuat, ninik suka dipanggil untuk acara hajatan jadi tukang masak." Terang Eis bangga dengan neneknya.
"Nik kos nggak ikutan makan?" Tanya Nia sewaktu mengambil nasi yang ada di baskom dan tidak terlalu banyak.
"Ninik sudah makan neng. Neng makan saja sama Eis. Nenek mau istirahat dulu." Kata Nik Kos lalu meninggalkan Nia dan Eis.
Nia tahu kalau Nik Kos sedang berbohong. Untuk memuliakan tamu dan agar tamu dan cucunya bisa makan, Nik Kos rela menahan lapar.
"Nanti habis makan kita ke mini market depan ya Eis." Ajak Nia kemudian mulai memakan makanannya. Sederhana, tapi terasa begitu enak, karena Ni tidak pernah makan, makanan seperti itu. Karena walau ibunya ART di ruamh Sean, Rozza tidak pernah membedakan makanan antara keluarganya dengan ARTnya.
"Teteh mau beli apa?" Tanya Eis juga sambil menikmati makan siangnya.
"Lihat dulu aja apa yang kurang, nanti kita beli. Teteh belum beli peralatan mandi." Terang Nia.
Selesai makan, dan membereskan tempat makan, Nia dan Eis segera pergi ke Mini market yang letaknya tidak jauh dari rumah Nik Kos.
Sepanjang jalan yang Nia lalui, rumah penduduk di sana bisa dibilang sudah tidak sederhana lagi. Desa ini termasuk Desa maju, hanya saja akses jalan masih kurang diperhatikan, karena jalan dari pasar ke tempat Eis, setengahnya masih jalan tanah berbatu. Untung saja sekarang tidak musim hujan, Nia tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya mereka ketika hujan.
"Wak.. beli." Teriak Eis karena terlihat mini marketnya tidak ada orang.
"Iya. Eh Eis. Kapan balik? Ini siapa?" Tanya Perempuan setengah baya yang muncul dari dalam rumah dengan daster dan emas yang menenuhi pergelangan tangannya.
"Tadi pagi Wak Emi. Ini teman Eis dari kota. Namanya teh Khanza." Terang Eis.
"Oh.. ini teh, perempuan yang dibilang Mayang tadi." Kata perempuan yang dipanggil Wak Emi dengan Eis.
"Kamu mau beli apa Eis? Nggak bisa ngutang loh. Soalnya belanjaan Nik Kos sebelumnya juga belum dibayar." Kata Wak Emi sinis melihat Eis.
"Saya bayar semuanya. Wak nggak perlu khawatir." Kata Nia sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu. Ternyata bawa tambang uang kamu pulang ya Eis." Sinis Wak Emi yang membuat Eis kesal ingin membalas ucapan wak Emi, tapi ditahan Nia.
"Saya mau beras yang paling bagus 10 kg, telur 1 papan, gula 1 kg, Minyak goreng kemasan yang paling bagus 2 liter. Yang lainnya saya ambil sendiri. Nanti wak totalin, sekalian dengan semua hutang Nik Kos ya." Kata Nia lalu berjalan memasuki mini market dan mengambil semua yang Nia butuhkan.
"Kamu ambil juga Eis keperluan buat di rumah. Teteh nggak tau, kamu sama Ninik biasa pakai apa." Kata Nia.
"Nggak usah teh. Teteh sudah banyak ngasi Wis dan ninik."
"Nggak apa-apa Eis. Beneran ambil aja. Kalau teteh yang ambil nanti nggak sesuai." Paksa Nia, yang membuat akhirnya Eis mengambil beberapa keperluannya dan Nik Kos.
"Sudah Wak, berapa semuanya?" Tanya Nia, lalu Wak Emi menghitung dengan penuh semangat semua belanjaan Nia.
"Jadi total belanj ditambah hutang Nik Kos jadinya Satu Juta dua puluh lima ribu. Karena Wak baik, Wak diskon jadi 1 juta aja." Terang Wak Emi ramah.
"Ini Totalnya 1.050.000. Nggak apa-apa nggak di diskon. Uwak kan usaha." Kata Nia menyerahkan Uang berwarna merah 10 lembar dan uang biru 1 lembar.
"Ini bisa di antarkan belanjaannya ke rumah Nik Kos kan Wak?" Tanya Nia.
"Beres, Sisa uangnya buat ongkos kirim ya Neng?" Kata Wak Emi yang tadinya bercanda, justru di jawab anggukan dan senyuman dari Nia yang membuat Wak Emi senang.
"Eh, ada Eis anu garelis. Kenalin dong akang sama temannya yang dari kota." Kata seorang pria yang datang dengan motor besarnya.
"Kang Hendra, ngapain nyapa si Eis sama temannya yang nggak jelas." Kata Mayang yang tiba-tiba muncul daribdalam rumahnya dan berdiri di samping pria bernama Hendra, yang melihat Eis dan Nia dengan tataoan genitnya.
"Tuh kang, pawangnya sudah datang. Eis permisi. Assalamualaikum. Ayok teh." Kata Eis lalu menggandeng Nia dan mengajak Nia segera pergi, karena paling malas berurusan dengan Mayang.
__ADS_1