
Hari ini, Nia kembali kuliah seperti biasanya setelah menjadi pengurus kegiatan mahasiswa baru. Tadinya Reyhan meminta Nia untuk tidak pergi ke kampus, karena Reyhan tidak ingin, Oget kembali mendekati Nia.
Reyhan yang tidak ingin Nia tahu kalau dia sedang cemburu, dan gengsi mengakui perasaannya, karena diawal pernikahan, Reyhan sudah bilang kalau dia akan selalu cinta dengan Elsa.
Reyhan akhirnya mengizinkan Nia kuliah, dengan syarat Nia harus jauh-jauh dari teman-teman cowok yang selama ini dekat dengan Nia.
Seperti biasanya, Rani selalu berada di sekitar Nia untuk mengawasinya, dan melaporkan gerak geriknya kepada Reyhan, yang terkadang membuat Nia jengah.
"Ni, penjelasan Pak Lele, bisa kamu bantu jelasin ulang? Bahasanya ketinggian. Nggak sampai otak aku." kata Aldi lalu duduk di hadapan Nia yang sedang menyelesaikan BMC (Business Model Canvas) untuk perlombaan yang akan diikutinya.
"Pak Lele?" Tanya Nia bingung, karena setahu Nia tidak ada dosennya yang berasal dari jenus ikan-ikanan.
"Hehehe. Pak Roby. Kan kumisnya di ujung-ujung doang. seperti lele." terang Aldi sambil nyengir.
"Nggak boleh gitu. Bagaimana kamu bisa menyerap ilmunya pak Roby, kalau kamu nggak ngehormati dia. Ngasih julukan aneh-aneh lagi." Protes Nia.
"Iya maaf." Kata Aldi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Nia membantu menjelaskan materi yang diajarkan pak Roby tentang pembuatan bisnis proposal, kemudian Oget dan Dian datang bergabung.
"Udah di tolak, masih aja mau jadi teman. Lagian apa sih yang dilihat dari cewek burik kayak Nia. Pakai pelet dia pasti." Kata Cantika yang berbicara dengan suara keras, sengaja agar Nia dan teman-temannya mendengar.
Tapi memang dasar Nia orang yang sudah terlatih untuk cuek, menanggapinya biasa aja.
"Kamu kok diam aja sih Ni? Aku yg nggak dibicarain, dengarnya jadi esmosi. Lah kamu cuek bebek." Kata Dian kesal melihat Nia yang begitu santai.
"Ngapain marah. Rugi, nguras tenaga, nambah penyakit juga." Jawab Nia sambil mencocol nuget favoritnya dengan saos, lalu memasukkannnya ke mulut.
"Betul itu Ni. Kamu woles aja Dian. Aku yang ditolak biasa aja kok. Walau ada sedikit kecewa, tapi nggak masalah, asal pertemanan kita tetap seperti semula." Terang Oget.
__ADS_1
"Aku suka gaya kamu." Kata Aldi sambil ber 'high five' dengan Oget.
"Kamu udah paham Al?" Tanya Nia lalu kembali memakan nugetnya, karena sambil berbicara menyebabkan saosnya sedikit berlepotan di sudut bibir Nia, yang membuat Oget refleks menghapus saos yang ada di sudut bibir Nia dengan tangannya, yang membuat Nia terkejut, dan refleks memundurkan wajahnya.
"Maaf, ada saos." Kata Oget sambil nyengir, yang membuat Nia hanya bisa menghela napas mendengar perkataan Oget.
Nia merasakan getaran hpnya di saku tas yang ada di depannya. Nia mengambil hpnya dan melihat nama orang yang tertera di layar hp "My beloved hubby".
Nia izin menjauh dari teman-temannya kemudian mengangkat telpon dari Reyhan.
"Assalamualaikum. Iya mas?" Tanya Nia.
"Kamu bukannya saya sudah bilang, jauhi semua teman-teman cowok kamu. Tapi kenapa kamu masih juga bertemu sama teman-teman cowok kamu. Dasar kegatelan. Apa nggak bisa kamu jauh-jauh dari cowok?, Els dulu itu selalu jaga dirinya. Nggak pernah tuh, Els kuliah temannya cowok. Semuanya cewek. Els itu cantik dan banyak cowok yang ngejar-ngejar dia, tapi Els nggak pernah mau nanggapi, bahkan menjauh dari semua teman cowoknya, karena Els selalu jaga dirinya. nggak seperti kamu. Keganjenan. Selalu saja di kelilingin cowok. Apa sih yang mereka lihat dari kamu dengan penampilan seperti itu. Heran saya." Kata Reyhan panjang lebar memarahi bahkan mencaci Nia yang membuat mata Nia mulai berkaca-kaca, tapi berusaha menahan agar air matanya tidak luruh. Bagaimanapun Nia adalah seorang perempuan yang memiliki perasaan dan hati yang rapuh, yang selalu terlihat kuat dan setegar batu karang, tapi hati Nia akan terasa sakit, katika ada yang menganggapnya hina, apalagi suaminya sendiri.
Nia hanya diam mendengar semua perkataan bahkan cacian yang Reyhan lontarkan kepadanya.
Rani yang memandang dan memperhatikan Nia, tahu betul apa yang sedang Nia rasakan. Walaupun baru bersama dengan Nia, tapi Rani tahu kalau Nia perempuan baik, bahkan Rani lebih senang Nia yang menjadi istri Reyhan daripada Elsa, karena Rani tahu Elsa aslinya seperti apa.
Rani tahu kalau Reyhan akan memarahi Nia, karena Reyhan langsung memutuskan panggilan Video yang ia lakukan dengan Rani.
Setelah Reyhan puas meluapkan amarahnya, lalu Reyhan memutuskan panggilan telpon dengan Nia, dan segera menghubungi Rani, dan meminta Rani untuk membawa Nia pulang.
Rani melihat Nia mendongakkan kepalanya ke atas, agar air matanya tidak jatuh, dan berusaha mengembalikan ekspresi wajah sedihnya menjadi seperti biasa.
"Aku pamit dulu. Udah di suruh pulang. See you tomorrow." Kata Nia lalu segera menyambar tasnya dan pergi meninggalkan teman-temannya yang bingung karena tiba-tiba saja Nia pamit.
Rani segera berjalan mendekati Nia menuju parkiran, dimana Leo ditugaskan Reyhan untuk selalu standby di kampus menunggu Nia dan Rani.
Nia masuk ke mobil, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan wajah yang terlihat sedih, membuat Leo bertanya-tanya dan kadang-kadang mencuri pandang, mencari tahu apa yang terjadi dengan nyonyanya.
__ADS_1
Kurang dari satu jam, Nia sampai ke rumah, dan langsung masuk ke kamarnya. Reyhan yang masih ada banyak pekerjaan, masih berada di kantornya,membuat Nia bisa dengan leluasa meluapkan kekesalannya kepada Reyhan, dengan cara menangis.
Nia segera membersihkan wajah dan membuka softlensenya yang mulai mengganggu ketika air mata Nia mengalir dengan deras.
Nia tidak menyangka kalau Reyhan akan berkata seperti itu kepada Nia, bahkan membanding-bandingkan Nia dengan Elsa. Nia tentu saja tidak sama dengan Elsa, walaupun dalam diri mereka mengalir darah Bian, tapi kehidupan dan ajaran ibu yang berbeda, membuat mereka sangat berbeda.
Walaupun Nia punya banyak teman laki-laki, karena biasanya Nia bermain dengan Sean dan teman-temannya, tapi Nia tetap tahu batasan. Nia tidak pernah sengaja mendekati laki-laki, bahkan berpegangan tangan atau menyentuh laki-laki saja Nia merasa enggan. Tapi bisa-bisanya Reyhan menyebut Nia ganjen, dan membuat Nia benar-benar sakit hati.
Nia memutuskan untuk membersihkan diri, lalu melaksanakan sholat zuhur. Selesai sholat, Nia banyak-banyak beristigfar agar hatinya menjadi lebih tenang.
Setelah agak tenang, Nia mengambil ponselnya, dan membuka salah satu aplikasi media sosialnya, melihat semua kenangannya bersama ibunya dan juga kenangan masa-masa sekolahnya bersama Sean.
Nia mengingat semua moment indah yang ia lalui dari kecil. Kehidupan yang sangat damai dan bahagia, walaupun tidak ada papa yang mendampingi, tapi Nia selalu menjadi anak yang bahagia. Tapi kenapa setelah menikah, Ia lebih sering merasakan sakit hati karena sikap dan perkataan Reyhan.
Nia yang terus melihat dan mengingat moment bahagia di hidupnya, lama kelamaan mengantuk dan tertidur. Karena Nia adalah tipe orang yang begitu mudah untuk tidur.
Reyhan yang baru sadar kalau dia sudah berkata kasar kepada Nia, memutuskan pulang cepat. Menemui Nia dan segera meminta maaf.
"Dimana nyonya?" Tanya Reyhan begitu sampai rumah kepada salah seorang pelayan yang ditemuinya.
"Nyonya dari tadi di kamar tuan." Jawab pelayan itu, dan Reyhan segera menuju kamarnya setelah mendengar jawaban pelayan yang tadi ditanyainya.
"Cklek" Reyhan membuka pintu pelan, dan melihat kamar yang gelap, hanya lampu tidur yang menyala. Reyhan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Nia. Netra matanya menangkap sosok Nia yang sedang tertidur pulas.
Reyhan berjalan perlahan mendekati Nia, tersenyum melihat wajah tenang Nia yang sedang tertidur. Reyhan melihat tangan Nia yang masih memegang hpnya. Reyhan mengambil hp tersebut dan tidak sengaja melihat foto Nia yang sedang tertawa bersama Sean, yang membuat Reyhan kembali emosi karena tidak suka melihat kedekatan Nia dengan Sean.
Reyhan membawa hp Nia ke ruang kerjanya dan memeriksa semua foto yang ada di hp Nia, dan menghapus semua foto Nia bersama Sean.
"Pantasan kamu cantik Ni. Ternyata ibu kamu sangat cantik."Kata Reyhan sambil tersenyum dan mengirim sebagian foto Nia ke hpnya.
__ADS_1
Reyhan menelusuri media sosial Nia yang terbuka, tidak ada yang diikuti atau mengikutinya. Ternyata Nia hanya menggunakan media sosial untuk menyimpan semua kenangannya secara pribadi.
Rasa marah yang tadi Reyhan rasakan, tiba-tiba menghilang, begitu Reyhan melihat foto-foto kebersamaan Nia dengan ibunya, dan foto-foto masa kecil Nia yang selalu tertawa lepas.