
Nia melihat para perawat dan dokter yang sedang melepaskan peralatan medis yang terpasang. Setelah semua perlatan medis lepas, mereka membawa Yangti ke ruang steril.
Nia menatap wajah Yangti dan mencium pipi serta kening yangti yang masih terasa hangat.
"Maafin Nia yangti, maaf." Kata Nia sambil sesegukan berusaha menahan air matanya.
"Benar yang Elsa bilang. Kamu itu pembawa sial. Pergi kamu dari sini. Jangan pernah perlihatkan wajah kamu lagi, karena kamu mami meninggal." Kata maminya Reyhan.
"Tapi mi..."
"Nggak ada tapi-tapian. Ini semua karena kamu!" Kata mami Reyhan masih dengan kemarahannya.
"Ayo non." Ajak Rani sambil merangkul Nia.
"Tapi mbak, Yanti..."
"Tuan Reyhan sedang mengurus kepulangan jenazah Yangti. Non harus ikhlas. Paling tidak, Yangti meninggal dalam keadaan tersenyum. Tidak akan merasakan sakit lagi." Kata Rani yang membuat Nia akhirnya mengalah, pergi meninggalkan Yangti, karena tidak ingin yang lain marah ketika berjumpa Nia.
Sesampainya di mobil, Eis segera membantu Nia untuk masuk, dan mereka segera meninggalkan rumah sakit, menuju rumah Reyhan yang ada di kota B.
"Yangti kenapa mbak?" Tanya Nia yang masih bingung, karena semua menyalahkan Nia.
Rani menghela nafasnya, sebelum bercerita, karena tahu ini pasti akan membuat Nia semakin sedih.
"Yangti mengalami kecelakaan. Mobil yang dibawa pak Dirwan ditabrak truk yang mengalami rem blong. Pak Dirwan selamat dan hanya mengalami luka ringan, sementara Yangti mengalami luka parah, sebab posisi yang langsung ditabrak truk. Dokter bilang, suatu keajaiban Yangti masih bisa bertahan, mungkin karena Yangti ingin bertemu Nona. Karena bagian tubuh bawah Yangti sempat terjepit dan terluka parah." Terang Rani yang membuat air mata Nia terus mengalir, membayangkan sakit yang Yangti rasakan.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya Nia sampai di rumah Reyhan yang ada di kota B.
"Mbak Rani istirahat saja. Tolong tunjukkan kamar Eis. Saya mau istirahat." Kata Nia lalu masuk ke kamar tamu, karena Nia tidak ingin lagi masuk ke kamarnya bersama Reyhan.
Nia segera membersihkan dirinya, lalu segera berwudhu dan melaksanakan sholat tahajud sambil menunggu waktu subuh. Bibirnya tidak pernah berhenti mengucapkan kalima-kalimat yang memuji Allah, dan menyampaikan doa untuk Yangti.
Sewaktu masuk waktu subuh, Nia segera melaksanakan kewajibannya, dan karena lelah, akhirnya Nia tertidur masih dengan mukenahnya.
Nia mulai terbangun, dan melihat jam dinding menunjukan pukul 10 pagi.
"Astagfirullah." Ucap Nia yang langsung terduduk mengingat kalau Yangti pasti dimakamkan pagi ini di area pemakaman keluarga.
Nia berusaha mengumpulkan kesadarannya, dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Nia menggunakan pakaian yang dibawanya dalam ransel. Setelah selesai bersiap, Nia segera keluar.
"Teteh sudah bangun?" Tanya Eis.
"Kalau masih tidur saya tidak disini Eis." Kata Nia sambil tersenyum.
"Hehe.. Teteh mau sarapan?" Tanya Eis.
"Nggak. Kita harus ke rumah Yangti." Kata Nia yang bersiap-siap akan pergi.
"Tapi, teh Rani pesan, teteh jangan ke sana. Kondisinya lagi nggak kondusif." Jelas Eis.
"Tapi saya mau antar yangti ke pemakaman." Kata Nia dengan air mata yang mulai mengalir lagi.
"Kamu jangan khawatir. Mereka tidak akan kenal saya." Kata Nia lalu segera masuk kamar, dan merubah penampilannya.
Nia menggunakan gamis yang ukurannya lumayan longgar berwarna hitam, lengkap dengan jilbab besarnya. Tidak lupa Nia menggunakan foundation berwarna gelap untuk menutupi warna kulitnya, serta menggunakan kaca matanya yang berukuran bulat besar, ditambah tahi lalat yang lumayan besar di pipi kirinya.
"Kamu jangan ikut. Saya bisa sendiri." Kata Nia begitu keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Ya ampun?! Ini teh Nia? Beda banget. Kok jadi jelek gini." Kata Eis yang keceplosan dan langsung menutup mulutnya.
"Ok, berarti mereka nggak akan ngenalin saya. Kamu di rumah aja. Saya pergi dulu. Assalamualaikum."
"Tapi teh..." Kata Eis yang tidak melanjutkan perkataannya karena Nia sudah keluar dari rumah dan sudah ada transportasi online yang menunggunya.
Rumah Reyhan dnn rumah Yangti tidak begitu jauh, hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Sepanjang jalan menuju rumah Yangti, Nia melihat banyak sekali papan bunga belasungkawa yang dikirim oleh relasi dan keluarga besar Reyhan, membuat Nia kembali meneteskan air matanya.
"Kita sudah sampai bu." Kata driver online yang mengantar Nia.
Nia segera turun, dan melihat rumah Yangti yang mulai sepi.
Tanpa banyak bicara, Nia segera kembali menaiki transportasi online, menuju tempat pemakaman keluarga Reyhan. Nia berharap, dia belum terlambat untuk menyaksikan pemakaman Yangti.
Sampai pemakaman, Nia segera turun dan menuju tempat yang sudah ramai orang berpakaian serba hitam. Nia menyelinap diantara orang-orang yang menghadiri pemakaman.
Nia sempat melihat, ketia jenaxah Yangti diturunkan, di dalam liang lahat, terlihat Reyhan, Yangkung dan papinya yang akan menyambut jnazah yangti. Disekeliling makam, terlihat mami Reyhan yang terus manangis, termasuk Elsa yang menangis sesegukan sambil ditenagngkan oleh maminya.
Nia melihat sekeliling, tidak nampak papanya berada di antara orang-orang sekitar makam.
Melihat Jenazah Yangti yang diturunkan dan mulai tidak terlihat, membuat air mata Nia mengalir begitu deras, untung saja Nia menggunakan foundation waterprof, sehingga tidak luntur walaupun dibanjiri air mata.
Terlihat Reyhan, mengazani Yangti sebelum makamnya benar-benar ditimpa oleh tanah untuk selama-lamanya.
Setelah makam tertutup dengan tanah secara sempurna, Yangkung memimpin doa untuk Yangti. Selesai berdoa, satu-persatu mereka meninggalkan makam.
Yangkung, Mami, Papi, Reyhan, Elsa dan tamara adalah orang yang terakhir meninggalkan makam, karena harus membujuk Yangkung untuk meninggalkan makam.
Nia sengaja berdoa dimakam orang lain, agar tidak ada yang mengetahui, kalau Nia juga berada di makam. Nia melihat Reyhan yang sedang merangkul Elsa yang masih sesegukan, sementara Yangkung dirangkul oleh papi dan maminya Reyhan.
Setelah memastikan tidak ada orang lagi, Nia memutuskan untuk mendatangi makam Yangti, mengelus papan nisannya, seolah-olah sedang mengelus Yangti. Setelah puas menangis dan berdoa, Nia memutuskan untuk pulang, menggunakan transportasi online.
"Non dari mana?" Tanya Rani panik, sewaktu melihat Nia turun dari transportasi online.
"Tuan Rey pesan, Non tidak boleh kemana-mana. Non harus dirumah." Kata Rani lagi, tapu tidak di gubris oleh Nia, dan memilih masuk ke kamar tamu.
"Teh, teteh nggak apa-apa?" Tanya Eis ketika melihat Nia.
"Iya nggak apa-apa. Saya mau istirahat. Oh iya, Eis pulang duluan ke Desa Sumber Sari. Besok atau lusa saya susul." Kata Nia, lalu masuk ke kamar untuk istirahat dan memikirkan apa yang selanjutnya dilakukan.
Nia segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Nia membuka laptopnya, karena sudah beberapa hari tidak memeriksa laporan dari perusahaannya. Karena orang-orang yang Nia pilih untuk mengurus perusahaannya adalah orang-orang yang bekerja dengan skill dan hati, sehingga membuat Nia tidak takut menyerahkan sepenuhnya kepengurusan perusahaan, walaupun Nia tetap harus memeriksa setiap laporan yang masuk, dan memutuskan hal yang harus diambil untuk perusahaan.
Selesai memeriksa laporan, Nia segera berwudhu dan menunggu waktu sholat dzuhur, sambil berdzikir, dan mengaji untuk Yangti.
Selesai sholat, Nia keluar untuk makan siang, karena twins sudah mulai gelisah, sebab Nia belum mengisi perutnya dari pagi.
"Ayok mbak Sekar makan, sekalian panggil mbak Rani dan bang Leo." Kata Nia ketika melihat Sekar sedang menyusun makanan dimeja makan dibantu Eis.
"Non lupa, kalau tuan Rey tidak mengizinkan laki-laki masuk kedalam, kalau non ada di rumah. Leo makan dengan pak Asep dqn pak Ujang." Kata Rani yang muncul dari ruang tamu.
"Ya udah. Ayok makan." Kata Nia lalu mulai menyendok makanan, dan memakanannya.
Selesai makan, Eis pamit untuk pulang ke Desa Sumber Sari diantar oleh Leo ke terminal.
Sudah, dua hari semenjak Yangti pergi. Nia masih tinggal di rumah Reyhan, karena Rani dan Leo selalu mengawasi Nia. Sementara Reyhan masih sibuk di rumah Yangti.
"Nia keluar kamu." Teriak Elsa dari ruang tengah, karena Nia sedang berada di kamar tamu.
"Non Elsa, jangan teriak-teriak. Non Nia lagi istirahat." Kata Rani yang mencoba menenangkan Elsa.
__ADS_1
"Kamu jangan atur-atur saya. Saya juga punya hak di rumah ini, saya ini juga majikan kamu, karena saya dan mas Rey sudah menikah. Saya hanya mau pelakor itu pergi dari kehidupan saya dan mas Rey." Teriak Elsa. (Lah, pelakor teriak pelakor..😅)
Nia yang malas ribut dengan Elsa, tetap memilih berada di kamarnya. Bukan karena takut, tapi Nia tidak ingin hal buruk menimpa baby twins dalam kandungannya mengingat sikap bar-bar Elsa yang tidak perduli kalau tindakannya membahayakan orang lain.
Elsa terus berteriak dan menendang pintu kamar yang Nia tempati, memaki dan mengucapkan kata-kata yang membuat Nia sedih terutama tentang kematian ibu Nia dan Yangti.
Lebih dari setengah jam, Elsa marah-marah tidak jelas dengan Nia.
"Els, kamu ngapain kesini?" Tanya Reyhan dengan wajah panik.
"Mas kemana tidak menemani aku dua hari di rumah sakit?, Mas pasti bertemu anak pembawa sial itu kan?!, Mas kan janji akan terus jaga aku." Kata Elsa sambil sesegukan, menangis dan terduduk dilantai.
"Mas itu sibuk di kantor dan di rumah Yangti. Kita balik ke rumah sakit ya. Mas akan temani kamu." Kata Reyhan membujuk Elsa.
Nia membuka pintu, karena tahu ada Reyhan, Elsa pasti tidak berani menjahatinya. Nia ingin kejelasan tentang hubungannya dengan Elsa.
"Tunggu mas. Mas harus jelaskan sesuatu." Cegah Nia sambil menatap Reyhan yang sedang menggendong Elsa ala bridal style, dan mendudukkannya di sofa.
"Nanti mas jelaskan Ni. Mas mohon, kamu sabar dulu. Mas selesaikan satu-satu." Kata Reyhan sambil menatap Nia.
"Mas menikah dengan mbak Elsa?" Tanya Nia, yang membuat Reyhan terdiam, bingung mau jawab apa, karena Reyhan tidak ingin menyakiti Nia, tapi yang disampaikan Nia adalah kenyataan.
"Jawab mas!, bukannya sebelum mas ke negara S, mas janji dengan aku, tidak ada orang ketiga dalan rumah tangga kita." Kata Nia dengan tatapan marah.
"Maafin mas Ni, mas punya alasannya." Kata Reyhan lagi, yang membuat Nia hanya bisa tersenyum sinis mendengar jawaban Reyhan.
"Kamu yang orang ketiga. Kamu itu hanya pengganti. Dari awal aku dan mas Rey saling mencintai. Kamu hanya menggantikan aku sementara, jangan jadi perebut yang bukan milik kamu. Kamu sama ibu kamu sama saja, perebut." Teriak Elsa.
"Jangan putar balikan fakta mbak. Mama mbak yang perebut, bukan ibu aku." Kata Nia emosi karena Elsa menghina ibunya sebagai perebut, padahal, kenyataannya Tamara, mama Elsa adalah wanita kedua diantara kehidupan rumah tangga Bian dan Lily.
Elsa yang marah segera menghampiri Nia dan bermaksud mendorong Nia, tapi Nia yang punya basic bela diri, justru mendorong Elsa balik hingga Elsa tersungkur.
"Nia cukup!" Bentak Reyhan karena melihat Elsa yang terjatuh dan langsung pingsan.
"Mas bentak aku?!" Tanya Nia tidak terima.
"Kamu keterlaluan. Elsa ini lagi sakit, tega-teganya kamu dorong Elsa sampai jatuh dan pingsan begini." Kata Reyhan marah sambil menghampiri Elsa dan menepuk pipinya pelan agar sadar.
"Tapi mbak Elsa yang nyerang aku duluan. Aku hanya bela diri." Kata Nia tidak mau kalah.
"Elsa benar, kamu itu bawa sial, semua orang-orang disekitar kamu kamu sakiti." Kata Reyhan marah karena Nia berani menjawabnya.
Reyhan lalu membopong Elsa, dan segera pergi meninggalkan Nia yang masih terpaku mendengar kata-kata Reyhan yang juga mengatakan kalau Nia pembawa sial.
"Non." panggil Ratih yang membuat Nia tersadar, lalu segera masuk ke kamarnya.
Kata-kata Reyhan terus terngiang yang mengatakan kalau Nia pembawa sial, membuat air mata Nia terus mengalir. Baru kali ini Nia merasakan benar-benar sakit hati dan merasa tidak ikhlas.
Nia yang biasanya cuek, tidak perduli dengan hinaan orang lain, merasa benar-benar sakit hati ketika Reyhan mengucapkannya.
"Apa benar Nia bawa sial buk?" Tanya Nia sambil sesegukan, bertanya seolah-olah Lily ada bersamanya.
Nia terus menangis, dan merasa putus asa, sampai akhirnya pergerakan twins dalam rahimnya, menyadarkan Nia, bahwa tidak ada orang di dunia ini yang membawa nasip sial.
Nia menyeka air matanya, dan mengelus perut buncitnya, agar baby twins sedikit tenang.
"Iya sayang. Ibuk nggak akan nangis lagi. Ini yang terakhir. Kita akan bahagia, dan Ibuk akan selalu tersenyum." Kata Nia sambil menghapus air matanya, berusaha tersenyum sambil mengelus perutnya.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
__ADS_1
Sambil nunggu Mengejar mantan update, bisa baca Novel aku yang lain, ketik aja judul Vanilarea ... cerita pertama yang aku tulis, dan nggak kalah seru loh...
Maaf suka lama update...🙏