Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Limited Edition


__ADS_3

pillow talk


"Mas heran deh Ni, kamu beneran cinta mas nggak sih?" Tanya Reyhan pada saat mereka baring-baring sehabis melakukan aktivitas suami istri.


"Cintalah. Mas itu suami Nia. Dua tahun lebih kebersamaan kita mas, rasa cinta itu pasti muncul seiring kebersamaan kita. Sama halnya dengan mas yang juga cinta Nia kan?" Tanya Nia.


"Banget. Mas cinta kamu banget. Tapi mas heran, dimana-mana kalau suami nggak pulang tu dicariin kek, di telpon, di WA, lah kamu mas menghilang seminggu nggak nyariin. Rencananya mas nggak pulang sehari saja, tapi karena kamu nggak menghubungi mas, mas tambah sehari lagi, sampai akhirnya seminggu, mas nggak tahan, kangen banget sama kamu. Kamu pakai pelet apa sih sayang?" Terang dan tanya Reyhan sambil memeluk Nia erat.


"Itu namanya memberi ruang. Nia lagi kasi mas ruang untuk sendiri, biar bisa mas memahami kalau mas itu butuh Nia atau tidak. Nia juga cinta sama mas, tapi cinta Nia nggak buta, yang dikit-dikit ngamuk, dikit-dikit ngambek. Nia punya hati dan perasaan. Nia sedih dan sakit hati waktu mas bandingin Nia dengan kak Els, tapi Nia paham, kebersamaan mas dengan kak Els yang lebih lama, pasti sangat berkesan bagi mas." Terang Nia.


"Kamu itu perempuan atau laki sih Ni?, setahu mas perempuan itu biasanya mengedepankan perasaan daripada logika, tapi kamu kok nggak ya?" Tanya Reyhan heran.


"Ya perempuan lah mas. Bisa-bisanya nanya seperti itu, yang mas lakukan tadi memangnya nggak ngebuktiin Nia perempuan?" Tanya Nia mulai kesal karena Reyhan meragukan Nia perempuan atau tidak.


"Kan bisa aja kamu operasi." Kata Reyhan lagi.


"Jauh-jauh mas sana. Sebel." Kata Nia lalu mendorong Reyhan yang sedang memeluknya, lalu memunggunginya.


"Jangan ngambek dong sayang. Mas makin cinta kalau lihat kamu ngambek. Mas boleh buktikan lagi nggak?" Tanya Reyhan sambil membalikkan tubuh Nia dan menatap Nia dengan mata yang mulai sayu.


"Nggak perlu bukti lagi." Kata Nia lalu kembali membalikkan badannya memunggungi Reyhan.


"Sayang, dosa loh kalau tidur munggungi suami, apalagi nolak suami." Kata Reyhan lagi yang tangannya mulai bergerilya, yang membuat Nia merasa geli dan mereka tertawa bersama.


Nia dan Reyhan tertidur, mereka terbangun sewaktu mendengar kumandang adzan dari hp Nia.


"Sore sayang. Bidadarinya mas." Kata Reyhan sambil mengecup keningnya Nia, karena mereka tidur saling berhadapan dan berpelukan (seperti teletubies...😅).


"Mas mandi cepat gih, ikutan jamaah di mushola." Kata Nia


"Mandi bareng aja yuk, biar cepat." Kata Reyhan dengan senyum jahilnya.


"Buruan mas. Kalau kita mandi berdua, yang ada ntar lama lagi mandinya. Mas itu kan mesum, nggak bisa lihat istrinya kebuka dikit aja, langsung deh mau nyicil buat anak." Kata Nia yang sudah duduk dan menggulung rambutnya ke atas.


"Hahaha.. tau aja kamu sayang. Ya udah mas mandi dulu. Nyicilnya nanti malam aja, Ok." Kata Reyhan lalu segera berjalan menuju kamar mandi sambil tertawa melihat Nia yang memanyunkan bibirnya sebagai bentuk protes, karena kalau Nia protes langsung, Reyhan pasti akan bilang "Nolak suami dosa loh, akan dilaknat malaikat sampai pagi".


Setelah Reyhan mandi dan segera menuju mushola di taman samping, Niapun segera mandi dan melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat Nia turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam, dan cemilan sore untuk Reyhan.


Nia menggoreng Manpo (Money Pocket), yang terbuat dari olahan daging ayam dan udang, dibungkus kulit lumpia, lalu diikat dengan daun kucai sehingga mirip dengan kantong uang.


"Hmm.. wangi bener. Istri mas goreng apa?" Tanya Reyhan sambil memeluk Nia dari belakang, dan seperti seolah-olah dikomando, para ART yang tadinya membantu Nia, pergi meninggalkan dapur, karena tidak mau mengganggu moment kebersamaan tuan dan nyonyanya.


"Ish, kebiasaan deh. Malu tau sama mbok Nah, mbak Siti sama mbak Laras." Kata Nia sambil memukul pelan tangan Reyhan yang melingkar diperutnya.

__ADS_1


"Kenapa harus malu sih sayang? Kan yang kita lakukan ini halal?, bukannya suami istri kalau berpelukan atau bersentuhan, maka akan berguguran dosanya. Biar dosa kita berguguran, makanya mas akan sering-sering peluk kamu." Kata Reyhan sambil mencium ceruk leher Nia yang membuat Nia meremang geli.


"Nggak begitu juga konsepnya Bambang." Kata Nia sedikit kesal.


"Bambang? Siapa Bambang? Kamu selingkuh?" Tanya Reyhan emosi.


"Mas tenang dulu." Kata Nia sambil memegang kedua pipi Reyhan dengan tangan mungilnya.


"Habis kamu sebut nama laki-laki lain." Protes Reyhan lagi.


"Nggak pernah main sosmed sama nonton TV gini nih, itu cuma sekedar istilah penyebutan, kadang Bambang, kadang Ferguso, tapi bukan berarti Nia selingkuh. Mas jangan sedikit-sedikit marah dong. Nggak ada ya dalam kamus Nia kata selingkuh." Jelas Nia yang membuat Reyhan tidak lagi emosi.


"Lain kali jangan sebut nama laki-laki lain di depan mas. Paham?" Tekan Reyhan.


"Paham sayang." Kata Nia lalu kembali melihat manpo yang digorengnya.


Selesai menggoreng manpo dan membuat teh melati, Nia segera membawanya ke taman samping, dimana Reyhan sudah duduk menunggu di salah satu pendopo yang ada di taman samping.


"Mas, Yangti kapan pulangnya?" Tanya Nia sambil menggigit Manpo yang masih hangat, dan membelah sebuah manpo agar dingin, lalu menyuapkannya ke Reyhan, karena Reyhan sedang sibuk dengan laptopnya.


"Baru juga pergi seminggu. Yangkung itu ngasih hadiah keliling benua E loh, sekalian umroh juga, bisa 2 atau 3 bulanan mereka traveling."


"Wah... Seru banget. Tau gitu, kemaren Nia iyain tawaran Yangti watu ngajak ikut." Kata Nia dengan wajah menyesal.


"Ish. Mas kan gitu. Nggak bisa lihat istri bahagia." Protes Nia lalu kembali menyuapkan Manpo ke mulut Reyhan.


"Iya, kamu bahagia, terus mas nelangsa gitu? tiga bulan ditinggal kamu." Protes Reyhan lagi.


"Dih, biasanya juga nggak ada Nia biasa aja." Jawab Nia lagi, sambil memanyun-manyunkan bibirnya yang langsung dicium oleh Reyhan, membuat Nia langsung terdiam dengan mata melotot.


"Biasa aja matanya." Kata Reyhan lalu menarik Nia dalam dekapannya.


"Ish, mas kok main cium-cium aja. Ini tempat umum loh. Nggak malu apa?" Protes Nia.


"Tempat umum apaan, ini rumah kita tahu, bukan mall atau taman umum. Lagian yang nggak halal aja nggak malu ngelakuinnya, lah kenapa kita yang halal harus malu." Protes Reyhan nggak kalah sengit.


"Tapi kan di rumah kita nggak berdua aja mas, ada sekitar 15 orang, yang bisa saja mondar mandir jalan kesana kesini." Protes Nia lagi.


"Memangnya ada yang mondar mandir atau lewat kamu lihat dari tadi sayang?" Tanya Reyhan mulai geram, karena Nia terus saja menjawabnya.


"Nggak." Jawab Nia yang membuat Reyhan tersenyum melihat tingkah Nia yang imut.


"Tapi..."

__ADS_1


"Cup" belum selesai Nia ngomong, Reyhan kembali mencium bibir Nia agar diam.


"Maaasss..." Teriak Nia kesal sambil mendorong Reyhan yang membuat Reyhan tertawa, karena jadi hobi baru Reyhan menjahili Nia.


"Btw any way busway" Kata Reyhan menirukan Nia yang suka berbicara seperti itu.


"Mas..! Jangan ngeledek deh." Protes Nia nggak suka, tapi Reyhan malah tertawa.


"Kan kamu suka bilang seperti itu sayang. Mas cuma niruin aja." Kata Reyhan lagi masih sambil tertawa.


"iya, tapi gaya ngomongnya kan nggak kayak gitu." Protes Nia lagi.


"Istri mas ini, protes mulu. Kamu nggak penasaran gitu, mas seminggu ini kemana aja?" Tanya Reyhan.


"Penasaran sih, tapi Nia nggak mau merusak moodnya mas. Mana tahu mas lagi sama mantan seminggu kemaren, Nia nggak apa-apa kok, asal jangan kelewat batas aja." Jawab Nia yang memelankan suaranya di tiga kata terakhir.


"Kamu nggak cemburu?" Tanya Reyhan heran.


"Cemburu lah. Tapi ya, kan Nia nggak mau cemburu buta. Maunya cemburu nggak buta." Jawab Nia.


"Ada ya cemburu nggak buta?" Tanya Reyhan heran, karena ada saja jawaban Nia.


"Ada. Cemburu nggak buta itu, berarti bisa melihat dari sudut pandang orang lain, bukan dari sudut pandang Nia aja. Jadi Nia harus berpositif thinking, dan menempatkan diri Nia sebagai mas, biar Nia nggak salah marah atau ambil keputusan, yang buat masalah kita jadi semakin ribet." Terang Nia panjang kali lebar.


"Memang beda banget kamu ini sayang. Mas beruntung kamu jadi istrinya mas." Kata Reyhan sambil mencium punggung tangan Nia yang dari tadi di genggamnya.


"Emang mas beneran sama kak Els?" Tanya Nia dengan raut muka sedih.


"Ya nggak lah. Mas itu tinggal di kantor selama seminggu." Jawab Reyhan.


"Mas tidur di kantor?" Tanya Nia terkejut.


" He em." Jawab Reyhan sambil mengangguk.


"Wah.. pasti seru." Kata Nia dengan mata antusias, dan justru membuat kening Reyhan berkerut.


"Kok seru sih?" Tanya Reyhan heran.


"Seru dong. Kantor sepi, nggak ada orang, luas, penuh peralatan dan perlengkapan kantor, pasti suka ada suara-suara nggak jelas dari dunia antah barantah." Terang Nia yang langsung membayangkan suasana kantor yang seram, dengan wajah antusias.


"Fix, mas nikah dengan cewek limited edition. Dimana-mana itu, cewek pasti takut bayangin yang seram-seram. Eh kamu malah antusias. Mau uji nyali di kantor?" Tawar Reyhan.


"Mau..." Jawab Nia antusias😅.

__ADS_1


__ADS_2