Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Sarikaya


__ADS_3

Setelah pulang dari pasar, Sari berhasil membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sari kaya, ada santan murni, telur bebek, gula enau, dan daun pandan.


Sari menatap Nia dengan pandangan tidak suka, karena melihat kedekatan mami Alvaro dengan Nia.


"hmmm... wangi banget mi. Bisa buka toko kue nih mami. Pasti laris banget." Kata Nia sambil menghirup aroma sarikaya yang diaduknya dalam panci.


"Yusuf nggak kasi. Mami nggak boleh terlalu capek, lagian kata Yusuf warisan peninggalan papi nggak bakalan habis kalau untuk mami hidup sehari-hari." Jawab mami Alvaro sambil tersenyum ke arah Nia.


"Sari, tolong siapkan meja makannya ya." Kata mami Alvaro ketika melihat Sari yang berjalan ke dapur.


"Iya buk, Sari siapkan. Oh Iya A' Yusuf teh ikut makan dirumah?" Tanya Sari.


"Iya dong. Nggak mungkin Yusuf makan diluar, kalau cinta masa kecilnya ada disini." Kata mami Alvaro yang membuat Sari langsung manyun, dan langsung pergi meninggalkan Nia dan mami Alvaro. Mami Alvaro hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Sari, dan memakluminya, karena Sari adalah anak yang baik, dan memiliki hubungan yang baik dengan Alvaro.


"Mi, titip sebentar ya. Sa mau angkat telpon dulu." Kata Nia lalu segera menerima telpon dari Eis.


"Iya Eis?, Iya, teteh besok baru balik ke desa sumber sari. Iya, papa sudah sembuh, tinggal pemulihan aja. Teteh nggak sempat beli oleh-oleh, soalnya pulangnya dadakan. Iya, salam buat ninik. Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh." Kata Ia lau mematikan sambungan telponnya.


"Siapa Sa?" Tanya mami Alvaro kepo.


"Mami mau tau aja, atau mau tau pake banget?" Tanya Nia sambil nyengir.


"Kebiasaan deh. Maminya tanya itu langsung dijawab, jangan dibecandain." Protes mami Alvaro.


"Keluarga baru Sa, ada di salah satu desa terpencil. Makanya Sa besok mau balik ke sana, ada yang Sa urus di sana." Terang Nia.


"Proyek sosial lagi?" Tanya mami Alvaro yang tahu betul kalau Nia suka buat proyek sosial, bahkan dulu tidak segan-segan presentasi tentang proyeknya untuk mendapatkan dana dari papi Alvaro.


"Ya gitu deh mi. Atau biar nggak kesepian, mami ikut kesana aja deh. Ntar sama Sa. Sa yang akan jagain mami. Ucup biar aja dinas di desa sebelah." Ucap Nia dengan wajah berbinar, berharap salah satu perempuan yang sudah dianggap ibunya, mau ikut menemani Nia menyelesaikan proyek sosial di Desa Sumber Sari.


"Tapi nanti rumah dan tanaman mami bagaimana?" Tanya mami Alvaro.


"Kan ada teh Sari. Untuk tanaman mami, kita bayar tukang taman profesional. Sa yang bayar deh." Kata Nia semangat.

__ADS_1


"Kamu yang bayar bagaiman? Memang Sa sudah kerja?, ngomong-ngomong kuliah kamu bagaimana? Kamu sama Yusuf dulu bedanya sekitar 3 atau 4 tahun gitu kan?, kamu SD 4 Yusuf kelas VIII." Tanya mami Alvaro.


"Sa punya usaha kecil-kecilan, jadi mami nggak usah khawatir Sa bakalan presentasi ke Ucup untuk biaya tukang kebun mami. 100% Sa yang tanggung. Kalau kuliah, Sa baru nyelesein tesis. Akhir bulan ini wisuda Insya Allah. Mami datang ya?. Beda Sa sama Ucup sekitar 7 tahun sih mi." Jelas Nia.


"Beneran beda 7 tahun?" Tanya Alvaro yang tiba-tiba ikutan nimbrung


"Salam dulu Suf, masuk rumah kok nyelonong aja." protes mami Alvaro.


"Udah mi, tadi Suf dibukain pintu sama Sari." Kata Alvaro lalu ikut duduk disamping maminya.


"Bersih-bersih dulu sana. Mandi, ganti baju. Bau asem tau." Protes maminya lagi, yang membuat Alvaro langsung mengendus aroma tubuhnya, khawatir beneran bau asem.


"Wangi gini kok mi. Tadi habis latihan mandi, jadi udah wangi." Kata Alvaro dengan wajah sombongnya, membuat Nia tertawa.


"Wajah songong lo nggak berubah ya?" Kata Nia sambil memandang Alvaro.


"La lo la lo, kalau beneran beda 7 tahun, lo harus panggil gue Aa'. Dulu gue kira lo cuma beda 3 atau 4 tahun gitu sesuai peringkat kelas." Protes Alvaro.


"Udah biasa. Nggak bisa di rubah." Kata Nia lagi.


"Ya memang sudah sidang tesis. Memangnya ada peraturan tentang usia untuk sidang tesis?" Tanya Nia.


"Nggak sih. Tapi apa nggak kecepatan


Gue aja baru nyelesain pendidikan S1 tahun lalu, lah elo udah Megister aja." Protes Alvaro tidak terima.


"Dah nggak usah dibahas dan di urus. Yang jelas, gue udah lulus sidang tesis. Oh iya, gue rencananya mau ajak mami tinggal sama gue di Desa Sumber Sari. Kasian kalau mami disini nggak ditemani anaknya. Minimal mami ditemani sama putrinya, kalau putranya sibuk." Jelas Nia.


"Lah, sejak kapan lo masuk KK keluarga gue, jadi putri nyokap gue?, Ogah." Protes Alvaro.


"Ish, Lo nggak mau punya adek kayak gue?, nyesal lo ntar. Dimana coba cari adek yang cantiknya nggak berujung kayak gue, baik, rajin menabung, suka..."


"Mulai, sebut semua kesombongon lo." Protes Alvaro.

__ADS_1


"Kenyataan loh. Ya kan mi?" Kata Nia mencari pembenaran.


"Bener tu." Kata mami Alvaro membenarkan lalu berhighfive dengan Nia, yang membuat Alvaro manyun, karena berasa anak tetangga.


"Ntah siapa yang salah... ku tak tahu.. ,anak kandung berasa anak tetangga." Kata Alvaro dengan nada nyanyian yang sekarang lagi populer, membuat Nia dan maminya tertawa.


"Ganti baju gih Suf, mami sama Nia buat Sarikaya. masih anget. Kamu paling suka makan sarikaya anget kan." Kata maminya, yang membuat wajah Alvaro langsung bahagia.


"Aye aye kapten." kata Alvaro sambil memberi hormat, lalu segera menuju kamarnya untuk ganti baju, seperti perintah maminya.


Selesai berganti baju, mereka berempat menikmati sarikaya yang tadi dibuat oleh Nia dan mami Alvaro.


"Sok-sok anggunly lo makan seperti itu. Biasanya juga barbar langsung dari tempatnya." Protes Alvaro karena melihat Nia makan pelan-pelan, sesuap demi sesuap, karena tiba-tiba Nia merasa mual, tapi tidak ingin mami Alvaro tersinggung.


"Kata chef yang suka gue tonton, makan itu harus anggunly, biar tetap slay, no barbarly." Kata Nia sambi tertawa menirukan gaya bicara salah satu chef yang lagi viral, yang membuat mami Alvaro ikutan tertawa, melihat tingkah Nia.


"Kamu ini Sa, ada aja. Oh iya, lanjutin aja makannya, mami mau mandi dulu. Kamu kalau mau mandi, numpang aja di kamar Yusuf, soalnya kamar tamunya lagi mami renov, nggak tahu kalau kamu bakal datang." jelas mami Alvaro lalu pergi.


"Lo mau mandi Sa?" Tanya Alvaro.


"Iya, udah nggak betah gue full makeup gini. Pinjam kamar lo ya?, nggak ada yang aneh-aneh kan?" Tanya Nia sambil menggoda Alvaro.


"Aman. Sari selalu bersihin kamar gue kok. Ya kan Sar?" Tanya Alvaro.


"Eh?, Iya A'" Jawab Sari karena tidak fokus dengan ucapan Alvaro.


Nia izin masuk ke kamar Alvaro, kamar yang tertata rapi dan bersih juga wangi, dengan nuansa khas laki-laki. Nia memandang satu persatu foto yang terpajang didinding, semuanya berisi foto ataupun benda kenangan mereka dulu. Bahkan Alvaro masih menyimpan, cincin yang terbuat dari jerami, yang menandakan kalau mereka dulu jadian. Sekonyol itu tingkah mereka dulu, yang membuat Nia jadi senyum-senyum sendiri mengingat momen kebersamaannya dengan Alvaro dulu.


Nia segera masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Untung saja, sewaktu kabur, Nia tetap membawa tas ransel yang memiliki banyak barang pribadi Nia, sehingga Nia tidak kesulitan untuk membersihkan diri.


"Cup, pinjam kaos lo ya?, soalnya gue lupa bawa baju kaos." Kata Nia yang keluar dari kamar Alvaro, mengenakan kaos kebesaran milik Alvaro.


"Pakai aja. Bebas kalau buat lo." kata Alvaro.

__ADS_1


"Suf, kita jamaah dirumah aja ya?" Tanya mami Alvaro yang juga kelihatan segar karena selesai mandi.


"Iya mi. Suf siap-siap dulu" Kata Alvaro lalu bengun dari diduknya, dan bersiap-siap untuk sholat magrib berjamaah dengan Nia, maminya dan Sari.


__ADS_2