
Setelah sadar, kondisi Bian semakin hari semakin baik. Di depan Bian mereka bersikap biasanya, sementara dibelakang Bian Tamara, Elsa dan Rahma selalu saja menyindir Nia dengan kata-kata yang tidak enak didengar.
Sudah 5 hari Nia meninggalkan Desa Sumber Sari karena kondisi Bian, Eis selalu menelpon melporkan mengenai perkembangan usaha yang baru mereka buka.
"Pa, Papa sehat terus ya. Jangan sakit lagi. Papa tahu bagaimana Nia atau Ibuk, kami tidak pernah mengkhianati siapapun. Nia masih ada kerjaan. Nia minta maaf, nggak bisa rawat papa sampai sembuh." Kata Nia kepada Bian, karena mulai lelah terus-terusan berantem dengan Tamara, Rahma dan Elsa.
"Iya sayang. Papa tahu. Kamu baik-baik di sana. Telpon papa setiap hari." Kata Bian.
"Ntar kalau papa udah benar-benar sehat dan bisa pakai hp lagi, Nia telpon papa setiap hari. Papa jangan sakit lagi ya. Nia sayang papa, cuma papa yang Nia punya." Kata Nia sambil memeluk Bian dan menangis, karena akhir-akhir ini perasaan Nia lebih sensitif dan gampang menangis.
Sewaktu akan pergi, Nia melihat Reyhan yang sedang memapah Elsa keluar dari toilet.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" Tanya Tamara sewaktu melihat Elsa keluar.
"Nggak tahu mi. Els pusing dan mual." Kata Elsa dengan suara yang lemah.
"Kita periksa." Kata Reyhan, lalu menggendong Elsa yang kelihatan lemas ke poli umum.
Nia yang penasaran, memutuskan untuk mengukuti Reyhan dan Elsa ke poli umum, dan memperhatikan mereka dari jauh.
Setelah kurang lebih 15 menit berada dalam poli, Elsa yang duduk di kursi roda keluar dari poli umum dengan wajah bahagia.
"Maaf suster, pasien tadi sodara saya. Kakak saya sakit apa ya?" Tanya Nia sambil tersenyum ramah.
"Oh, mbak yang tadi sedang hamil muda. Biasa, pasangan baru, sering nggak sadar kalau sedang hamil. Dan kandungannya sedikit lemah. Makanya kita rujuk ke poli kandungan." Terang suster dengan nametag Annisa.
"Oh. Terima kasih sus." Jawab Nia yang heran bagaimana kakak tirinya itu bisa hamil, sementara setahu Nia, Elsa belum menikah.
Nia memutuskan untuk duduk ditaman rumah sakit, mencerna dengan baik perkataan suster yang tadi ditemuinya.
Karena malas menduga-duga, Nia akhirnya memutuskan ke poli kandungan untuk mencari kebenaran. Sampai poli kandungan ternyata Elsa dan Reyhan sudah tidak ada disana.
Nia memutuskan kembali ke kamar papanya. Pintu yang tidak tertutup rapat, membuat Nia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Selamat ya sayang, kamu sebentar lagi akan jadi ibu." Kata Tamara sambil memeluk Els.
"Betulkan nyonya. Nia itu seperti ibunya, dia itu mandul, susah dapat anak. Bertahun-tahun menikah, tapi sampai sekarang belum juga dikaruniakan anak. Els walaupun tidak sengaja melakukan dengan nak Rey, langsung jadi." Kata Tamara kepada Yangti yang kebetulan datang menjenguk Bian dan ingin bertemu Nia.
Yangti diam saja karena bingung, apakah harus senang atau sedih. Karena bagaimanapun yang dikandung Elsa adalah cicitnya, anak Reyhan, walaupun kehadirannya dengan cara yang tidak benar.
Nia mendengar hal itu syok, tidak percaya kalau Reyhan benar-benar kembali, bahkan berhubungan dengan Elsa, hingga saat ini mereka akan memiliki anak.
"Bruk"
Nia yang berjalan mundur menjauhi ruangan Bian dan tidak sengaja menabrak seorang pria, yang dengan sigap menangkap Nia yang langsung pingsan, karena kondisi tubuh yang sangat lelah.
Reyhan yang mendengar suara benda jatuh, segera keluar dari kamar Bian, dan melihat seorang pria sedang menggendong Nia.
Reyhan memutuskan untuk mengikutinya.
__ADS_1
Pria itu segera membawa Nia ke IGD karena itu ruangan terdekat. Dokter segera memeriksa Nia, dan memasangkan infus, karena Nia terlihat sangat pucat.
"Bagaimana..."
"Anda tidak perlu khawatir. Istri anda baik-baik saja. Mungkin bawaan kehamilannya, jadi istri anda mengalami dehidrasi dan animea. Nanti saya akan resepkan obat dan Vitamin untuk istri anda. Kebetulan saya Obgin." Kata dokter itu yang merupakan domter kandungan.
"Hamil?" Tanya pria itu reflek.
"Anda ini bagaimana?, istri hamil kok syok begitu wajahnya." Kata dokter itu sambil tertawa.
"Maaf." Kata pria itu bingung.
"Biasa. Pasti anda pengantin baru, jadi tidak tahu kalau istri anda hamil. Biar kita periksa, kebetulan ada alat USG."Kata dokter itu lalu mulai sedikit menyingkap kemeja Nia dibantu suster.
Dokter Obgyn tersebut, mulai mengoleskan gel dan menggerakkan alat USG di atas perut Nia.
"Kalau dilihat dari bentuk janin, usianya sekitar 10 minggu. Wah... selamat, anda akan mendapatkan bayi kembar. Perkembangannya bagus, hanya saja ini beratnya sangat kecil sekali, Jadi anda harus banyak-banyak memberikan istri anda makanan bergizi, biar nanti waktu lahir beratnya cukup. Minum susu hamil rutin, coklat dan es cream sebaiknya sering di konsumsi, ditambah protein, buah dan sayur juga tentunya." Terang dokter itu.
"Kembar?" Tanya pria itu lagi.
"Iya. Sebaiknya istri anda dibiarkan istirahat dulu di rumah sakit, satu atau dua hari. Nanti Kita bantu cek perkembangannya." Kata dokter itu.
"Ok dok. Pindahkan saja ke kamar VVIP. Saya urus administrasinya." Kata pria itu lalu segera menuju ruang administrasi.
Setelah mengurus administrasi, Nia segera dipindahkan keruang rawat VVIP yang dipersiapkan pihak rumah sakit, dimana ruangan Nia hanya berjarak 2 ruangan dari ruang rawat Bian.
Reyhan segera masuk ke ruang rawat Nia dan memukul pria yang tadi membantu Nia.
"Bugh"
Karena diserang tiba-tiba, pria itu sedikit terdorong ke belakang, dengan sudut bibir yang sedikit berdarah.
"Anda siapa? Kenapa anda memukul saya?" Tanya pria itu heran.
"Kamu..."
"Ng...h.." Helaan nafas Nia yang mulai sadar, membuat Reyhan dan pria itu menatap Nia.
Nia mulai membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan, untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk.
"Captain Al?" Tanya Nia heran karena melihat Captain Alvaro ada di dekatnya.
"Mas?" Kata Nia yang juga heran melihat Reyhan.
"Aku dimana?" Tanya Nia heran dan mulai melihat sekeliling dengan pemandangan terbatas, karena sedang berbaring.
"Kamu di ruang rawat rumah sakit." Jawab Alvaro.
"Itu kenapa sudut bibir captain berdarah?" Tanya Nia
__ADS_1
"Katakan dengan jujur Nia. Ini selingkuhan kamu kan? Anak yang kamu kandung adalah anak pria inikan?" Kata Reyhan dengan nada tinggi.
"Pelankan suara anda. Bagaimanapun Nia baru sadar." Kata Alvaro dengan nada suara yang tegas.
"Anak?" Tanya Nia heran dan ingatannya kembali sewaktu mendengar Tamara berkata kalau Elsa sedang mengandung anak Reyhan.
"Oh anak. Iya selamat ya mas. Akhirnya kamu punya anak. Cepat nikahin kak Els. Kasihan nanti anak kalian." Kata Nia dengan sudut mata yang mulai basah.
"Kamu juga cepat menikah dengan pria selingkuhan kamu ini. Kasihan nanti anak kalian." Kata Reyhan membalikkan ucapan Nia.
"Pria selingkuhan?"
"Iya. Pria ini selingkuhan kamu kan?, dan sekarang kamu sedang mengandung anak selingkuhan kamu kan?" Kata Reyhan sambil menunjuk-nunjuk Alvaro.
Alvaro yang tidak paham, memilih untuk diam, karena Alvaro tidak mau buat masalah jadi semakin rumit.
"Mas cukup. Aku nggak tahu apa yang mas bicarakan. Yang jelas, captain Al bukan selingkuhan aku, dan aku nggak pernah selingkuh. terserah mas mau percaya atau tidak. Aku capek. Tolong semuanya keluar." Kata Nia lalu mulai memejamkan matanya, karena kepalanya mulai terasa berdenyut.
"Tolong anda keluar. Biarkan Nia istirahat." Kata Alvaro berusaha sopan.
"Bugh"
Reyhan yang baru keluar dari ruang rawat inap Nia, langsung mendapatkan pukulan dari Marco, karena merasa dejavu dengan kejadian yang menimpa Ibu Nia, sewaktu Nia lahir dan di tuduh Bian selingkuh.
"Lo..."
"Kenapa? Gue udah pernah bilang, Ingatkan lo? Jangan coba-coba lo sakitin Nia. Nggak cukup Lo berzina dengan Els, sekarang lo limpahkan kesalahan lo, dengan menuduh Nia selingkuh."
"Tapi Nia beneran selingkuh. Buktinya sekarang Nia hamil, usia kandungannya 10 minggu, sementara gue udah lebih dari dua bulan nggak berhubungan dengan Nia." kata Reyhan membela dirinya.
"Udahlah. Gue tahu lo itu maha benar, nggak pernah mau salah or ngalah. Tapi ingat Rey, lo jangan seperti om Bian, yang nyesal kehilangan moment membesarkan anak kandungnya karena emosi sesaat." Kata Marco yang malas berdebat.
"Gue nggak akan menyesal. Lagian gue akan punya anak gue sendiri dari Els." Kata Reyhan lalu pergi.
"Maaf anda siapa?" Tanya Marco yang heran karena ada laki-laki tampan dihadapannya.
"Perkenalkan saya Captain Alvaro, panggil saja Al. Saya tadi bantuin Nia ke UGD, karena pingsan." Jelas Alvaro.
"Nia? Lo kok tahu namanya?" Tanya Marco heran.
"Karena kami teman lama. Permisi, saya mau jenguk teman saya dulu. Titip Nia, kondisinya lagi tidak stabil, ditambah emosi ibu hamil biasanya mudah naik turun. Oh iya, obat dan hasil USGnya ada di atas nakas." Kata Alvaro lalu izin pergi.
Marco segera masuk ke ruangan Nia, dan melihat Nia yang sedang duduk memegang hasil USG dengan wajah yang penuh air mata.
"Lo kenapa nangis? Seharusnya lo bahagia. Sini gue lihat calon keponakan gue yang masih kecambah." Kata Marco yang berusaha menghibur Nia.
"Enak aja mbak bilang anak aku kecambah." Protes Nia lalu mengusap air matanya dan menyerahkan hasil USGnya kepada Marco.
"Ya Allah Ni, anak Lo masih kecambah gini udah kelihatan gantengnya. wait.. wait... baby lo twin Ni?" Tanya Marco senang, dan di jawab anggukan oleh Nia, membuat Marco langsung memeluk Nia erat sangking bahagianya.
__ADS_1