Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Bukan Anak Bian


__ADS_3

Nia berusaha mengumpulkan bukti kejahatan Elsa dan Tamara yang sangat rapi. Nia yang tidak terbiasa berada dilingkungan orang-orang jahat, ditambah Lily selau mengajarkan, kalau kejahatan, tidak harus selalu kita balas sendiri. Lebih baik mengalah untuk kebaikan, dari pada berdebat, untuk menyakiti orang lain.


Bagaimanapun Lily percaya bahwa di dunia ini akan ada hukum tabur tuai, lupakan semua kebaikan yang diberi dan keburukan yang pernah di terima, maka hidup akan jauh lebih menyenangkan dan tanpa beban.


"Bagaimana Sean?, Lo ketemu jejak bang Erik?" Tanya Nia ketika bertemu Sean.


"Nggak ketemu. Bang Erik benar-benar seperti di telan bumi. Keluarga bang Erik tidak berada di kota ini. Disini bang Erik hanya tinggal sendiri dan sebagian besar waktunya dihabiskan bersama om Bian dan kantor. Sejak Om Bian masuk rumah sakit dan dilarang nenek sihir dan mak lampir ketemu om Bian, sejak itu bang Erik menghilang." Jelas Sean panjang lebar.


"Gue tahu, dibalik hilangnya bang Erik pasti ada campur tangan tante Tamara dan Kak Elsa. Tapi gue nggak punya bukti. Di email terakhirnya bang Erik tulis, kalau gue satu-satunya anak papa. Apa karena gue lahir dari pernikahan yang sah secara agama dan negara?, sementara tante Tamara waktu itu hanya menikah swcara agama sama papa." Tanya Nia.


"Kita tes DNA. Lo bisa nggak dapat sampelnya nenek sihir?" Tanya Sean.


"Nggak boleh gitu. Dia punya nama." Protes Nia.


"Tapi diakan orang jahat. Gue nggak suka." Kata Sean lagi.


"Terserah lo lah. Yang penting gue udah ingatin. Jadi jangan ntar pas di akhirat, pas lo dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan lo yang menjuluki orang dengan julukan tidak baik, lo jangan bawa-bawa gue. Soalnya gue udah ingatkan." Kata Nia lagi


"Jiah, lo harus bantu gue dong, seperti biasa." Kata Sean sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nia.


"Sableng. Lo kira akhirat seperti dunia. Gue aja sibuk ngurusi dosa gue, mana sempat gue bantuin lo, seperti bantuin lo waktu ditanyain nyokap lo." Kata Nia yang membuat Sean tertawa keras. Untung saja mereka sedang di ruangan kerja Sean yang kedap suara, tapi terbuat dari kaca, sehingga orang bisa melihat, tanpa harus curiga Sean dan tamunya akan bebuat yang tidak baik.


"Ntar gue bantu lo, cari sample ne.. eh kak Elsa dink, ntar gue kena ceramah agama 2 sks sama mamah Nia." Kwta Sean yang kembali tertawa membayangkan Nia berpenampilan dan berbicara seperti salah satu Ustadzah yang cukup terkenal, Curhat dong mah...


"Mulai deh, susah ngomong sama orang visual. Lo pasti bayangin gue jadi tuh ustadzahkan?" Tanya Nia yang dijawab dengan anggukan oleh Sean karena dia masih tertawa.


"Ya udah, lo puas puasin tertawa. Jangan lupa lo dapatkan samplenya kak Elsa, ntar kasi gue, biar gue kirim ke negera J. Gue cabut dulu, janji mau ajak twin main. Wassalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh." Ucap Nia lalu berdiri hendak meninggalkan ruangan Sean.


"What?!, lo mau pergi sama twin?, gue ikut. Kangen gue sama anak-anak gue yang menggemaskan, emang bibit unggul hasil perpaduan lo dan kak Rey. Ntar kalau sama gue pasti lebih unggul lagi." Kata Sean yang langsung tangannya di geplak sama Nia, karena suka sekali bercanda ke hal-hal sensitif.


"Aduh. Sakit tau Michin. Lo udah lakukan KDRT, gue laporin lo ke komnas perlindungan pria." Kata Sean sambil mengelus lengannya yang baru saja dipukul Nia.


"Lapor sono. Dah ah, ntar gue di protes sama twin." Kata Nia lagi.


"Ikut.." Rengek Sean seperti anak kecil yang membuat Nia mengepalkan tangannya membentuk tinjuan, agar Sean tidak bersikap seperti anak-anak karena mereka dilingkungan kantor Sean, bisa jatuh wibawa Sean jika staffnya melihat Sean bertingkah seperti anak kecil. Karena hanya ketika bersama Nia, Sean bisa bertingkah menggemaskan.


Setelah berusaha beberapa lama mencari sampel Elsa, akhirnya Sean mendapatkannya juga dengan bantuan Reyhan, dan menceritakan hal yang sedang Nia lakukan. Bahkan Reyhan mengutus anak buah terbaiknya mencari keberadaan Erik.


Sudah sebulan lebih Bian di urus Jasmine di negara J. Kondisinya semakin hari semakin membaik. Kalau sebelumnya hanya bisa meneteskan air mata, sekarang beberapa kali Bian mulai menggerakkan jari-jarinya.


Dari hasil tes DNA yang dilakukan Nia, Reyhan dan Sean mengetahui kalau Elsa bukanlah anak kandung Bian, berarti Nia satu-satunya ahli waris Bian, dan semua aset Bian seharusnya jatuh ke tangan Nia, bukan Elsa dan Tamara.


Sean terpaksa melibatkan Reyhan untuk mengambil sample tes DNA Elsa. Untuk membantu Nia dan mengejar Nia kembali, Reyhan lakukan berbagai macam cara.


Reyhan adalah orang yang sangat egois, apa yang menjadi miliknya harus tetap menjadi miliknya, hanya saja Reyhan tahu kalau Nia bukanlah orang yang bisa dengan mudah dan mau dengan patuh memenuhi keinginannya sekarang, karena Nia juga memiliki kekuasaan.


"Assalamualaikum. Iya buk?" Tanya Nia via telpon ketika melihat nama Jasmine muncul di layar hpnya.


"Sayang, kamu harus segera kemari. Bawa twin, ibuk sudah kirimkan Mr. Anderson untuk menjemput kamu." Kata Jasmine dengan suara yang terdengar bahagia.

__ADS_1


"Ada apa buk?, papa kembali drop?" Tanya Nia khawatir.


"Tsk. Kamu ini kebiasaan ya, kalau panik suka kumat deh, nggak pintarnya. Pokoknya kamu harus segera siap-siap. Nanti Mr. Anderaon akan hubungi kamu. See you soon honey." Kata Jasmine lalu memutuskan panggilan telponnya.


"Lo kenapa michin?" Tanya Sean ketika melihat perubahan raut wajah Nia.


"Gue harus balik ke negara J." Jawab Nia


"Gue ikut." Kata Sean dan Reyhan bersamaan.


"Nggak." Jawab Nia sambil memandang sinis Sean dan Reyhan karena selalu ikut campur.


"Tapi.." Ucap Reyhan dan Sean bersama.


"Aih, dah ngalah-ngalahin twin aja, ngomongnya barengan mulu. Ya udah, gue harus siap-siap. Mas Rey dan lo Sean, jangan ikut dan jangan susul gue, atau gue akan marah, dan selamanya kalian berdua nggak bisa ketemu gue." Ancam Nia, lalu pamit pergi setelah membayar tagihan minuman mereka.


"Oh iya, mas, Sean, terima kasih bantuannya. Wassalamua'laikum." Kata Nia lalu pergi meninggalkan Sean dan Reyhan yang masih agak shock melihat sikap Nia yang berani mangancam, dan hanya bisa melihat bagian punggung Nia, yang menghilang di sebalik pintu cafe.


Nia segera menghubungi Eis untuk menyiapkan twin dan kebutuhannya, juga Eis dan buk Des yang akan Nia bawa ke negara J. Nia sudah mempersiapkan paspor dan dokumen perjalanan Eis dan buk Des, karena Nia sudah memprediksi keadaan seperti sekarang akan terjadi.


Nia memacu dengan cepat mobil yang dibawanya agar segera sampai di rumah.


"Ibuk..." Sapa Liam sambil berlari bahagia ke arah Nia.


"Iya sayang. Anak sholeh ibuk sudah mandi?" Tanya Nia sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Liam.


"Udah siap teh. Aman." Kata Eis begitu melihat Nia.


"Cepat nya. Memang kamu selalu bisa teteh andalkan." Kata Nia sambiil menunjukkan dua jempolnya kepada Eis.


"Ibuk tinggal aja deh Ni." Kata buk Des yang keluar dari kamarnya.


"Ibuk harus ikut. Sekali-sekali menikmati hidup. kebetulan musim dingin akan segera berakhir, jadi cuaca mulai agak bersahabat sekarang. Nia siap-siap dulu ya buk." Kata Nia lalu pamit ke kamarnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 13 jam, akhirnya Nia dan keluarganya sampai di negara J. Nia segera meminta asisten rumah tanggany yang menjemput, untuk membawakan barang-barang mereka ke rumah, sementara Nia dan yang lainnya segera ke ruamh sakit.


Eis yang baru sekali ke negara J, sangat takjub melihat keindahan kota negara J.


"Wah... teh, keren banget di sini." ucap Eis yang mengagumi pemandangan yang dilihatnya sepanjang perjalanan.


Sesampainya di rumah sakit, Nia yang tidak memberitahukan Jasmine, kalau sudah sampai ke negara J, langsung menuju ruang ICU, tempat Bian terakhir dirawat.


"Suster, maaf. Pasien yang dirawat atas nama Mr. Bian Khaylee ada dimana?" Tanya Nia.


"Tuan Khaylee sudah dipindahkan ke ruang rawat." Jawab suster dengan name tag Aneth.


"Ruang rawat?!" Tanya Nia terkejut.


"Iya, Ruang VVIP di sebelah utara. Tuan Khaylee sudah mulai memberikan respon, walau masih belum sadar, jadi agar nyaman dokter memindahkan ke ruang rawat, agar keluarganya bisa menstimulasi tuan Khaylee agar sadar"Terang suster Aneth.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Ucap Nia bahagia.


"Ibuk kenapa?" Tanya Liam heran.


"Nggak apa-apa sayang. Ayo kita ketemu Opa." Kata Nia bahagia, sambil menggandeng Liam, karena Nizam seperti biasa akan memimpin di depan.


Begitu melihat Jasmine, Nia langsung memeluk Jasmine erat, karena Nia senang papanya mulai menunjukkan perkembangan.


"sayang." Ucap Jasmine sambil tersenyum ke arah Nia.


"Terimakasih buk." Kata Nia terharu.


"Kebiasaan. Jangan nangis dong. Ibuk yakin, papa kamu tidak lama lagi akan sadar. Ibuk suruh kamu kembali, biar kita sama-sama bisa menstimulasi papa kamu biar cepat sadar. Bagaimanapun kamu bagian dari papa kamu sayang." Terang Jasmine.


"Iya buk. Semoga papa cepat sadar ya. Aamiin." Ucap mereka bersamaan.


Nia dan Jasmine selalu menemani Bian termasuk twin, meyemangati Bian untuk segera membuka matanya.


Sementara untuk masalah pengalihan harta Bian, Nia meminta bantuan pengacara Bian, yang selama ini membantu Bian.


Sudah dua minggu Nia kebali ke negara J, bergantian dengan Jasmine menjaga Bian karena Jasmine tetap harus mengurus perusahaannya.


Setiap ketemu Bian, Nia selalu bercerita tentang banyak hal kepada Bian, bahkan cerita selama mereka tidak bersama.


"Bagaimana masalah dengan saudara tiri kamu sayang?"Tanya Jasmine ketika mereka makan malam.


"Sudah Nia serahkan ke Om Handoko buk. Tapi perkembangannya lama banget. Asal Nia tanya, selalu masih proses. Apa Nia kembali sebentar ke negara I ya buk?" Tanya Nia.


"Boleh. Kamu urus masalah kamu di sana dulu. Twin biar aja disini, lagian sudah mulai masuk sekolah juga. Ibuk akan jaga. Kamu konsentrasi aja urus masalah yang disana." Kata Jasmine.


"Iya buk. Lagian buk Des dan Eis sudah mulai bosen. Katanya lebih enak di negara sendiri daripada negara orang. Iya kan Eis?" Tanya Nia.


"Bener teh. Lebih enak di kampung. Eis teh udah kangen makan pecel lele, yang lelenya ambil di kolam." Kata Eis sambil membayangkan lagi nangguk ikan lele.


"Ok. Besok pagi kita pulang." Kata Nia yang langsung disambut tatapan bahagia Eis dan buk Des.


Pagi-pagi sekali Nia berangkat bersama buk Des dan Eis dengan penerbangan biasa, karena mereka akan transit di beberapa negara.


Nia bisa meninggalkan twin dengan tenang, setelah memberikan penjelasan dan membuat beberapa kesepakatan.


Setelah menempuh perjalanan hampir dua hari karena transit di beberapa negara, akhirnya Nia sampai di negara I, dan beristirahat sebelum ke kantor pak Handoko yang merupakan pengacara kepercayaan Bian.


Setelah beristirahat dan makn siang, Nia segera menuju kantor pam Handoko yang berada di rumahnya. Nia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya, karena Nia tahu pak Handoko selalu di rumahnya setelah makan siang.


Nia yang sudah beberapa kali ke tempat Handoko, langsung menuju ruang kerjanya.


"Jadi sayang, bagaimana kasus yang dilaporkan sama anak sial itu?" tanya suara seorang perempuan yang berada di ruang kerja Handoko terdengar begitu jelas, karena pintunya tida tertutup rapat.


"Deg" Jantung Nia tiba-tiba berdetak lebih kencang, setelah mendengar suara perempuan yang berada di ruang Handoko.

__ADS_1


__ADS_2