
Selesai melaksanakan sholat ashar yang sangat terlambat, aku memperhatikan sekitar, ternyata mas Reyhan sudah tidak kelihatan ditempat Ia tadi duduk.
"Dasar jailangkung. Nanti tau-tau muncul aja." Dumel ku sambil merapikan mukena.
"Ehem"
Aku segera melihat sumber suara yang berasal dari depan pintu kamar mandi.
Tuh kan, bener. Tau-tau muncul aja, mana itu keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk sepinggang ke lutut. Mau pamer aurat? Hello... nggak ngiler aku tuh sama body kamu mas. Eh, bukannya aurat cowok emang dari pusar ke lutut ya..? π.
"Biasa aja lihatnya. Nggak usah ngiler juga." Katanya ketus yang membuat aku segera memalingkan wajah. Astagfirullah... ternoda nih mata aku. Ternyata tubuh dan pikiran nggak sinkron, kan jadi maluπ. Lobang mana lobang? mau numpang sembunyi. Duh malu banget, ketahuan lagi, pasti tadi lagi pasang mupeng (muka pengen). Secara di kasih pemandangan roti sobek, kan jadi pengen di gigit. Kok jadi absurd begini ya...π .
Aku lihat mas Reyhan segera masuk ke walking closet yang ada di sebelah kamar mandi, aku yang sudah selesai membereskan mukenah, memutuskan untuk segera mandi juga.
Selesai mandi, aku jadi bingung, karena lupa bawa baju ganti. Lagian belum tanya mbak Rani juga barang-barang aku yang dari asrama ada di mana.
Aku lagi berfikir keras, bagaimana caranya keluar, secara baju sudah aku lempar ke terowong pakaian kotor, hanya tinggal handuk yang memang tergantung di gantungan handuk.
"Tok tok." Suara ketokan pintu membuat aku terkejut dan langsung memandang ke arah pintu untung aja nggak ada bunyi "cklek", bisa pontang-panting kabur aku.
"Ni, kami ngapain di kamar mandi lama? udah mau magrib nih." Kata Reyhan.
"Iya mas, sebentar." Jawab ku. Aduh... Bagaimana ya? Kan nggak mungkin pakai handuk ini aja. Mana handuknya pendek lagi. Katanya horang kaya, handuk kok nggak ada yang gedean dikit.
"Tok tok"
"Ni" Panggil mas Reyhan lagi.
"Iya, sebentar mas." Kata ku mulai panik.
"Ni, Saya dobrak nih, pintunya?" Ancam mas Reyhan.
"Mas boleh keluar kamar dulu nggak?" Kata Ku dari dalam kamar mandi.
"Nggak." Jawabnya cepat.
"Please mas." Kata ku dengan suara memelas.
"Kamu kenapa sih?" Tanya mas Reyhan mulai nggak sabar.
"Aku lupa bawa baju ganti." Kata Ku sambil mengeluarkan sedikit kepala ku dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Mas Reyhan segera ke walking closet dan membawa bathrobe dan melemparkannya ke kepala ku.
"Thank you." Kata ku, lalu segera menutup pintu kamar mandi, dan mengenakan bathrobe, serta mengikatnya dengan kuat.
Mas Reyhan menatap aku yang baru daja keluar dari kamar mandi dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
"Kamu mau kemana?" Tanya mas Rey galak, waktu aku akan membuka pintu, keluar kamar.
"Mau cari mbak Rani." Jawab ku, yang melanjutkan membuka pintu kamar.
Belum sempat aku melangkah keluar, tiba-tiba aku merasa mas Reyhan sudah berdiri di belakang ku, dan menutup kembali pintu kamar, fix, jailangkung nih orang. Itu kaki panjang amat yak, sebentar banget udah nyampai ke pintu aja. Mana badannya yang tepat dibelakang ku terasa hangat, plus wanginya yang enak banget, buat jantung aku jadi dag dig dug ser.
"Hey jantung, biasa aja berdetaknya." Rutuk ku dalam hati pada jantung ku yang nggak mau diajak bekerja sama. Maklumlah ya, reaksi alami tubuh yang sulit di kontrol oleh otak, karena bagaimanapun juga aku perempuan dan mas Reyhan laki-laki.
Aku segera menyelinap melepaskan kungkungan tangan mas Rey sewaktu menutup pintu, dan berusaha berdiri menjauh dari mas Reyhan.
"Kamu kenapa mukanya merah gitu? Demam?" Tanya mas Reyhan yang membuat aku langsung memegang pipiku yang terasa hangat, karena bersemu merah udah seperti kepiting rebus.
"Nggak apa-apa. BTW, kenapa mas tutup sih pintunya? Aku tuh mau cari mbak Rani." Protes ku untuk mengalihkan pembicaraan supaya mas Rey tidak melanjutkan pertanyaannya atau menduga-duga hal yang aneh, kenapa wajah ku memerah.
"Mau ngapain? Mau pamer diri sama staff laki-laki yang ada di rumah ini? " Katanya ketus, sambil berjalan menuju sofa, dan mendaratkan tubuhnya untuk duduk di sofa, membuat hati aku terasa sakit, pengen nangis rasanya, tapi aku tahan air mata aku agar tidak keluar, karena aku tidak mau dibilang cengeng atau lemah.
"Di walking closet kan banyak pakaian." Kata mas Rey masih dengan mode judesnya. Dasar cowok nggak jelas. Mood nya bisa berubah semudah kita membalikkan tangan, membuat aku semakin kesal, karena mengingat pakain yang ada di sana bukan dipersiapkan untuk ku, tapi untuk kak Elsa.
"Aku punya pakaian sendiri. Walaupun nggak bermerk seperti yang di walking closet, tapi aku nyaman." Jawab ku.
"Saya akan suruh Rani bakar semua pakaian kamu, kalau kamu tidak memakai pakaian yang ada di walking closet." Ancamnya.
"Bakar aja. Ntar aku beli yang baru." Jawab ku emosi.
"Saya tidak akan biarkan kamu keluar dari kamar ini." Katanya dengan wajah marah, membuat aku hanya bisa menghela nafas, dan membuangnya kasar, karena aku tipe plegmatis yang suka damai, dan nggak suka mencari masalah, memutuskan untuk mengalah. Karena menurut aku, mengalah bukan berarti kalah.
Aku langkahkan kaki dengan ekspresi kesal menuju walking closet. Biar aja mas Rey lihat dan tahu kalau aku sedang kesal, bahkan sengaja agak membanting pintu ketika menutupnya.
Mata ku memanas dan mengabur ketika berada di dalam walking closet. Air mata sudah tidak bisa aku bendung lagi, meluncur bebas membasahi kedua pipi ku.
"Begini banget hidup aku ya?" Tanya ku pada diri sendiri, dan hanya berdiam diri menatap wajahku di depan sebuah cermin besar.
Aku hanya berdiam diri di dalam walking closet, menata hati agar lebih tegar lagi. Aku hapus sisa-sisa jejak air mata di wajah ku, dan menarik serta menghembuskan nafas ku perlahan agar lebih tenang.
Aku memutuskan mengambil pakain dalam di laci pakaian dalam, dan ukurannya pas. Kemudian aku segera menyambar midi dress yang panjangnya pas selutut, berbentuk kembang bagian pinggang kebawah, dan ngepas di bagian atasnya.
__ADS_1
"Tok tok"
"Kamu ngapain di dalam?, tidur?" Tanya mas Rey sambil terus mengetok pintu dan masih dengan nada suara menyebalkan miliknya.
Aku segera membuka pintu dan keluar dari walking closet, melewati begitu saja tubuh mas Rey yang berdiri di depan pintu.
Aku memilih untuk duduk di depan meja rias, lalu segera menyisir rambut ku yang masih setengah basah. Setelahnya segera menuju pintu, bermaksud keluar dari kamar, meninggalkan laki-laki menyebalkan, yang sudah menyandang status suami ku, dan mau tidak mau, harus aku hormati.
"Mbak, lihat mbak Rani?" Tanya ku pada seorang ART yang lewat di depan ku.
"Bu Rani ada di paviliun belakang nyonya." Jawabnya ramah sambil membungkukkan badan.
"Nggak usah terlalu formal mbak. Kita sama-sama manusia kok. Lagian saya tidak nyaman seperti itu." Kata ku sambil tersenyum.
"Baik nyonya." Jawabnya lagi
Mau protes karena dipanggil nyonya, berasa tua banget jadi nyonya mener yang berdiri sejak tahun 1975. Nggak pegel tuh nyonya berdiri sejak tahun 1975?π .
"Btw paviliun belakang itu di mana ya?, soalnya walaupun rumah ini besar, tapi saya nggak bisa pakai Gmap buat cari lokasi." Tanya ku sambil menahan tawa, karena tiba-tiba membayangkan suara mbak G, yang memberikan petunjuk arah, pasti lucu.
"Mari nyonya, saya antar." Katanya lagi ramah.
"Oh iya, nama mbak siapa?" Tanya ku sambil mengikutinya.
"Nama saya Miska nyonya." Jawabnya sambil melihat ke arah ku.
Aku sampai di taman belakang yang terdapat beberapa paviliun, tempat tinggal para ART.
"Silahkan nyonya. Itu bu Rani." Kata Miska sambil menunjuk mbak Rani yang sedang duduk bersama ART yang lain.
"Mbak Rani." Sapa ku sambil tersenyum yang membuat mbak Rani langsung berdiri mengambil sikap sempurna. Ck.. ptofesional sekali memang para pekerja mas Rey ini.
"Iya nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya mbak Rani.
"Barang-barang aku yang di bawa dari asrama ada di mana?" Tanya ku.
"Gudang." Jawab tegas sebuah suara yang berasal dari belakang ku, yang membuat aku langsung melihat sumber suara.
"Gudang" beo ku
"Iya. Barang-barang lama kamu saya musiumkan. Yang penting sudah saya suruh mereka meletakkannya di kamar kita. Tapi karena nggak ada yang penting, jadi semuanya saya suruh letakkan di gudang." Jawab Reyhan santai, yang membuat aku tidak bisa berkata apa-apa sangking kesalnya.
__ADS_1