Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Reaksi Bian


__ADS_3

Jasmine segera menemui Omar ketika Nia mulai tenang, dan memutuskan untuk segera ke negara I menggunakan private jet milik Omar.


Nia segera membawa twin yang sedang terlelap menggunakan stroler. Karena memang jamnya tidur, walaupun dipindahkan tetapi twin tidak terbangun.


Reyhan yang selesai menghubungi asisten pribadinya melihat Nia dan Jasmine yang sedang mendorong stroler bayi.


"Sayang ini...." Kata Reyhan yang tidak sanggup berkata-kata ketika melihat twin yang sedang tertidur lelap di strolernya.


"Kok kamu nggak bilang kalau papa lagi koma sih mas?" Protes Nia.


"Astagfirullah, mas lupa. Els sedang menjaga papa, makanya tidak bisa ikut." Jelas Reyhan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Reyhan.


"Aku mau jenguk papa." Jawab Nia sambil terus berjalan.


"Michin, gue ikut lo ya." Kata Sean yang berlari kearah Nia dan Jasmine, sambil membawa tas ransel.


"Mas juga ikut." Kata Reyhan nggak mau kalah. Karena malas ribut, Nia membiarkan saja Sean dan Reyhan mengikutinya.


Sesampainya di pesawat, Nia segera meletakkan twin di bangku khusus bayi agar mereka nyaman. Reyhan terus memandangi twin yang memiliki garis wajah begitu mirip dengannya. Ingin rasanya Reyhan menggendong, memeluk dan mencium darah daging yang tidak ia lihat tumbuh kembangnya selama empat tahun, tapi Reyhan takut mengganggu tidurnya twin.


Nia yang merasa lelah fisik dan lelah pikiran karena kepikiran Bian, membuat Nia segera memejamkan matanya untuk merecharge tenaga dan pikirannya agar bisa berfikir lebih jernih ketika sampai.


Kurang lebih 12 jam berada di pesawat membuat Nia bisa segera terlelap.


Sean dan Reyhan yang duduk bersebelahan dan berhadapan dengan Nia dan Jasmine, terus memandang wajah lelah Nia yang terlihat semakin cantik.


Sudah lama sekali Rey tidak memandang wajah cantik Nia ketika sedang tertidur pulas karena kelelahan. Wajah itu masih sama, bahkan terlihat semakin anggun karena aurat yang tertutup.


"Kamu jangan mandang Nia Sean. Bsgaimanapun Nia itu istri kakak." Kata Reyhan pelan karena melihat Sean juga terus memandang Nia.


"Mantan kak. Ingat, MANTAN." Kata Sean menekankan kata mantan yang terakhir.


"Kakak tidak pernah merasa menalak Nia, jadi talak itu tidak sah." Protes Reyhan lagi.


"Terserah kakaklah. Aku nggak mau ribut." Kata Sean mengalah, lalu berusaha memejamkan matanya.


Nia yang lelah bisa tertidur nyenyak untuk beberapa jam, ketika twin bangun, Jasmine segera mengurusnya kemudian Liam bermain dengan Sean dan Nizam bermain dengan Reyhan.


Reyhan bahkan sempat terharu ketika Nizam mengulurkan tangannya kepada Reyhan, dan memegang wajah Reyhan.


Bagaimanapun hubungan darah lebih kental dari pada air, jadi Nizam dan Liam tidak membenci Reyhan, karena Nia tidak pernah sedikitpun mengajarkan kebencian kepada mereka.


Setelah beberapa saat digedong Reyhan tanpa suara, Nizam meminta Reyhan untuk menurunkannya, dan duduk kembali ke tempatnya sendiri. Benar-benar karakternya persis dengan Reyhan yang angkuh dan mandiri, ketika keinginnannya sudah terpenuhi.


"Om cakep" Tanya Liam yang senang bermain dan tertawa bersama Sean yang membuat Reyhan memandangnya tidak suka.


"Jadi nama kamu Liam, dan abang kamu Nizam?" Tanya Sean memastikan penjelasan yang baru saja disampaikan Liam.


"Yup, abang sama aku cuma beda 5 menit. Tapi gayanya seperti orang sudah besar. Padahalkan kita masih anak-anak ya om." Curhat Liam yang persis gaya Nia ketika curhat, membuat Sean memeluk Liam gemes.


"Liam tidak peluk ayah?" Tanya Reyhan yang mencoba mencuri perhatian Liam, karana Nizam sudah tidak memperdulikannya.

__ADS_1


"Ayah?," Tanya Liam bingung.


"Orang tua kita. Pasangan ibuk. Seperti dadynya Nau." Jelas Nizam.


"Ayah." Kata Liam senang karena dari dulu Liam yang selalu antusias soal dady, hanya saja Liam tidak tahu sebutan ayah.


Liam segera mengulurkan tangannya ingin di gendong oleh Reyhan, yang langsung disambut senang oleh Reyhan.


Reyhan memeluk dan mencium pipi Liam gemes, membuat Liam tertawa bahagia dan membuat Nia terbangun.


"Hmmm.. Sayang kamu sudah bangun." Kata Nia sambil menatap Liam dipangkuan Reyhan yang membuat Reyhan senang, karena dikiranya sebutan sayang yang Nia ucaokan untuknya.


"Nizam sayang juga sudah bangun. Sudah minum susu hmm..?" Tanya Nia sambil tersenyum manis kepada Nizam yang dibalas senyuman dan kecupan di pipi Nia, karena Nia mendekat.


"Sudah. Dikasi die oma." Jawab Liam.


"Mandinya, nanti aja kalau sudah sampai ya." Kata Nia karena tahu betul kebiasaan twin yang nggak betah jika belum mandi ketika bangun tidur.


"Masih lama buk?" Tanya Liam sambil mengulurkan tangannya ke Nia, yang disambut Nia, lalu mencium pipi gembul Liam.


"Tinggal 2 jam lagi kurang lebih." Jawab Nizam sambil menarik pergelangan tangan Sean yang ada di depannya, untuk melihat jam.


"Anak lo yang itu lo kasi makan apa michin?, Cerdasnya keterlaluan." Tanya Sean.


"Dikasi makanan yang sehat dan bergizi. Lagipula kecerdasan tidak ditentukan oleh makanan, tetapi sebagian besar ditentukan oleh gen keturunan ibu. Jadi kalau aku cerdas, itu bukan karena makanan, tapi karena kami memiliki ibu yang cerdas." Jawab Nizam dengan ekspresi datarnya persis Reyhan ketika berbicara.


Setelah kurang lebih 12 jam menempuh perjalanan, akhirnya Nia sampai di negara I, dan langsung menuju kota B.


"Rani dan Leo sudah menunggu." Kata Reyhan begitu turun, dan membantu Nia menggandeng Liam, sementara Nizam lebih memilih digandeng oleh Nia.


"Aku bareng kamu ya Chin?." Tanya Sean dengan wajah memelas.


"Tolong, gue capek, dan harus ketemu papa. Gue nggak mau dengarin mas Rey dan lo ribut. Anggap aja gue nggak ada atau manusia tak kasat mata." Kata Nia, lalu segera menggandeng Liam dan meninggalkan Reyhan dan Sean, dan langsung masuk ke mobil milik Jasmine, karena Jasmine memiliki perusahaan di kota B, yang dikelola oleh orang kepercayaannya.


Selesai mengantar twin dan Jasmine, Nia segera menuju rumah sakit, untuk melihat keadaan Bian.


Sesampainya di rumah sakit, Nia segera beejalan cepat menuju ruang ICU, tempat Bian dirawat sudah sekitar sebulan, Bian hidup menggunakan alat-alat medis untuk bertahan.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Elsa yang menghalangi langkah Nia ketika akan masuk ke ruang ICU.


"Mau jenguk papa." Jawab Nia berusaha sabar menghadapi Elsa.


"Papi nggak butuh kamu." Kata Elsa ketus dan masih menghalangi Nia.


"Yang didalam papa aku juga. Jadi aku juga berhak untuk melihat papa." Kata Nia dan bermaksud menggeser Elsa.


"Nggak. Kamu nggak boleh lihat papi." Kata Elsa lagi.


Nia terpaksa menggeres Elsa pelan agar membiarkan Nia masuk, tetapi tiba-tiba Elsa jatuh dengan sangat kuat.


"Kamu tidak apa-apa Els?" Tanya Reyhan yang baru saja datang, dan melihat Nia mendorong Elsa.


"Nggak apa-apa mas. Cuma sedikit sakit saja lututnya karena Nia mendorong aku." Kata Elsa dengan ekspresi sedih yang membuat Nia yang melihatnya hanya menyunggingkan sedikit sudut bibir kirinya dan memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih Nia?, bagaimanapun Elsa ini kakak kamu. Jangan kamu dorong, jangan bertindak kasar." Kata Reyhan sedikit marah.


"Maaf. Aku cuma mau lihat papa, nggak mau lihat drama. Tolong mas urus istri mas tercinta ini. Permisi." Kata Nia lalu masuk ke ruaang ICU tempat Bian dirawat.


Nia segera menggunakan pakaian steril dan masuk ke ruang Bian di rawat.


Nia begitu terpukul melihat kondisi Bian yang terlihat sangat kurus dan lemah. Hanya suara EKG (Elektrokardiogram) yang menandakan kalau Bian masih hidup.


"Pa... Ini Nia pa. Papa kenapa seperti ini." Kata Nia sambil menangis dan mencium punggung tangan Bian.


"Pa... Papa harus sembuh. Papa harus bangun. Nia janji, Nia akan jaga papa. Nia nggak akan ninggalin papa. Papa bangun dong pa." Kata Nia sambil terisak karena berusaha menahan tangisnya.


Hampir satu jam Nia berada di ICU, menggenggam dwn mengajak Bian berbicara, bahkan menceritakan yang Nia lalui 4 tahun terakhir.


Nia melihat ada air mata yang mengalir dari sudut mata Bian, yang membuat Nia senang, karena Bian akan sadar.


"Pa... Papa dengar Nia kan?, papa bangun dong pa." Katw Nia antusias, lalu menekan tombol darurat untuk memanggil dokter atau perawat.


"Nona silahkan tunggu di luar. Kami akan memeriksa tuan Bian." Kata seorang dokter yang datang bersama dua orang perawat.


"Nia! Ini beneran lo,?" Tanya Marco sambil memeluk Nia tidak percaya, kalau dia bisa melihat Nia lagi.


"Maaf mbak. Bisa tolong lepaskan." Kata Nia sambil sedikit mendorong Marco yang memeluknya erat.


Marco melihat penampilan Nia yang tertutup hijab dalam, membuat Marco paham, kalau Nia yang sekarang, bukanlah Nia yang dulu, yang bisa dipeluk oleh Marco karena mereka saudara.


"Gue insaf, udah bukan Monica lagi, so lo jangan panggil gue mbak." Kata Marco


"Alhamdulillah" Jawab Nia senang.


"Kamu apain papi?, Dasar anak bawa sial, setiap ada kamu, pasti papi kritis." Kata Elsa yang mendekati Nia.


Nia hanya memandang Elsa yang sedang di tahan Reyhan agar jangan mencelakai Nia, marah-marah ke Nia, lalu memutuskan untuk duduk di bangku tunggu bersama Marco.


"Om Bian kenapa Nia?" Tanya Marco.


"Nggak tahu. Tapi tadi papa nangis." Jawab Nia sedih.


"Btw, kecambah gue apa kabar?" Tanya Marco yang membuat Nia tersenyum, karena Marco menyebut twin kecambah.


"Alhamdulillah, sehat."


"Wah... mereka pasti ganteng-ganteng mirip gue kan?" Tanya Marco antusias, dan di jawab Nia hanya dengan senyuman dan gelengan kepala.


"Yah... kok nggak mirip gue?" Tanya Marco heran.


"Aku ayahnya bang. Jadi twin mirip akulah." Protes Rethan tidak terima, yang membuat Elsa langsung bermuka masam, dan mengepalkan tangannya erat untuk menahan marah.


"Bagaimana papa dok?" Tanya Nia begitu melihat dokter keluar.


"Alhamdulillah, tuan Bian mulai memberikan respon setelah koma hampir satu bulan." Kata Dokter dengan name tag Adrian sambil tersenyum ke arah Nia plus tidak berkedip, karena baru sadar, ternyata wajah Nia sangat cantik dengan mata yang indah.


Nia yang tahu sedang di tatap, memutuskan untuk menundukkan wajahnya agar tidak terlalu diluhat dokter Adrian.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Terima kasih dokter." Kata Nia agar dokter Adrian segera pergi. Sementara Reyhan mengepalkan tangannya, menahan marah, karena ada dokter yang berani menatap Nia kagum.


"Pindahkan dokter Adrian ke rumah sakit cabang daerah terpencil." Ucap Reyhan di telpon ketika menjauh dari yang lain.


__ADS_2