Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Maaf


__ADS_3

Sudah seminggu mas Reyhan tidak pulang, dan kehidupan ku kembali seperti dulu, sewaktu kami belum sepakat untuk menjadi suami istri yang sebenarnya.


Yangti, Yangkung, serta mami papinya mas Rey, memutuskan untuk liburan keliling benua E, untuk memenuhi keinginan Yangti yang memang suka sekali traveling.


Aku melanjutkan hari-hariku seperti biasa, kampus, taman kota dan panti asuhan ada tempat yang selalu aku datangi seminggu ini.


"Ni, aku bingung nih untuk judul skripsi aku ambil apa ya?, mana pembimbing aku pak Lele lagi." Kata Bang Oget yang tiba-tiba duduk dihadapan ku yang sedang mengerjakan tugas dari dosen di kantin kampus.


"Coba angkat tentang budaya kerja deh, itukan hal yang masih baru, tapi menurut aku cukup efektif untuk mengurangi tingkat turnover. Nanti bisa dihubungkan dengan motivasi, gaya kepemimpinan atau bisa juga kompensasi." Terang ku.


"Good Idea. Kok aku nggak kepikiran ya?" Kata Bang Oget sambil nyengir.


"Kan emang kamu yang paling tidak pintar diantara kita." Kata Bang Aldi yang juga datang dan duduk di samping Bang Oget.


"Kangen. Kamu sibuk banget Ni, sampai-sampai susah ditemui sejak magang dan kamu buat acara keren." Kata bang Aldi sambil menyomot nuget yang aku pesan.


"Kangen sih kangen. Nuget aku yang terakhir loh itu." Protes ku karena bang Aldi memakan nuget terakhir ku, karena aku adalah tipe orang yang memakan makanan yang menurut ku paling enak belakangan. Jadi bang Aldi memakan nuget yang menurutku paling enak.


"Abang tahu. Sengaja. Ini yang paling enak kan?" Kata bang Aldi sambil tertawa yang langsung ku timpuk pakai botol saos yang kebetulan sudah habis.


"Ampun Ni. Iya aku pesankan lagi. Mau berapa porsi?" Tanya bang Aldi sambil menunjukkan senyumannya.


"Udah kenyang. Nggak mau lagi. Tapi kalau burger double patty and triple melted chesee bolehlah." Kata ku sambil tertawa.


"Dasar perut gentong." Kata bang Aldi lalu beranjak meninggalkan kami untuk memesan makanan.


"Aku mau juga, sama." Teriak bang Oget.


"Kamu kenapa suka tampil begini sih Ni?, padahal waktu acara kamu cantik banget loh." Tanya bang Oget sambil memandang ku yang membuat aku merasa risih.


"Lebih nyaman begini." Jawab ku sambil melanjutkan mengerjakan tugas ku.


"Eh ada itik buruk rupa." Kata Chantika seperti biasa yang selalu mengganggu ku.


"Kamu pasti nggak di undang di acara penyambutan kepulangan kak Elsa ya kan? Secara itik buruk rupa nggak mungkinlah datang ke pesta berkelasnya kak Els. Cantik menang makeup doang waktu acara." Kata Cantika mengejek ku, dan membuat perasaan ku tiba-tiba tidak enak.


Kak Elsa pulang?, apakah itu artinya mas Rey akan kembali sama kak Elsa?,


"Sorry bang, aku baru ingat ada janji." Kata ku lalu segera membereskan laptopku dan menenteng tas ransel ku.


"Ni, burger kamu gimana?" Tanya bang Aldi yang datang membawa baki makanan berisi burger pesanan ku.


"Buat abang aja. Anggap aja aku yang traktir. Da..." Kata ku lalu segera pergi meninggalkan mereka.


Aku segera melajukan motor matic ku menuju rumah. Sekarang aku tahu, kenapa mas Reyhan tidak pulang. Itu pasti karena dia sedang bersama kak Els.


Sakit ternyata, begitu aku merasa kalau mas Reyhan kembali bersama dengan kak Elsa. Tapi bukankah memang aku hanya pengganti. Aku disini yang bodoh, mau saja menjadi pengganti, terus bahkan jatuh cinta dengan mas Reyhan. Aku yang terlalu naif, kalau mas Rey beneran akan mencintai aku.


Sesampainya di rumah aku melihat kak Elsa yang sedang duduk dengan anggunnya di sofa ruangan keluarga, seolah-olah Ia adalah pemilik rumah, dan aku tamunya.

__ADS_1


"Eh Nia. Kamu sudah pulang. Maaf ya, aku disuruh mas Rey nunggu di rumah." Kata kak Elsa begitu melihat ku.


"Iya kak. Maaf, aku mau bersihkan diri dulu, soalnya dari luar." Kata ku lalu segera beranjak menuju kamar ku dan mas Reyhan.


Sakit banget rasanya, sewaktu tahu mas Rey janjian dengan kak Elsa di rumah ini. Jelas-jelas aku masih ada di rumah ini, apa tidak bisa mereka janjian diluaran sana. Terserah mereka mau ngapain, tapi setidaknya mas Rey jaga perasaan aku.


Author PoV


Air mata Nia tanpa bisa dikomando, mengalir deras membasahi pipinya, karena Nia benar-benar merasakan sakit. Dulu sewaktu Sean memiliki banyak pacar, walaupun Nia merasa sakit, tapi tidak sesakit yang dirasakannya sekarang.


Nia memutuskan untuk mandi, mengguyur kepala dan tubuhnya dengan air dingin, membuat agar hatinya yang sakit bisa sedikit tenang.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Nia memutuskan untuk turun ke bawah menemui Elsa.


"Kamu jahat ya mas? Kenapa rumah ini tidak kamu rubah dekorasinya? Inikan semua aku yang pilih." Kata Nia yang sedang mengobrol dengan Reyhan.


"Kenapa jahat? Ini rumah mas Els, jadi ya terserah mas." Jawab Reyhan.


"Mas sudah pulang?" Tanya Nia basa basi.


"Aku siapkan makan siang buat kita ya." Kata Nia lalu segra menuju dapur.


"Mau masak apa hari ini nyonya?" Tanya mbok Nah.


"Masak yang gampang aja mbok. Brokoli cah bawang putih, ikan dori goreng tepung, tahu krispi ntar di campur cabe lada garam." Jawab Nia sewaktu melihat bahan makanan yang ada di kulkas.


"Ayok kak, mas, makanannya sudah siap." Kata Nia lalu berjalan menuju ruang makan.


"Piring mas mana Ni?" Tanya Reyhan karena tidak melihat piring dihadapannya, membuat Nia kembali tersadar, kalau kebahagiaan yang pernah dilakukan bersama Reyhan, hanya sesaat saja.


"Mas pakai ini aja. Nanti aku ambil piring aku." Kata Nia lalu meletakkan piringnya di hadapan Reyhan, dan langsung diambil oleh Elsa untuk diisi nasi dan lauknya.


Melihat itu, Nia hanya bisa tersenyum getir. Cepat sekali Reyhan berubah. Ternyata Elsa benar-benar telah mengisi penuh relung hati Reyhan, sehingga tidak ada tempat untuk Nia di sana. Ada sebenarnya, tapi hanya di sudut kecil hati Reyhan, dan hanya numpang singgah sebentar.


"Kamu kuat Ni." Kata Nia bermonolog pada dirinya sendiri.


Sesampainya di meja makan, Nia melihat Reyhan dan Elsa yang sudah mulai makan duluan tanpa menunggu dirinya. (Emang nggak ada akhlak tuh si Reyhan dan Elsa😡)


Nia hanya menyenduk brokoli cah bawang putih ke piringnya, lalu segera memasukkannya ke mulut, dan makan dengan cepat, supaya dia tidak berlama-lama di meja makan.


"Aku sudah siap. Izin ada tugas dari kampus yang belum selesai." Kata Nia, lalu meninggalkan meja makan, menuju kamarnya.


Satu jam lebih Nia berada di kamar, mencoba mengerjakan tugas yang diberikan dosen, tapi tetap saja sulit bagi Nia untuk konsentrasi.


"cklek"


Nia reflek memandang ke arah pintu. Terlihat Reyhan masuk, dan segera menuju kamar mandi tanpa menyapa Nia.


"Seperti perempuan. Suka merajuk" Dumel Nia tanpa sadar ternyata Reyhan masih di ambang pintu. Karena sadar, terdengar Reyhan, Nia hanya nyengir, menampilkan deretan giginya yang rapi.

__ADS_1


"Maaf." Kata Reyhan,lalu segera menutup pintu kamar mandi, yang membuat Nia heran dan kaget.


"Tadi beneran ngucapin maaf kan?" Tanya Nia pada dirinya sendiri, karena baru kali ini Nia mendengar Reyhan minta maaf.


Setelah kurang lebih 10 menit di kamar mandi, Reyhan keluar hanya menggunakan handuk yang dililit ke pinggangnya menuju walking closet.


Selesai mengenakan pakain, Reyhan duduk dipinggir kasur yang tidak jauh dari Nia. Untuk beberapa saat hanya ada keheningan diantara mereka


"Mas..."


"Aku..." ucap mereka bersamaan, lalu sama-sama tertawa, karena tiba-tiba saja mereka berdua merasa canggung.


"Hukuman kamu nambah sayang." Kata Reyhan yang membuat Nia mengerutkan keningnya.


"Astagfirullah." Ucap Nia karena teringat kalau dia habis menyebutkan kata 'aku'.


"Kan lagi marahan. Nggak berlaku dong perjanjiannya." Protes Nia.


"Enak aja. Tetap berlaku, apapun yang terjadi. Kamu nggak kangen sama mas?" Tanya Reyhan sambil menarik Nia ke dalam pelukannya.


"Kangenlah. Tapi ya gitu, Nia nggak mau ganggu, takut ntar mas tambah marah." Kata Nia yang melingkarkan tangannya ke pinggang Rey dan mendongak menatap wajah Rey.


Rey mencium puncak kepala Nia lama, melepaskan perasaan rindunya.


"Mas nggak suka, kamu dekat, apalagi berduaan dengan laki-laki lain." Kata Reyhan sambil menatap Nia lembut.


"Ak.., Nia udah minta bang Satya pergi, tapi ya gitu, bang Satyanya nggak mau." Jelas Nia.


"Lain kali, kalau dia nggak mau pergi, kamu yang pergi. Mas itu posesif dan pencemburu. Mas nggak mau orang yang mas cintai dekat dengan orang lain." Terang Reyhan.


"Mas beneran cinta sama Nia?" Tanya Nia sambil menatap mata Reyhan, berusaha melihat apakah Reyhan meberikan jawaban jujur atau tidak.


"Tentu saja mas cinta sama kamu. Kalau nggak cinta, nggak mungkinlah kita sama-sama" Terang Reyhan.


"Terus, Kak Els?" Tanya Nia.


"Elsa itu masa lalu. Sekarang dan kedepannya mas maunya sama kamu." Kata Reyhan sambil kembali mencium puncak kepala Nia.


"Btw, kak Els masih di bawah?" Tanya Nia lagi


"Nggak, sudah mas suruh Leo antar pulang." Jawab Reyhan.


"Oo..."


"cup" Reyhan mencium bibir Nia yang sedang monyong menyebutkan kata 'o'


"Mas...."


"Apa sayang? Mas kangen mau angsur buat dedek bayi." Kata Reyhan yang membuat Nia tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2