Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Sadar


__ADS_3

Sean memasangkan pakaian steril untuk masuk ruang ICU. Terlihat Reyhan yang baru saja datang, langsung merasa tidak suka ketika Sean begitu perhatian terhadap istrinya, eh, mantan istri tepatnya.


Karena tidak ingin ribut di rumah sakit, Reyhan tekat kuat-kuat perasaan marahnya.


"Mas kapan datang?" Tanya Elsa ketika melihat Reyhan, dan langsung bergelayut manja di lengan Reyhan, dan meminta Reyhan untuk duduk bersebelahan dengannya.


"Baru saja. Nia kapan datang?" Tanya Reyhan.


"Baru sampai. Di jemput Sean. Nggak tahu juga berkeliaran dimana selama ini." Kata Elsa yang berusaha agar Nia terlihat liar dimata Reyhan dengan mengatakan kalau Nia berkeliaran tidak jelas.


Sementara Elsa sibuk dengan Reyhan, Nia yang fokus dengan kondisi Bian, memandang Bian dengan air mata yang terus mengalir


Nia menggenggam tangan Bian lembut, dan mencium punggung tangan Bian.


"Maafin Nia pa." Hanya kata maaf yang berkali-kali keluar dari bibir Nia dengan suara terisak dan bergetar, karena tidak menyangka, kalau papanya akan seperti itu.


"Nia..." Ucap Bian pelan dengan mata yang masih tertutup.


"Iya pa. Nia disini. Papa harus bangun. Papa harus sehat. Kalau Nia salah sama papa, Nia minta maaf. Nia minta maaf pa." Ucap Nia dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, tapi Bian tetap belum sadar dan hanya sesekali menyebut nama Nia.


Hampir satu jam Nia berada di ruang ICU, tapi kondisi Bian tetap tidak berubah.


"Dek, tidak boleh berlama-lama di ICU." Tegur salah seorang perawat yang menjaga ICU.


"Iya Sus. Maaf." Kata Nia lalu keluar ruang ICU, dan melihat Nia yang sedang bersandar di bahu Reyhan, membuat hati Nia merasa sedikit sakit.


"Lo pucat banget Chin. Kita ke kantin rumah sakit dulu cari minum." Ajak Sean yang langsung diiyakan oleh Nia tanpa memandang Reyhan yang sedang menatap Nia dengan tatapan marah.


Tapi Reyhan segera berdiri dan memegang tangan Nia, mebuat Elsa menatap Nia penuh kebencian.


"Biar Nia saya yang antar ke kantin." Kata Reyhan mendominasi.


Tanpa kata Nia hanya menghempaskan tangannya yang dipegang Reyhan, menyuruh Sean diam dengan isyarat, agar tidak terjadi keributan. Nia berjalan sendiri keluar dari ruang ICU khusus.


"Saya bisa sendiri." Kata Nia yang tahu kalau Sean dan Reyhan sedang mengikutinya.


Reyhan dan Sean tetap mengikuti Nia, walaupun Nia bilang kalau Nia bisa ke kantin sendiri. Nia yang merasa lelah, akhirnya hanya membiarkan Sean dan Reyhan mengikutinya.


Nia memesan teh tawar hangat, yogurt dan steak salmon yang dilengkapi sayuran dan mash potato.


"Lo yakin makan salmon?" Tanya Sean heran, karena setahu Sean Nia paling tidak suka makan salmon, karena merasa salmon paling amis dibandingkan ikan lainnya.


"Iya. Lagi pengen. Kebetulan ada." Jawab Nia yang mulai menikmati makanannya.


"Kamu bisa tinggalkan kakak dengan Nia Sean?, ada yang kakak mau bicarakan." Kata Reyhan dengan ekspresi seriusnya.


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas. Mas silahkan urus surat cerai kita."Kata Nia tanpa ingin menatap Reyhan, karena bagaimanapun Nia merasa sakit hati ketika Reyhan dekat dan perduli dengan Elsa.


"Jadi kamu membenarkan perselingkuhan kamu Ni?" Tanya Reyhan dengan suara agak tinggi karena marah, yang menyebabkan beberapa pengunjung kantin rumah sakit menatap mereka, serta mulai berbisik-bisik hal yang jelek tentang Nia, tapi Nianya tetap cuek dan menikmati makanan di depannya.


"Jawab Ni." Kata Reyhan lagi.

__ADS_1


"Kalau aku bilang aku nggak selingkuh apa mas percaya?, Aku aja nggak tahu aku selingkuh sama siapa. Bukankah mas selalu ngawasi aku."Jelas Nia.


"Tapi foto dan Video itu asli. Kamu tidur dengan laki-laki lain di kamar hotel. Hari itu kamu ke hotel kan?" Tanya Reyhan.


"Sudahlah mas. Aku capek. Toh intinya mas sudah ceraikan aku. Kita pisah. Nggak usah ribut-ribut. Aku capek. Mau konsentrasi dengan papa aja." Jawab Nia yang menyelesaikan makannya, lalu pergi meninggalkan Reyhan dan Sean yang masih duduk.


Nia segera kembali ke ruangan Bian, ruangan ICU VIP, sehingga tidak bergabung dengan pasien lainnya.


"Plak" sebuah tamparan mendarat di pipi Nia sewaktu Nia masuk ke ruangan Bian.


"Berani kamu datang kesini, setelah apa yang kamu perbuat. Perbuatan asusila yang merusak nama baik keluarga." Kata seorang perempuan tua yang tadi menampar Ni, yang tidak lain adalah ibu Bian, nenek Nia dan Elsa.


Nia hanya memegang pipinya, tanpa berucap apapun, karena tidak ingin melawan orang yang sudah tua.


"Jika terjadi hal buruk dengan Bian, kamu adalah orang yang menjadi penyebabnya. Ibu sama anak, sama aja, nggak ada yang benar." Kata nenek Nia yang bernama Rahma.


"Tolong oma. Jangan berkata buruk tentang ibuk. Oma boleh marah dan ngatain aku. Tapi jangan pernah hina ibuk aku." Kata Nia menatap Rahma marah, karena Nia paling marah jika ada orang yang menghina ibunya.


"Kamu melawan dengan saya?! Memang didikan Lily perempuan nggak benar, ya seperti kamu ini hasilnya." Kata Rahma lagi.


"Cukup Oma!" Kata Nia dengan tegas, yang membuat Rahma sekali lagi mengangkat tangannya, tapi di tahan dan di tepis secara kasar oleh Nia, yang membuat Rahma agak terdorong ke belakang tapi segera dipegang Elsa dan Tamara.


"Berani-beraninya kamu kasar dengan Oma. Dasar anak keturunan wanita tidak jelas." Kata Tamara marah kepada Nia.


"Walau asal usul ibuk tidak jelas, tapi ibuk tidak murahan, menikah dengan suami orang." Ucap Nia santai.


"Kamu.." Kata Tamara kesal dan ingin menampar Nia, tapi duluan Elsa yang mengangkat tangannya, tapi segera ditangkap Nia, dan menepis tangan Elsa, yang menyebakan Elsa terjatuh.


"Kamu nggak apa-apa Els?" Tanya Reyhan yang masuk ke ruangan dan membantu Elsa berdiri.


"Drama" Cibir Nia.


"Keluar kamu dari ruangan ini. Jangan pernah menampakkan diri kamu. Dasar perempuan jahat." Kata Rahma kepada Nia.


Nia yang memang tidak suka ribut, memilih keluar dari ruangan Bian, dan menunggu di luar. Nia duduk di bangku tunggu di temani Sean.


"Kita pulang aja yuk Chin. Kamu istirahat dulu." Kata Sean, tapi Nia hanya diam saja dengan air mata yang terus mengalir, Nia merasa dirinya sangat lelah, sehingga tidak mampu untuk menahan air mata yang selama ini bisa Nia lakukan.


Sean hanya bisa memberikan sapu tangannya, untuk mengusap air mata Nia. Karena kalau Sean berani memeluk Nia, Sean khawatir Nia akan menghajar Sean.


"Gue menyedihkan banget ya." Kata Nia untuk meringankan sedikit beban dihatinya.


"Lo nggak menyedihkan. Lo itu wanita hebat dan kuat yang pernah gue temui. Kalau mereka tidak mau Lo, Lo sama gue aja. Gue sayang Lo Ni."Kata Sean yang membuat Nia menatap Sean.


"Gue tahu, Lo sayang gue dan nganggap gue saudara. Terima kasih." Kata Nia yang kembali menunduk.


"Lo salah, gue bukan..."


"Kamu kenapa masih disini Sean?" Tanya Reyhan yang keluar dari ruangan Bian.


"Bukan urusan kakak." Kata Sean ketus.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu sama kakak Sean." Kata Reyhan yang mudah sekali kesal.


"Nia. Lo disini? Ngilang kemana aja?" Tanya Marco yang baru saja datang.


"Iya mbak. Aku datang siang beberapa jam yang lalu." Jawab Nia.


"Lo berdua ngapain?" Tanya Marco karena Reyhan sedang memegang kerah baju Sean.


"Nggak ada apa-apa." Kata Reyhan yang melepaskan pegangannya pada kerah baju Sean.


"Gue lihat om Bian dulu." Kata Marco lalu masuk ke dalam.


Tidak lama Marco masuk, Nia dan Sean melihat seorang dokter dan dua orang peraqat buru-buru masuk ke ruangan Bian.


"Papa kenapa mbak?" Tanya Nia mulai panik dan ikut masuk kedalam.


"Om Bian sadar." Kata Marco, lalu Nia segera menuju ruangan tempat Bian.


"Keluar kamu dari ruangan ini." Kata Rahma yang tidak suka ketika melihat Nia masuk.


"Please Oma, Om Bian butuh Nia. Oma nggak dengar, Om Bian cari Nia." Kata Marco yang agak kesal melihat tingkah neneknya.


"Jangan kamu belain dia Marco." Kata Rahma sinis kepada Marco, karena Marco membela Nia.


"Oma kok gitu sih. Jahat sama Nia." Protes Marco yang tidak suka dengan neneknya yang suka pilih kasih.


"Bian itu, seperti itu karena dia. Bisa-bisanya mempermalukan keluarga kita dengan selingkuh. Sama seperti ibunya dulu." Kata Rahma sinis.


"Tolong Oma, jangan fitnah dan hina ibuk. Papa sudah buktikan dengan tws DNA, kalau ibuk tidak selingkuh." Kata Nia dengan suara beegetar menahan tangis.


"Kita tunggu di luar aja Ni." Ajak Marco, lalu menarik Nia keluar dari ruangan Bian.


"Kamu jangan nangis. Om Bian pasti baik-baik aja." Kata Marco berusaha menenangkan Nia.


"Mbak Nia."


"Iya sus." Kata Nia ketika seorang perawat membuka pintu.


"Pasien dari tadi menyebut nama mbak terus. Bisa mbak masuk temui pasien?" Tanya perawat itu.


"Bisa sus." Kata Nia lalu segera masuk dan menuju ruangan Bian diiringi tatapan sinis Rahma, Tamara dan Elsa.


Nia hanya bisa tersenyum dengan wajah penuh air mata ketika melihat Bian yang sudah membuka mata dan mencoba tersenyum.


"Pa..." Kata Nia sambil menggenggam tanga Bian.


"Ini.... kamu... Nia?" Tanya Bian dengan suara terbata.


"Iya pa, ini Nia. Papa harus segera sembuh. Papa nggak boleh sakit. Maaf kalau gara-gara Nia papa jadi seperti ini" Kata Nia, dan hanya dijawab anggukan dan senyum yang dipaksakan oleh Bian agar Nia tenang.


"Papa istirahat aja. Nia jagain papa." Kata Nia lagi sambil mengusap punggung tangan Bian.

__ADS_1


__ADS_2