
Nia melihat dan mempelajari situasi rumah, karena Nia berencana untuk kabur. Malam ini sebagian besar orang akan berada di rumah Yangti, termasuk Leo dan Rani untuk membantu acara nigahari Yangti.
Nia mempersiapkan semua yang harus dibawanya, karena Nia benar-benar ingin menghilang. Kedepannya, hanya ada dirinya dan baby twins.
"Mbak sekar nggak ketempat Yangti?" Tanya Nia sewaktu makan malam bersama Sekar, karena Nia tidak suka makan sendiri.
"Saya dan Pak Maman di suruh jagain non." Jelas Sekar, yang membuat Nia tersenyum kecut.
"Nia udah besar kali mbak, dah mau punya baby juga, jadi nggak perlulah dijaga." Protes Nia.
"Tapi mbak Rani pesannya begitu." Kata Sekar lagi.
"Mbak sudah buatkan kopi pak Maman?" Tanya Nia.
"saya sudah buat, tinggal antar saja." Kata Sekar.
"Boleh minta tolong nggak mbak, ambilkan vitamin aku yang ada di atas meja rias ya." Kata Nia meminta tolong pada Sekar.
Begitu sekar pergi ke kamar Nia, Nia segera memasukkan obat tidur kedalam teko kopi untuk pak Maman.
Agar Sekar tidak curiga, Nia sengaja mencuci piring yang tadi digunakannya untuk makan.
"Ya ampun. Kenapa non cuci piring. Biar saya aja non. Ini vitaminnya. Non duduk lagi deh." Kata Sekar sambil menarik Nia pelan agar kmbali duduk di kursi meja makan.
"Terima kasih mbak." Kata Nia lalu segera meminum vitaminnya, dan izin mau istirahat.
Nia yang sudah mempersiapkan semuanya, Nia menunggu waktu isya. Nia harus cepat karena khawatir selesai acara Rani dan Leo akan kembali.
Nia melihat pintu kamar Sekar yang sudah tertutup rapat, itu artinya Sekar sudah mulai tertidur efek obat tidur yang tadi sempat Nia masukkan ke makanan Sekar.
Nia mengendap-endap menuju gerbang depan, untuk melihat kondisi pak Maman, apakah juga sudah tertidur atau belum.
Nia mengintip ke pos yang ditunggu pak Maman, dan tersenyum senang, karena pak Maman juga sudah tertidur.
Nia segera pergi meninggalkan rumah Reyhan dengan menggunakan transportasi umum, agar tidak terlacak. Nia beberapa kali pindah angkot sebelum memutuskan untuk istirahat di salah satu SPBU yang berada di jalan lintas, karena Nia ingin menumpang dengan mobil keluarga yang aka menuju ke pulau S.
Setelah memperhatikan beberapa mobil yang sedang beristirahat, Nia melihat ada sebuah mobil keluarga yang isi penumpangnya tidak begitu banyak.
Nia berusaha beramah tamah dengan salah satu penumpang mobil tersebut, untuk mendapatkan informasi, mobil itu menuju kemana.
"Jadi, nak Khanza ini mau kemana?" Tanya seorang wanita yang umurnya sudah lebih dari setengah abad yang bernama Buk Deasmawati, dan minta dipanggil buk Des.
"Saya juga bingung sebenarnya mau kemana buk. Dulu saya kuliah dan tinggal di kota P, tapi saya tidak mungkin kembali ke sana. Soalnya saya butuh suasana baru." Jelas Nia.
"Ibuk lihat, nak Khanza lagi hamil?" Tanya buk Des lagi.
"iya buk, alhamdulillah."
"Suami nak Khanza kemana?" Tanya buk Des lagi.
"Sebenarnya saya tidak mau menceritakan aib rumah tangga saya, tapi suami saya menikah lagi." Kata Nia dengan wajah sedih.
"Astagfirullah. Nak Khanza ini korban keegoisan suami dan pelakor!?" Tanya buk Des dengan suara tinggi, yang membuat beberapa orang yang berada di sekitar Nia menatap mereka.
"ibuk, jangan kuat-kuat ngomongnya." Kata Nia tidak enak.
"Abis, ibuk itu geram sekali dengan lelaki egois dan pelakor. Dulu suami ibu juga begitu, ibuk membesarkan anak ibuk sendiri. Sekarang dia sudah besar, dan ikut suaminya di negara tetangga. Kalau begitu, nak Khanza ikut ibuk aja. Ibuk yang akan jaga nak Khanza." Kata buk Des semangat.
"Masya Allah. Beneran buk?" Tanya Nia tidak percaya.
__ADS_1
"Bener dong. Ibu itu tinggal sendirian di kota P, kebetulan rumah ibuk dekat laut. Nak Khanza suka tinggal dekat laut?" Tanya buk Des.
"Saya mah tinggal dimana aja nggak masalah buk, asalkan ada tempat berteduh." Jawab Nia.
"Oh iya, terus bagaimana dengan orang tua kamu?, apa mereka tida khawatir?" Tanya buk Des lagi yang tiba-tiba teringat kalau Nia pasti punya orang tua.
"Ibuk sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Papa nggak ada kabar, setelah terakhir dibawa istri dan kakak tiri saya ke negara S." Terang Nia dengan wajah sedih ketika mengingat ibunya.
"Maaf, ibuk nggak bermaksud buat nak Khanza sedih. Sekarang anggap saja ibuk Des ini ibuknya Khanza." Kata Buk Des sambil memeluk Nia.
Bu Des beserta Nia dan supirnya segera melanjutkan perjalanan menuju kota P yang ada di pulau S. Nia bisa bernafas lega, dan yakin kalau Reyhan tidak akan bisa menemukannya, karena tidak sedikitpun Nia meninggalkan jejak.
Setelah kurang lebih dua hari menempuh perjalanan yang melelahkan tapi menyenangkan, Nia akhirnya sampai di rumah Buk Des. Rumah panggung yang cukup kokoh berada di sekitar pantai yang ada di kota P.
Nia menghirup aroma laut, sambil mengelus baby twins dalam perutnya yang sangat baik dan tidak menyusahkan sepanjang perjalanan, walau pinggang Nia rasa mau putus, karena duduk dalam waktu yang lama.
"Kamu istirahat dulu Za. Yah... beginilah rumah ibuk. Oh iya kamar kamu yang di depan itu ya. Kalau butuh sesuatu, bisa panggil Sarah untuk bantu kamu. Ibuk mau istirahat dulu. Maklum, sudah tidak muda lagi, jadi tulang-tulang ibu dan engselnya mulai tidak bersahabat." Terang buk Des, lalu masuk ke kamarnya.
Nia yang juga ingin istirahat segera menuju kamar yang ditunjuk oleh Buk Des.
Nia melihat sekeliling kamarnya. Kamar yang lumayan besar, dengan sebuah kasur ukuran besar, meja rias dan lemari pakaian. Nia juga melihat ada pintu lain yang Nia tebak pasti pintu toilet.
Nia segera masuk, menutup pintu dan membaringkan tubuh lelahnya diatas kasur, lalu segera mengarungi dunia mimpi.
Sudah seminggu Nia tinggal di rumah ibuk Des, Nia sangat senang karena buk Des adalah orang yang sangat baik. Karena Nia sedang hamip dan tidak ingin ada kesalah pahaman dengan masyarakat sekitar, Nia sudah melaporkan kedatangannya kepada pak RT, dan menyerahkan dokumen bukti, kalau Nia hamil setelah menikah, karena daerah tempat Nia tinggal sekarang adalah daerah yang sangat menjunjung tinggi agama serta adat istiadat.
Karena lingkungan tempat tinggal Nia yang islami, akhirnya Nia memutuskan untuk menggunakan jilbab sesuai dengan syariat islam, seperti buk Des.
"MasyaAllah nak, kamu cantik banget. InysyaAllah istiqomah ya." Kata buk Des senang sewaktu melihat Nia pertama kali memakai hijab, dengan tetap menyembunyikan wajah aslinya.
"InsyaAllah ya buk, Za istiqomah." Kata Nia sambil tersenyum.
Buk Des yamg tinggal di tepi laut ternyata memiliki usaha olahan makanan yang terbuat dari ikan laut. Nia sangat senang menghabiskan waktunya membantu buk Des, bahkan membuatkan sistem yang benar untuk keuangan HRD dan pemasaran produknya.
Sudah lebih dari dua bulan Nia tinggal bersama buk Des, dan perut Nia terlihat semakin basar, karena ada dua makhluk hidup didalamnya yang terus berkembang.
"Hari ini jadi USG Za?" Tanya buk Des sewaktu mereka sarapan.
"Jadi buk, ini sudah berat banget rasanya. Mana twins suka main bola." Kata Nia sambil mengelus perutnya, agar babynya yang nendang-nendang bisa diam.
"Udah kesempitan mungkin, jadi mereka dorong-dorngan mau tempat lapang." kata buk Des sambil menyendok nasi goreng seafood buatan Nia.
"Nanti ibuk antar ya?, mau lihat twins wajahnya seperti apa." Kata buk Des lagi yang hanya diangguki oleh Nia.
Karena janji dengan dokter kandungan sekitar jam 10an untuk USG 4D disalah satu rumah sakit besar yang ada di kota P, Nia dan buk Des duduk santai di depan teras rumah sambil menikmati angin laut.
"Itu, di ujung pantai ada beberapa tenda besar buk?, apakah ada acara?" Tanya Nia yang baru memperhatikan kalau tidak jauh dari rumah buk Des, ada beberapa tenda berwarna hijau army.
"Oh, itu tenda tentara. Setahun sekali mereka latihan gabungan disana." Terang buk Des
"Tentara...."
"Iya, kamu punya kerabat tentara?" Tanya buk Des.
"Nggak ada buk." Jawab Nia cepat sambil tersenyum, karena males cerita tentang Alvaro.
Nia dan buk Des siap-siap untuk ke rumah sakit. Nia menggunakan gamis dan jilbab yang lebar sedalam lutut, agar tidak terlalu memperlihatkan perut buncitnya, ditambah cadar yang hanya memperlihatkan mata Nia yang menggunakan softlense berwarna coklat tua.
"Yakin kamu bawa mobil sendiri Za? Ibuk suruh Darwis aja yang ngantar." Kata buk Des khawatir, karena Nia memutuskan untuk menyetir sendiri.
__ADS_1
"Insya Allah nggak apa-apa buk. Dulu Za sopir angkot, jadi biasa bawa mobil." Kata Nia bercanda.
"Beneran?" Tanya buk Dea terkejut.
"Bercanda buk." Kata Nia sambil tertawa.
"Bismillah." Ucap Nia lalu mulai menjalankan mobil buk Des yang dibawanya menuju rumah sakit.
Seaampainya di rumah sakit, Nia tidak perlu menunggu waktu lama, karena Nia sudah mendaftar Via telpon, dan mendapat nomor antri dan jam pemeriksaannya.
Air mata Nia mengalir dengan sendirinya begitu melihat dua bayi yang tidak mau memperlihatkan jenis kelaminnya ketika di USG,padahal dokter sudah berusaha mengganggu, agar twins bergerak dan membuka kakinya tapi usahanya sia-sia.
"Wah...sepertinya twins mau kasih kejutan buat mamanya. Nggak mau dilihat cewek atau cowoknya." Terang dokter dengan name tag Anggun di dada kanannya.
"Nggak apa dok. Yang penting mereka sehat." Kata Nia senang.
Dokter anggun mencetak hasil USG yang tadi dilakukannya, dan memberikan kepada Nia beserta buku perkembangan ibu hamil.
"InsyaAllah sehat. Ibunya harus sehat, bahagia dan banyak makan makanan bergizi." Terang dokter Anggun.
"Baik dokter. Terima kasih." jawab Vanila.
"Karena ini babynya twins, dan badan mamanya kecil, jadi kemungkinan untuk lahir prematur cukup besar. Jadi karena ini sudah 26 minggu, jadi mama harus audah mulai preparation." Terang dokter Anggun lagi.
"Saya bisa lahiran normal kan dok?" Tanya Nia
"InsyaAllah, kita usahakan, tapi ini sepertinya cukup beresiko, mengingat umur mama twins yang masih muda. Tapi kita tetap akan melakukan yang terbaik." Terang dokter Anggun sambil tersenyum.
"Baik dokter. Sekali lagi terima kasih." Kata Nia lalu permisi undur diri ketika urusannya sudah selesai.
"Ibuk senang, kamu dan twins sehat-sehat Za. Kamu harus bahagia, jaga kesehatan, supaya twins tidak lahir prematur." kata buk Des sewaktu mereka menuju parkiran.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
"Nggak terasa twins udah 7 bulan aja ya Za." Kata buk Des sambil mengelus perut buncit Nia yang bergerak karena twins selalu aktif di sore hari.
"Terasa banget loh buk, pinggang Za mau putus rasanya." Kata Nia sambil meringis, karena sejak hamil pinggangnya suka sakit.
"Kaki kamu bengkak?" Tanya buk Des lagi.
"Iya buk, nih udah seperti ubi kayu." Kata Nia sambil menaikkan sedikit gamisnya.
"Ya sudah, ibuk usap minyak gosok ya, biar bengkaknya berkurang." Kata buk Des.
"Jangan buk, Za nggaj mau repotin ibukm Lagian Za ngerasa nggaj aopan, kalau ibuk pegang kaki Za, seharusnya Za yang pegang kaki ibuk." kata Nia tidak enak hati.
"Nggak apa. Kamu sudah ibuk anggap anak ibuk. Sebentar ibuk ambil minyak gosoknya." Kata buk Des lalu segera masuk ke dalam kamar mengambil minyak gosok.
Buk Des segera menggosok kaki Nia yang membengkak dengan minyak urut, membuat Nia jadi terharu. Kalau ibuknya masih hidup, beliau pasti akan melakukan hal yang sama.
"Loh, kenapa nangis Za?, sakit ya?" Tanya buk Des panik.
"Nggak buk, Za ingat ibuk Za yang sudah meninggal." Kata Nia sambil menghapus air matanya.
"Anggap saja ibuk ini ibuk kamu." Kata buk Des sambil memeluk Nia.
Mereka saling berpelukan untuk waktu yang lumayan lama. Nia senang, walau sebentar mengenal buk Des, tapi Nia benar-benar merasa buk Des menyayanginya dengan tulus.
Suara adzan yang berkumandang, membuat Nia dan buk Des segera berdiri untuk bersiap untuk mengambil wudhu.
__ADS_1
Sewaktu mengambil wudhu, ada kecoa yang merambat di kaki Nia yang membuat Nia reflek melompat untuk mengusir kecoak tersebut, naasnya, Nia terpeleset dan jatuh dikamar mandi dengan posisi terduduk.
"Buk... buk..." Panggil Nia yang panik karena melihat ada darah ditempat Nia terduduk.