
Author POV
"Kamu kenapa Ni?" Tanya Satya yang melihat Nia sedang mendongakkan wajahnya, agar air matanya tidak tumpah, tapi tetap saja, rasa sakit dalam hati yang di rasanya membuat air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Nggak apa-apa bang. Abis baca novel, ceritanya sedih." Kata Nia berbohong.
"Novel itukan tidak nyata Ni. Hanya sekedar cerita khayalan dari si penulis." Kata Satya sambil geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Nia.
"Tapi tetap aja sedih bang." Kata Nia lagi sambil mengusap air mata di sudut matanya.
"Nih draft nya. Udah beres. Pulang yuk." Ajak Satya.
"Abang duluan aja. Ada yang mau aku urus. Lagian aku sudah hubungi mbak Rani." Kata Nia yang mencoba tersenyum, melupakan rasa sakitnya sesaat.
"Abang antar aja deh, sekalian mau kenalan sama calon mertua." Kata Satya yang menggoda Nia.
"Pleas bang. Abang duluan aja ya. Aku titip laporannya. Biar besok pas rapat, mbak Nita bisa jelaskan." Kata Nia dengan ekspresi serius, yang membuat Satya mengalah, lalu pamit meninggalkan Nia.
Untuk menenangkan diri, Nia memutuskan untuk menghubungi Erik, orang kepercayaan papanya.
"Ayok Ni." Kata Erik sambil membukakan pintu yang ada di sampingnya, begitu ia melihat Nia yang sedang duduk di halte bis.
"Kamu mau kemana?" Tanya Erik ketika melihat Nia hanya diam saja.
"Ada pantai yang dekat nggak sih bang?" Tanya Nia, karena selama di kota P, Nia tidak pernah menjelajahi, rute lalu lintasnya hanya kampus, asrama, kemudian rumah Reyhan ketika mereka sudah menikah.
"Ada sih. Tapi sekitar 2 jam perjalanan." Terang Erik.
"Nggak apa-apa bang. Antar aku ke sana please.🥺" Kata Nia dengan ekspresi wajah yang membuat Erik tidak bisa untuk berkata tidak.
"Ok. Tapi apa nanti kamu nggak di cariin si Rey atau dua body guard kamu?" Tanya Erik yang tahu betul bagaimana posesivenya Reyhan.
"Nggak apa-apa. Lagian mas Rey, nggak di rumah." Kata Nia sambil memejamkan matanya, mencoba menetralisir rasa sakit yang berusaha Nia tutupi dengan kepura-puraan.
"Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Nanti abang bangunin kalau sudah sampai." Kata Erik yang paham kalau Nia sedang tidak baik-baik saja.
Nia yang merasa lelah hati dan pikiran, akhirnya tertidur pulas. Erik memandangi wajah lelah Nia sambil tersenyum, karena sejak mengenal Nia, Erik menganggap Nia adalah adik perempuannya. Apapun akan ia lakukan demi adik perempuannya bahagia.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, mereka sampai di pinggir pantai sepi, karena hari sudah menunjukkan hampir jam 8 malam.
"Ni, kita sudah sampai." Kata Erik sambil membangunkan Nia, dan mengguncang bahunya pelan.
"Hmm... udah sampai bang?" Tanya Nia sambil merenggangkan tubuhnya gaya khas orang bangun tidur.
Nia keluar dari mobil, dan berjalan menyusuri pantai tanpa alas kaki. Ombak yang berkejaran membasahi kakinya, membuat Nia merasa sedikit tenang.
Bagaimanapun, Nia adalah wanita biasa, yang terkedang mengedepankan perasaan jika soal hati, tapi ia akan mengedepankan logika untuk urusan yang lain.
Nia yang lelah berjalan, akhirnya memutuskan duduk di pinggir pantai, membiarkan gulungan ombak pantai yang menepi secara konstan, mencapai kakinya.
"Sudah baikan?" Tanya Erik yang berdiri di samping Nia, yang membuat Nia harus mendongakkan wajahnya menatap Erik.
Erik tidak suka melihat bilur-bilur air mata yang masih tampak jelas di pipi Nia, karena sepanjang Erik mengenal Nia, gadis itu adalah gadis tertabah yang pernah ia temui.
"Butuh bahu abang buat nangis hem?" Kata Erik lalu duduk di samping Nia.
"Nanti abang basah" Kata Nia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Erik, karena Nia tahu, kalau Erik hanya menganggapnya adik, karena Erik sudah punya pujaan hatinya sendiri.
"nggak apa-apa. Tadi abang ada lihat butik di ujung jalan. Nanti kita beli dan ganti baju di sana." Kata Erik sambil ikutan memandang laut lepas.
Hampir sejam lebih, mereka hanya duduk diam dalam keheningan, memandang deburan ombak kecil yang berkejaran menuju pantai.
__ADS_1
"Udah sejam lebih kamu diam aja. Nggak ada niat mau curhat gitu dengan abang?" Tanya Erik.
"Masalah rumah tangga, kan aku nggak boleh cerita masalah rumah tangga aku sama orang lain bang." Jawab Nia.
"Tapi terkadang kita perlu bercerita agar beban yang kita rasa menjadi berkurang Nia." Kata Erik lagi.
"Aku nggak bisa cerita, karena belum tahu pasti. Aku baru lihat dari sudut pandang aku aja. Walaupun rasanya sakit, tapi aku sudah pikirkan semuanya, kalau aku harus melihat dari sudut pandang mas Reyhan." Jawab Nia bijak.
Mendengar jawaban Nia, ingin rasanya Erik mendekapnya dalam pelukan, agar Nia bisa membagi kesesihannya. Tapi Erik paham betul Nia seperti apa, jadi Erik tidak akan pernah menyentuh Nia, kalau tidak Nia yang menyentuhnya, seperti saat ini, masih menyandarkan kepalanya di bahu Erik.
"Abang jadi lamar kak Imel bulan depan?" Tanya Nia yang berusaha mengalihkan Erik dari masalah yang Nia hadapi.
"Jadi. Persiapannya sudah 90% sih. Abang mau melamar pakai ide yang kamu bilang. Kamu buka EO aja gih, setiap ide event yang kamu ajukan selalu out of the box. Kalau kamu mau, nanti pernikahan abang jadi proyek pertama kamu." Kata Erik antusias.
"Lihat ntar deh bang, soalnya aku orangnya labil, nggak konsisten, masih kayak wortel yang suka semangat di awal, tapi mulai lembek kalau sudah bosan." Kata Nia lalu berdiri sambil membersihakan celananya bagian belakang dari pasir
"Padahal kalau kamu buka EO, pasti keren deh setiap acara yang kamu handle." Kata Erik yang juga ikutan berdiri dan membersihkan celananya.
"Ogah aku jadi Wedding Plannernya abang. Ntar abang ngasinya 2 M lagi." Protes Nia sambil berjalan menuju mobil Erik.
"What 2M? Mahal bener. Mau keliling dunia buk." Kata Erik sambil tertawa.
"Mahal dari mananya?" Tanya Nia yang sudah masuk ke dalam mobil di susul Erik.
"2 M, bisa buat pesta 7 hari 7 malam abang Ni." Kata Erik yang mulai menjalankan mobilnya.
"Masa sih, dengan 2 M, Makasih Makasih bisa buat pesta 7 hari 7 malam?" Tanya Nia sambil memandang Erik, yang membuat Erik langsung tertawa tidak percaya kalau 2 M itu bukan 2 Milyar, tapi Makasih Makasih.
"Abang suka nih, Nia mode ini. Jangan sedih-sedih lagi ya? Nggak pantes. Kamu itu pantesnya kayak gini, lucu. Ih jadi ngegemesin, pengen cubit jantungnya deh." Kata Erik sambil tertawa, membuat Nia menaikkan sebelah alisnya, mencerna kata-kata Erik.
"Abang mau bunuh aku?" Tanya Nia yang pura-pura serius.
"Itu, mau cubit jantung aku. Artinya aku mati dulu dong, baru abang bisa cubit jantung aku. Lagian ada-ada aja gemes tu biasanya orang cubit pipi, lah ini main cubit jantung." dumel Nia pura-pura yang membuat Erik tidak bisa berkata apa-apa, karen tahu kalau Nia hanya pura-pura ngedumel.
"Kalau nggak mikir istri orang, udah abang kantongin kamu Ni." Kata Erik lagi.
"Idih, emangnya aku ompa lompa." Kata Nia lagi.
"Ompa lompa?" Tanya Erik bingung.
"Masa kecil nggak bahagia gini nih, ompa lompa nggak tahu. Nanti sampai rumah abang tonton deh Charlie n choklat factory, nah abis itu kenalah deh sama ompa lompa." Kata Nia sambil tertawa.
"Aye aye capatain" Kata Erik sambil memberi hormat. Senang rasanya bisa melihat Nia tertawa dan kembali ke mode jahilnya.
Setelah berganti baju di butik yang buka 24 jam, akhirnya Erik dan Nia memutuskan untuk kembali ke kota P.
"Yakin kamu nggak mau makan dulu Ni?" Tanya Erik.
"Roti ini cukup kok bang, buat ganjal." Kata Nia sambil mengunyah roti yang tadi sempat mereka beli di mini market.
"Ganjal?" Tanya Erik heran.
"Iya, ganjal lambung aku biar nggak demo." Kata Nia sambil tertawa.
"Kamu ini ada-ada aja. Abang kira tadi apaan yang mau di ganjal. Ya udah, kamu istirahat gih, nanti abang bangunkan kalau udah sampai." Kata Erik
"Mata aku lagi mode 100 watt, jadi nggak ngantuk." Kata Nia sambil menengedip-ngedipkan kedua matanya ke arah Erik, yang membuat Erik kembali tertawa.
"Serem, kayak boneka anabeel." Ledek Erik.
"Jiah, imut gini di bilang anabeel." Protes Nia.
__ADS_1
Seperti itulah yang mereka lakukan sepanjang jalan, yang membuat perjalanan menuju kota P jadi tidak terasa.
Sesampainya di rumah, Nia segera masuk setelah petugas keamanan membukakan gerbang.
"Aku masuk dulu ya bang. Hati-hati di jalan, dan terimakasih untuk semuanya." Kata Nia lalu menunggu mobil Erik meninggalkan halaman rumah Reyhan.
Nia segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Rumah memang sudah sepi karena sewaktu sampai rumah, jam sudah menunjukkan hampir jam 2 malam.
Nia menghidupkan lampu kamarnya sewaktu masuk kamar.
"Astagfirullah." Kata Nia yang terkejut sewaktu lampu nyala, terlihat Reyhan sedang duduk di sofa, dengan ekspresi marahnya.
"Dari mana kamu Ni? Jam segini baru pulang? Urusan kantor saya rasa sudah selesai dari tadi sore." Tanya Reyhan dengan ekspresi dinginnya menahan marah.
"Tadi aku dari apartemen yang dekat event jam 5 sore." Jawab Nia yang membuat Reyhan sedikit terkejut..
"Kamu lihat saya dengan Diandra?" Tanya Reyhan lagi.
"Iya." Jawan Nia singkat, karena hatinya kembali terasa sakit.
"Yang kamu lihat, nggak sepertu yang kamu bayangkan." Kata Reyhan lagi, dengan nada biacara mulai melunak.
"Memangnya mas tahu apa yang aku bayangkan?" Tanya Nia sambil berjalan ke nakas dan meletakkan tas ranselnya.
"Lihat saya kalau bicara itu Ni." Kata Reyhan yang mulai kesal lagi.
"Maaf ya mas, aku capek. Yang jelas aku nggak berbuat sesuatu yang melanggar norma. Aku tahu batasan ketika aku menjadi seorang istri, walau nggak di anggap." Kata Nia lalu masuk ke kamar mandi.
Tidak tahu kenapa, hati Nia kembali sakit sewaktu mengingat Reyhan yang berjalan bergandengan dengan perempuan lain, walaupun ekspresi Reyhan biasa saja.
Nia mengguyur kepalanya dengan air dingin menggunakan shower agar air mata yang berlomba-lomba terjun membasahi pipinya tidak terlihat.
"Ni, kamu kenapa lama kali di dalam?" Tanya Reyhan menggedor pintu kamar mandi, membuat Nia tersadar dari lamunannya.
Nia segera menyelesaikan kegiatan mandinya, kemudian mengenakan handuk yang memang selalu tersedia di kamar mandi.
"Cklek"
Nia membuka pintu kamar mandi dan segera menuju walking closet, untuk menggunakan baju tidurnya.
"Kita belum selesai bicara Ni. Kamu duduk." perintah Reyhan.
"Apalagi sih mas. Ya udah, aku nggak masalah mas mau jalan, pergi atau berbuat apapun dengan siapapun, sesuai dengan kesepakatan kita di awal, kalau tidak ada yang boleh mengganggu kehidupan pivasi masing-masing." Kata Nia yang mulai kesal dan masih berdiri di depan pintu walking closed.
"ck, kamu itu harus dengerin saya." Kata Reyhan sambil menarik tangan Nia agar segera duduk di depannya.
"Diandra itu temannya Els. Saya ketemu dia yang ternyata tinggalnya di sebelah unit apartemen saya tinggal. Diandra itu memang seperti itu, manja sama orang-orang yang dekat dengannya, karena Saya itu kenal Diandra dari kecil." Jelas Reyhan dengan suara tenang.
"Nggak perlu di jelaskan kok mas. Toh seperti yang sudah aku bilang tadi." kata Nia
"Walaupun ada perjanjian konyol yang saya buat di awal pernikahan kita, tapi itu saya buat karena saya lagi marah. Lagian saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan Satya." Kata Reyhan yang kembali mulai dominan begitu mengingat Nia akrab dengan Satya.
"Aku sama Bang Satya biasa aja, sama seperti dengan bang Rama, pak Herlambang, sama rekan kerja cowok lainnya." Kata Nia
"Iya. Tapi Satya itu suka kamu. Saya kenal dengan Satya, tante Zahara itu sahabatnya mama. Sekali Satya suka sama seseorang, selamanya dia akan kejar orang itu biar jadi miliknya." kata Reyhan lagi.
"Tapi bang Satya baik kok, nggak seperti itu." Bela Nia
"Ya, belum tau dia aja kamu. Pokoknya jangan dekat-dekat Satya, atau coba-coba kasi harapan." Terang Reyhan, lalu beranjak menuju tempat tidur.
Niapun mulai merebahkan tubuhnya di sofa tempat dia biasa tidur selama menikah dengan Reyhan. Nia mulai memejamkan matanya, karena hatinya mulai merasa tenang.
__ADS_1