
"Mas, kamu apa-apaan sih?" Tanya Nia yang langsung menjauhkan Reyhan dari Satya, yang sedang membersihkan sudut bibirnya yang berdarah.
"Kamu yang apa-apaan? Ngapain kamu disini sama dia?" Tanya Reyhan emosi.
"Aku hanya duduk disini. Mas kan tahu kalau aku nggak suka sama keramaian." Terang Nia.
"Alasan. Memang kamunya aja dasarnya ganjen. Mentang-memtang penampilan kamu seperti sekarang, kamu sibuk tebar pesona dengan laki-laki. Kenapa sih kamu nggak seperti Els yang tidak pernah dekat atau mencari perhatian laki-laki lain?" Tanya Reyhan masih dengan emosi.
Nia yang mendengar semua perkataan Reyhan hanya bisa diam, sambil menatap Reyhan tidak percaya, kalau Reyhan mengatakan lagi kata-kata yang membuat Nia sakit hati, karena sebelumnya Reyhan juga pernah mengatakan hal yang sama.
Melihat Nia yang hanya diam saja, membuat Reyhan tersadar kalau dia sedang menyakiti hati Nia, tapi karena egonya, Reyhan tidak mau minta maaf, dan memilih pergi meninggalkan Nia, agar Reyhan tidak lagi mengucapkan kata-kata yang membuat Nia sakit hati.
"Maafkan suami aku bang." Kata Nia
"Jadi kamu beneran sudah nikah?" Tanya Satya yang tidak percaya kalau Nia sudah menikah, padahal Satya sangat mencintai Nia sejak pertama mereka ketemu, walau Nia dengan wajah jeleknya.
Nia hanya menganggukkan kepalanya sambil menghirup dan menghebuskan nafasnya perlahan.
"Maaf bang, aku pulang dulu." Kata Nia lalu pergi meninggalkan Satya.
Nia mengirimkan pesan kepada Yangti, meminta maaf, kalau Nia tidak bisa lama-lama berada di pesta Yangti, dan memutuskan untuk pulang, dengan alasan sedang tidak enak body. Lalu Nia memutuskan untuk memesan transportasi online.
Nia berjalan menuju lobi hotel untuk menunggu taksi pesanannya.
"Michin, lo mau kemana?" Tanya Sean yang baru sampai.
Nia yang melihat Sean yang datang dengan wajah antusias kearahnya, membuat Nia harus berusaha keras agar tidak menangis. Ingin rasanya Nia memeluk Sean dan menangis, meluapkan semua kekesalannya. Tapi Nia tetap sadar diri, kalau saat ini statusnya adalah istri orang.
"Lo kok baru nyampe?, Udah bubar kali acaranya." Kata Nia yang berusaha mengalihkan Sean agar tidak bertanya kembali Nia mau kemana.
"Nggak apa. Gue udah izin sama Yangti. Lagian gue telat itu karena gue lagi handle proyek papi yang ada di kota B yang ada di pulau S, jadinya gue dapat penerbangan sore, dan baru sampai sini udah malam." Terang Sean.
"Masya Allah. Kemajuan nih. Lo nggak sibuk pacaran lagi sama banyak cewek?" Tanya Nia sambil mengejek Sean.
"Gue udah tobat. Soalnya nggak ada lo gue susah. Lo sih pakai acara kuliah di kota berbeda, mana tiba-tiba nikah sama kak Rey lagi. Oh iya BTW kuliah lo gimana?" Tanya Sean.
"Lagi nyambung S2." Jawab Nia sambil melihat, transportasi onlinenya sudah sampai mana melalui aplikasi hp.
"What? Kok lo udah S2 aja? Kan kita sama. Gue aja tahun depan baru wisuda." Terang Sean heran.
"Waktu libur gue sering ambil SP, jadinya gue bisa kelarin S1 gue lebih awal." Terang Nia.
"Ck, sifat buruk nggak sabaran lo itu nggak pernah hilang ya." Kata Sean dengan nada mengejek.
"Ya.. mau bagaimana lagi. Sory gue tinggal, transportasi online yang gue pesan udah datang. Lo temuin gih Yangti dan Yangkung sana. Jangan menclok waktu lihat cewek cantik lo." Kata Nia lalu segera berdiri meninggalkan Sean, tetapi tangannya ditahan oleh Sean.
"Lo kenapa nggak pulang bareng kak Rey?" Tanya Sean curiga.
"Gue nggak mau nyusahin orang lain. Udah ah lepas." Kata Nia lalu menyentak tangan Sean agar pegangannya terlepas.
"Lo hutang penjelasan sama gue." Teriak Sean sewaktu Nia masuk ke dalam transportasi online yang dipesannya.
__ADS_1
"Selamat malam nona. Tujuan sesuai aplikasi?" Tanya supir transportasi online ramah.
"Iya pak. Terima kasih." Jawab Nia.
Sepanjang perjalanan, Nia hanya diam sambil memandang jalanan melalui kaca jendela mobil. Sesekali ia menghembuskan nafasnya kasar, seolah-olah tengah mengusir masalah yang besar.
"Nona lagi punya banyak masalah sepertinya? Maaf kalau saya lancang." Kata Supir transportasi online yang usianya sudah tidak muda lagi.
"Nggak juga sih pak. Tapi ada masalah iya. Namanya juga orang hidup." Kata Nia yang mencoba tersenyum.
"Nona benar, orang hidup pasti punya masalah agar hidupnya lebih berwarna, tidak monoton. Semoga nona bisa mengambil hikmah dari setiap masalah hidup yang nona alami." Kata supir itu ramah.
"Aamiin. Terima kasih pak." Kata Nia, lalu kembali hanya ada keheningan.
Setelah menempuh jarak kurang lebih 40 menit, akhirnya Nia sampai di rumahnya dan Reyhan. Rumah yang ia tempati ketika menikah dengan Reyhan. Rumah yang sebenarnya Reyhan persiapkan untuk Elsa, karena banyak sekali jejak keberadaan Elsa di rumah itu.
"Nia langsung masuk ke kamarnya begitu sampai rumah, membersihkan makeup dan tubuhnya, serta mengganti pakainnya dengan baju tidur.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, tidak lupa Nia menunaikan kewajibannya menghadap sang pencipta, walaupun sudah sangat telat sekali.
Selesai sholat, Nia memtuskan untuk tidur. Karena dasarnya Nia adalah orang yang gampang tidur, bksa tidur dimana saja dan kapan saja dia mau, makanya Nia bisa segera terlelap.
Nia PoV
Suara azan yang terdengar dari ponsel ku yang berada di nakas, membuat aku segera bangun dari dunia mimpi. Aku segera bangun dan melakukan sedikit peregangan agar tubuh lebih rilex.
Aku melihat kesamping ku, ternyata mas Reyhan tidak ada. Mungkin dia masih marah dan memutuskan untuk tidak pulang. Biar sajalah. Toh mas Rey sudah besar ini.
"Nyonya" Sapa para asisten rumah tangga yang ada di rumah ini ramah, dan kami segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat, aku memutuskan untuk membuat sarapan. Karena hanya aku dan para ART yang ada di rumah. Aku ingin sarapan dengan menu puyunghai seafood, dengan udang dan cumi yang banyak, ditambah brokoli, wortel dan tomat, yang membuat puyunghai ala aku sepertinya begitu menggugah selera.
Aku membuat adonan puyunghai dalam jumlah banyak, sekalian untuk sarapan para ART yang ada di rumah ini
"Mbok Nah, Nia hanya goreng yang untuk Nia aja ya. Mbok bisa gorengkan untuk yang lain, adonan puyunghai dan saosnya sudah Nia buat." Terang ku kepada salah satu asisten rumah tangga yang memang bertugas untuk memasak.
Aku segera membawa puyunghai yang telah selesai digoreng, dan disiram saos asam manis dengan bawang bombay yang banyak, ke meja makan yang tidak jauh dari dapur kotor.
Selesai sarapan, aku segera mencuci peralatan makan dan minum yang aku gunakan. para ART yang ada di rumah ini sudah bosen memberitahukan aku, biar mereka saja yang membereskan. Tapi karena aku memang terbiasa melakukan semuanya sendiri, tidak terbiasa kalau harus dilayani.
Setelah selesai mebersihkan peralatan makan dan minum yang aku gunakan, aku segera menuju kamar ku dna mas Rryhan, karena hari ini aku berencana untuk pergi ke mall dan ke panti asuhan, untuk melihat adik-adik panti yang menggemaskan.
Sejak membuat kesepakatan baru dengan mas Reyhan, aku tidak harus diikuti oeeh mbak Rani dan bang Leo kemana-mana. Karena aku ingin menjadi orang biasa dengan kehidupan biasa, yang biasanya aku jalani dari kecil.
Jika tidak dengan mas Rey, aku keluar menggunakan penampilan itik buruk rupa. Walaupun ada beberapa yang bilang, aku tetap cantik, walau punya tompel, dan menggunakan kacamata hitam besar.
"Nyonya mau kemana?" Tanya mbak Sekar ketik melihat aku keluar.
"Aku mau ke mall, abis itu ke Panti. Palingan sore udah pulang." Terang ku kepada mbak Sekar. Karena kalau tidak dijelaskan, sewaktu mas Rey nanya dan mereka tidak bisa jawab, maka mereka yang akan dimarahi mas Reyhan.
"Nyonya sudah bilang tuan?" Tanya mbak Sekar lagi.
__ADS_1
"Lagi perang dunia ketiga. Dah mbak.. Assalamualaikum." Kata Ku lalu segera meninggalkan mbak sekar, karena aku malas harus menjawab pertanyaan mbak Sekar.
Aku segera melajukan motor matic ku, yang aku beli dari uang hasil pemotretan dengan mbak Monica, ditambah uang bulanan yang selalu papa kirimkan.
Karena hari masih pagi, dan mall belum buka, aku memutuskan untuk menuju taman kota yang ada danaunya. Lumayan, biasanya disana ada beberapa anak-anak jalanan yang berjualan ditaman kota.
Sesampainya di taman kota, aku segera memarkirkan sepeda motor yang aku bawa.
"Kak Nia.." Teriak seorang anak yang cukup akrab dengan ku.
"Assalamualaikum Gilang? Apa kabar hari ini?" Tanya ku pada Gilang, bocah penjual snack dan kuaci yang dia bawa dengan keranjang kecil yang talinya digantung di lehernya.
"Alhamdulillah sehat kak. Kakak kok udah lama nggak kesini?" Tanya Gilang padaku, karena aku memang sudah lama tidak ke taman kota.
"Biasa. Kakak lagi pura-pura sibuk." Jawab ku sambil tersenyum.
"Kebiasaan kakak nih, pura-pura sibuk mulu." Protes Gilang.
"BTW yang lain mana?" Tanya ku, karena biasanya ada Ratna, Dewi, Fajar sama Ahmad yang ikut berjualan di taman kota.
"Yang lain belum datang kak, masih pada sarapan mungkin di rumahnya." Jawab Gilang.
"Lah, kamu nggak sarapan?" Tanya Ku heran, karena mereka bertetangga, dan biasanya selalu bersama.
"Gilang sarapannya nanti aja. Kalau sudah ada yang laku." Katanya dengan wajah sendu.
"Kebetulan, kakak punya puyunghai.Gilang makan gih. Kakak tadi udah sarapan banyak." Kataku, yang memang kalau pergi-pergi selalu membawa kotak bekal. Buat jaga-jaga mana tahu ada yang lapar seperti sekarang.
Gilang yang memang sudah tidak sungkan dengan ku, menerima kotak bekal ku dengan wajah berbinar, seraya mengucapkan terima kasih. Ia lalu duduk bersama ku di pinggir kolam, dan mulai memakan puyunghai yang aku bawa.
"Enak?" Tanya ku penasaran, karena Gilang menghabiskannya dalam waktu yang sangat cepat.
"Banget kak. Seperti biasa. Udah lama Gilang nggak makan bekal dari kakak." Katanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kalau gilang mau, mulai besok, kakak akan kirimkan kotak bekal buat Gilang." Kata ku smabil tersenyum.
Aku tahu Gilang pasti sedang punya masalah. Tapi aku tidak mau memaksa orang untuk bercerita atau bertanya masalah apa yang mereka punya.
"Ibuk pergi ninggalin kami." Katanya mulai bercerita sambil memandang air kolam yang tenang.
Aku mendengar semua cerita Gilang, tanpa menjedanya, agarvia bisa bercerita dengan leluasa. Dari cerita hidup Gilang, aku dapat banyak pelajaran, bahwa apa yang terjadi padaku tidak ada apa-apanya dibanding apa yang terjadi pada Gilang.
Bocah 10 tahun, yang hidup penuh perjuangan dari ia kecil. Memiliki 5 saudara yang masih kecil-kecil, ayah yang suka mabuk-mabukan dan ibu yang awalnya sabar, tapi akhirnya memilih untuk menyerah dan meninggalkan anak-anaknya.
"Kamu sabar aja ya. Insya Allah, Allah itu nggak tidur. Lagian kamu ini hebat banget tau. Kalau kakak ada di posisi kamu, nggak tau deh, jadi apa kakak." Kata ku berusaha membesarkan hati Gilang.
"Terima kasih kak. Kakak adalah kakak terbaik yang aku punya." Kata Gilang yang mulai tersenyum, seolah-olah dengan bercerita, sedikit bebannya berkurang.
"Kamu jualan lagi gih, lumayan, kalau hari minggu taman ramai. Nanti siang kakak kirim bekal makan siang untuk kamu sama adik-adik, juga teman-teman yang lain. Sekarang kakak ada urusan dulu. InsyAllah kalau nggak sibuk, kakak bakalan sering main kesini lagi." Kata ku lalu pergi meninggalka Gilang yang kembali berjualan.
Aku segera menuju mall, membeli beberapa buku bacaan, serta alat menggambar. Aku juga membeli bahan masakan, karena berencana akan memasak di oanti untuk adik-adik panti, pengurus juga gilang, adikmya serta teman-temannya.
__ADS_1