
Reyhan memesankan gaun yang sangat indah berwarna emerald seperti warna iris Nia, dengan model yang tidak terlalu terbuka dan panjangnya sedikit di bawah lutut. Warna gaun Nia senada dengan kemeja yamg dikenakan Reyhan untuk menghadiri acara peringatan pernikah Yangti dan Yangkungnya.
"Masya Allah, nyonya cantik sekali." Puji karyawan butik yang membantu Nia mengenakan gaun yang di pesan Reyhan. Kebetulan di butik tersebut juga ada salon, sehingga Nia dan Reyhan tidak perlu pergi ke tempat berbeda untuk mendandani Nia.
"Mata anda indah sekali. Dimana nyonya membeli softlense dengan warna emerald seperti ini?" Tanya MUA yang sedang merias wajah Nia.
"Alhamdulillah, ini dikasi." Jawab Nia sambil tersenyum.
"Pasti suami nyonya yang memberikan." Kata MUA itu lagi.
"Bukan. Ini pemberian Allah." kata Nia lagi yang membuat MUA tersebut mengerutkan keningnya memandang Nia tidak percaya.
"Anda bule?" tanya nya lagi, karena penasaran.
"Bukan. Tapi nggak tahu juga, sepertinya mata ini diwariskan dari keluarga ibu saya." Jawab Nia.
MUA tersebut tidak butuh waktu lama untuk merias Nia, karena memang dasarnya kulit wajah Nia bagus, sehingga MUA itu hanya perlu menambahkan warna agar terlihat segar dan serasi dengan gaun yang Nia kenakan.
"Terima kasih mbak." Kata Nia sambil tersenyum begitu MUA tersebut selesai memoles lipstik berwarna coral lembut ke bibir Nia.
"Ayok mas." Kata Nia yang muncul dihadapan Reyhan, yang membuat Reyhan terus memandang wajah Nia tanpa berkedip.
"Ayok mas." Kata Nia lagi yang membuat Reyhan tersadar, lalu segera menggandeng Nia untuk keluar dari butik.
Walaupun sudah terbiasa melihat Nia dengan iris emeraldnya, tapi Reyhan jarang melihat Nia menggunakan riasan, walaupun tanpa riasan Nia tetap memiliki wajah yang sangat cantik.
"Kenapa mas liatin terus? Ada yang aneh?" Tanya Nia heran karena dari tadi Reyhan curi-curi pandang ke arah Nia.
"Emang ada ya peraturan, dilarang melihat wajah istri sendiri?" Tanya Reyhan.
"Nggak ada sih. Tapi aku aneh aja." Jawab Nia yang membuat Reyhan memperlihatkan senyum devilnya ke Nia, yang membuat Nia seketika teringat perjanjian yang mereka sepakati tadi sewaktu di rumah, soal panggilan untuk diri Nia.
"Satu hukuman." Kata Reyhan yang membuat Nia seketika memanyunkan bibirnya.
"Boleh pakai masa trial and erorr nggak sih mas?" Tanya Nia dengan senyum termanisnya agar Reyhan mau menyetujui keinginan Nia.
"Kamu kira kerja di kantor, pakai masa trial and erorr." Kata Reyhan yang membuat Nia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, karena tahu betul bagaimana sifat Reyhan yang tidak bisa kompromi dna dibantah ketika membuat keputusan.
"Hukumannya jangan yang susah ya mas, soalnya ak.." Ucap Nia yang terputus karena mengingat hampir saja menyebut kata "aku" untuk dirinya, yang membuat Reyhan tertawa karena melihat tingkah Nia yang sungguh menggemaskan dimata Reyhan.
"Nia mau puasa ngomong aja deh, biar nggak salah sebut lagi." Putus Nia akhirnya, yang membuat Reyhan hanya tersenyum sambil mengelus kepala Nia dengan tangan kirinya.
Sewaktu sampai hotel, Reyhan membawa Nia ketempat keluarganya berkumpul. Ini adalah pertama kalinya Reyhan membawa Nia ke acara keluarga besar, walaupun mereka sudah menikah selama 2 tahun.
Reyhan dan Nia duduk di meja yg sudah dipersiapkan untuk keluarga inti Reyhan.
"Sayang, apa kabar kamu?" Tanya maminya Reyhan kepada Nia.
"Alhamdulillah sehat mi. Mami cantik banget. Uda lama nggak ketemu." Kata Nia sambil mencium punggung tangan mami Reyhan dan memeluknya erat.
"Kamu juga cantik banget sayang. Btw kapan nih mami punya cucu?" Tanya maminya Reyhan.
"Lagi di angsur mi, sabar ya." Kata Reyhan sambil tersenyum dan memeluk maminya karena tahu, pasti Nia susah untuk menjawab.
"Siapa suruh kamu peluk istri papi Rey. Peluk istri kamu sendiri dong." Protes oapinya Reyhan ketika Rey memeluk maminya.
"Kumat deh posesive nya. Rey anak papi nggak sih mi? masa sama anak sendiri jelous juga." Protes Reyhan karena papinya mengurai pelukan Rey dan maminya.
"Ya anak papi lah. Kalau itu nggak usah diragukan lagi. Ketampanan kamu kan papi yang wariskan." Kata papi Rey bangga sambil memegang dagunya sendiri, memberitahu Rey kalau papinya sangat tampan.
__ADS_1
"Tetaplah Rey yang paling tampan. Lagian kenapa Rey harus mewarisi gen papi sih mi? Nggak mami aja. Males Rey kalau mirip papi." Kata Rey ketus sambil menatap papinya.
"Iya kan? maminya juga bingung, papi kamu emang egois banget nih, semua yang ada di diri kamu 80% gennya papi, cuma mata doang yang mirip mami." Protes mami Rey juga.
Nia yang baru ini berkumpul dengan keluarga Rey, hanya bisa memperhatikan, dan ikut bahagia melihat keharmonisan mereka.
"Iya dong sayang. Itu tandanya mami tuh cinta banget sama papi, sampai-sampai anak kita mirip papi banget." Kata papi Rey sambil tertawa dan memeluk istrinya dari samping.
"Mulai deh." Cibir Rey.
"Kamu besok jangan seperti mami ya Ni?, jangan banyak warisan gen dari Rey. Mami suka mata kamu, hidung kamu, alis kamu, bibir kamu, semuanya. Mami request anaknya mirip kamu aja nanti ya Ni?" Kata mami Rey bahagia sambil memandang Nia kagum.
"Nggak bisa gitu dong mi. Bagaimanapun Rey kan juga punya andil. Yah minimal 50 50 lah." Protes Rey.
"Iya alisnya alis Rey deh. Tapi sifat kamu yg seperti frezer jangan kamu warisi ya Rey?." kata maminya sambil tertawa.
"Mami durhaka, ngatain anaknya frezer." protes Rey.
"Kenyataan kok." Kata mami Rey sambil tertawa.
"Kamu ngetawain Mas Ni?" Tanya Reyhan sambil memandang Nia kesal.
"Nggak." Jawab Nia sambil mengulum senyum.
"Ish, nggak mami, nggak istri, nyebelin." Kata Reyhan sambil memanyunkan bibirnya.
"Cup" Nia mencium pipi Reyhan yang membuat Reyhan langsung menatap Nia sambil tersenyum, seketika amarah dalam dirinya menghilang, berganti dengan perasaan bahagia, karena Reyhan tahu betul kalau Ia tidak suka meperlihatkan kemesraan mereka di depan umum.
"Rey dicium. Papi juga mau mi." Kata Papi Rey sambil menunjuk pipinya kepada istrinya.
"No." Jawab mami Rey, yang membuat Rey tertawa, karena maminya tidak mamu mencium papinya.
Nia dan Reyhan malam itu juga menjadi pusat perhatian selain Yangti dan Yangkung, karena banyak yang tidak tahu siapa Nia, terutama rekan kerja Reyhan.
Banyak yang mempertanyakan bahkan menatap Niaa dengan tatapan heran. Karena seingat mereka Reyhan pacaran dan menikah dengan Elsa.
"Acaranya masih lama nggak ini mas?" Tanya Nia karea nia mulai nggak nyaman, walau kasana bersama Reyhan, tapi pandangan tidak suka orang-orang membuat Nia kurang nyaman.
"Lama sih biasanya acara seperti ini. Lagian Yangti dan Yangkung belum potong tumpengnya." Terang Reyhan.
"Ni, ayo, mami kenalin sama teman-teman mami." Ajak mami Rryhan antusias sambil mengajak Nia berkenalan dengan teman-temannya.
Nia yang tidak biasa dengan acara perkenalan ke teman-teman sosialita maminya Reyhan merasa tidak nyaman, dan menatap Reyhan untuk meminta bantuan.
"Udah, Rey tinggal aja. Mami pinjam istri kamu ya Rey." Kata mami Reyhan dan langsung mengajak Nia.
Mau tidak mau Nia mengikuti maminya untuk berkenalan dengan teman-temannya, yang kebetulan duduk di meja yang sama.
"Hi. Apa kabar semuanya?" Sapa maminya Reyhan sambil cipika cipiki dengan teman-teman sosialitanya.
"Kenalin ini istrinya Rey." Kata mami Reyhan memperkenalkan Nia.
Nia lalu mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan teman-teman mami Reyhan satu persatu, termasuk maminya Elsa.
"Nia disini aja dulu kenalan sama teman-temannya mami, ada maminya Els juga. Jadi kamu bisa lebih nyaman kan sayang? Mami ke panggung dulu nemanin papi kamu." Kata maminya Reyhan lalu pergi meninggalkan Nia, bersama teman-temannya karena dipanggil MC untuk menemani papinya Reyhan untuk berdansa.
"Jadi ini penggantinya Els jeng Tamara?" tanya salah satu teman maminya Reyhan yang merupakan sahabat maminya Elsa.
"Yah... begitulah." Jawab mami Elsa tidak suka, karena memang dari dulu tidak pernah suka dengan Nia.
__ADS_1
"Cantik sih jeng, tapi tetap Els lah yang cocok dengan Rey. Lagian bukannyan Rey itu cinta mati dengan Els ya?" tanyanya lagi.
"Banget. Palingan kalau Els pulang, pasti Rey nanti balik lagi ke Els. Lagian saya yakin dia ini seperti ibunya. Susah punya keturunan. Buktinya sudah dua tahun lebih menikah, tapi belum isi juga sampai sekarang." Kata mami Elsa sambil menatap sinis ke Nia.
Nia yang masih punya akal pikiran, tidak mau merusak pesta Yangti dan Yangkung. Sekuat tenaga Nia berusaha untuk tidak memperdulikan omongan mereka.
"Maaf tante semuanya. Saya permisi dulu." Kata Nia sopan, lalu segera pergi meninggalkan mereka, tapi Nia tetap masih bisa mendengar cibiran teman-teman maminya Reyhan.
Nia memutuskan untuk ke toilet, karena walaupun terlihat tegar dan galak, sebenarnya Nia adalah perempuan yang sangat cengen, tapi kondisi membuat Nia harus pura-pura kelihatan tegar, bahkan di koridor, Nia juga mendengar beberapa orang menggunjingkan dirinya, sebagai perempuan pengganti perebut Reyhan dari Elsa.
Nia masuk ke toilet sekedar melepaskan rasa kesalnya. Air matanya tidak berhenti mengalir. Untung saja Nia menggunakan makeup water prof sehingga makeupnya tidak terlalu berantakan.
Setelah puas menangis, Nia membersihkan sisa-sisa air mata di pipinya, dan sedikit merapikan makeupnya.
"Udah nangisnya Ni?" Tanya Satya yang menunggu Nis di depan toilet.
"Bang Sat?" Tanya Nia heran.
"Ck. Panggil nama abang yang lengkap Ni, nanti orang-orang kira kamu lagi maki abang." Kata Satya yang terlihat sedikit kesal, tapi itu hal yang paling disukai Nia, membuat Satya kesal.
"Abang kok bisa ada disini?" Tanya Nia yang berusaha mengalihkan pertanyaan Satya.
"Papa rekan bisnis om Aryo, papinya Kak Rey." Terang Satya.
"Wah... ternyata dunia ini hanya sepanjang tali kolor." Kata Nia bermonolog, karena ternyata orang-orang yang ada di sekelilingnya ternyata saling memiliki hubungan.
"Daun kelor kali Ni." Kata Satya membenarkan.
"Ha.. iya itu, yang penting ada lor lor nya." Jawab Nia smmbil nyengir.
"Mau masuk lagi?" Tanya Satya
"Boleh nggak ya, nggak usah masuk. Pengen duduk di tempat yang nggak ada orang." Jawab Nia.
"Kamu ikut abang." Kata Satya yang refleks menarik tangan Nia yang langsung ditepis oleh Nia.
"Abang nggak akan culik kamu. Males tau nyulik kamu, banyak ruginya." Kata Satya sambil tertawa mengejek Nia.
"Ish." protes Nia.
"Abang serius. Abang tau tempat seperti yang kamu bilang." Kata Satya.
Lalu tanpa banyak kata, Nia mengikuti langkah Satya, menuju tempat yang Nia sebutkan.
Mereka menuju taman yangada di samping hotel, yang agak lumayan jauh dari lokasi acara.
"Wah enak ternyata disini. Ya udah, abang pergi gih. Aku mau disini sendiri." Kata Nia lalu mengusir Satya, tapi justru malah Satya ikut duduk di samping Nia.
"Kok abang ikutan duduk sih?" Protez Nia.
"Habis manis sampah dibuang kamu ya Ni?, mentang-mentang ketemu tempat ysng kamu inginkan, langsung deh, kamu usir abang." Protes Satya.
"Nggak gitu sih. Cuma Nia nggak mau aja nanti ada yang salah paham." Protes Nia.
"Nggak bakalan. Lagian ini tempat umum, siapa aja bisa lihat, dan kita nggak ngapa-ngapain, cuma duduk aja. Atau kamu mau ngapa-ngapain sama abang?" Goda Satya yang langsung di hadiahi Nia tinjuan di lengannya, yang membuat Satya mengaduh, karena lumayan keras.
"Maaf-maaf." Kata Nia yang reflek meninju bekas tinjuannya.
"Bugh"
__ADS_1
Terdengar suara pukulan dari samping, yang membuat Nia reflek mendongak, melihat Reyhan yang tiba-tiba datang dan langsung meninju Satya.