
Sudah satu bulan aku kehilangan jejak Nia, berbagai cara aku lakukan agar bisa menemukan jejak Nia, tapi ntah kenapa Nia seperti hilang ditelan bumi.
"Nona mendaftar untuk sidang tesisnya dua hari lagi tuan." Terang Rani ketika memberikan laporan perkembangan pencarian Nia.
"Awasi dari jauh. Jangan sampai kehilangan jejaknya lagi." Kata ku bahagia karena akhirnya bisa melihat Nia walaupun hanya dari jauh, sebab aku gengsi sudah menalak dan mengucapkan kata yang menyakitkan Nia, tapi masih saja ingin melihatnya secara langsung walau dari jauh.
Rani dan Leo juga sudah menyelidiki masalah Video dan Foto yang aku dapatkan tentang perselingkuhan Nia. Foto dan Video itu asli, hanya saja kejadiannya benaran. Benar-benar direkayasa oleh orang yang juga benar-benar aku kenal.
Dia mempengaruhi salah satu teman baik Nia untuk melakukan hal tersebut. Sungguh, aku tidak menduga kalau sahabat Nia akan mengkhianatinya hanya karena prasangka dan sejumlah uang. Karena alasan kemanusiaan aku tidak memberikannya hukuman, karena tidak mau Nia sedih, tahu kalau sahabatnya mengkhianatinya.
Konsekwensinya dia harus berusaha menjauh dan tidak pernah mengganggu Nia lagi. Bahkan Oget dan Aldi teman-teman pria yang selalu menjaga Nia juga marah dan tidak mau lagi berteman dengan Dian. Dian sendiri yanv merusak persahabatan mereka. Walau cemburu dengan Oget dan Aldi, tapi dari Rani dan Leo, aku tahu mereka orang baik. Mereka tulus menyayangi Nia, walau terkadang Oget yang menyebalkan selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Nia.
Aku tidak ingin dalang penjebakan Nia terus menyakiti Nia, karena bagaimanapun aku melindungi Nia, dia selalu punya cara untuk berbuat jahat kepada Nia.
Pagi ini aku bangun dengan semangat, tidak bangun sih tepatnya, karena aku belum tidur sama sekali, membayangkan hari ini bisa melihat Nia. Melihat perempuan yang benar-benar sudah mengisi setiap relung hati ku dengan cinta.
Segala sikap, perkataan dan tingkah laku Nia, tidak pernah hilang dari pikiranku. Bahkan barang-barang Nia yang tadinya aku buang, sudah ku kembalikan ke tempatnya. Untung saja, mbok Nah dan Sekar tidak membuang barang-barang Nia yang dulu aku suruh buang.
Setelah sarapan, aku segera menuju ke kampus milik papa Bian. Salah satu kampus swasta terbaik di kota ini. Papa Bian sahabat papi sewaktu kuliah, di kampus ini juga ada saham papi, tapi tidak sebanyak saham papa Bian, sehingga semua pengurus kampus mengenal aku yang selalu hadir menggantikan papi ketika ada rapat pengurus.
Aku meminta mereka menyalakan CCTV ruangan tempat Nia akan melaksanakan sidang tesisnya. Di usianya yang sangat muda, Nia sudah akan mendapatkan gelar Magisternya. Sungguh aku sangat beruntung, memiliki istri yang cerdas seperti Nia, karena aku yakin kelak anak-anak ku dan Nia akan menjadi anak-anak yang cerdas, karena gen kecerdasan menurun dari ibunya.
"Non Nia sudah keluar dari kostnya tuan." laporan Rani via telpon.
Aku yang tahu kebiasaan Nia yang selalu membuat persiapan ketika akan presentasi, dan hadir lebih awal, makanya pagi-pagi sekali aku sudah datang ke kampus. Walaupun tidak bisa langsung bertemu, melihat Nia dari cctv kampus sudah membuat ku cukup senang.
Walaupun menggunakan tanda hitam di pipi kirinya, menggunakan kaca mata yang besar dan menutupi iris emeraldnya yang indah, tapi hal itu tetep tidak mengurangi kecantikan Nia.
Aku memperhatikan semua yang Nia lakukan selama sidang tesis. Istri cerdas ku memang yang terbaik, tidak perlu waktu lama dan banyak revisi, dosen penguji mengatakan kalau Nia lulus sidang tesisnya.
Aku juga mendengar kalau Nia tidak langsung melanjutkan studynya, tapi ingin cuti untuk bermain-main. Ya... seberat itu hidup yang dilalui Nia, sehingga tidak ada kata main dalam hidupnya, tapi Nia menerima dengan ikhlas, sehingga tidak ada sedikitpun merasa berat untuk menjalani hidup yang dijalaninya.
Aku juga mendengar percakapan Nia dengan seorang dosen yang menjadi penanggungjawab acara wisuda. Beliau meminta Nia untuk tampil menyanyikan sebuah lagu di acara wisuda yang akan dilakukan sekitar sebulan lagi.
Setelah selesai mendaftar wisuda, Nia segera kembali ke kota B. Aku segera menyuruh Rani dan Leo untuk mengikuti Nia, dan mengetahui dimana selama ini Nia bersembunyi.
Rani melaporkan semua kegiatan yang Nia lakukan termasuk mengunjungi perusahaan yang menjual mesin-mesin produksi sederhana dan mengunjungi salah satu mall yang ada di kota B, termasuk pertemuan Nia dengan Sean.
__ADS_1
Karena kondisi Rani dan Leo jauh dari Nia dan Sean Rani tidak bisa melaporkan apa yang mereka bicarakan. Aku meminta Rani untuk melakukan video call, untuk melihat keberadaan Nia dan Rani.
Tck, tatapan Sean kepada Nia yang tidak pernah ku suka dari dulu, karena tahu kalau Sean baru sadar bahwa dia mencintai Nia setelah Nia menjadi istri ku.
Aku selalu mengancam dan berusaha menjauhkan Sean dari Nia, karena aku juga tahu, kebersamaan mereka dari kecil, juga menimbulkan rasa cinta di hati Nia. Tapi aku berusaha untuk membunuh rasa yang mereka miliki karena Nia adalah milik ku. Apa yang menjadi milik ku, tidak akan aku biarkan menjadi milik orang lain. Egois? Ya seperti itulah aku yang terkenal dengan sikap egois dan dominan yang aku miliki.
Kondisi mall yang ramai karena ada kegiatan fashion show anak-anak, membuat Rani dan Leo kehilangan jejak Nia. Aku yang kesal, memarahi Rani dan Leo, bahkan menyuruh mereka mencari Nia, dan tidak boleh pulang kalau belum dapat kabar tentang Nia.
Sudah beberapa hari Rani dan Leo mencari keberadaan Nia, namun nihil, Nia beneran seperti hilang ditelan bumi, tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
Hari ini Yangti dan Yangkung yang baru saja kembali dari perjalanan keliling benua E, mengadakan acara makan malam yang mengundang seluruh keluarga besar, termasuk keluarga papa Bian, yang sudah menjadi keluarga besar kami, karena pernikahan ku dengan Nia.
Sewaktu aku sampai keluarga papa Bian juga smapai dan kami bertemu di teras depan rumah Yangti. Aku masuk bersama dengan Elsa, papa Bian dan tante Tamara.
Aku melihat Sean yang sedang berbicara dangan Yangti. Aku segera menyapa dan mengucapkan salam kepada Yangti begitu juga dengan keluarga papa Bian, yang membuat Sean memperlihatkan ekspresi tidak suka.
Yang ti bertanya tentang Nia apakah Nia sudah pulang atau belum yang membuat aku heran, bagaimana Yanti tahu kalau Nia pergi? Dan apakah Yangti juga tahunkalau aku sudah menjatuhkan talak kepada Nia? Apa Nia cerita kaaau aku sudah mengusirnya? Argh... bisa kacsu semuanya.
Tapi semua dugaan ku salah, Yangti tahu Nia pergi dengan alasan ada project sosial yang sedang dikerjakan Nia di daerah terpencil.
Wah pintar sekali kamu Ni, sembunyi di daerah terpencil, pantas saja Leo dan Rani susah melacak keberadaan Nia selama ini.
Aku tahu, Sean pasti tahu sesuatu. Sean baru ketemu Nia seminggu yang lalu di sebuah mall. Aku yakin, Nia pasti menceritakan masalah kami kepada Sean, karena bagaimanapun juga, Sean adalah orang terdekat Nia dari kecil. Aku sedikit kesal dengan sikap Nia yang menceritakan masalah rumah tangga kami kepada orang lain, apalagi itu saudara ku sendiri.
"Apa kabar Sean?" Tanya ku berbasa basi.
"Sehat." Jawab Sean ketus.
"Kamu kenapa ketus?" Tanya ku tidak suka.
"Terus aku harus jawab bagaimana?" Tanya Sean balik.
"Cerita apa saja Nia sama kamu?" Todong ku, karena yakin, sikap ketusnya ini pasti karena cerita Nia.
"Kenapa Nia harus cerita?" Tanya Sean balik yang membuat aku jadi kesal, karena dari tadi di tanya bukannya menjawab, Sean malah bertanya balik.
"Kamu harus sopan sama kakak Sean. Bagaimanapun , Kakak lebih tua dari kamu." Kata ku mulai geram.
__ADS_1
"Ya.. terserah." Kata Sean memutar bola matanya malas, yang membuat aku semakin kesal.
"Kamu harus jaga sikap Sean." Bentak ku yang membuat keluarga yang berada disekitar kami langsung melihat ke arah Sean dan aku, termasuk Yangti, Yangkung, tante Rozza, Papa Bian, tante Tamara dan Elsa yang mendekat ke arah Sean dan aku.
"Kamu kenapa buat kakak kamu kesal Sean?" Tanya tante Rozza yang berusaha mencairkan suasana yang tegang, tapi Sean hanya diam saja.
"Minta maaf Sean." Kata tante Rozza lagi, tapi Sean tetap diam saja, lalu bermaksud pergi meninggalkan ku.
"Pengecut ya begitu. Marah tanpa alasan yang jelas." Sindir ku yang membuat Sean kesal dan berbalik kembali kehadapan ku.
"Aku bukan pengecut. Kakak yang pengecut dan bodoh. Bisa-bisanya melepaskan Nia hanya untuk mantan kakak tercinta ini." Kata Sean kesal yang membuat semua perhatian ke arah kami.
"Jelaskan sama Yangti. Maksud kamu apa Sean?" Tanya Yangti.
"Yangti tanya sama cucu kesayangan Yangti ini. Apa yang sudah dilakukannya sama Nia." Kata Sean sambil menatap ku remeh.
"Jelaskan Rey." Perintah Yangti kepada ku, mulai tidak sabar, karena Nia adalah cucu menantu kesayangannya
"Rey jelaskan. Rey minta maaf, tapi ini bukan salah Rey. Rey jatuhkan talak sama Nia, karena Nia selingkuh. Nia tidur dengan laki-laki lain." Jelas ku yang membuat semua orang yang mendengarnya terkejut. Karena sekarang saat ini ada Elsa, dan aku tidak mau merusak rencana ku untuk melindungi Nia dari Elsa, jika aku memberitahukan kebeneran yang ku ketahui.
"Plak" Sebuah tamparan mendarat di wajah ku, bahkan sudut bibir ku sedikit berdarah, efek kerasnya tamparan yang dilakukan papa Bian. Akubpantas sih mendaparkannya dari papa Bian, karena papa mana yang tidak marah ketika anaknya dituduh berselingkuh, dan kejadian ini pasti mengingatkan papa Bian tentang hal yang dulu pernah dilakukannya kepada ibu Lily.
"Berani-beraninya kamu bilang anak saya selingkuh. Nia tidak mungkin seperti itu. Saya yakin sekali, walaupun saya tidak membesarkan Nia, tapi istri saya membesarkan Nia dengan sangat baik sekali." Kata papa Bian marah.
"Benar Rey. Nia tidak mungkin seperti itu. Tante tahu betul Nia. Dari kecil Nia tumbuh besar dengan Sean, bahkan Nia tidak suka dan tidak mau kalau Sean menyentuhnya, walau hanya jabat tangan." Terang tante Rozza.
"Rey tidak mungkin ambil keputusan sembarangan pa, tante. Rey punya bukti kalau Nia tidur dengan laki-laki lain. Tadinya Rey juga tidak percaya kalau Nia selingkuh. Tapi bukti yang Rey dapat asli. Tidak hanya foto, tapi juga ada Video. Rey sudah cek ke pihak yang ahli, dan mereka mengatakan itu asli, bukan editan." Kata ku sambil menunjukkan bukti yang ada di hp ku kepada papa Bian, tante Rozza, Yangti, bahkan Sean.
"Nggak, nggak mungkin Nia seperti itu. Pasti ada yang menjebak dan memfitnah Nia" Sanggah Sean.
"Itu kenyataan Sean. Kamu jangan lihat masalah ini dari sudut pandang Nia saja. Kamu juga lihat dari sudut pandang kakak. Laki-laki mana yang bisa terima kalau istrinya selingkuh Sean?" Tanya ku yang kembali kesal, karena bisa-bisanya Sean yakin kalau itu jebakan dan fitnahan, walau benar seperti itu kenyataannya.
"Kakak sengaja merekayasa, biar kakak bisa balik sama mantan kakak ini kan?" Tunjuk Sean pada Elsa.
"Yang sopan kamu Sean. Jangan salah kan dan tunjuk-tunjuk Els. Justru Els yang selama ini menenangkan kakak, dan minta kakak maafkan Nia. Els yang jaga agar kakak tidak melakukan perbuatan bodoh." Bela ku, agar Elsa tidak curiga.
"bruak"
__ADS_1
Papa bian terjatuh sambil memegang dadanya. Aku yang panik, segera membawa papa Bian ke rumah sakit bersama Elsa dan tante Tamara.