Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Welcome Twin Boy


__ADS_3

Nia yang merasa perutnya sakit dan masih memiliki kesadaran yang baik, segera berteriak memanggil buk Des.


"Buk...... Ibuk...."Teriak Nia sambil mengelus perut buncitnya.


"Kalian baik-baik aja ya sayang." Kata Nia dengan air mata yang mengalir, takut terjadi hal buruk dengan twins.


"Astagfirullah kamu siapa?." Pekik buk Des ketika melihat seorang wanita berkulit putih dan bermata emerald terduduk dekat pintu kamar mandi dan terlihat banyak darah dilantai.


"Tolong Za buk." Kata Nia masih dengan air mata yang mengalir deras, mengabaikan rasa sakit, karena rasa khawatirnya yang lebih besar.


"Astagfirullah, ini kamu Za?!" Tanya buk Des tidak percaya karena Nia yang sangat berbeda. Walaupun Nia yang biasa ditemuinya terlihat cantik, tapi yang sekarang sangat cantik sekali.


"Iya buk, tolong Za buk." Kata Nia sambil menatap buk Des memohon.


"Sebentar. Ibuk panggil bantuan dulu."Kata buk Des.


"Jilbab Za tolong buk." Kata Nia yang sempat-sempatnya meminta jilbab, karena walaupun panik, tapi pikiran rasional Nia berjalan dengan baik.


Buk Des segera menyambar Jilbab yang Nia kenakan tadi dan memsangkannya dengan cepat, lalu berlari keluar rumah.


Sewaktu membuka pintu pagar, buk Des melihat empat orang tentara yang melintas.


"Pak, tolong anak saya pak. Tolong." Kata buk Des panik.


"Ada yang bisa kami bantu bu?" Kata seorang tentara yang segera menghampiri buk Des.


"Tolong anak saya." Kata buk Des yang langsung masuk kedalam rumah diikuti oleh empat orang tentara yang ditemuinya.


"Astagfirullah." Ucap salah seorang tentara yang segera menghampiri Nia dan segera membopongnya.


"Maaf." Kata tentara itu sebelum menggendong Nia.


"Ini kunci mobilnya." Kata buk Des memberikan kunci mobil kepada salah satu tentara yang dengan sigap menerimanya dan segera berlari menuju garasi. Sementara tentara yang dua lagi, segera membuka gerbang rumah buk Des, agar mereka bisa segera keluar.


Tentara yang menggendong Nia, segera masukkan Nia ke mobil bagian penumpang yang di belakang supir, dan segera berlari menuju pintu sebelah supir agar mereka bisa segera menuju rumah sakit.


"Sabar sayang. Kalian pasti baik-baik saja. Sabar sebentar ya." Kata Nia pelan sambil terus mengelus perutnya merasakan apakah twins masih bergerak atau tidak.


"Semua pasti baik-baik saja. Twins InsyaAllah selamat." Kata buk Des sambil menggenggam tangan kiri Nia erat.


Dengan kecepatan tinggi dan jalan agak lengang karena masih masuk waktu magrib, membuat mereka tidak butuh lama untuk sampai rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, tentara yang tadi membopong Nia, segera kembali membopong Nia.


"Dokter tolong dokter." Teriaknya begitu masuk pintu rumah sakit.


Beberapa perawat yang terlihat santai, segera mengambil brankar.


"Letakkan disini pak." Kata salah seorang perawat.


Karena kondisi rumah sakit yang terang, Nia terkejut ketika melihat orang yang baru saja meletakkannya ke brankar.

__ADS_1


"A'?!"


"Sa!?, Jadi beneran kamu?, Ya Allah Sa, kenapa seperti ini?" Kata tentara tadi yang menggendong Nia, ternyata Alvaro yang sedang melaksanakan latihan gabungan.


Al menggenggam tangan Nia erat sambil mendorong brankar ke UGD.


Dokter segera memeriksa kondisi Nia dan kandungannya.


"Cepat hubungi dokter Anggun, pasien ini mengalami pendaharan, dan bayinya harus segera dikeluarkan." Kata seorang dokter jaga yang berada di UGD.


"Pak, tolong anda urus administrasi istri anda. Tandatangani surat persetujuan SC, karena bayinya harus segera dikeluarkan. Kami juga butuh beberapa orang pendonor darah, karena istri anda kehilangan banyak darah. Sebentar tunggu hasil tes golongan darahnya keluar." Kata Dokter itu kepada Alvaro karena melihat Alvaro sangat khawatir dan tadi menggenggam tangan Nia erat sebelum masuk ruang penanganan.


"Tapi dia bukan..."


"Nggak apa-apa buk, Saya tanggungjawab. Sa kenalan lama saya." Kata Alvaro lalu segera menuju bagian administrasi, dan meminta anak buahnya yang tadi membawa mobil untuk mencari donor darah golongan A+, karena Alfaro tahu golongan darah Nia.


Buk Des duduk dengan gelisah dibangku tunggu dengan mulut yang komat kamit berdoa dan berzikir agar Nia selamat.


Sementara di dalam UGD, dokter jaga dan suster segera mempersiapkan Nia untuk melakukan SC.


Dokter Anggun yang buru-buru datang segera memeriksa kondisi Nia yang mulai lemah dan pucat.


"Keluarganya mana?, apakah prosedur administrasi sudah diselesaikan?" Tanya dokter Anggun epada dokter jaga.


"Sudah, suami pasien sudah mengurusnya, sepertinya ibu pasien ada di luar." Kata dokter jaga.


Dokter Anggun segera menemuai keluarga pasien untuk menjelaskan kondisi Nia.


"Iya dok, tolongin Za, lakukan yang terbaik buat anak dan cucu-cucu saya." Kata buk Des dengan air mata yang mengalir karena sangking khawatirnya.


"Ibu tenang saja. InsyAllah ibu Khanza dan baby twins selamat, doakan mereka. Saya harus segera melakukan SC, karena tidak mungkin ibu Khanza melahirkan secara normal." Terang dokter Anggun.


"Lakukan apapun yang terbaik dok." Kata buk Des dengan tatapan meohon.


"Baik, kami akan memindahkan ibu Khanza ke ruang operasi." Kata dokter Anggun, lalu kembali masuk UGD.


Tidak lama kemudian, Nia yang terbaring di brankar dengan infus yang sudah terpasang di pungung tangan kirinya.


"Za.." Kata buk Des dengan suara tertahan menahan tangis ketika melihat kondisi Nia.


Nia yang sudah mulai lemas, hanya bisa tersenyum untuk memperlihatkan kalau Nia baik-baik saja.


"Sa."panggil Alvaro yang sudah menyelesaikan administrasi.


"Saya sudah urus administrasinya dok. Untuk pendonor sebentar lagi sampai. Tolong lakukan yang terbaik." Kata Alvaro.


"Baik pak." Kata dokter Anggun, lalu segera memasukkan Nia ke ruang operasi.


Alvaro dan buk Des menunggu Nia di depan ruang operasi.


"Anak ini siapa?" Tanya buk Des membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Maaf buk, lupa memberitahu. Perkenalkan nama saya Alvaro. Saya temannya sewaktu kecil. Beberapa bulan yang lalu sempat ketemu Sa, tapi kemudian Sa menghilang seperti di telan bumi. Maaf sebelumnya, apakah ibuk ini sodaranya Sa?"Jelas dan tanya Alvaro.


"Bukan. Saya ketemu Khanza waktu perjalanan dari kota B, menuju kota ini. Za bilang, dia harus pergi karena tidak ingin jumpa dengan suami yang sudah menghianatinya." Jelas buk Des, yang membuat Alvaro geram, ternyata Nia menghilang karena suaminya berkhianat.


"Saya tidak tahu alasan Sa pergi, tapi waktu itu suaminya sempat menuduh, kalau anak yang Sa kandung adalah anak saya. Kalau saya sih mau-mau aja, disuruh jadi ayah anaknya Sa." Kata Alvaro sambil tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya yang terlihat manis.


"Nak Alvaro ini cinta dengan Khanza?" Tanya buk Des yang membuat Alvaro gelagapan.


"Sa cinta pertama saya sampai sekarang." Jawab Alvaro malu.


"Pasti karena Khanza sangat cantik." Tebak buk Des.


"Sa selalu menyembunyikan wajah aslinya. Saya jatuh cinta ketika Sa memperlihatkan wajah culunnya yang menggunakan kacamata bulat besar, rambutnya di kucir dua, dan ada tompel yang lumayan besar di pipi kanannya. Saya jatuh cinta, karena Sa adalah anak pemberani, dia membela saya dari orang-orang yang ingin merundung saya waktu itu." Jelas dan kenang Alvaro mengingat bagaimana dulu dia jatuh cinta dengan Nia.


"Ternyata memang Khanza suka menyembunyikan kecantikannya. Ibuk saja baru tahu tadi, dan sempat heran sewaktu lihat seorang wanita cantik yang terduduk dilantai sudah bersimbah darah. Karena dari awal bertemu, Khanza selalu menggunakan pakaian panjang, kaca mata besar dan kulitnya sedikit gelap dengan bola mata coklat gelap." Terang buk Des.


"Itu karena Sa kecil sangat menggemaskan, jadi buk Lily menyembunyikan kecantikan Nia agar tidak ada yang gemas dan menyakiti Sa." Jelas Alvaro.


"Khanza itu setengah bule?" Tanya buk Des penasaran.


"Kurang tahu buk, soalnya buk Lily wajahnya khas negara I, papanya Sa dulu Sa bilang berparas wilayah Timteng." Jelas Alvaro.


Setelah bercerita, teman-teman Alvaro yang akan mendonorkan darah, datang dan segera Alvaro urus ke bagian pendonoran darah.


Sudah satu jam lebih Nia berada di ruang operasi dan di tunggui buk Des, sementara Alvaro masih mengurus teman-temannya yang mendonorkan darah.


"Biar saya yang tungguin Sa. Ibuk istirahat aja di ruang rawat Sa yang sudah saya pesan. Ini makanan buat ibuk, ibuk pasti belum makan malam kan?" Tanya Alvaro.


"Ibuk nggak lapar. Ibuk tungguin Khanza aja." Tolak buk Des.


"Ibuk harus jaga kesehatan. Nanti Sa akan marah dengan saya kalau ibuk sampai sakit. Kita butuh tenaga buat jagain Sa." Jelas Alvaro yang membuat buk Des mengalah, karena ia juga ingin melaksanakan sholat isya.


Setelah menunggu dua jam lebih, akhirnya lampu ruang operasi mati, yang artinya, operasi sudah selesai dilakukan.


"Bagaimana operasinya dok?" Tanya Alvaro ketika melihat dokter Anggun keluar.


"Alhamdulillah, ibu dan babynya selamat. Selamat ya pak, baby twinsnya jagoan semua. Mamanya jadi yang paling cantik. Papanya punya saingan dua jagoan tampan. Mereka sempurna, hanya saja karena bulannya belum cukup, baby twins akan ditempatkan di inkubator. Istri bapak bisa bapak temui sekitar 1 jam lagi, kita antarkan ke ruang rawat, karena sekarang lagi di ruang pemulihan. Saya permisi dulu." Kata dokter Anggun, lalu izin pergi meninggalkan Alvaro yang merasa senang, seolah-olah baby twins adalah anak-anaknya.


Tidak lama dokter Anggun pergi, Alvaro melihat dua orang suster mendorong inkubator yang berisi anak-anak Nia.


"Bapak nanti bisa mengazankannya kalau kondisi mereka sudah stabil. Mereka sangat tampan, sama seperti papanya." Kata salah seorang suster yang senang melihat Alvaro yang memang memiliki wajah yang tampan.


Kedua suster itu segera membawa anak-anak Nia ke ruangan bayi.


"Bagaimana operasinya nak?" Tanya buk Des.


"Alhamdulillah buk, semuanya selamat. Sa punya dua jagoan yang akan selalu menjaganya. Sekarang babynya dibawa ke ruang bayi, karena belum cukup umur, jadi mereka akan berada di inkubator." Jawab Alvaro senang.


"Alhamdulillah, masya Allah tabarakallah." Ucap buk Des senang Nia dan babynya selamat.


Setelah sadar dan agak sedikit pulih, perawat, bersama Alvaro dan buk Des membawa Nia ke ruang rawat inap VIP yang dipesan Alvaro.

__ADS_1


__ADS_2