Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Menanti Kelahiran Anak-Anak


__ADS_3

Hari ini Wisnu menjemput Lisa untuk berakhir pekan dengan mereka di rumah Wisnu yang ada di kota. Lisa sangat senang. Ia meminta ayahnya untuk mampir sebentar ke toko pakaian. Ternyata dia ingin membeli sebuah gaun untuk wanita hamil. Sebuah gaun berwarna merah mudah.


Ketika mereka tiba di rumah dan Naura melihat gaun itu, ia merasa sangat terharu dan langsung memeluk Lisa.


"Terima kasih, sayang. Bunda senang sekali. Gaunnya cantik. Sebentar sore jika bunda akan pergi ke dokter, bunda akan memakainya." kata Naura.


"Lisa ikut! Lisa mau lihat dede dalam perut bunda."


"Baiklah. Tapi janji di sana jangan nakal ya?" Kata Wisnu membuat Lisa langsung bersorak gembira. Gadis kecil itu langsung berlari menuju ke dapur. Ia pasti akan mencari bi Saima dan memintanya untuk menggoreng pisang.


"Apa kabar mba Regina, mas?" tanya Naura sambil bersandar di bahu Wisnu.


"Dia baik-baik saja. Kata Lisa, mamanya sekarang punya pacar."


"Oh ya?"


"Iya. Namanya dokter Anugerah. Seorang dokter ahli syaraf. Duda dengan dua anak. Kalau nggak salah, usianya 3 tahun lebih muda dari mba Regina. Istrinya meninggal setahun yang lalu karena sakit."


"Mba Regina yang cerita pada mas?"


Wisnu mengangguk. "Dia minta ijin menikah lagi."


"Mba Regina senangnya yang lebih muda ya?"


"Mungkin sudah jodohnya."


"Iya. Seperti aku yang berjodoh dengan pria yang lebih tua 10 tahun dariku."


"Kau merasa aku sudah tua?"


Naura tertawa. Ia menatap suaminya." Kau tampan, mas. Dan awet muda. Dan aku mencintaimu."


Wisnu menjadi senang mendengarnya. "Kau semakin pintar merayu ya."


"Siapa yang duluan suka merayuku?"


Wisnu mendekatkan wajahnya ke wajah Naura. Ia suka sekali jika hidung mancung mereka saling bersentuhan. "Aku tak pernah merayumu, sayang. Mungkin pernah, waktu kita pertama kali bercinta. Aku setengah mati merayu dan membujuk mu karena aku memang sangat berhasrat padamu waktu itu. Namun setelah itu, semua yang kukatakan padamu adalah sebuah kebenaran dalam hatiku." Wisnu mengecup bibir Naura sangat lembut. Naura jadi tersenyum. Inilah yang ia suka dari Wisnu. Sangat lembut dalam setiap kata dan tindakannya. Mungkin karena usia Wisnu yang jauh di atasnya sampai pria itu begitu sabar menghadapi semua sifat Naura yang terkadang kelewat manja semasa ia hamil ini.


"Jam berapa janjian dengan dokter?" tanya Naura.


"Jam 5 sore."


Naura menatap jam tangan Wisnu. "Ini baru jam 2 siang. Bobo siang, yuk!"


Wisnu tersenyum. "Ada bonusnya nggak?"


Naura mencium pipi Wisnu lalu berbisik ke telinganya. "Satu ronde saja ya?"


"Dengan senang hati."


Keduanya pun saling bergandengan tangan sambil menaiki tangga.


"Ayah, bunda, mau kemana?" tanya Lisa menghentikan langkah Wisnu dan Naura.


"Mau bobo siang, sayang." Jawab Naura.


"Lisa juga ngantuk. Sudah lama Lisa nggak bobo bertiga dengan ayah dan bunda."


Wisnu dan Naura saling berpandangan sambil tertawa. Lalu keduanya pun mengangguk membuat Lisa sangat senang. Gagal deh ayah main perang-perangan sama bunda.


**********

__ADS_1


"Jadi, adik Lisa ada dua ayah? Laki-laki dan perempuan?" tanya Lisa saat mereka keluar dari ruang praktek.


"Iya, sayang. Ayah juga senang sekali." ujar Wisnu lalu mencium tangan Naura yang ada di genggamannya. Berita hari ini sangat menggembirakan mereka. Bayi kembar yang sedang tumbuh di perut Naura berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Tentu saja hal ini membuat Wisnu dan Naura sangat bersemangat dalam menantikan kelahiran anak mereka.


Sesampai di rumah, Lisa pun memberitahukan hasil USG bundanya. Semua pelayan yang ada di rumah ikut merasa bahagia. Apalagi nyonya Kumala. Ia langsung memeluk Naura dengan air mata yang tak bisa dibendungnya lagi.


"Kau sungguh mendapatkan berkat yang luar biasa dari Allah, nak. Kau akan menjadi ibu bagi dua orang anak sekaligus."


"Tiga, bu. Lisa adalah anakku juga. Mas Wisnu sangat menyayangi Lisa, aku pun juga menyayanginya."


Kumala membelai wajah anaknya. "Kau sungguh memiliki hati yang tulus seperti ibu kandungmu. Ibu sangat bangga padamu."


"Aku juga bangga pada ibu."


Lisa yang melihat adegan itu menatap ayahnya. "Ayah, apakah jika Lisa sudah dewasa akan seperti bunda dengan nenek Kumala?"


"Tentu saja, sayang. Lisa akan tetap mendapatkan kasih sayang bunda saat Lisa dewasa nanti."


Lisa tersenyum. "Lisa sayang bunda. Lisa juga sangat menyayangi ayah. Tak sabar menunggu adik-adik Lisa akan lahir."


Wisnu memeluk Lisa dengan penuh kasih. Ia percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sekalipun kelak Lisa akan tahu siapa ayah kandungnya namun Wisnu yakin kalau ia tak akan kehilangan kasih sayang dari putrinya ini.


*********


Gayatri menatap Satria. "Dokter sakit? Kalau dokter sakit saya akan meminta bidan Nonik untuk melayani pasien."


Satria menghapus keringat di wajahnya. "Hanya sedikit kelelahan."


"Pasiennya masih ada 6 orang, dok. Sebaiknya aku panggil bidan Nonik ya?"


Satria mengangguk. Entah kenapa ia merasa sangat lelah dan sedikit pusing hari ini.


Gayatri pun memanggil bidan Nonik untuk menggantikan dokter Satria.


Satria berdiri dan Gayatri langsung memapahnya. Di rumah bidan, ada satu kamar yang disiapkan khusus untuk dokter Satria.


Saat Gayatri akan membaringkan tubuh Satria ke atas tempat tidur, dokter Satria kehilangan keseimbangannya sehingga Gayatri ikut jatuh ke atas tempat tidur tepat di atas tubuh Satria.


"Ya Allah....!" Gayatri terkejut. Ia berusaha bangun namun karena tangan dokter Satria yang melingkar di bahunya membuat Gayatri agak kesulitan. Darahnya berdesir. Wajahnya dan wajah Satria menjadi begitu dekat. Bu Ir dokter Satria begitu menggoda untuk disentuh. Sepertinya dokter Satria pingsan. Gayatri bangkit dari atas tubuh dokter itu. Ia mengatur rambutnya yang berantakan dan langsung memanggil bidan Nonik.


"Dokter sepertinya pingsan. Tekanan darahnya sangat kurang. Dia memang kelelahan. Biarkan saja dia istirahat." ujar bidan Nonik selesai memeriksa dokter Satria.


Gayatri mengambil air hangat untuk mengompres dahi dokter Satria yang agak panas. Ia dengan setia menunggui dokter Satria untuk sadar.


1 jam kemudian, dokter tampan itu pun membuka matanya. "Gayatri....!" panggilnya pelan.


"Dokter, anda sudah sadar?" Gayatri menjsdiz senang.


Satria memegang kepalanya. "Kepalaku agak sakit."


"Aku bantu pijat ya?"


"Tapi....."


"Tenang saja, dok! Aku belajar banyak dari ibu Kumala." Gayatri mulai memijat kepala Satria. Dokter tampan itu langsung memejamkan matanya. Ia merasa enak dengan pijatan Gayatri. Harum tubuh gadis itu membuat Satria sedikit terganggu. Ia dapat merasakan kalau harum tubuh itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya.


Perlahan Satria membuka matanya. Matanya langsung bertemu dengan wajah cantik Gayatri yang sedang menunduk memijatnya. Wajah cantik alami tanpa polesan make up. Rambut hitam panjang, hidung mancung dan bibir tipis yang menggoda. Jika gadis itu tertawa, ada lesung Pipit kecil di sudut bibir bawahnya. Sangat manis.


"Terima kasih...." Kata Satria saat Gayatri selesai memijatnya.


"Sama-sama, dok. Apakah dokter sudah makan? Mau aku buatkan makanan?" tanya Gayatri dengan tatapan mata polosnya yang terlihat sangat tulus.

__ADS_1


"Saya memang lapar. Namun jika tunggu kamu selesai masak, pasti akan sangat kelaparan? Mau menemani aku makan di luar?" tanya Satria sambil beranjak bangun.


"Dokter mengajak saya?"


"Iya."


"Nggak malu jalan sama saya?"


"Kenapa harus malu? Kamu cantik, baju rapih dan bersih."


Gayatri agak tersipu mendengar perkataan Satria. Namun ia tak mau merasa besar kepala. Ia hanya mengangguk.


**********


"Anakmu berjenis kelamin perempuan?" tanya Naura pada Jeslin.


"Iya. Begitulah hasil USG nya. Makanya aku sudah membeli semua perlengkapan bayinya warna pink." ujar Jeslin dengan mata yang berbinar.


"Aku juga sudah membeli semua keperluan bayiku. Lisa yang paling banyak memilihnya. Kebanyakan warna putih. Supaya katanya bisa dipakai oleh adik cowok dan adik cewek."


"Kau sangat menyayangi Lisa ya?"


Naura mengangguk. "Lisa juga menyukaiku sejak awal kami bertemu. Dia anak yang menyenangkan. Namun aku tak akan mencuri semua kasihnya untuk ibu kandungnya. Mba Regina harus menjadi tumpuan kasih sayang terbesar dari Lisa."


Jeslin tak menyangka kalau sahabatnya ini akan semakin dewasa sekarang.


"Ah....mereka bergerak." Naura langsung memegang perutnya. Kandungannya yang kini memasuki bulan ke-8 memang sudah sangat besar.


"Anakku juga bergerak..." pekik Jeslin.


Wisnu dan Gading yang sedang berbincang di teras langsung masuk dan menuju ke pasangan mereka masing-masing.


"Dia bergerak, sayang?" tanya Gading dan langsung menempelkan pipinya di perut Jeslin.


"Iya."


Wisnu pun memegang perut Naura. Jantungnya selalu berdebar-debar setiap kali memegang perut Naura yang bergerak-gerak.


"Tak sabar menunggu kelahiran mereka." Ujar Wisnu sambil mencium perut Naura.


"3 Minggu lagi, mas. Kita akan melihat wajah cantik dan tampan mereka." Kata Naura.


"Iya."


Dari lantai dua, bi Aisa dan Saima tersenyum menatap pasangan yang bikin iri siapa saja yang melihatnya.


"Pasangan yang sangat beruntung. Yang suami, juragan dan asistennya. Yang istri, dia orang sahabat baik. Semoga anak-anak mereka nanti berjodoh." Kata Saima diikuti anggukan kepala Aisa.


***********


Yuda menatap putranya yang baru saja lahir. Ia memeluk putranya itu dengan rasa bahagia. Sampai saat ini, ia memang belum bisa mencintai Bella. Istrinya itupun sepertinya cuek juga padanya.


Kalau aku tak bisa memiliki Jeslin saat ini, maka anakku harus mendapatkan cinta anaknya. Aku dengar anak Jeslin nanti perempuan. Semoga!


Ada yang setuju nggak ada lanjutan kisah anak-anak mereka?


Cinta segi lima. Si kembar bersama anak Jeslin, anak Satria dan Anak Yuda. Berikan komentarmu ya pembacaku sayang.


Maaf kalau up nya lama


di samping signalnya belum stabil

__ADS_1


emak sibuk jagaian anak emak....


__ADS_2