Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Kalung Milikku


__ADS_3

Regina turun dari pangkuan pria tampan yang ada di atas ranjang bersamanya. Pria itu bernama dokter Reno. Sahabat Bima, yang sudah setahun ini menjadi selingkuhan Regina.


Reno adalah dokter ahli jantung yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kota ini. Reno dan Regina memang jarang sekali bertemu. Bisa dikata walaupun keduanya berselingkuh namun frekuensi pertemuan mereka dalam satu bulan hanya 2 atau 3 kali. Pertemuan mereka secara tak sengaja terjadi setahun yang lalu. Reno saat itu baru bercerai dari istrinya dan Regina seakan memiliki teman curhat tentang suasana rumah tangganya dengan Wisnu yang dingin karena Wisnu masih mencintai mendiang istrinya. Akhirnya, saat keduanya mabuk, terjadilah hubungan terlarang itu. Dan Regina seakan tak bisa lepas dari pelukan Reno. Ia akan mencari dokter tampan itu saat ia merasa kesepian dan kebutuhan biologisnya tak bisa Wisnu penuhi.


"Kau akan pergi?" tanya Reno sambil turun dari tempat tidur, membuka karet yang menutupi juniornya dan membuangnya ke sampah. Regina memang ingin agar Reno selalu menggunakan itu setiap kali mereka bercinta. Setelah itu Reno kembali duduk di atas tempat tidur tanpa Marasa risih dengan tubuhnya yang polos.


"Iya." Jawab Regina sambil mengangguk. Ia segera memakai bajunya lagi setelah mengambil tissue dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.


"Mengapa kita tak menginap saja di sini? Aku ingin memeluk mu sampai pagi."


Regina tersenyum sinis. Ia merapihkan rambutnya, mengenakan sepatunya kembali lalu duduk dipinggir ranjang. Tangannya terulur dan membelai wajah Reno dengan lembut. "Kamu tahu kan, aku tak bisa membiarkan Lisa sendiri."


"Kan ada pengasuhnya."


"Bagaimana jika besok pagi mas Wisnu datang?"


Reno kini balik membelai wajah Regina. "Aku sangat yakin kalau saat ini ia semetara tenggelam dalam pelukan istri ketiganya. Jadi tetaplah di sini. Aku belum puas bercinta denganmu."


Regina memberikan kecupan di bibir Reno. "Aku rasa dua ronde sudah lebih dari cukup. Ingat, kita sudah berjanji bahwa hubungan ini hanya sebatas mencari kepuasaan di atas ranjang kan? Aku pergi dulu. Bye...." Regina segera meninggalkan kamar hotel itu. Dia memang merasa puas setiap kali bercinta dengan Reno. Laki-laki itu selalu memanjakannya dengan sentuhan-sentuhan yang memabukkan. Sangat berbeda dengan Wisnu yang sering terburu-buru. Namun Regina tak mau memakai perasaannya saat bersama Reno karena ia tak mungkin meninggalkan kekayaan keluarga Furkan yang sangat besar itu untuk bisa bersama Reno yang hanya mengandalkan gajinya sebagai dokter saja. Sekalipun penghasilan Reno dapat menjamin kehidupan Regina namun tidak dapat menyaingi kekayaan Wisnu. Dan yang paling pokok adalah, Regina mencintai Wisnu.


***********


Hari masih terlalu pagi untuk bangun, namun Naura sudah tak bisa tidur. Mungkin karena semalam ia tidurnya terlalu cepat setelah menyelesaikan 2 ronde dalam percintaannya dengan Wisnu.


Jarum jam menunjukan pukul 5 lewat 20 menit.


Naura biasanya bangun saat jam setengah tujuh atau jam tujuh pagi. Ia akan bangun di atas jam 8 jika Wisnu mengajaknya bercinta sampai menjelang subuh.


Wisnu yang masih terlelap di samping Naura perlahan membuka matanya ketika ia merasakan tubuh Naura yang tadi dipeluknya kini sudah agak menjauh.


"Mengapa sudah bangun? Ayo tidur lagi!" ajak Wisnu sambil menarik tangan Naura yang sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang.


"Aku sudah tak mengantuk, juragan." Kata Naura namun ia menurut juga dengan ikut berbaring di samping Wisnu.


Tangan Wisnu langsung memeluk pinggang Naura dengan posesif. Keduanya sama-sama masih dalam keadaan polos sehingga sentuhan kulit dengan kulit itu membuat Naura sedikit merasa risih.


Seolah dapat mengerti apa yang dirasakan istrinya, Wisnu berbisik di telinga Naura. "Tenanglah, aku tak akan bercinta lagi denganmu, walaupun sebenarnya aku ingin."


"Dasar mesum!" Naura menggerutu namun ia tak melepaskan pegangan tangan Wisnu yang melingkar di perutnya.


Terdengar kekehan Wisnu yang sudah kembali memejamkan matanya.


20 menit kemudian.....


"Juragan, aku mau bangun saja. Pingin buang air." Ujar Naura lalu melepaskan tangan Wisnu dan perlahan turun dari tempat tidur. Wisnu sepertinya masih terlelap sehingga membuat Naura leluasa untuk ke kamar mandi tanpa mengenakan bajunya lagi.


Setengah jam waktu yang Naura habiskan untuk buang air dan mandi. Ia mengambil jubah handuk untuk menutupi tubuhnya saat keluar dari kamar mandi. Wisnu ternyata sudah bangun dan sementara menelepon. Ia sudah menggunakan celana boxer nya. Sepertinya Wisnu sedang menelepon Gading.


"Ya ampun!" Naura menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Wisnu yang baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya.


"Aku lupa kalau tak membawa baju lebih. Jadi, aku harus pakai apa ya? Semua bajuku sudah kotor." Kata Naura dengan wajah bingung. Pada hal ia sengaja tak membawa baju lebih karena ia ingin Indira tahu kalau Wisnu bersamanya sekarang.


Wisnu mendekat lalu memeluk.Naura dari belakang dan memberikan kecupan ringan, seringan bulu di leher Naura. "Aku tak masalah jika kau tak memakai baju. Kita dapat menghabiskan waktu di kamar ini dengan bercinta."


"Juragan!" Naura membalikan tubuhnya lalu mendorong Wisnu agar menjauh. "Tak dapatkah kau meminta mas Gading untuk membeli baju di butiknya mba Indira? Aku suka dengan desain bajunya."


"Boleh. Tapi butik Indira bukanya nanti jam sepuluh pagi. Jadi untuk sementara lebih baik kau pakai bajuku dulu." kata Wisnu lalu melangkah menuju ke walk in closet namun Naura ikut menyusulnya.


"Sama saja, aku tak punya dalaman."


"Aku punya celana boxer yang masih baru di lemari."


"Ih...menjijikan."


Wisnu menoleh. "Kok menjijikan, kamu kan sudah lihai menyentuh apa yang ada di balik celana boxer ku."


"Juragan....!" Naura merasakan wajahnya menjadi panas. Namun Wisnu hanya tertawa kecil melihat wajah Naura yang memerah.


"Kaos ini kayaknya agak ketat ditubuh ku. Kamu dapat menggunakannya. Dan ini celana boxer ku yang baru. Mau pakai ini, atau pakai kaos saja tanpa ada bawahannya? Kamu nggak mungkinkan menggunakan bekas mu yang semalam?"


"Ih.... juragan. Mana mungkinlah."


"Jadi mau pakai ini?"


Naura terpaksa mengangguk. Namun pandangan matanya tertuju pada kotak yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang sangat indah yang ada diantara rak baju Wisnu.


Wisnu jadi ingat kalau kotak itu dulunya tersimpan di kamarnya yang ada di rumah Regina. 2 tahun yang lalu Wisnu memindahkan kotak itu karena ia merasa kalau ia sudah jarang berada di sana. Kotak itu berisi seluruh perhiasan milik Dina dan beberapa fotonya.


Naura akan mengembalikan kotak itu ke tempatnya semula namun tangannya tanpa sengaja menjatuhkan kotak itu dan membuat penutupnya terbuka dan isinya keluar sebagian. Wisnu sedikit menegang karena ia tahu di sana ada foto Dina. Ia belum siap menceritakan siapa Dina yang sebenarnya.


"Maaf juragan!" Naura menunduk dan hendak memasukan kembali isi dari kotak itu namun matanya bersinar indah saat melihat kalung dengan liontin bunga matahari itu. Ia mengambilnya dan membalikan liontin itu. Ada tulisan Amorasia.


"Juragan, bagaimana kalung ini ada padamu?" tanya Naura bingung. Ia telah kehilangan kalung itu sangat lama.


Wisnu menyentuh kalung itu. "Ini kalung yang aku temukan di mobilku kalau tidak salah. Kalung yang dijatuhkan oleh seorang gadis berseragam SMA yang masuk ke dalam mobilku secara tiba-tiba di kawasan pekuburan damai."


Naura terkejut. Memorinya secara cepat berputar ke masa 3 tahun lalu. Naura memang pernah pergi ke kawasan pekuburan itu. Dia dan Anita, sahabatnya. Mereka saat itu melabrak tempat prostitusi.


"Ini kalung punyaku."


"Jadi kamu gadis yang waktu itu naik ke mobilku?"


Naura menatap Wisnu. "Jadi kamu paman yang ada di dalam mobil itu? Tapi...tapi waktu itu wajahmu agak lain. Aku pasti sudah mengenalimu di hari pernikahan kita jika kamu adalah pria itu. Lagi pula, aku pernah berjanji akan membalas kebaikan paman itu yang sudah menolongku."


Wisnu jadi ingat dengan cerita kakek Zumi tentang hadiah kalung berliontin bunga matahari.


"Kau tahu dari mana kalung ini berasal?"

__ADS_1


"Kata kakek, kalung ini diberikan oleh seorang pria yang akan menjadi suamiku kelak. Aku sudah memakai kalung ini sejak aku bayi."


Ingin rasanya Wisnu mengatakan kalau dialah pemberi kalung itu. Namun ia sudah berjanji pada kakek Zumi untuk mengatakan jika waktunya sudah tepat.


"Aku adalah pria di mobil itu, Naura."


"Tapi waktu itu kau terlihat tua." Kata Naura jujur.


Wisnu tertawa. "Mungkin karena itu aku belum menikahi mu."


Naura menatap Wisnu tak percaya. "Apa benar juragan orang yang aku janjikan akan membalas budinya?"


"Siapa lagi?"


Wajah Naura terlihat bingung. Tangannya masih memegang kalung itu.


Wisnu mengembalikan kotak itu kembali ke dalam lemari. Lalu mengajak Naura keluar dari walk in closet dan menutup pintunya. Ia kemudian meminta Naura duduk di depan meja rias.


"Mari kalungnya, aku akan memakaikannya padamu." Kata Wisnu lalu mengambil kalung itu dari tangan Naura dan memakaikannya di leher Naura.


Naura yang masih bingung, hanya menatap Wisnu dari cermin yang ada di depannya. "Kalau begitu, bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu, juragan?"


Tangan Wisnu yang ada di kedua sisi bahu Naura, mengusap lengan istrinya itu secara perlahan. Ia kemudian menunduk, mencium puncak kepala Naura dan berbisik. "Tetaplah di sisiku. Jangan pernah ingin berpisah dariku. Karena walaupun kau istri ketiga ku, dalam hatiku saat ini, kau adalah nomor satu."


Naura merasakan hatinya menjadi hangat mendengar perkataan Wisnu. Namun sekali lagi ia harus membuang perasaan itu sebelum mekar dan akhirnya layu dan mengering.


"Terima kasih, juragan! Terima kasih karena saat itu sudah menolongku." Kata Naura lalu berdiri. "Sekarang juragan mandi dulu." Naura ingin mengalihkan topik pembicaraan.


"Malas ah..."


"Ayo sana mandi....! Kalau nggak, sebelum aku pulang ke desa, aku tak akan memberikan satu ronde lagi." Kata Naura penuh ancaman.


"Dua...!" Kata Wisnu sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya lalu segera masuk ke kamar mandi setelah ditatap Naura dengan mata melotot.


***********


"Memangnya Naura ada di kota?" tanya Indira saat Gading menyebutkan akan membeli sebuah gaun lengkap dengan dalaman perempuan.


"Kemarin nyonya Naura datang untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Namun ia tak jadi pulang karena sakit perut. Makanya tuan menyuruh saya untuk membelikan gaun untuk nyonya."


"Lho, bukankah mas Wisnu ada di rumah mba Regina?"


"Semalam tuan tidur di rumahnya. Menemani nyonya Naura. Oh ya, ini bayarannya." KATA Wisnu sambil memberikan sebuah kartu. Indira menyerahkan kartu itu pada pegawainya agar dapat melaksanakan transaksi pembayaran. Setelah itu Gading langsung pergi.


Indira mengeram kesal. Naura sudah mengambil satu malam jatahnya mba Regina. Tak akan kubiarkan jika giliran ku tiba.


**********


Bagaimana kisah ini berlanjut?

__ADS_1


Jangan lupa dukung emak terus ya?


votenya yang banyak (mengharapkan sekali 🤭🤭🤣🤣) agar cerita ini naik rangkingnya.


__ADS_2