Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Keinginan Satria dan Harapan Wisnu


__ADS_3

Esok harinya Naura dikejutkan lagi dengan kedatangan Lisa. Namun kali ini Lisa hanya ditemani oleh Saima.


"Nyonya, jadi kangen. Rumah di desa sepi karena nyonya nggak ada." Kata Saima.


"Ibuku kabarnya baikan?"


Saima mengangguk. "Ibu Kumala sebenarnya ingin datang. Namun karena si Hartono bejat itu sudah ditangkap, ia menemani mba Nur untuk mengurus segala keperluan nya. Juragan Wisnu banyak menolong mba Nur dan mba Ayu sehingga mereka bisa mendapatkan hak mereka selalu istrinya Hartono. Penduduk desa semuanya sangat senang karena Hartono ditangkap. Oh ya, juragan hari ini ada di pengadilan. Menghadiri sidang perceraiannya dengan nyonya Regina. Kalau besok, jadwal sidang perceraian dengan nyonya Indira."


Naura hanya tersenyum. Ia tak mau berkomentar karena Lisa bisa saja mendengar mereka. Gadis cantik itu sedang menikmati es cream nya dengan wajah gembira tanpa tahu kalau kedua orang tuanya sedang dalam proses perceraian. Mungkin hal ini tak ada pengaruhnya juga buat Lisa. Karena ia terbiasa ditinggal oleh Regina. Ia juga jarang bersama Wisnu karena harus menunggu giliran agar Wisnu dapat bersamanya.


Ada rasa sedih sebenarnya di hati Naura mengingat nasib Lisa.


"Apakah Lisa tinggal dengan Wisnu terus?" tanya Naura.


"Juragan bersedia untuk tak menuntut nyonya Regina dan nyonya Indira asalkan keduanya mau menjalani proses perceraian tanpa ada drama. Juragan juga meminta hak asuh Lisa jatuh ke tangannya karena kesal nyonya Regina sering meninggalkan Lisa hampir semalaman karena pergi kencan dengan selingkuhannya."


Lisa yang sudah menyelesaikan dua kotak es cream nya mendekati Naura. "Bunda, kemarin di sekolah adalah harinya kakak-adik. Teman-teman sekolah yang punya kakak atau adik akan datang ke sekolah. Hanya Lisa saja yang nggak punya saudara."


"Lisa pasti akan punya adik." Kata Naura sambil membelai wajah cantik Lisa yang agak cemberut.


"Adiknya akan lahir dari perut bunda kan?" ujar Lisa senang membuat Naura kaget.


"Kata siapa?" tanya Naura.


"Kata ayah. Suatu hari nanti Lisa akan punya adik yang lahir dari perut bunda. Lisa akan menyayanginya."


Seperti ada seribu jarum yang menusuk dada Naura. Dia ingat dengan peristiwa kegugurannya.


"Eh Lisa sayang, ayo kita pulang. Sekarang kan sudah selesai makan es cream nya. Bunda Naura harus bekerja lagi. Oh ya, nyonya, juragan menitipkan ini...." Saima menyerahkan sebuah paper bag kecil.


"Apa ini?" Naura membukanya dan menemukan ponselnya dan kartu kredit serta kartu atm-nya.


"Aku nggak mau!" Naura mengembalikan paper bag itu.


"Nyonya, bagaimanapun juga kalian masih suami dan istri. Juragan masih punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup Nyonya. Ibu Kumala juga mengeluh karena ia rindu mau Videocall namun nggak tahu harus hubungi nomor yang mana."


Naura menatap paper bag itu. Ia kemudian mengambilnya. Mengeluarkan kartu kredit dan kartu ATM. "Baiklah. Aku menerima kembali ponsel ini karena ibuku. Namun aku tak mau menerima kartu-kartu ini. Aku bisa membiayai hidupku sendiri. Tolong kembalikan pada juragan."


Saima nampak sedih namun karena Lisa sudah kembali ada diantara mereka, ia pun mengambil kartu itu dan memasukannya ke dalam dompetnya. Lisa mencium Naura dan segera pergi dengan Saima bersama dengan sebuah mobil yang mengantar mereka tadi.


Naura membuka ponsel itu. Layar tampilannya masih sama. Ia membuka galeri foto-foto nya. Ada beberapa foto mereka di air terjun. Naura menandai semua fotonya bersama Wisnu kemudian menghapusnya.


*********


Jam empat tepat, Satria menjemput Naura.


"Kak Satria, tahu nggak dimana kak Yuda berada?"


"Kalau nggak salah, sore ini Yuda main basket di klub."


"Boleh antar aku ke sana?"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Aku ingin bicara sebentar dengan Kak Yuda."


"Baiklah." Satria mengantarkan Naura ke klub tempat mereka biasa magang. Dan Yuda memang ada di sana, baru saja selesai latihan basket. Ia terkejut melihat Naura yang datang bersama Satria.


"Na, bagaimana keadaan Jeslin?" tanya Yuda.


"Memangnya apa hak mu menanyakan Jeslin? Kamu brengsek Yuda!" Naura yang memang sejak kemarin sudah menahan emosinya kini tak bisa membendungnya lagi. Ia yang memang menggunakan celana jeans dan kaos ketat segera melayangkan satu pukulan tangan ke wajah Yuda kemudian menendang perut cowok itu dengan sangat keras. Yuda langsung terjatuh dan merasa agak pusing karena kuatnya pukulan Naura.


"Naura....!" Satria langsung menahan Naura karena perempuan itu masih ingin memukul Yuda lagi.


Yang ada di lapangan basket sempat kaget melihat Naura, yang juga mereka kenal sebagai anggota klub, dan merupakan sahabat baik Naura, kini justru memukulnya.


"Loe brengsek! Laki-laki nggak bertanggungjawab! Setelah loe ngambil semua dari sahabat gue, loe justru selingkuh dengan perempuan lain. Jangan pernah loe dekati teman gue lagi. Gue bersumpah akan membunuh loe! Pergi loe dengan gadis murahan itu! Silahkan menikmati kebahagiaan kalian. Gue pastikan kalau Jeslin akan baik-baik, saja tanpa loe. Dia akan mendapatkan laki-laki baik yang lebih baik dari loe!" Naura menatap Yuda yang masih duduk dilantai sambil memegang perutnya yang sakit. Selama ini ia memang mengenal Naura yang suka bela diri. Namun ia tak menyangka kalau gadis yang suka menari itu memiliki tendangan yang sangat keras.


"Ayo kita pergi, kak."Naura langsung membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Yuda.


Satria kelihatan serba salah. Ia menatap Yuda dengan wajah permohonan maaf lalu segera menyusul Naura.


Dari jauh, Wisnu melihat bagaimana istrinya itu menampar dan menendang Yuda. Wisnu yakin kalau ini pasti ada hubungannya dengan Jeslin karena ia tahu kalau Jeslin dan Yuda pacaran. Wisnu kemudian kembali ke mobilnya. Ia tak mau kehilangan jejak, kemana istrinya akan pergi dengan Satria hari ini.


************


Napas Naura kelihatan sudah mulai teratur. Wajahnya yang merah menahan emosi itu pun nampak sudah kembali normal. Jus jeruk yang ada di depannya sudah hampir habis.


"Sudah merasa enakkan?" tanya Satria. Mereka berdua kini ada di sebuah cafe yang letaknya di pinggir pantai.


"Ya. Lega rasanya bisa memukul Yuda."


"Mencintai Jeslin namun menghamili gadis lain?"


"Itu nggak sengaja."


"Maksudnya?"


"Yuda mabuk di acara kelulusan ku. Waktu itu aku juga mabuk karena kaget saat tahu kalau kamu ternyata sudah menikah. Jeslin mengajak kami pulang namun kami nggak mau. Karena kesal Jeslin pulang lebih dulu. Aku dan Yuda tetap berada di club malam. Ada serombongan anak-anak SMA, yang masuk secara ilegal dalam diskotik, merayakan kelulusan mereka. Aku dan Yuda sepertinya menarik perhatian mereka. Kami kenalan, tak tahu bagaimana, kami berakhir di apartemen Yuda. Aku tidur di ruang tamu bersama dua orang gadis, namun pakaian kami masih lengkap. Yuda dan gadis itu di kamar. Gadis itu menangis histeris karena menemukan dirinya dalam keadaan tanpa busana, demikian juga Yuda. Gadis itu masih perawan. Pagi itu, kami akhirnya bersepakat bahwa itu adalah kesalahan kami semua karena sama-sama mabuk. Gadis itu, namanya Bella. Ia walaupun berat mengatakan kalau ia juga akan melupakan. Aku pun berjanji pada Yuda untuk merahasiakannya ini dari Jeslin. Namun, siapa yang sangka, kisah satu malam itu membuahkan hasil. Minggu yang lalu, gadis itu datang dengan berita kehamilannya. Bella yang sebenarnya sudah berangkat ke Singapura untuk kuliah, terpaksa kembali ke Jakarta. Keluarganya langsung mencari keluarga Yuda. Siapa yang mengira kalau ternyata orang tua Bella adalah sahabat baik orang tua Yuda. Pernikahan pun telah dirancang. Yuda tak bisa menghindar. Dia berterus terang pada Jeslin. Yuda sudah memohon ampun pada Jeslin untuk menunggunya karena ia hanya akan menikah dengan Bella sampai anak itu lahir. Namun Jeslin menolaknya. Karena bagi Jeslin pernikahan bukanlah sebuah permainan."


"Alkohol itu membuat orang menjadi bodoh! Namun apapun alasannya, aku tetap merasa senang sudah memukul Yuda."


Satria hanya mengangguk. "Sekarang, boleh kita bicara tentang kita?"


"Tentang kita?"


Satria menarik napas panjang. "Jeslin mengatakan kalau kau akan bercerai dari Wisnu."


Naura tertunduk. Agak lama ia merenung sampai akhirnya ia mengangguk. "Ya."


"Kamu yakin?"


"Ya."


"Kalau begitu, kita masih punya kesempatan untuk bersama kan?"


Naura menatap Satria. "Kak, aku ini akan menjadi janda. Memangnya kakak mau memiliki pasangan seorang janda?"

__ADS_1


"Kamu tahu kalau aku mencintaimu, Na. Perasaanku belum berubah sedikit pun."


"Jangan kak. Aku tidak pantas untuk kakak harapkan."


"Siapa bilang kau tak pantas untuk aku harapkan?"


"Kak, aku bekas lelaki lain."


"Aku tak peduli, Na. Aku tetap mencintaimu."


"Bagaimana dengan orang tua kakak?"


"Mereka pasti akan mengerti."


Naura menggeleng. "Bagaimana jika mereka tak bisa mengerti? Bagaimana jika mereka tak bisa menerimaku?"


"Aku akan tetap memperjuangkan hubungan kita."


"Aku tak bisa kak." Naura berdiri lalu membelakangi Satria.


Satria pun ikut berdiri. "Aku akan menunggu sampai kau resmi bercerai dari Wisnu. Aku akan menunggu sampai masa idah mu selesai. Barulah aku akan berjuang untuk memenangkan hatimu."


Naura menatap Satria. "Kak.....!"


"Jangan dulu menolak aku sekarang ini. Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk bisa bersamamu. Aku tahu kalau kau mencintaiku, Na."


Naura membuang kembali tatapannya. Pikirannya kacau. Dari tempatnya berdiri, Naura seperti melihat Wisnu.


Mengapa aku selalu merasa kalau Wisnu ada di mana saja ya? Apakah karena hatiku terus memikirkannya?


"Na, kita pesan makanan sekarang?" tanya Satria melihat Naura hanya diam saja.


"Boleh." Jawab Naura.


Keduanya pun memesan makanan.


Dari jauh, Wisnu pun menatap mereka. Panas hati, pastilah. Namun kali ini ia berusaha sabar. Ia memang tak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun ia melihat kalau sikap istrinya itu masih wajar saja.


"Tuan, apakah selamanya tuan akan menatap dari jauh saja?" tanya Gading dari balik kemudinya. Wisnu baru saja masuk ke dalam mobil.


"Aku takut mendekat dan dia akhirnya akan membenciku."


"Benci dan cinta itu bedanya sangat tipis."


"Naura masih menatapku dengan tatapan dingin."


"Aku yakin kalau nyonya sebenarnya rindu dengan tuan. Mungkin saja nyonya belum mengerti dengan apa yang dirasakannya. Tugas tuan adalah membuat nyonya akhirnya bisa menemukan jalan kemana hatinya berlabuh."


"Jadi menurutmu, aku harus menampakan diri secara terang-terangan?"


Gading mengangguk. Wisnu pun tersenyum. Ia memang tak punya pengalaman bagaimana mengerjai seorang gadis karena ia dan Dina jadian tanpa ada sebuah perjuangan. Mereka saling jatuh cinta dan langsung dekat. Namun jika dengan Naura, ia harus berjuang, Wisnu akan melakukannya.


Dan sebuah ide muncul di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2