
Makasi ya para pembaca, komentar-komentarnya beragam. Namun pada intinya nggak mau Naura sama Juragan terus ada dalam konflik. Jangan emosi dulu dong, sampai katain Naura bodoh. Ingat ya, Naura itu keras kepala dan sedikit bar-bar. Ia sementara dalam proses menuju kedewasaan.
Maaf juga terlambat up...
kemarin terjadi pemadaman Listrik di tempat emak hampir seharian. Jadi memang nggak bisa menulis
Happy reading guys....
*********
1 jam sebelum kedatangan Naura ke kantor Wisnu.......
Senyum di wajah Wisnu tak juga hilang. Sepanjang hari ini yang diingatnya hanyalah apa yang baru saja mereka lalui sepanjang malam.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Naura. Sebentar lagi Naura akan pulang kerja.
Agak lama baru Naura menerima panggilannya. "Hallo juragan ada apa?" terdengar suara Naura dari seberang. Walaupun nadanya agak ketus namun hati Wisnu tetap bergetar mendengarnya.
"Ra, apakah kamu boleh datang ke kantorku? Aku ingin membicarakan masalah penting denganmu."
"Aku pikir diantara kita tak ada masalah penting yang perlu dibicarakan."
Naura masih saja ketus bicaranya. Wisnu sudah tahu karakter istrinya ini. Pandai sekali menutupi isi hatinya. Semalam saja saat ia mendapatkan pelepasannya, sangat jelas terlihat kalau ia berusaha mengontrol dirinya agak tak menyebut nama Wisnu seperti biasanya. Hanya bahasa tubuhnya, gerakan tubuhnya yang agak liar yang menunjukan bahwa ia begitu menikmati penyatuan mereka semalam.
"Ini menyangkut Lisa, Ra." Wisnu tahu, menggunakan nama Lisa akan membuat Naura luluh. Kasih sayangnya yang besar terhadap Lisa membuat Naura tak bisa menolak keinginan gadis kecil itu.
"Kenapa memangnya dengan Lisa?"
"Aku ingin merancang pesta ulang tahun yang meriah padanya. Kalau dibicarakan di rumah pasti nggak akan seru karena Lisa akan ada di sana. Aku ingin ini menjadi pesta kejutan yang akan membuatnya senang."
Tak ada sahutan dari seberang sana sebagai tanda bahwa Naura sedang berpikir.
"Ra...., kamu mau datang kan?"
"Baiklah. Setengah jam lagi jam jam kerjaku selesai." kata Naura lalu mengahiri percakapan.
Hati Wisnu menjadi berbunga-bunga. Ia bahagia karena istrinya itu akan datang. Semalam ia sudah berhasil memenangkan pertarungan yang besar dan ia berjanji tak akan pernah menyerah untuk membuat hati Naura kembali menjadi miliknya.
Wisnu berdiri dari kursi kerjanya, lalu melangkah ke arah cermin besar yang ada di dekat pintu masuk. Ia ingin menatap wajahnya, memastikan kalau dirinya kelihatan menarik untuk istrinya. Perbedaan usia mereka yang hampir 10 tahun membuat Wisnu terkadang merasa minder dengan penampilan nya.
"Tuan terlihat tampan, muda dan berwibawa."
Wisnu menoleh dengan kaget. Begitu konsentrasinya ia dengan penampilannya di depan kaca dan tak menyadari kehadiran Gading.
"Benarkah?" tanya Wisnu menanggapi perkataan Gading barusan.
"Nyonya Naura memang terlihat masih muda dan sedikit kekanakan. Namun ia tetap serasi berjalan bersama tuan. Karena menurutku, tuan sedikit awet muda dibandingkan dengan banyak lelaki yang usianya sama seperti tuan."
Ada rasa bangga yang muncul dari aura wajah Wisnu. Ia cukup yakin. Bahwa dirinya masih pantas bersanding dengan Naura.
"Oh ya, Gading, kamu tolong pergi ke pabrik dan mengecek pengiriman barang hari ini. Naura akan ke sini."
"Pantas saja wajah tuan kelihatan sumringah. Rupanya pujaan hatinya akan datang. Ya sudah. Aku pergi dulu tuan." Gading membungkuk sedikit lalu segera membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Wisnu.
Setelah merapihkan bajunya sebentar, Wisnu kembali duduk di meja kerjanya dan memeriksa hasil laporan pembuatan jalan lingkar di kota.
Setengah jam kemudian.....
Telepon di depannya berbunyi. "Ada apa Reynata?" tanya Wisnu pada sekretarisnya itu.
"Tuan, nyonya Indira ingin berjumpa dengan tuan."
"Indira?" Wisnu menjadi kaget.
"Ya tuan. Katanya ada hal penting yang akan ia bicarakan."
"persilahkan dia masuk."
Indira akhirnya masuk ke ruangan kerja Wisnu untuk yang pertama kalinya. Selama ini, Wisnu tak pernah mengajak Indira datang ke kantornya. Indira yang sibuk dengan butiknya membuat ia tak banyak tahu tentang kehidupan Wisnu yang lain. Pria yang 3 tahun lebih menjadi suaminya itu, begitu misterius dan kadang membuat Indira hampir menyerah untuk mendapatkan cintanya. Makanya selama ini, Indira selalu berusaha menjadi istri yang hangat di ranjang. Berusaha untuk merayu suaminya dengan sedikit liar. Indira tahu Wisnu menikmatinya namun tak cukup kuat untuk mencuri hati pria itu.
"Mas....!" panggil Indira sambil berusaha menatap wajah Wisnu. Indira tahu, kesempatannya untuk mendapatkan hati Wisnu sudah tak ada lagi. Keegoisan, keserakahan napsu diri telah membuatnya jatuh.
__ADS_1
Wisnu berdiri lalu duduk di depan Indira. "Bicaralah! Apa yang ingin kau bicarakan."
"Maafkan aku, mas. Aku sungguh bodoh mengkhianati mu dengan Hartono. Aku selalu mengikuti kata hatiku sendiri. Aku sungguh malu, mas." Indira tertunduk sambil menangis. Nyatanya, ia tak bisa menatap wajah Wisnu.
"Aku sudah memaafkan mu. Aku juga punya andil dalam semua kejadian ini. Aku yang tak bisa adil dan membagi perasaanku dengan kalian." Kata Wisnu dengan dada yang terasa sesak juga. Andai saja ia dulu berani menolak keinginan ibunya. Andai saja ia hanya membantu Indira dari segi materi saja pasti semuanya tak akan seperti ini.
"Mas mencintai Naura?" tanya Indira.
"Ya."
"Hanya karena ia mirip almarhumah Dina?"
"Awalnya kupikir hanya karena Naura mirip Dina namun akhirnya aku sadar, Naura sangat jauh berbeda dengan Dina. Dia bukan tipe gadis yang kuinginkan namun hanya dia yang membuatku jatuh cinta lagi."
"Semoga mas menemukan kebahagiaan dunia akhirat bersama Naura."
"Amin"
Indira kembali tertunduk. Ia kelihatan sangat gelisah.
"Aku hamil, mas. Karena itu aku mohon, jangan dulu bercerai denganku." Kata Indira sambil menangis. Sungguh ia berada di ujung kebimbangan.
Wisnu terkejut mendengar pengakuan Indira. Untuk beberapa detik pikirannya menjadi blank sampai akhirnya ia menemukan kendali dirinya lagi.
"Itu anak Hartono kan? Karena sudah dua bulan lebih aku tak pernah menyentuhmu lagi."
"Iya. Ini anak Hartono." Indira mengakuinya dengan jujur walaupun ia merasa sangat malu.
"Apakah Hartono tahu?"
"Nggak, mas. Aku nggak mau Hartono tahu. Aku ingin membesarkan anak ini sendiri. Biarlah ia tak pernah mengenal bapaknya dari pada harus mengenal bapak yang seperti itu. Apalagi Hartono akan dipenjara dalam waktu yang lama."
"Indira, hakim memang tak akan menceraikan kita jika tahu kalau kamu hamil. Aku sendiri tak bisa juga mengakui kalau anak ini adalah anakku. Jadi saran ku, kalau kau ingin merahasiakan siapa bapak anak ini sebaiknya kau pergi ke luar negeri. Bukankah kakakmu ada di sana?"
"Bagaimana dengan butik ku, mas? Butik ini adalah masa depanku."
Wisnu tersenyum. "Serahkan semuanya padaku. Di bawa pengawasanku, anak buahku akan mengurus semuanya dengan baik. Aku pastikan kalau kau akan mendapatkan keuntungan yang sama banyaknya seperti saat kau mengolahnya sendiri. Untuk desain terbaru, kau dapat mengirimnya langsung dari Singapura. Sekarangkan semuanya sudah canggih."
Sementara itu, Naura yang sudah keluar dari kantor Wisnu nampak berhenti di depan gerbang itu.
Indira hamil? Bukankah mas Wisnu sudah tak pernah menyentuh dia lagi? Atau itu hanya kebohongan mas Wisnu saja? Siapa juga yang mau menolak Indira? Dia sangat seksi dan memiliki daya tarik yang luar biasa sebagai seorang perempuan.
Naura menarik napas panjang dengan membuangnya dengan cepat. Ia tak mengerti dengan perasaannya. Apakah ini yang dinamakan cemburu?
Tidak! Aku tidak mencintai juragan. Kenapa juga aku harus cemburu dengannya?
Langkah Naura sudah akan keluar dari gerbang. Namun hatinya menuntun dia untuk kembali. Dia kan datang ke tempat ini untuk membicarakan tentang Lisa. Sejak kapan kehadiran Indira membuatnya merasa terusik?
Dengan cepat gadis itu membalikan badannya dan segera masuk kembali ke dalam kantor. Ia hanya tersenyum pada gadis di meja resepsionis yang menatapnya bingung karena Naura kembali dan langsung menuju ke lift khusus.
Saat ia kembali berada di lantai atas, Reynata, sekretaris Wisnu sudah berada di mejanya kembali.
"Nyonya Naura. Selamat datang! Ayo masuk! Tuan sudah menunggu nyonya!" ajak Reynata.
Naura mengikuti langkah Reynata menuju ke ruangan Wisnu.
"Tuan, nyonya Naura sudah datang." Kata Reynata sambil membuka pintu. Nampak Indira sudah berdiri dan bersiap akan pergi karena sudah memegang tas tangannya.
Kedua perempuan itu saling menatap. Indira tak bisa bohong. Ia cemburu dengan Naura. Gadis tomboy itu sudah mencuri semua perhatian Wisnu untuknya dan juga untuk Regina. Namun Indira juga berterima kasih karena Naura tak menuntut nya.
"Naura, terima kasih untuk semuanya, ya? Kau tak mau menuntut aku sudah jahat padamu." Kata Indira dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku sudah melupakan semuanya."
Indira hanya mengangguk. "Mas, Naura, aku pulang dulu ya." Pamit Indira dan segera pergi bersama dengan Reynata yang mendapat isyarat tangan dari Wisnu agar segera pergi.
Wisnu mendekat dan hendak memeluk Naura namun perempuan itu langsung duduk membuat tangan Wisnu memeluk angin. Naura menahan tawa melihat Wisnu agak salah tingkah.
"Kita mau membicarakan ulang tahun Lisa kan? Bicara saja." Kata Naura dingin.
Wajah Naura yang terlihat cemberut seakan menunjukan kalau ia cemburu dan itu membuat hati Wisnu gembira.
__ADS_1
"Kau cemburu melihat Indira bersamaku?"
Naura tertawa. "Cemburu? Sejak kapan aku cemburu denganmu?"
Perlahan Wisnu duduk di sebelah Naura. "Kenapa tadi pagi langsung pergi tanpa membangunkan aku?"
"Aku kan masuk jam 7. Jadi setengah tujuh harus sudah berada di toko."
"Bukannya karena ingin menghindari ku?"
Naura memberanikan diri menatap Wisnu. "Siapa yang menghindar?"
Tangan Wisnu menyentuh tangan Naura yang ada dipangkuannya namun Naura menarik tangannya.
"Ada apa, Ra?" Wisnu semakin gemas dengan istrinya ini.
"Jadi pestanya mau tema kayak apa?" Naura langsung pada tujuannya datang ke sini.
"Menurutmu Lisa suka apa?"
Naura diam sejenak lalu," Lisa suka nonton putri Sofia. Jadi menurutku Sofia saja."
"Oh film kartun Sofia the first? Baguslah. Jadi kita akan menyewa gedung atau....."
"Di panti asuhan. Berikanlah kebahagiaan itu pada anak-anak yang tak memiliki ayah dan ibu."
Wisnu mengangguk. "Baiklah. Aku akan meminta Reynata untuk menghubungi pihak yang akan menyiapkan segalanya."
"Mba Regina harus ada, juragan. Bagaimana pun itu adalah mama kandungnya Lisa."
"Tentu saja." Wisnu hampir lupa dengan keberadaan Regina. "Tapi aku ingin kau menemaninya juga. Lisa pun sangat menyayangimu. Ia bahkan lebih sering menceritakan tentang dirimu dari pada Regina."
"Akan kuusahakan."
"Ra, aku akan bercerai dari Regina dan Indira. Namun untuk Indira, aku menunda proses perceraiannya sampai ia melahirkan. Indira hamil. Anaknya Hartono."
"Anak Hartono?" Naura terkejut sekaligus senang saat tahu kalau itu bukan benihnya Wisnu.
"Iya. Aku kan sudah bilang kalau aku tak pernah menyentuh Regina dan Indira lagi. Hanya kamu, Ra. Satu-satunya."
Naura merasakan hatinya menghangat dengan pengakuan Wisnu. Namun ia berusaha bersikap biasa saja.
"Kalau sudah tak ada yang akan kita bicarakan aku mau pulang dulu. Aku capek." Naura berdiri namun Wisnu memeluknya dari belakang.
"Jangan dulu pergi."
"Aku capek, juragan."
"Apakah semalam aku sungguh menguras tenaga mu?" tanya Wisnu dengan suara bergetar. Ia menyingkirkan rambut Naura dan mulai mencium leher istrinya itu.
"Juragan aku.....!" Kalimat Naura terhenti saat tangan Wisnu sudah masuk di balik kaos merah yang dikenakannya.
"Aku....aku....mau per...gi!" Kalimat Naura tersendat. Ada panas yang mulai menjalar ke seluruh bagian tubuh tubuhnya saat tangan Wisnu semakin naik ke atas.
"Tuan, laporan pabriknya...." Gading yang masuk tanpa mengetuk pintu jadi terkejut melihat posisi Wisnu dan Naura.
"Aku pergi!" Ujar Naura saat Wisnu menarik tangannya dengan cepat.
"Sampai ketemu di apartemen, sayang." Kata Wisnu sebelum Naura menghilang di balik pintu. Tatapan tajam kini Wisnu berikan pada Gading.
"Maaf, tuan. Aku pikir tak ada siapapun di sini. A....aku hanya ingin mengabarkan berita bahagia dari pabrik." Gading tertunduk ketakutan sambil mendekap map file yang dibawanya ke dada.
"Kau membuat aku sakit kepala, Gading!" gerutu Wisnu lalu kembali duduk di depan meja kerjanya. Namun jauh di lubuk hatinya Wisnu tersenyum. Ia sudah tahu kelemahan istrinya dan ia dapat melihat tatapan mata Naura yang nampak cemburu saat melihat Indira tadi. Aku akan memenangkan hatimu, Ra.
"Tuan, apakah masih sakit kepala?"
"Buatkan aku kopi Gading. Cepat!"
Gading segera berlari meninggalkan ruangan bosnya. Ia bahkan lupa meletakan laporan dari pabrik itu.
***********
__ADS_1
Kapan ya mereka akan saling mengungkapkan perasaan? Ada yang tahu nggak?