Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Permintaan Istri Ketiga


__ADS_3

Wisnu tiba di rumah kota saat jam masih menunjukan pukul 2 siang. Ia langsung tergesa-gesa meninggalkan pekerjaannya di desa saat mendapatkan telepon dari Naura. Sejak pernikahan mereka, Naura tak pernah menghubungi nya lebih dulu. Selama ini Wisnu yang selalu meneleponnya. Dan hal yang sering membuat Wisnu jengkel adalah Naura selalu menghubungi Gading jika ada keperluan apapun.


Regina dan Indira yang masih duduk di ruang tamu nampak terkejut melihat Wisnu yang sudah pulang.


"Mas, kok pulangnya cepat?" Indira langsung berdiri saat melihat Wisnu.


"Di mana Naura?" tanya Wisnu tanpa menjawab pertanyaan Naura.


"Mas.....!" panggil Naura yang baru masuk dari teras samping.


Wisnu tersenyum. Ia mendekati Naura. "Ada apa?"


Naura langsung melingkarkan tangannya di lengan Wisnu lalu berkata dengan suara memelas. "Perutku rasanya nggak enak, mas. Pingin kamu ada di sini. Aku takut sendiri."


"Kita ke dokter saja?" tanya Wisnu sambil memegang perut Naura.


"Nggak, ah. Hanya ingin istirahat sambil ditemani oleh mas."


Wisnu tersenyum. Hatinya menjadi hangat mendengar Naura membutuhkannya. "Ayo kita ke kamar." kata Wisnu sambil melingkarkan tangannya di bahu Naura dan menuntun istrinya itu untuk menaiki tangga. Ia terkejut juga melihat perubahan sikap Naura. Karena selama Wisnu merawat Naura, istrinya itu begitu cuek dan lebih banyak diam.


Regina dan Indira yang melihat pasangan itu menaiki tangga saling berpandangan dengan mata yang menyala menahan rasa kesal.


"Mba lihat, kan? Dia sepertinya tambah sok manja sekarang. Seharusnya mba nggak usah memberikan saleb untuk mengobati bekas luka di wajah dan ditangannya. Supaya kulitnya penuh bekas luka yang akan membuat dia tambah jelek." Kata Indira sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Kalau aku tak memberi obat itu, nanti mas marah. Sebentar selesai makan malam, kita harus membicarakan dengan mas mengenai pembagian jadwal yang sudah kacau ini." Kata Regina.


"Benar, mba. Mas harus adil dalam memberikan nafkah batin bagi kita. Aku sudah tak sabar ingin hamil."


Kedua perempuan itu terus berbicara tanpa menyadari kalau Aisa mendengar semua percakapan mereka.


Sementara itu, di kamar Naura dan Wisnu sudah berada di atas ranjang. Wisnu duduk sambil bersandar pada kepala ranjang dan Naura ada di sampingnya. Membaringkan kepalanya di dada Wisnu.


3 Minggu sejak peristiwa Naura jatuh dari atas bukit itu telah berlalu. Sebagai suami, tentu saja Wisnu rindu ingin menyatu dengan istrinya ini. Namun ia harus menahan dirinya, ia ingin menunggu Naura benar-benar pulih walaupun dokter sudah mengatakan kalau mereka sudah bisa berhubungan intim. Wisnu ingin Naura hamil lagi dan melahirkan dengan sehat. Wisnu berjanji jika Naura hamil lagi maka ia akan menjaga Naura dengan sangat ketat karena ia tahu sikap Naura yang sangat ceroboh itu sangat berbahaya jika dia hamil.


"Juragan, aku mau pulang ke desa. Semua tugas kuliahku ada di sana. Aku ingin segera menyelesaikan kuliahku."


Wisnu membelai lengan Naura. "Boleh. Konsultasi mu dengan dokter kan sudah selesai. Tapi kalau di desa, kamu tinggal di kamar aku dulu ya di rumah utama."


"Juragan, aku suka di villa. Tempatnya asyik untuk membuat skripsi ku."


"Baiklah. Tapi kalau mau ke rumah utama, minta aku atau Gading untuk menjemput mu dengan mobil. Kamu dilarang untuk menaiki tangga."


"Aku pakai sepeda saja."


"Juga dilarang menggunakan sepeda."


"Juragan!" Naura cemberut. Ia sungguh tak suka jika dilarang menggunakan sepeda.


Wisnu sedikit menjauh sehingga bisa memandang wajah istrinya itu. "Ra, kali ini saja, turuti apa yang aku mau. Aku tak mau sesuatu yang buruk menimpa kamu lagi. Kamu kan orangnya sangat ceroboh."


"Masa sih naik sepeda nggak boleh."


"Hanya untuk sementara."

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Naura walaupun terlihat tak rela. Wisnu tersenyum. Ia tak tahan langsung mencium bibir istinya. Walaupun hanya sebentar, namun cukuplah untuk mengobati rasa rindunya.


"Ra, boleh nggak kamu nggak memanggil aku juragan lagi?" tanya Wisnu setelah selesai mencium Naura dan masih memandang istrinya dengan intens.


"Aku suka panggilan itu. Lucu, unik. Aku nggak mau sebenarnya kayak mba Regina atau mba Indira yang memanggilmu dengan kata mas."


"Ya panggil yang lain saja. Sayang atau honey." kata Wisnu dengan kerlingan mata menggoda.


Naura tertawa. "Norak ah..."


"Kalau begitu panggil apa dong? Aku nggak suka kamu panggil aku juragan. Kesannya antara tuan dan hamba."


"Aku panggil Askim."


"Askim?"


"Ya. itu bahasa Turki yang artinya cinta ku. Namun kayaknya nggak cocok. Karena kita tak saling mencintai."


"Siapa bilang kita nggak akan saling mencintai?" tanya Wisnu dengan tatapan yang tajam.


Naura membalas tatapan Juragan. "Selama aku masih menjadi istri ketiga, cinta itu tak mungkin akan ada. Lagi pula aku tahu, juragan suka berada dekat denganku karena wajahku mirip dengan mba Dina, istri juragan yang pertama."


"Kamu tahu dari mana?"


"Kemarin, aku tak sengaja masuk ke ruang kerja juragan. Foto mba Dina masih ada di meja kerja juragan. Mba Dina itu ternyata anaknya ibu Kumala ya?"


"Iya. Dina adalah putri ibu Kumala."


"Aku sebenarnya tak masalah kalau hanya dijadikan pelampiasan rasa rindu juragan pada mba Dina. Aku menikmati kebersamaan kita, keintiman kita dan kenikmatan yang juragan berikan di atas ranjang. Karena itu, aku tak ingin mengubah caraku memanggilmu saat kita sedang berdua."


"Sayang, untuk saat ini, bolehkah aku sedikit egois meminta waktumu hanya untukku?"


"Maksudnya?"


"Mba Regina dan mba Indira pasti akan segera meminta jatah waktu mereka yang hilang karena kau mengurusku. Aku ingin untuk dua minggu ini kau hanya ada di kamarku. Aku akan menurut untuk tak tinggal di villa, nggak akan naik sepeda atau berlari saat naik atau turun tangga. Tapi biarlah dua minggu ini, suamiku ini menemani malam-malamku." Kata Naura sambil memegang rahang Wisnu yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Jangan lakukan itu." Wisnu menahan tangan Naura karena ia mulai merasakan aliran darahnya menjadi panas. Ia bisa saja melanggar janji hatinya sendiri untuk tak menyentuh Naura. Apalagi posisi duduk Naura sangat tepat berada di atas juniornya.


"Jangan lakukan apa?"


Wisnu menelan salivanya. "Jangan menyentuh rahang ku."


"Kenapa?" tanya Naura lalu memaikan jari-jarinya di leher Wisnu. Ia sengaja menggerakkan pinggulnya pelan karena ia tahu apa yang dirasakan oleh suaminya.


"Ra.....!" Wisnu mendesah frustasi.


"Suamiku sedang bergairah saat ini?" kata Naura dengan gaya sensual dan suara yang manja menggoda.


"Naura, hentikan!" Wisnu menahan pinggang Naura agar berhenti bergerak.


"Bilang dulu kalau suamiku yang tampan ini, mau menemaniku selama 2 Minggu."


"Baiklah."

__ADS_1


Naura tersenyum senang. Ia mencium pipi Wisnu lalu turun dari pangkuan suaminya itu.


"Kau harus bertanggungjawab, Naura." Wisnu menahan tangan Naura.


"Tanggungjawab?"


Wisnu menarik tangan Naura dan meletakan di atas juniornya.


"Suamiku, kau kan berjanji tak akan menyentuh ku sampai aku genap sebulan pasca keguguran."


"Kau sudah menggodaku."


"Lalu bagaimana aku harus bertanggungjawab?"


"Aku akan menunjukan caranya." bisik Wisnu lalu mendorong Naura sehingga istrinya itu tidur terlentang.


********


"Bayangkan saja, mas sudah ada di kamarnya bersama Naura sejak jam dua siang. Dan kini, sudah hampir jam 7 malam, mereka belum juga turun." Regina mondar mandir di depan tangga.


"Perempuan itu pasti sudah menyihir mas dengan rayuannya. Apa sih kelebihan Naura dibandingkan kita? Kulitnya saja tak seputih kita. Soal body? Aku merasa lebih menonjol di bagian dada dan pinggul dibandingkan Naura. Soal memuaskan mas di atas ranjang? Kita berdua lebih berpengalaman dari Naura." Indira juga ikutan kesal.


Keduanya terus menggerutu sedangkan Wisnu dan Naura sedang tertawa bersama di dalam kamar. Tadi, saat Naura selesai memuaskan Wisnu dengan cara lain yang diajarkan oleh Wisnu, keduanya tidur bersama. Saat bangun jam 4, Naura merengek minta mandi bersama. Selesai mandi, Naura mengajak Wisnu bermain kartu dengan hukuman, siapa yang kalah akan mendapat tanda merah di leher. Dan lihatlah kedua pasangan itu. Wisnu sudah mendapatkan 3 tanda merah di leher dan Naura baru satu. Karena soal main kartu, Naura adalah jagoannya. Naura bahkan tadi dengan sengaja pura-pura kalah agar ia juga mendapatkan tanda merah di leher.


"Aku lapar. Kita akhiri saja, ya?" Kata Naura lalu segera turun dari ranjang. Wisnu mengangguk. Keduanya pun turun kelantai satu dengan Naura yang menggandeng tangan Wisnu.


"Selamat malam!" Sapa Wisnu pada kedua istrinya yang sudah menunggu di meja makan. "Mana Lisa?"


"Lisa sudah makan, mas. Dia sedang nonton TV dengan pengasuhnya." Kata Regina. Mereka pun membaca doa bersama. Seperti biasa, jika mereka makan bersama maka Regina yang akan mengambilkan makanan untuk Wisnu, namun kali ini, Naura yang duduk tepat di samping Wisnu langsung memegang sendok nasi.


"Sayang, aku ambilkan makanan untukmu, ya?" ujarnya sambil menuangkan nasi di piring Wisnu. Ia sama sekali tak perduli dengan wajah Regina yang merah menahan marah.


Wisnu hanya tersenyum. Ia bahagia dilayani oleh Naura di meja makan. Saat makan, Naura yang biasanya hanya diam, kini menguasai percakapan di meja makan.


Selesai makan, Regina langsung meminta agar mereka dapat berbicara di ruang tamu. Naura langsung mengambil tempat duduk di samping Wisnu dan melingkarkan tangannya di lengan Wisnu. Ia jadi ingat, di ruangan yang sama, mereka pernah duduk bersama untuk membicarakan jatah pembagian waktu. Waktu itu Naura duduk sendiri sementara Wisnu diapit oleh kedua istrinya. Namun saat ini, Naura membiarkan Regina dan Indira duduk di hadapan mereka.


"Mas, Naura kan sekarang sudah sembuh. Ini sudah hari Sabtu. Jadi mulai senin, aku ingin mas kembali ke jadwalku dan Indira yang tertunda. Senin adalah waktuku bersama mas selama satu minggu dan setelah mas bebas dua hari, waktunya Indira untuk bersama, mas." Ujar Regina.


"Iya, mas. Kebetulan saat jadwalku, aku ingin mas menemaniku untuk pembukaan cabang butik terbaruku di salah satu mall." Sambung Indira.


"Untuk 2 minggu ini, aku akan bersama Naura dulu karena dia belum benar-benar pulih. Nantilah setelah itu baru kita akan membagi waktu seperti semula." Kata Wisnu datar, dengan ekspresi dingin seperti biasa.


"Tapi, mas. Ini nggak adil." Protes Indira.


"Indira, Naura baru saja kehilangan kakek nya. Belum habis masa berduka, ia harus mengalami keguguran. Aku pikir kalian akan mengerti dengan kesedihan yang Naura alami. Kalian kan lebih dewasa dari Naura. Jadi belajar untuk mengalah. Mengenai pembukaan butikmu, aku pasti akan mendampingi mu, Indira. Aku pikir pembicaraan kita cukup sampai di sini. Aku tak mau ada bantahan lagi. Sekarang aku mau menemani Lisa sebentar." Wisnu menatap Naura yang duduk di sampingnya. "Minum obat dan vitaminnya, ya? Aku mau menemani Lisa dulu." Kata Wisnu lalu segera meninggalkan ketiga istrinya itu di ruang tamu.


Naura menatap Regina dan Indira sambil tersenyum manis. "Maaf ya mba Regina dan mba Indira, waktu kalian aku ambil dulu. Soalnya aku masih belum bisa tidur sendiri. Dan mas juga belum mendapat jatah dariku. Maklumlah, aku ini istri muda, jadi kalian harus banyak mengalah." Kata Naura dengan lembut namun tatapan matanya mengisyaratkan rasa marah dan kebencian. Ia mengusap perutnya. Menekan rasa sakit atas kehilangan anaknya.


Tak akan ku biarkan mas Wisnu menghabiskan malamnya bersama kalian.


********


Duh....Naura jadi garang sekarang....

__ADS_1


Memang pembalasan lebih kejam dari pada perbuatan 🤣🤣🤣🤣🤣


Apakah Naura akan jahat terus? Kayaknya baru kali ini ya tokoh utama emak, yang perannya jadi antagonis 😀😀😀


__ADS_2