Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Keputusan Wisnu Untuk Indira


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Wisnu, pria itu tak bicara. Wajah pria itu nampak masam. Sangat jauh berbeda dengan Naura yang sepanjang perjalanan nampak senyum-senyum. Ia mengirimkan pesan kepada ketiga teman teaternya itu.


Good job! I like it.


Gading yang membawa kendaraan pun tak berani bicara. Yang ia tahu, wajah Wisnu yang seperti ini menandakan bahwa ia sedang marah dan tak ingin diajak bicara.


Mobil akhirnya berhenti di depan rumah megah itu. Gading langsung cepat turun untuk membuka pintu namun Naura sudah lebih dulu membukanya. Ia masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa sambil membuka hak sepatunya.


"Kenapa mau datang ke acara itu dan tidak memberitahu kepadaku?" tanya Wisnu dengan tatapan marah.


"Aku hanya ingin membuat kejutan saja. Eh, maka diajak pulang sebelum acaranya selesai."


"Aku nggak suka dengan gaunnya, Naura. Terlalu terbuka!"


Naura menatap Wisnu dengan heran. "Lalu apa yang digunakan oleh mba Indira kurang terbuka juga?"


"Naura! Aku selama ini tak peduli Regina atau Indira akan memakai apa. Namun tidak denganmu. Aku tak bisa tahan dengan mata para lelaki yang menatapku dengan tatapan mendamba."


"Juragan cemburu?"


"Ya. Karena kau adalah istriku."


"Begitu juga dengan mba Indira dan mba Regina. Kami semua adalah istri mu."


"Naura!"


"Juragan, baju ini kan nggak terlalu terbuka. Nggak seperti dada mba Indira yang sengaja dibuka. Baju ini juga panjang walaupun ada belahannya tapi masih sopan."


"Tapi terlalu ketat di tubuhmu, Ra. Aku nggak suka."


Naura tersenyum. Ia mendekati Wisnu dan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Sedikit mendongak sehingga tatapan mereka bisa langsung bertemu. "Jadi juragan lebih suka bila melihat dalam nya?"


"Naura.....!"


Naura terkekeh. Ia mencium pipi Wisnu, meninggalkan bekas lipstick di sana. "Aku mau ganti baju dulu ya."


Wisnu hanya menatap kepergian Naura dengan perasaan yang ia tak mengerti. Setiap kali ia marah dan hampir meledak, Naura dengan mudah merendahkan amarahnya. Entah sihir apa yang perempuan itu punya sehingga emosi Wisnu begitu cepat dikendalikannya.


"Tuan, ada telepon dari pabrik. Ada masalah dengan mesinnya. Aku akan ke sana ya?" ujar Gading.


"Aku ikut juga. Bibi, tolong katakan pada nyonya kalau saya ke pabrik sebentar." kata Wisnu, ia membuka jas dan dasinya dan hanya mengenakan kemeja dan celana hitam, mereka pergi ke pabrik.


**********


Selesai mandi dan ganti pakaian, Naura justru ketiduran di kamar. Dan ia bangun saat hari sudah malam. Secara perlahan Naura menuruni tangga sambil mencari keberadaan suaminya.


"Nyonya, apakah sudah mau makan malam?" tanya Lista, salah satu pelayan yang berusia sekitar 30an.


"Mas Wisnu kemana?"


"Tadi sore tuan ke pabrik. Katanya ada masalah. Mungkin sebentar lagi akan datang."

__ADS_1


"Kalau begitu tunggu mas Wisnu saja baru makan."


"Baik, nyonya."


Naura menuju ke ruang keluarga, bermaksud akan nonton TV sambil menunggu Wisnu namun langkahnya terhenti melihat Indira yang masuk dengan dandanan yang kacau.


"Mba....!" Sapa Naura terkejut dengan penampilan Indira.


"Kamu benar-benar perempuan serakah yang tidak tahu malu! Memangnya siapa yang mengundang kamu untuk datang ke acara pembukaan butik ku?" teriak Indira.


"Mas Wisnu yang mengajak aku, mba. Memangnya kenapa jika aku hadir? Kita kan satu keluarga. Keluarga Furkan."


"Diam kamu! Jangan mentang-mentang sekarang ini mas sangat suka padamu sehingga kau seenaknya saja. Ingat Naura, kau itu hanya istri ketiga."


"Dan mba juga hanya istri kedua. Bukan istri pertama. Kedudukan kita sama, mba. Nggak ada bedanya."


"Diam kamu!"


"Kenapa aku harus diam. Aku punya hak bicara."


Plak....!


Naura terkejut. Indira menamparnya sangat keras. "Aku membencimu, Naura."


Jika Naura mau, ia dengan cepat dapat membalas tamparan Indira. Hanya dengan satu tendangan taekwondo nya, Naura dapat membuat Indira langsung pingsan. Mengalahkan 3 orang lelaki saja Naura bisa apalagi hanya sebatas satu pukulan untuk perempuan sok cantik yang ada di depannya. Namun saat mata Naura melihat para pelayan yang ada di rumah ini sedang mengintip pertengkaran itu, timbul suatu ide di kepala Naura. Ia ingat pernah menonton salah satu episode Abad kejayaan, yakni pertengkaran sang permaisuri Mahidevran dan selir Hurrem.


"Indira, apa yang kau lakukan padaku?" tanya Naura pura-pura sok pada hal ia sedang menahan tangannya untuk tak memukul Indira.


"Memangnya kamu bisa menghancurkan ku?" Naura mendekat dan berbicara dengan sangat pelan namun ia yakin akan semakin membakar emosi Indira. "Ingat, aku ini kesayangan mas Wisnu. Kamu tahu apa yang mas bilang, hanya aku yang bisa memuaskan mas di atas ranjang. Kamu mau tahu berapa ronde setiap malam yang aku dan mas Wisnu habiskan? Apakah kamu pernah mengalami percintaan yang begitu lama dan panas? Kami menghabiskan waktu 3 sampai 4 ronde. Apakah kamu juga pernah bercinta dengan mas Wisnu di alam terbuka? Ah, pasti nggak pernah kan? Kamu tak akan pernah menduga, mas begitu memuja tubuhku dan selalu meminta lagi dan lagi tanpa menyebutkan nama mba Dina sekalipun."


"Diam......!" Indira benar-benar tersulut emosi. Ia kembali menampar Naura, menjambak rambut perempuan itu, mendorongnya sehingga Naura jatuh ke lantai dan dengan kukunya yang tajam, ia mencakar leher Naura, mencakar tangannya. Naura berusaha melindungi wajahnya agar tak dicakar oleh Indira.


"Indira......! Apa yang kau lakukan?" teriak Wisnu yang baru saja datang bersama Gading. Wisnu dengan cepat menarik tubuh Indira yang ada di atas Naura, mendorong perempuan itu dengan sangat marah sehingga Indira jatuh, lalu ia memeluk Naura dengan rasa khawatir yang sangat tinggi.


"Naura, sayang....! " Wisnu terkejut melihat luka bekas cakaran ada di leher dan tangan Naura bahkan wajah Naura nampak ada memar merah dan sudut bibirnya yang berdarah.


"Gading, cepat hubungi dokter. Dan kalian....." Wisnu menatap para pelayan yang nampak ketakutan. "Aku akan memecat kalian semua karena telah membiarkan istriku menjadi seperti ini."


Wisnu mengangkat tubuh Naura dan meletakan nya di atas sofa. Ia kemudian mendekati Indira, menarik tangan Indira sehingga perempuan itu berdiri.


"Mulai hari ini, aku melarang mu datang ke rumah ini dan juga rumah yang ada di desa. Aku melarangmu untuk dekat dengan Naura dimana saja ia berada." kata Wisnu tegas dengan pandangan mata yang yang menyala menahan amarah. Wisnu tak ingin berbuat kasar dengan wanita, namun saat ini tangannya begitu ingin menampar wajah Indira.


Tangis Indira langsung pecah. Ia memegang tangan Wisnu dengan sangat kuat.


"Mas! Ini sepenuhnya bukan salahku. Naura yang memprovokasi aku sehingga aku lepas kendali. Semenjak mas menikah dengannya, dia selalu menjadi kesayangan, mas. Aku dan mba Regina terabaikan. Ini nggak adil, mas. Bahkan di hari yang adalah giliran ku, mas justru meninggalkan aku dan pergi dengan Naura di depan semua tamu-tamuku. Siapa yang nggak marah dan sakit hati mas?"


"Aku tahu kalau aku salah. Namun kau tak seharusnya membalas Naura dengan cara seperti ini. Pergi, Indira!"


"Mas!"


"Pergi dan jangan pernah mendatangani aku jika bukan aku yang mengunjungimu."

__ADS_1


"Mas.....! Ini nggak adil."


"Indira, orang yang melukai istriku, berarti melukai aku juga. Pergi!"'


Indira menatap Naura yang terbaring di sofa dengan tatapan kebencian. Setelah itu ia pergi dengan hati yang kacau dan hancur.


Dokter datang tak lama kemudian. Naura pun dipindahkan ke kamar Wisnu yang ada di lantai dua. Setelah dokter keluarga memeriksa Naura, Wisnu kemudian menelepon Regina dan meminta Regina datang ke rumahnya.


"Rawat kulit Naura yang terluka akibat cakaran kuku Indira. Aku ingin kembali seperti semula. Kau dokter kulit yang terkenal di kota ini."


Regina terkejut. "Tapi mas aku kan...."


"Lalu untuk apa aku mendanai klinik kecantikan mu kalau aku tak bisa memanfaatkan keahlian mu? Naura adalah adikmu, jika Naura terluka seharusnya kau juga terluka. Aku tak mau tahu, Regina. Kau harus merawat Naura. Jika kau menolak, maka aku tak akan membantumu untuk membangun cabang klinik kecantikan mu yang lain."


"Baik, mas." Regina nampak kesal namun ia tak bisa apa-apa. "Kita tunggu dulu lukanya mengering baru kita lanjutkan pengobatannya. Saatnya ini, saleb yang diberikan dokter sudah tepat. Aku permisi dulu. Kasihan Lisa sendiri." lalu ia pamit untuk pulang.


Wisnu hanya mengangguk. Ia kemudian mendekati Naura yang masih terbaring dengan wajah yang memar.


"Sayang, maafkan aku jika kau mengalami ini semua."


"Juragan...." Naura berusaha tersenyum. Ia tahu dalam hal ini ia sedikit berlaku licik. Ia pura-pura membiarkan Indira memukulnya, karena ia ingin perhatian Wisnu hanya padanya. Naura tak ingin membalaskan semua kejahatan Indira dan Regina dengan kekasaran. Naura akan mengambil semua perhatian Wisnu hanya padanya. Karena ia tahu itu yang akan menyakitkan hati Regina dan Indira. Sebagaimana hatinya juga yang sakit karena kehilangan anaknya.


*********


"Kamu bodoh, Indira! Sangat bodoh! Mas akan semakin membenci mu. Naura sekarang berada di atas angin." Regina langsung ke rumah Indira saat itu juga.


"Aku marah, mba."


"Sekarang kamu mau apa jika mas melarang mu untuk ke rumah desa?"


"Kita setujui saja persyaratan Hartono."


"Lalu siapa yang akan melayani napsu lelaki bejat itu? Aku nggak mau."


"Tentu saja mba nggak mau karena sudah punya tempat pelampiasan di pelukan teman dokter mba itu."


"Apa?"


"Jangan mba pikir kalau aku nggak tahu dengan perselingkuhan mba. Selama ini aku diam karena aku tahu mba juga kesepian. Butuh belaian laki-laki. Karena itu, biar aku saja yang melayani Hartono. Aku benci mas Wisnu! Namun teramat membenci Naura." ujar Indira sambil mengepal tangannya.


*********


Nah kan, keadilan ini memang sulit....


Indira dan Regina memang kesepian, nafkah batin jarang diberikan Wisnu.


Namun Wisnu juga nggak sepenuhnya salah karena sejak awal sebelum menikahi kedua perempuan itu, ia sudah berterus terang tentang hatinya.


Awalnya Indira dan Regina merasa nggak masalah. Sampai akhirnya Naura muncul. Konflik pun dimulai.


Regina dan Indira akan mendapatkan balasan mereka, Wisnu juga akan mendapatkan hukuman karena tak bisa adil semenjak Naura hadir dalam hidup nya.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, Naura juga sadar, balas dendam nggak akan pernah menyelesaikan masalah.


__ADS_2