
Pagi ini, Naura dan Wisnu kembali ke desa. Naura juga tahu, selama ia dan Wisnu ada di kota, Indira dan Regina juga ada di kota. Namun Wisnu tak pernah menemui mereka sedikitpun. Karena waktu Wisnu selama 2x24 jam di habiskan nya bersama Naura. Saat istrinya itu ke kampus, Wisnu mengantar Naura bahkan menunggunya dengan setia selama 2 jam istrinya itu berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Setelah itu, Wisnu mengajak Naura ke pabrik dan memperkenalkan Naura sebagai istrinya. Para pekerja yang selama ini tak pernah melihat istri Wisnu yang lain pun akhirnya tahu kalau juragan mereka itu sudah menikah.
"Mas Gading, boleh berhenti di apotik sebentar? Saya mau membeli vitamin." Kata Naura.
"Baik nyonya." Kata Gading. Saat dilihatnya ada sebuah apotik, ia pun segera berhenti.
"Vitamin apa yang akan nyonya beli, biar saya saja yang masuk dan membelikannya." Kata Gading.
"Biar aku saja. Sekalian aku mau buang air kecil." Ujar Naura lalu segera membuka pintu mobil. Ia bersyukur karena Wisnu tak ikut turun dengannya.
Jantung Naura berdetak tak beraturan saat ia masuk ke dalam apotik.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?"
"Eh, aku mau membeli tespack."
Penjaga apotik itu memberikan beberapa merk pada Naura dan perempuan itu memilih dua jenis tespack. Ia juga membeli vitamin dan segera ke toilet. Naura ingin segera melakukan tes saat ini juga. Namun saat ia berada di kamar mandi, keraguannya kembali datang menghampirinya. Aku tak mungkin hamil. Mba Regina dan mba Indira juga tak hamil-hamil. Mungkin saja si juragan memang mandul. Atau juga aku yang terlalu stres menghadapi pernikahan ini dan membuat hormon ku tak stabil sehingga terlambat datang bulan.
Naura keluar dari kamar mandi. Ia memutuskan untuk menunggu beberapa hari lagi sebelum akhirnya melakukan tes jika tamu bulannya tak kunjung datang. Ia pun kembali ke dalam mobil dan bersikap tak terjadi apa-apa.
Saat mereka tiba di desa, Naura langsung diantar Gading ke rumah pak sekdes untuk membawa seragam baru buat para penari. Seragam itu dibelikan oleh Wisnu dan membuat para gadis bahagia. Karena bukan hanya seragam menari mereka yang baru tetapi juga mereka dibelikan sandal, hiasan kepala, anting dan kalung yang sama untuk dipakai menari.
Saat malam, Indira dan Regina datang namun Lisa tak ikut karena dalam persiapan untuk masuk sekolah. Sebenarnya Naura sedih kalau Lisa tak ada. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak punya hak untuk meminta agar Lisa boleh bersama mereka.
*********
Setelah dilaksanakan lomba selama 2 hari, para penduduk pun sampai di perayaan puncak HUT desa. Di tepi danau, telah di pasang tenda yang cukup panjang. Ada panggung yang sangat besar untuk menampilkan atraksi dari penduduk desa. Khususnya mereka yang menang dalam lomba.
Wisnu diundang sebagai tamu kehormatan. Walaupun Wisnu tahu, Hartono, sang kepala desa tak menyukainya, namun Wisnu datang karena ingin melihat Naura menari.
Selama menikah dengan Wisnu, inilah saat pertama Regina dan Indira datang ke acara perayaan HUT desa. Keduanya hadir seperti bidadari yang mengundang banyak mata lelaki berdecak kagum melihat istri-istri sang juragan.
"Andai aku dapat menyentuh salah satu istri juragan, pasti sangat menyenangkan. Mereka menggiurkan." Bisik Hartono pada asistennya, Jupri.
"Kedua istri juragan memang sangat indah di pandang. Namun, apakah tuan sudah melihat istri ketiganya?"
__ADS_1
"Belum. Aku memang mendengar kalau Juragan sudah menikah lagi dengan cucunya Zumi sekaligus menjual perkebunannya pada juragan Wisnu."
"Dia pun tak kalah dengan istri pertama dan kedua. Lebih menantang, walaupun tomboy. Tapi mampu mengambil hati para penduduk desa karena sifatnya yang sangat rendah hati."
Hartono tertawa pelan. Ia jadi penasaran. Sedangkan Nurlela dan Ayu, dua wanita cantik yang duduk di belakang Hartono saling berpandangan dengan kesal. Nur adalah istri pertama kepala desa. Hartono memaksa Nur menikah dengannya saat usia Nur masih 15 tahun. Perbedaan usia mereka sangat jauh karena waktu itu Hartono sudah berusia 27 tahun. Namun, saat pernikahan mereka masih berusia 2 tahun, Hartono menikah lagi dengan Ayu, janda dari desa tetangga yang usianya 3 tahun lebih tua dari Nur. Nur dan Ayu adalah istri sah Hartono yang diketahui orang. Namun di rumah kepala desa itu juga, ada beberapa perempuan lainnya, baik yang dinikahinya secara siri maupun yang hanya dipeliharanya sebagai pemuas nafsu. Belum lagi ditambah beberapa anak gadis dari desa ini yang telah kehilangan keperawanannya sebagai ganti hutang orang tua mereka.
Acara pun dimulai. Pertama imam membacakan doa, setelah itu Hartono memberikan sambutan. Dan selanjutnya yang menang lomba nyanyi solo, lomba pencak silat dan lomba melukis, menampilkan ketrampilan mereka.
"Acaranya membosankan!" bisik Regina pada Indira membuat perempuan itu mengangguk setuju.
Akhirnya, tibalah pada acara penutupan yaitu tati-tarian. Saat gamelan dan rebana berbunyi, keluarlah 8 orang gadis cantik. Naura ada di sana, tampil paling depan dengan pesona yang luar biasa sehingga orang bertanya, siapakah gadis itu.
Jari-jari Naura begitu lembut bergerak dipadu dengan gerakan pinggulnya dan kerlingan matanya yang indah.
"Siapa perempuan itu, Jupri. Melihatnya saja membuat juniorku langsung berdiri. Lihat pinggulnya yang ramping, pantatnya yang padat berisi, belum lagi dadanya itu. Oh...kok aku meriang ya...." bisik Hartono lagi pada Jupri.
"Itulah istri ketiga juragan Wisnu."
Mata Hartono langsung dipenuhi dengan kilatan gairah. Sungguh istri ketiga juragan ini lebih menarik di mata pria berusia 50an itu dari pada istri pertama dan kedua.
Regina memperhatikan Naura dengan seksama. Ada rasa benci di hatinya saat melihat Wisnu yang tak mengedipkan mata matanya sedikitpun.
"Regina, apakah pandanganku yang salah ataukah memang buah dada Naura terlihat lebih besar dari sebelumnya?" bisik Regina pada Indira.
Indira yang sebenarnya sejak tadi asyik dengan ponselnya, mengarahkan pandangannya ke atas panggung. "Mungkin pengaruh kebaya yang dipakainya, mba. Tapi, dada Naura kan memang lumayan besar."
Regina tak setuju dengan perkataan Indira. Ia kembali memperhatikan Naura. Jangan-jangan....
Acara pun akhirnya selesai dengan jamuan makan bersama. Naura yang sudah berganti pakaian, langsung menuju ke tempat duduk Wisnu dan istri-istri nya karena Gading sudah memanggilnya atas perintah Wisnu.
Regina dan Indira nampak terpaksa makan berbaur bersama penduduk desa lainnya. Namun tidak dengan Naura. Ia dengan akrabnya menyapa para ibu, pemuda dan remaja apalagi dengan anak-anak lelaki yang sudah bermain bola dengannya. Naura bahkan makan makanan yang mereka bawa dari pada makanan yang sudah disiapkan secara khusus di depan panggung utama.
Selesai acara, mereka pun pulang ke rumah bukit namun Wisnu mengikuti langkah Naura menuju ke villa. Ini adalah hari bebas Wisnu yang terakhir. Ia besok akan bersama Regina. Kemarin, Wisnu menghabiskan waktunya untuk berkerja. Ia bahkan melewatkan makan malam keluarga karena masih berada di kota. Dan saat ia masuk ke kamar, Naura sudah tertidur pulas dan tak mau menganggu istrinya itu. Makanya, karena sekarang hari masih sore, Wisnu merasa ingin menikmati waktu berdua lebih lama dengan istrinya itu.
"Juragan, aku mau mandi dulu ya?" ujar Naura saat keduanya sudah berada di kamar.
__ADS_1
"Aku juga mau mandi."
Naura menatap Wisnu dengan tanda awas. "Mandi ya? Jangan yang lain-lain."
"Aku tak janji."
"Juragan!" Naura melotot. Jujur ia merasa lelah dengan kegiatan hari ini.
"Baiklah. Kita mandi bersama dan kau gosok punggungku, ya?"
"Awas kalau macam-macam!"
Namun, apa yang terjadi dalam kamar mandi, hanya mereka berdua lah yang tahu. Saat keduanya sudah polos di dalam sana, entah siapa yang memulai, mereka sudah saling berciuman dengan penuh damba dan kerinduan. Naura sendiri tak mengerti dengan dirinya yang menjadi begitu cepat terbakar gairah akhir-akhir ini.
Selesai mandi aktifitas panas itu masih berlanjut di atas ranjang. Wisnu dibuat gila dengan tubuh Naura.
Sampai akhirnya, Naura tertidur karena kelelahan. Wisnu masih memandang wajah istrinya, yang susah terlelap tanpa ditutupi apapun juga. Mata Wisnu turun ke leher Naura yang ada jejak merah, hasil kegilaan keduanya di dalam kamar mandi. Karena di leher Wisnu juga, ada satu tanda merah yang dibuat oleh Naura tadi.
Pandangan mata Wisnu semakin turun ke bawa. Kali ini ke arah dada Naura. Mengapa aku merasa kalau ukurannya semakin besar ya? Apakah ini karena aku terlalu sering menyentuhnya?
Wisnu tertawa kecil. Ia pun meraih selimut saat dirasakan kalau udara semakin dingin. Ia menyelimuti tubuh mereka lalu memeluk Naura sambil memejamkan matanya sendiri.
**********
Di rumah utama, Regina terus berpikir. Kalau Naura hamil seperti yang ia perkirakan, maka Wisnu pasti akan semakin sayang pada Naura. Tapi itu hanya kemungkinan Saja. Bisa jadi memang hanya pandangannya yang salah.
Regina menatap wajahnya ke cermin. Selama di kota beberapa hari, Regina sebenarnya melakukan perawatan khusus untuk mengencangkan otot-otot tubuhnya, termasuk inti tubuhnya. Ia ingin memuaskan Wisnu dengan harta berharga miliknya yang memang jarang disentuh oleh Wisnu. Waktu gilirannya yang pertama tiba, sesudah Wisnu bersama Naura, Wisnu hanya sekali menyentuh. Kali ini, Regina bertekad untuk memuaskan Wisnu dengan perawatan yang sudah dijalaninya ini. Dan ia akan membuat Wisnu menyentuhnya setiap hari karena Minggu ini, Regina sedang berada di masa subur dan ia bahkan mengkonsumsi obat penyubur kandungan.
Wisnu yang masih memeluk Naura, tiba-tiba dikagetkan oleh bunyi ponselnya. Dengan agak malas Wisnu melepaskan pelukannya pada Naura dan meraih ponsel itu. Ia kaget melihat nama kakek Zumi di sana.
Saat percakapan diantara mereka selesai, Wisnu terlihat pucat dengan wajah yang khawatir. Ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Naura.
***********
Apa yang terjadi?
__ADS_1
ikuti terus cerita ini ya.....