
Seorang arsitek taman menunjukan hasil gambar untuk membuat taman bermain bagi anak-anak. Naura melihatnya dengan rasa senang. Ia sudah tak tahan untuk melihat taman ini selesai dan anak-anak bisa bermain dengan gembira.
Naura tak menyangka kalau Wisnu sudah menghubungi seorang arsitek dan ia dapat menyelesaikan hasil rancangan gambarnya hanya dalam kurun waktu 5 hari.
"Baiklah. Aku suka sekali melihat gambar ini. Kapan kau akan mulai mengerjakannya?" tanya Naura antusias.
"Jika nyonya sudah setuju, saya bisa mulai mengerjakannya minggu depan sekalian saya akan segera memesan beberapa jenis mainan yang akan di pasang di taman ini."
"Dan anggarannya?"
Donny, sang arsitek tersenyum. "Tuan Wisnu yang sudah menentukannya, nyonya. Beliau bahkan sudah membayar hasil gambar ini."
Naura terkejut mendengarnya. "Baiklah. Tuan Donny, dapatkah kau melibatkan beberapa tukang bangunan yang ada di desa ini? Saya tahu kalau anda mungkin memiliki tukang-tukang yang profesional dari kota, namun para tukang bangunan yang ada di sini juga bagus. Aku hanya ingin mereka ikut terlibat dalam pembangunan taman bermain ini. Bolehkan?"
Kepala Donny mengangguk dengan rasa kagum yang muncul dari dalam hatinya. Ternyata apa yang dikatakan oleh para penduduk desa benar. Nyonya ketiga ini sangat baik hati dan begitu sederhana. Tak ada kesan glamor padanya walaupun menjadi istri salah satu pengusaha sukses dari kota. Naura bahkan terlihat sangat sederhana. Dengan celana jeans dan kaos putih yang menutupi tubuhnya, rambut yang diikat satu, wajah polos tanpa make up, membuat Naura cantik alami dan justru sangat menarik perhatian. Sebagai seorang arsitek yang sudah banyak berkecimpung dengan para pengusaha, Donny telah melihat begitu banyak istri para pengusaha namun tak seperti Naura.
Setelah arsitek itu pergi, Naura segera mendorong sepedanya keluar dari teras rumah Wisnu yang ada di perkampungan, ia ingin ke tempat ibu Kumala. Namun ia sedikit terkejut melihat ban sepedanya kempes. Akhirnya Naura memutuskan untuk jalan kaki saja sambil menikmati pemandangan desa di sore hari. Kalau ia akan pulang ke rumah bukit, maka ia akan meminta diajar oleh ojek.
Wisnu menghubunginya saat Naura sementara jalan kaki.
"Hallo Juragan, ada apa?" tanya Naura.
"Bagaimana dengan desain tamannya. Kau suka?"
"Iyalah. Aku sangat suka. Terima kasih ya? Terus mengapa jadi juragan yang membayar biaya pembuatan taman ini?"
"Aku ingin terlibat dengan rencana mu ini."
"Wah, kurang seru sih sebenarnya namun tak apalah. Terima kasih ya, juragan."
"Sama-sama, istriku."
Senyum di wajah Naura mengembang saat ia mendengar kalau Wisnu menyebutnya dengan sapaan 'istriku'. Naura jadi ingat, ini malam terakhir Wisnu ada di kota, besok adalah hari bebasnya Wisnu sebelum akhirnya ia akan bersama Indira. Dan Naura ingin memainkan perannya dengan sangat baik agar Wisnu tak akan menyentuh Regina.
"Juragan, kangen!"
"Apa?"
"Kangen! Apa suaraku kurang jelas?"
Terdengar kekehan Wisnu dari seberang. "Aku juga kangen. Kangen dengan bukit dan jalan rata menuju ke hutan dengan gua yang panas"
Kali ini giliran Naura yang tertawa. Di percintaan mereka pagi itu sebelum Naura kembali ke desa, Wisnu memberikan istilah-istilah baru pada bagian-bagian tubuh Naura yang menjadi favoritnya. Dada Naura di sebut sebagai bukit yang indah, perut Naura disebutnya sebagai jalan rata dan inti tubuh Naura disebut Wisnu dengan hutan dan gua yang panas "Dasar mesum! juragan pasti nggak akan kangen dengan aku. Kan di sana ada mba Regina. Apalagi sekarang malam terakhir juragan ada di sana."
"Regina sedang tak enak badan. Aku juga tak ingin menyentuhnya. Aku selalu membayangkan kamu, sayang."
"Cih, jangan merayu. Masih sore. Aku juga sedang jalan-jalan. Bye...." Naura langsung mengahiri percakapannya. Ia cukup senang saat tahu kalau Wisnu tak akan menyentuh Regina. Tapi walaupun begitu, Naura juga tak bisa melayani Wisnu jika ia datang, karena hari dimana Naura kembali ke desa, ia mendapatkan tamu bulanan nya.
"Assalamualaikum!" Sapa Naura saat tiba di depan rumah Kumala. Ia heran melihat warung ibu Kumala yang tutup namun pintu depannya sedikit terbuka.
Tak ada jawaban, Naura pun mendorong sedikit pintu itu dan memanggilnya kembali. "Bibi Kumala, apakah bibi ada di dalam?"
__ADS_1
Pintu kamar terbuka dan Kumala muncul dengan wajah yang terlihat pucat dan ia menggunakan mantel, celana panjang dan juga kaos kaki.
"Bibi sakit?" tanya Naura khawatir dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Hanya demam saja, nyonya."
"Kenapa nggak ke dokter, bi?" tanya Naura lalu membantu Kumala untuk duduk di sofa tua yang ada di ruangan itu.
"Hanya demam biasa saja."
"Bi, ayo kita ke dokter."
"Dokter kan adanya di kecamatan, non. Butuh waktu hampir setengah jam untuk ke kecamatan."
"Nggak, bi. Tadi saya mendengar para pekerja mengatakan kalau di desa kita sudah ada dokter. Ia praktek dari pagi sampai sore setiap hari Senin dan hari Jumat. Kebetulan ini kan hari Jumat. Ayo aku antar bibi ke sana."
"Tapi nyonya..."
"Nggak ada tapi-tapian. Aku akan cari ojek untuk mengantar kita ke sana." Naura langsung keluar rumah dan berhasil menemukan sebuah ojek. Mereka pun naik ojek. Kumala duduk di belakang sopir ojek dan Naura yang duduk di belakang Kumala sambil menahan tubuh Kumala agar tidak jatuh kalau tiba-tiba saja ia merasa pusing.
Tempat praktek sang dokter ada di PUSKESDES (PUSAT KESEHATAN DESA). Saat mereka tiba, dokter baru saja akan pulang.
"Dokter, tunggu!" Naura memanggilnya.
Dokter itu menoleh membuat Naura terpana. "Kak Satria?"
"Naura?" Satria juga ikut terkejut.
Satria tersenyum. Ia pun melangkah kembali ke dalam rumah yang ditempati oleh bidan desa itu dan membuka ruangan prakteknya.
Saat memeriksa Kumala, mata Satria sesekali melirik ke arah Naura. Dan Naura bukannya tak tahu. Ia justru pura-pura memainkan ponselnya padahal tak ada sesuatu yang ia kerjakan dengan ponselnya.
Setelah diperiksa dan Satria memberikan obat, ia pun meminta agar Kumala meminum disaat itu juga.
"Jika demamnya belum hilang selama 2 hari, aku sarankan agar ibu ke puskesmas untuk pengambilan darah agar dapat diperiksa di laboratorium."
"Baik, dokter. Terima kasih, banyak. Ongkosnya berapa ya, tuan dokter?"
"Biar aku saja yang bayar, bi." Naura langsung berdiri dan mendekati meja Satria.
"Nggak usah dibayar, Bu Kumala."
"Wah, sekali lagi terima kasih, tuan dokter. Allah pasti akan memberkatimu"
"Amin!"
Naura menatap Satria dengan rasa terima kasih yang mendalam. Ia tahu kalau Satria memang baik hati dan tidak sombong dengan semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga besarnya. Buktinya, Satria lebih memilih datang di desa dari pada harus praktek di rumah sakit milik keluarganya sendiri.
"Kami pulang dulu, kak." pamit Naura.
"Biar aku antar saja. Kebetulan aku sudah mau pulang." Kata Satria.
__ADS_1
"Tapi kak...., aku takut nanti merepotkan."
"Merepotkan apa sih? Kamu kayak baru ini kenal sama aku aja. Ayo!" Satria langsung membuka pintu mobilnya. Agak ragu sebenarnya Naura untuk masuk namun ia ingat bahwa ia harus mengucapkan terima kasih kepada Wisnu karena sudah mendonorkan darah untuknya. Saat di rumah sakit, Naura tak sempat mengatakan itu karena Satria datang disaat Naura sedang tidur.
Setelah memastikan Kumala makan dan masuk kembali ke kamarnya, Satria yang masih menunggu Naura di dalam mobinya pun mengantarkan Naura ke rumah bukit.
"Kak Satria, terima kasih karena sudah menyumbangkan darah kakak untuk aku." Kata Naura dalam perjalanan ke rumah bukit. Dokter tampan itu sengaja menjalankan mobilnya secara pelan.
"Aku senang kalau darahku kini mengalir di tubuhmu."
Hati Naura bergetar mendengarnya.
"Ra, apakah kau berbahagia dengan pernikahan mu?" tanya Satria lalu menghentikan mobilnya.
Naura menatap Satria. "Aku bahagia."
"Dengan menjadi istri ketiga?"
Naura mengalihkan pandangannya ke luar kaca jendela. "Kalau memang ini nasib yang harus aku lalui, aku menerimanya dengan ikhlas."
"Aku masih menunggu mu."
Naura menatap Satria. "Jangan, Kak. Aku tak pantas lagi untuk kakak. Kakak berhak mendapatkan lagi gadis yang lebih baik dan lebih segalanya dari aku."
Satria menyentuh tangan Naura namun Naura menariknya perlahan. "Jangan, kak. Aku adalah seseorang yang terlarang untukmu."
Satria menyandarkan punggungnya sambil membuang napas sesal. "Tapi kita masih bisa menjadi sahabat kan? Aku akan ada di desa ini selama satu tahun. Aku nggak punya siapa-siapa di sini."
"Tentu saja kita dapat menjadi sahabat. Aku bahkan akan menganggap kakak seperti saudara karena darah kakak kini mengalir dalam tubuhku."
Satria tersenyum. Ia menjalankan kembali mobilnya dan mengantarkan Naura ke rumah bukit. Setelah Naura turun dan melambaikan tangan padanya, Satria pun kembali menjalankan mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Naura melangkah masuk dengan hati yang kembali gundah. Ternyata sangat sulit menghapus cinta pertama dalam hidup kita. Namun Naura akan berusaha karena ia sudah berjanji pada kakeknya untuk tak akan bercerai dari Wisnu seumur hidupnya.
Wina diam-diam melihat Naura yang menghapus air matanya. Ia pun segera melapor kepada Regina.
**********
Malam semakin larut, Wisnu tidur sambil memeluk Lisa. Ia memang tak ada di kamar Regina karena perempuan itu merasa kesal sebab Wisnu menghabiskan malam bersama Naura. Regina juga beralasan bahwa ia tak enak badan dan ingin tidur sendiri.
Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi Wisnu. Karena seluruh hati dan pikirannya saat ini hanya tertuju pada istri ketiganya yang ada di desa.
Sementara Regina dalam kamarnya sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia sebenarnya ingin menghabiskan malam terakhirnya dengan Wisnu, namun saat ia pulang dan mandi, ia terkejut melihat ada tanda merah di dada dan lehernya. Ia begitu terbuai dalam gairah bersama Reno sampai tak menyadari kalau Reno melakukan itu padanya. Tentu saja akan menjadi masalah besar saat Wisnu melihatnya. Makanya Regina pura-pura ngambek karena Wisnu bersama Naura dan ia beralasan sedang sakit kepala.
Regina menatap wajahnya ke cermin. Kebutuhan biologisnya yang besar dan kenikmatan dunia yang ia dapatkan dalam setiap sentuhan Reno membuat ia tak bisa melepaskan pria itu begitu saja. Regina juga sebenarnya tak bisa menyalakan Wisnu karena sejak awal Wisnu sudah mengatakan tujuannya menikahi Regina.
Namun Regina merasa jatuh cinta dengan Wisnu. Dan kehadiran Naura yang seakan mengalihkan dunia Wisnu sehingga hanya tertuju pada perempuan itu membuat Regina kesal. "Biarlah Reno tetap menjadi penghangat ranjang ku saat Wisnu mengacuhkan aku. Namun aku akan mencari jalan, bagaimana menghancurkan Naura dan Wisnu akan kehilangan dia selamanya. Satria bisa menjadi senjata bagiku." guman Regina sambil tersenyum licik.
**********
Makasi ya sudah baca...
jangan lupa dukung emak terus
__ADS_1