
Wajah Jeslin yang tadinya terlihat gembira langsung berubah menjadi dingin saat melihat kalau Satria dan Yuda turun dari mobilnya Satria.
"Naura....!" Sapa Satria.
"Kak, ada apa ke sini?" tanya Naura.
Yuda memandang Jeslin dengan tatapan kerinduan sedangkan Jeslin langsung membuang mukanya.
"Yuda ingin bicara dengan Jeslin. Sekalian juga aku kangen kamu!" kata Satria sambil menatap Naura dengan mesra.
Dari seberang jalan, Wisnu nampak mengeraskan rahangnya. Hatinya cemburu melihat Naura yang tersenyum manis pada Satria. Gading menatap ke arah Jeslin. Ia ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu bertemu dengan mantan pacar yang baru saja menyakitinya.
Yuda mendekati Jeslin. "Jes, gue ingin bicara."
"Bicara apa lagi? Seharusnya loe sekarang sedang bulan madu. Bersenang-senang dengan istri loe.yang lagi hamil." Ketus Jeslin sambil berkacak pinggang.
"Jes, gue nggak bisa melupakan loe. Semalam aja setelah acara resepsi pernikahan, gue pergi ke apartemen Satria. Gue nggak bisa bersama nya." Kata Yuda dengan wajah penuh permohonan.
"Terimalah kenyataan yang ada. Kita tak mungkin bersama. Pulanglah ke istrimu dan calon anakmu." Jeslin segera melangkah namun Yuda menahan tangannya.
"Please, Jes. Gue nggak bisa. Gue nggak mampu. Gue sayang banget sama loe."
"Ada apa ini, sayang?" tanya Gading yang tiba-tiba muncul diantara mereka. Ia langsung melingkarkan tangannya di pundak Jeslin sedangkan Wisnu langsung berdiri juga di samping Naura.
Jeslin terkejut saat Gading memanggilnya sayang. Namun ia tak menepis tangan Gading dari bahunya.
"Sayang?" Yuda menatap Jeslin dan Gading secara bergantian. Ia sudah mengenal Gading sebagai asisten Wisnu. Ia tahu pria ini pintar dalam segala hal. Jeslin bahkan pernah memuji kalau Gading adalah lelaki yang tampan.
"Ya. Memangnya kenapa?" tanya Gading sambil menarik tubuh Jeslin agar semakin dekat dengannya.
"Sandiwara apa ini?" tanya Yuda sambil tertawa. "Gading, biarkan aku bicara dengan kekasihku."
"Mantan kekasih. Ingat status mu adalah suami orang." Kata Gading mengingatkan.
"Jeslin?" Yuda menatap Jeslin.
"Ada apa?" tanya Jeslin sambil menatap Yuda dengan tatapan yang menunjukan bahwa ia bahagia dengan Gading.
Yuda nampak tak rela.Jeslin tak akan mungkin melupakan dia secepat ini. Dia adalah lelaki pertama bagi Jeslin.
"Kalian...., tak mungkinkan?" Yuda kehilangan kata-kata.
Jeslin menatap Gading. "Sayang, ada berapa jumlah tahi lalat di dadaku?"
"3. Yang satu ada di dada kiri mu dan yang dua ada di dada kananmu." Jawab Gading dengan bangganya. Semalam saat Jeslin sudah tertidur, Gading memang iseng-iseng menghitung jumlah tahi lalat di dada Jeslin. Dan saat pagi, ia mengatakan pada Jeslin mengenai kegilaannya itu. Jeslin jadi ingat kalau Yuda juga pernah menghitungnya. Makanya ia melemparkan pertanyaan yang sama.
"Tak mungkin!" Yuda menggeleng. Jawaban Gading menunjukan kalau ia dan Jeslin sudah bercinta.
"Apanya yang nggak mungkin?" tanya Jeslin sambil mengerutkan dahinya.
"Kita saling mencintai, Jes. Nggak mungkin secepat ini loe melupakan gue."
"Jadi loe mau gue selamanya nggak bisa move on karena mikirin loe terus? Emangnya loe saja yang boleh bahagia?" tanya Jeslin dengan sedikit emosi.
"Siapa bilang gue bahagia? Gue menderita, Jes. Seperti yang gue bilang kemarin. Gue akan cerai setelah anak ini lahir." Yuda terlihat mulai frustasi.
"Maafkan aku." Jeslin menatap Gading. "Mas Gading kok ada di sini sih?"
"Aku kangen dengan kamu." Kata Gading lalu mengecup dahi Jeslin.
Yuda merasakan dadanya sangat sakit saat melihat adegan itu. Ia mengepal tangannya. Menahan air matanya yang hampir saja jatuh. "Gue akan perjuangkan loe terus, Jes. Gue janji. Karena gue hanya cinta sama loe."
"Pergilah, Yuda. Karena gue nggak mau disebut pelakor. Kisah kita sudah the end." Kata Jeslin pelan namun semakin membuat hati Yuda menjadi sakit.
Satria yang ada di samping Naura merasakan kalau sahabatnya itu sangat terguncang. Siapa yang sangka kalau Jeslin yang sangat mencintai Yuda ternyata secara cepat berpaling pada pria lain.
"Naura, aku pergi dulu ya." Pamit Satria saat melihat Yuda yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Ok, kak." Ujar Naura sambil tersenyum.
"Senang bisa melihatmu." Satria menepuk bahu Naura sebelum melangkah namun Wisnu secara tak terduga menghadang langkah Satria.
__ADS_1
"Aku tegaskan kepadamu, jangan menemui istriku mulai saat ini." ujar Wisnu dengan wajah dinginnya.
Naura terkejut melihat Wisnu menghadang langkah Satria. Namun ia memilih berdiam di tempat.
"Kenapa? Kamu takut istrimu berpaling padaku? Jangan kau lupa, juragan. Kami saling mencintai." Satria terlihat kesal.
"Kalian boleh saling mencintai. Namun akulah pria yang setiap malam berbagi ranjang dengannya, menyentuh tubuhnya dan yang membuat dia mendesah di bawaku." ucap Wisnu dengan senyumnya yang sedikit mengejek.
Satria menahan emosinya. Ia menatap Wisnu dengan tatapan menantang. "Kalau begitu, aku secara terbuka mengatakan di hadapanmu. Kalau aku akan merebut istrimu, juragan. Aku akan berbagi tempat tidur dengannya, menyentuhnya dan membuatnya menyebut namaku saat kami bercinta."
"Kau....!"
Satria langsung masuk ke dalam mobilnya. Rahang Wisnu mengeras mendengar perkataan Satria. Dokter muda itu terlihat serius saat mengatakannya.
Ketika mobil Satria meninggalkan halaman parkir mini market itu, Wisnu berbalik dan mendekati Naura, Jeslin dan Gading. Ketiga orang itu tak tahu apa yang Wisnu dan Satria bicarakan namun dari raut wajah Wisnu yang terlihat menahan emosi, mereka bisa menebak kalau itu sesuatu yang tak menyenangkan bagi Wisnu.
"Jes, kamu baik-baik saja kan?" tanya Gading.
"Iya. Makasi sudah menolongku tadi." Ujar Jeslin.
Aku tak menolong, Jes. Aku memberitahukan yang sebenarnya pada Yuda. Kita sudah bersama. Agar Yuda berhenti mendekatimu. Namun Gading mengatakannya dalam hati saja.
"Kita jadi pergi, Jes?" tanya Naura.
"Mau kemana?" tanya Wisnu, menyela Jeslin yang akan bicara.
"Kita mau nonton bioskop. Kami sudah lama tidak menonton bioskop." jawab Naura.
"Kami ikut. Kita juga sudah lama tak menonton bioskop kan Gading?" Wisnu menatap Gading. Asistennya itu mengerutkan dahinya. Sejak kapan tuannya itu suka menonton bioskop? Bahkan dengan almarhum Dina pun, Wisnu tak pernah ke bioskop.
"Eh....ya..." Gading menjawab agak terbata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pada hal kami akan bersenang-senang berdua." Naura cemberut.
"Biar saja mereka ikut, Na. Setidaknya kita nggak akan keluar duit. Biarkan mas Wisnu dan mas Gading yang mentraktir kita." kata Jeslin sambil tersenyum. Sebenarnya, hati gadis itu sedang galau. Ia butuh sesuatu yang dapat mengalihkan semua pikirannya tentang Yuda. Dan Jeslin tahu kalau Gading bisa menolongnya.
"Kalau begitu, biarkan Gading semobil dengan Jeslin dan kamu ikut aku, Ra." Kata Wisnu lalu segera menarik tangan Naura. Gadis itu menatap Jeslin dengan jengkel. Namun sahabatnya itu hanya melambaikan tangannya dan segera memberikan kunci mobilnya pada Gading.
Sepanjang perjalanan menuju ke mall tempat bioskop itu berada, Naura hanya diam.
"Bukan. Aku sebenarnya ingin punya waktu khusus bersama Jeslin. Kami kan sudah lama tak pergi ke bioskop, jalan-jalan di mall."
Wisnu mengulurkan tangan kirinya dan memegang dagu Naura. "Kita juga baru kali ini jalan-jalan berdua kan?"
Naura terkejut. Wisnu melakukan sesuatu yang diluar dari sifatnya. Menyetir lalu memegang dagu gadisnya, bukankah itu sifat cowok romantis? Wisnu kan agak dingin dengan perempuan? Selama ini juga dengan Naura, Wisnu tak pernah bersikap romantis. Wisnu akan berbeda ketika mereka ada di ranjang.
Melihat Naura hanya diam, Wisnu tersenyum. Ia tak tahu apakah kehadiran Satria tadi membuat Naura goyah. Namun Wisnu bertekad akan membuat Naura melupakan Satria saat ini.
Mereka pun tiba di mall yang dimaksud. Untung saja mobil mereka mendapatkan tempat parkir yang bersebelahan.
Saat mereka turun dari mobil, Jeslin menatap Gading.
"Mas Gading, aku boleh pegang tangan mas Gading kan? Aku yakin kalau saat ini Yuda sedang mengikuti kita. Tadi aku melihat mobil Satria ada di belakang kita." Kata Jeslin.
Gading tersenyum. Ia secara tak terduga mencium dahi Jeslin lalu menautkan jari tangan mereka. "Ayo kita masuk."
Melihat Gading dan Jeslin yang terlihat mesra, Wisnu pun tak mau kalah. Ia adalah lelaki yang sudah dekat dengan empat wanita. Masakan dia kalah dengan Gading.
Wisnu mendekati Naura dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu. "Ayo kita masuk, sayang."
Naura terkejut lagi. Namun ia hanya bisa diam. Ia merasa kalau Wisnu bukan dirinya. Ia berbeda.
Wisnu terlihat begitu posesif saat melangkah sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Beberapa pasang mata pun melihat mereka.
"Mau menonton film apa?" tanya Gading.
Jeslin menyebutkan salah satu film yang aktornya adalah idolanya Naura dan Jeslin.
"Kalau begitu, biar aku yang beli tiketnya." Kata Gading.
"Aku saja." Wisnu melepaskan tangannya dari pinggang Naura.
__ADS_1
"Tuan, aku saja. Lagian kan antri. Tuan di sini saja menjaga dua bidadari manis ini." ujar Gading disambut senyuman hangat Jeslin. Gadis itu memegang pipi Gading.
"Kamu yang antri, tapi pakai kartuku." Wisnu membuka dompetnya dan mengambil salah satu kartunya.
"Tuan, aku bisa...."
"Ambil Gading!" tegas Wisnu.
Dengan terpaksa Gading mengambil kartu itu dan segera pergi ke loket yang ada.
"Aku mau beli popcorn dan minuman dingin." ujar Jeslin.
"Eh Jeslin. Kalian di sini saja. Biar aku yang beli. Katakan saja mau beli apa." ujar Wisnu.
Naura jadi ingat saat Wisnu rela turun dari mobil untuk membelikan pembalut untuknya. Apakah memang demi Naura Wisnu banyak berubah? Dia adalah Juragan yang terbiasa dilayani. Yang paling tak suka bersentuhan dengan banyak orang. Namun kali ini Naura melihat sisi Wisnu yang lain.
Wisnu akhirnya membelikan 4 minuman dingin, 4 popcorn dan coklat. Ia tahu kalau Naura suka makan coklat. Pria itu sedikit kerepotan membawanya dan membuat Naura harus memindahkan sebagian makanan itu ke tangannya. Sekilas, Naura seperti melihat bayangan Yuda.
"Jes, Yuda mengikuti kita ya?" bisik Naura.
"Sepertinya. Makanya aku harus sandiwara dengan mas Gading."
Akhirnya waktu untuk masuk ke dalam ruangan bioskop pun tiba. Gading memegang kantong plastik yang berisi cemilan mereka sedangkan dan tangannya yang satu memegang tangan Jeslin. Wisnu pun melakukan hal yang sama.
Ternyata Gading memilih tempat duduk mereka berbeda. Naura dan Wisnu berada satu tingkat lebih tinggi dari mereka.
Film pun di putar. Sebuah film romantis yang sangat indah. Jeslin dan Gading yang duduk di depan Naura dan Wisnu terlihat mesra. Jeslin menyandarkan kepalanya di bahu Gading. Wisnu pun tak mau kalah. Ia sendiri yang membaringkan kepalanya di bahu Naura. Sesekali Wisnu meraih tangan Naura dan menciumnya mesra.
Saat film membayangkan adegan ciuman, Gading dan Jeslin pun berciuman.
Wisnu tak mau tinggal diam. Ia melingkarkan tangannya di bahu Naura, lalu mencium pipi istrinya.
"Juragan, malu dilihat orang." bisik Naura sambil mencubit pinggang suaminya.
"Aow..., sakit sayang..." suara Wisnu terdengar manja. Naura menatap suaminya. Apa yang membuat Wisnu terlihat berbeda?
Mata Naura akhirnya menemukan Satria dan Yuda yang duduk tak jauh dari mereka. Ada di deretan bangku sebelah kanan. Apakah Wisnu tahu kalau mereka ada di sini?
Film dengan durasi hampir 2 jam itu lun selesai.
"Kita pergi makan?" tanya Gading.
Wisnu menatap Jam tangannya. "Ini sudah hampir jam setengah delapan malam. Lisa pasti sendirian di apartemen."
"Tuan pulang saja bersama nyonya. Biar aku dan Jeslin pergi makan malam dulu." ujar Gading.
"Ok." jawab Wisnu. Ia langsung menarik tangan Naura. Perempuan itu menatap Jeslin dengan wajah permohonan. Ia sebenarnya ingin jalan-jalan dalam mall.
Dengan senyum yang ditahan ia pun berkata. "Besok." katanya pelan namun Naura dapat mengerti.
Naura pun pulang bersama Wisnu dan Jeslin pergi bersama Gading.
"Mas Gading. Aku ke rumah mas Gading dulu ya? Yuda masih mengikuti kita." ujar Jeslin saat keduanya sudah selesai makan.
"Sampai jam berapa kamu akan ada di rumahku?"
"Sampai besok pagilah."
Gading menatap Jeslin dengan wajah khawatir.
"Ada apa, mas?" tanya Jeslin heran.
"Nggak." Gading menjalankan mobilnya lagi. Ia khawatir jika tak bisa menahan dirinya dan menyentuh Jeslin lagi.
********
Bagaimana proses Yuda mengikuti Jeslin?
Nantikan episode berikut ya? Ada kejutan manis dari juragan untuk Naura.
Maaf ya terlambat up.
__ADS_1
janjinya mau malam tadi tapi emak ketiduran guys...🤭🤭🤭
"