
Wisnu sudah berangkat ke ladang untuk melihat perkembangan ladang jagung yang kembali ditanami setelah kebakaran beberapa waktu yang lalu. Naura mendengar kalau Wisnu sudah meminta bibi Saima untuk menyiapkan beberapa baju untuknya karena selama di kota ada pekerjaan penting yang harus Wisnu lakukan sehingga membutuhkan baju resmi.
"Bi, mana koper mas Wisnu?" tanya Naura.
"Yang warna hitam, nyonya. Saya masih meletakan nya di dalam kamar."
Naura menaiki tangga dan segera menuju ke.kamar Wisnu. Ia kemudian membuka lemari pakaian dan mengambil sepasang baju dalam berwarna hitam. Naura tahu, Wisnu sangat suka jika ia menggunakan dalaman berwarna hitam seperti juga hampir semua celana boxer Wisnu berwarna hitam. Ia pun membuka koper Wisnu dan meletakan baju dalamnya di lipatan salah satu kemeja Wisnu. Setelah itu ia kembali ke dapur dan membantu Aisa dan Saima menyiapkan makan siang. Dari percakapan antara Wisnu dan Regina tadi pagi yang sempat dicuri dengar oleh Naura, Wisnu mengatakan kalau ia akan pergi setelah makan siang. Dan Naura sudah menyiapkan rencana untuk membuat Wisnu malam ini hanya akan tidur saja di rumah Regina.
***********
Selesai makan siang, Wisnu beristirahat sejenak sambil membaca beberapa dokumen di ruang kerjanya setelah itu ia langsung ke kamar untuk mandi dan segera ke kota. Regina sudah dua kali meneleponnya dengan alasan Lisa sudah tak sabar ingin bertemu dengannya.
Wisnu pun segera ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang merasa gerah karena berada cukup lama di ladang jagung.
Saat Wisnu sedang menikmati segarnya air melalui guyuran shower, ia dikejutkan dengan tangan halus yang tiba-tiba melingkar di perutnya dan sentuhan kulit dengan kulit yang menyentuh punggungnya. Bahu Wisnu langsung mengeras saat merasakan dua gundukan kenyal itu. Ia segera membalikan badannya dengan cepat dan menemukan istri ketiganya itu sudah berdiri di hadapannya dengan senyum menggoda tanpa menggunakan apapun juga.
"Naura.....?"
Naura tak bicara. Ia langsung melingkarkan tangannya di leher Wisnu dan sedikit berjinjit ia langsung mencium bibir suaminya dengan sangat keras dan penuh gairah.
Tentu saja Wisnu tak menolaknya. Sejak semalam ia ingin menyentuh Naura karena berpikir akan meninggalkan istrinya itu selama satu minggu. Namun ia tak berani menganggu istirahat Naura. Dan siang ini, ia bagaikan kejatuhan durian runtuh ketika Naura sendiri yang menggoda dan berinisiatif bercinta dengannya. Wisnu sangat suka.
*********
Sudah 2 gelas kopi yang Gading habiskan namun sang tuan belum juga turun dari lantai dua. Sang nyonya pertama dari kita sudah 4 kali menghubungi Gading dan hanya sekali Gading mengangkatnya karena ia tahu sekalipun Regina sangat lembut namun jika marah ia bagaikan singa kelaparan yang dapat menerkam siapa saja.
"Dari nyonya Regina lagi?" tanya bi Aisa sambil mengantarkan kopi ketiga untuk Gading dan sepiring kue.
"Iya, bi. Aku nggak berani mengangkatnya. Nggak tahu mau jawab apa. Ini sudah hampir setengah tujuh malam dan tuan Wisnu belum juga turun. Pada hal ia naik ke atas tadi sekitar jam 2 siang kan? Memangnya butuh berapa lama bagi tuan untuk mandi?"
Aisa tersenyum. "Juragan lagi kesemsem sama nyonya ketiga. Mungkin si nyonya lagi nggak enak badan atau meminta juragan menemaninya bobo siang. Tapi ini sudah malam sih. Sebaiknya bibi siapkan meja untuk makan malam saja." Aisa langsung ke dapur dan memanggil Wina yang kelihatan sedang menerima telepon sambil sembunyi-sembunyi.
"Wina, siapkan meja untuk makan malam."
"Mona kemana, bi?"
"Mona sedang pulang ke rumahnya. Ibunya sakit. Jadi harus kamu yang mengatur mejanya. Jangan hanya telepon terus." seru Aisa sengaja diperkeras suaranya karena ia tahu dengan siapa Wina saling teleponan.
Dan benar saja, tak lama kemudian, Naura dan Wisnu menuruni tangga sambil bergandengan tangan.
"Gading, ambilkan koperku di kamar dan ikutilah makan malam bersama karena setelah itu kita akan ke kota." Kata Wisnu saat Gading menyapa mereka.
Gading pun segera melakukan apa yang Wisnu perintahkan. Ia kini tahu apa yang dilakukan oleh Wisnu selama 4 jam lebih bersama istri ketiganya itu. Wajah Wisnu kelihatan lelah bukan seperti orang yang baru bangun tidur. Ia juga melihat di leher sang nyonya ada bekas tanda merah yang walaupun sedikit tersamarkan karena bedak namun bisa di lihat oleh Gading kalau itu baru karena tadi pagi ia tak melihatnya ada di leher sang nyonya. Gading sudah bisa membayangkan betapa kecewanya Regina saat sampai di sana sang tuan hanya akan tidur.
Akhirnya jam setengah delapan malam Gading mengantarkan sang tuan ke kota. Ada senyum kepuasan di wajah Naura karena ia tahu Wisnu pasti sangat kelelahan. Ia juga sebenarnya sangat lelah saat ini. Karena selama berada di kamar. mereka berdua memang sama sekali tak tidur. Karena memang itulah tujuan Naura, Wisnu lelah. Ia pun segera melangkah menuju ke villa. Malam ini Naura ingin tidur dengan nyenyak di sana.
__ADS_1
**********
2 hari setelah kepergian Wisnu, Naura pun ingin ke kota untuk konsultasi dengan sang dosen dan kembali menjalankan misinya untuk menganggu Wisnu di sana.
Gading datang menjemput Naura pagi ini atas instruksi Wisnu.
Sesampai di kampus, Naura langsung menemui sang dosen dan tentu saja menghabiskan waktunya bersama Jeslin untuk jalan-jalan dan makan di tempat favorit mereka.
Sementara itu, Wisnu yang akan menghadiri rapat siang ini, segera membuka kopernya untuk mengganti pakaiannya. 2 hari ini dia memang sangat disibukan dengan persiapan kerja sama perusahaan Wisnu dengan perusahaan asing yang berasal dari Cina. Dan Wisnu tahu betapa kesalnya Regina karena dua malam ini, Wisnu hanya bisa tidur saja tanpa menyentuhnya.
Saat Wisnu mengambil kemeja hitamnya, ia terkejut melihat ada sesuatu yang jatuh. Sepasang baju dalam warna hitam milik Naura. Jantung Wisnu langsung berdetak kencang membayangkan benda ini yang menempel di tubuh Naura. Ada detak kerinduan yang mendalam karena sudah 3 malam ia tak memeluk Naura dan itu sungguh membuatnya merasa gila.
Wisnu mengambil kedua benda itu dan menciumnya lembut sambil membayangkan wajah Naura. Bunyi teleponnya, mengalihkan perhatiannya.
"Ada apa Gading?"
"Tuan, saya tak jadi mengantarkan nyonya kembali ke desa. Jadi, apakah saya akan menjemput tuan saja di rumah nyonya Regina?"
"Boleh. Tapi apa alasannya sampai Naura tak kembali? Apakah dia punya janji dengan Jeslin lagi? Apakah dia berencana untuk ke diskotik?" Wisnu mulai emosi.
"Nggak tuan. Nyonya sepertinya sakit perut. Wajahnya sedikit pucat dan...."
"Aku akan ke rumahku sekarang."
"Tuan, rapatnya 1 jam lagi. Tuan kan tahu kalau mereka sangat on time. Saya sudah meminta pelayan di rumah untuk mengurus nyonya. Nona Jeslin juga ada di sana dan menemani nyonya. Nantilah setelah rapat baru kita ke sana."
"Hallo....." suara lain yang menyapa di sana.
"Apakah ini Jeslin?" tebak Wisnu.
"Iya, juragan."
Wisnu akan protes juga cara Jeslin memanggilnya namun ia tahu pasti itu atas perintah Naura.
"Di mana istriku?"
"Naura sedang tidur. Ia baru saja meminum obatnya."
"Baiklah. Tolong jaga istriku, ya? Dan kalau dia memerlukan dokter, hubungi saja dokter keluarga kami yang nomornya ada di buku telepon. Jangan hubungi dokter Satria."
"Baik juragan."
"Katakan pada Naura kalau selesai rapat, aku akan ke sana."
"Ok."
__ADS_1
Jeslin melepaskan ponsel Naura di atas tempat tidur dan menatap sahabatnya yang sedang duduk di hadapannya.
"Apa kata si juragan?"
"Aku diminta untuk tak menghubungi Satria jika kau membutuhkan dokter dan mengatakan padamu kalau ia akan datang sesudah rapatnya selesai."
Naura tertawa senang. Ia memang tadi sakit perut karena makan bakso dengan takaran cabe yang sangat banyak. Ia sengaja melakukannya karena untuk meyakinkan Gading bahwa ia memang sakit. Jeslin sendiri jadi khawatir melihat Naura yang sudah berkeringat dingin.
Naura sudah tahu keadaan perutnya. Ia tak bisa makan makanan yang terlalu pedas. Namun ia juga sudah menyiapkan obatnya sehingga sekarang perutnya sudah baik-baik saja walaupun tadi ia sempat dua kali bolak balik ke WC.
"Sepertinya juragan sangat sayang padamu, Ra."
"Dia sayang padaku karena menurutnya aku sangat memuaskan dia di ranjang. Namun aku yakin kalau dia tak mencintaiku secara tulus. Mana ada sih pria beristri tiga dan memiliki cinta yang tulus?"
"Bagaimana kalau juragan memang mencintaimu?"
Naura tertawa sinis. "Istri pertamanya yang sudah meninggal, wajahnya agak mirip aku. Mungkin saja ia membayangkan mba Dina saat bercinta denganku. Namun bukan itu yang ku perduli kan. Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada kedua istri Wisnu yang telah menyebabkan aku keguguran. Mereka sangat jahat. Membunuh janin yang tak berdosa."
"Kenapa nggak lapor saja ke Wisnu bahwa Regina sengaja melepaskan tanganmu?"
"Aku nggak punya bukti, Jes. Makanya sekalipun aku tahu ini mungkin jahat, namun aku tak akan mengijinkan mba Naura dan mba Indira memiliki malam indah bersama juragan selama giliran mereka. Aku akan melakukannya selama 2 kali giliran."
Jeslin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun ia tahu kalau Naura sangat sedih saat keguguran karena Naura sangat menyukai anak-anak. Dan Jeslin akan mendukung sahabatnya ini. Walaupun jauh di lubuk hatinya ia berharap Naura akan bersama Satria. Karena sesungguhnya mereka berdua saling mencintai.
*********
"Ah.........brengsek kau Naura!" Teriak Regina histeris sambil membuang semua makanan yang sudah diaturnya di atas meja. Wisnu baru saja meneleponnya dan mengabarkan kalau ia tak akan pulang karena Naura sedang sakit dan kini ada di rumah Wisnu.
"Ibu.....!" Lisa ketakutan melihat Regina yang nampak kacau.
"Masuk ke kamarmu, Lisa!"
Lisa langsung berlari ke kamarnya dan menangis histeris melihat wajah Regina yang sangat menakutkan.
"Tunggu saja Naura! Aku akan menghancurkan mu sampai mas Wisnu akan menyesal pernah menikah denganmu! Aku adalah istri pertama mas Wisnu. Aku adalah perempuan yang paling utama dalam hidupnya." Mata Regina bersinar dengan sangat tajam. Ia meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya. Ia segera menelepon seseorang dan mengadakan pertemuan di salah satu hotel.bintang lima.
Sementara itu, Naura dan Wisnu sedang saling memuaskan di atas ranjang. Wisnu tak bisa menolak saat Naura mengatakan bahwa ia sudah sembuh dan saat ini ingin bercinta dengannya. 3 malam tanpa Naura sudah membuat Wisnu cukup merindukan istri ketiganya itu.
Naura tersenyum puas saat melihat Wisnu yang tertidur di sampingnya. Tunggulah giliran mu, Indira!
*********
Apakah Naura terlalu kejam menurut kalian???
dukung emak ya, votenya yang banyak agar cerita ini bisa dipromosikan di halaman utama NT.
__ADS_1
Selamat Idul Adha bagi yang merayakannya