Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Pernikahan Sang Dokter


__ADS_3

Hari ini dokter Satria akan menikahi salah satu kembang desa yang bernama Gayatri Ayunda. Semua orang mengatakan bahwa betapa beruntungnya hidup Gayatri dipersunting oleh sang dokter yang berasal dari keluarga kaya.


Keluarga dokter Satria walaupun berasal dari keluarga kaya namun tak pernah mempersoalkan perbedaan status sosial antara Satria dan Gayatri. Tentu saja mereka sudah meminta orang untuk menyelidiki siapa Gayatri dan bagaimana garis keturunannya. Orang tua Gayatri memang berasal dari keluarga yang sederhana namun mereka di kenal sebagai orang yang baik dan taat beragama.


Akad nikahnya akan dilaksanakan di salah satu masjid yang dibangun oleh keluarga Satria yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka. Sedangkan resepsi pernikahannya akan dilaksanakan di salah satu hotel berbintang lima. Dokter Satria juga berjanji akan melaksanakan acara resepsi di desa.


Dalam persiapan pernikahan mereka, Gayatri dan ayahnya tinggal di rumah Wisnu. Satria sebenarnya sudah menyiapkan hotel untuk mereka namun Naura bersikeras agar Gayatri tinggal di rumah mereka. Ia ingin membantu Gayatri dalam persiapan pernikahannya dan juga bisa tetap mengawasi anaknya.


Dua hari sebelum akad nikah, Satria datang ke rumah Wisnu, membawa perhiasan kalung dan gelang yang akan dipakai oleh Gayatri.


Tentu saja mereka tak diijinkan bertemu. Hanya Naura yang menerima Satria.


"Gayatri ada di atas. Dia titip salam untuk kak Satria." Ujar Naura yang semakin terlihat cantik di mata Satria setelah melahirkan.


Tubuh Naura memang semakin padat berisi. Ia juga sudah tahu merawat wajah dan kulitnya. Ia terlihat dewasa dengan rambut yang tak lagi diikat satu sembarangan melainkan kini rambutnya digulung rapih ke atas.


"Sampaikan salam untuknya ya? Bagaimana kabar si kembar?"


"Alhamdulillah mereka baik. Badannya montok dan sekarang sudah memasuki usia 4 bulan."


"Senangnya langsung diberikan dua."


Naura mengangguk. "Kak Satria, terima kasih karena sudah mau mempersunting Gayatri. Sia gadis yang baik. Aku yakin dia pasti akan mampu menjadi istri yang baik bagi kakak."


Satria mengangguk. "Aku tahu. Aku senang melihat kamu sekarang juga sudah bahagia."


"Aku mencintai suamiku."


"Juragan Wisnu juga pasti sangat beruntung memilikimu."


"Allah pasti akan memberikan kita jodoh yang terbaik asalkan kita memintanya. Semoga setelah menikah kalian akan segera diberikan keturunan."


"Amin." Ujar Satria. Setelah itu ia pamit pulang. Bagaimana perasaan Satria pada Naura? Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sebenarnya masih menyimpan rasa yang untuk Naura. Namun Satria tahu, kalau cinta Gayatri, kelembutan Gayatri dan kebaikan hati Gayatri akan mampu mengikis rasa yang masih tersisa itu. Satria memang pernah bertekad untuk merebut Naura dari Wisnu. Namun, saat ia mendengar kalau Naura hamil, keinginannya itu ia sekarang tak ada lagi. Ia bisa menerima kalau Naura bukan jodohnya. Dan ia siap akan terus menjadikan Naura dan Wisnu sebagai sahabatnya. Itu juga yang diminta Gayatri padanya. Gadis itu tahu bagaimana dulu perasaan Satria pada Naura. Dan Gayatri tak ingin karena konflik yang pernah terjadi dulu akan membuat hubungan mereka menjadi renggang. Gayatri sangat menyayangi Naura dan ibu Kumala.


*********


Dengan balutan kebaya berwarna putih, Gayatri dan Satria melangkah masuk ke dalam.ruangan resepsi pernikahan.


Para tamu undangan yang hadir bukanlah orang-orang sembarangan. Banyak dari kalangan konglomerat menganggap bahwa Satria bodoh karena mempersunting seorang gadis desa yang hanya tamatan SMA. Namun orang tua Satria tak memperdulikan itu. Mereka tahu kalau Satria sudah pernah terluka karena cintanya pada Naura. Mereka ingin anaknya bahagia dengan perempuan yang baik.

__ADS_1


Ibu Kumala mendampingi ayah Gayatri untuk duduk di pelaminan. Naura pun hadir bersama Wisnu. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna merah maroon dan rambut yang disanggul. Beberapa teman kampus yang hadir pun terkejut melihat sang gadis tomboy yang paling suka ikut tawuran dan demo itu kini sudah berubah menjadi wanita dewasa yang terlihat anggun.


Jeslin juga hadir bersama Gading. Sepanjang acara, Gading terus menempel pada istrinya itu karena ia dapat melihat, bagaimana Yuda masih menatap Jeslin dengan penuh harap. Yuda datang sendiri tanpa didampingi istrinya.


"Mas, ibu Kumala tak pernah mengenal pria lain dalam hidup nya kecuali ayahku. Hari ini, saat melihat ibu menggantikan almarhumah ibunya Jeslin, aku kok merasa bahwa ibu cocok dengan ayahnya Gayatri." ujar Naura saat pesta pernikahan sementara berlangsung.


"Mengapa kamu sampai berpikir sejauh itu?"


"Pingin aja ibu punya pendamping. Usia ibu kan baru 50 tahun. Belum lansia."


Wisnu menggenggam tangan Naura. "Yang aku tahu, ibu Kumala memang kembang desa saat ia muda. Banyak pemuda yang mendekatinya namun ia hanya jatuh cinta pada ayahmu. Setelah ayahmu menikah dengan ibumu, sekalipun banyak pria yang menginginkannya, ibu Kumala tak pernah menerima lamaran orang lain. Aku pikir, cintanya pada ayahmu adalah cinta sejati. Tak akan pernah tergantikan."


"Seperti cinta mas untuk mba Dina?"


Tangan Wisnu membelai wajah Naura. "Dina memang perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta. Namun, kehadiranmu membuat aku sembuh dari luka hatiku saat kehilangan Dina. Aku sudah melupakan masa laluku, sayang. Karena aku tahu kau dan anak-anak kita adalah masa depanku."


Naura tersenyum. Ia mengambil tangan Wisnu yang ada di pipinya kemudian menciumnya dengan sangat lembut.


"Satria yang menikah, kenapa kalian yang menjadi pusat perhatian ya?" ujar Jeslin yang datang sambil menggandeng suaminya.


"Sorik banget. Kita memang sedang mesra-mesranya. Iya kan mas?" Naura menatap suaminya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wisnu mengangguk lalu mencium pipi Naura.


Mereka berempat pun tertawa bersama.


Dari jauh, Yuda menatap mereka dengan hati yang perih. Aku belum bisa move on dari kamu, Jes. Kamu adalah cintaku.


********


Satria menggenggam tangan Gayatri memasuki kamar hotel. Jantung Gayatri berdetak sangat cepat. Ia tahu kalau hari ini ia akan kehilangan mahkotanya yang selama ini sudah dijaganya.


Saat keduanya sudah berada di tengah ruangan, Satria melepaskan pegangannya dan berdiri di hadapan Gayatri.


"Sayang, istriku, kekasih hatiku, akhirnya kita resmi menikah juga. Aku sudah boleh mencium mu kan?" tanya Satria lalu menyentuh bibir Gayatri dengan jari jempolnya.


"Mas....!" Gayatri tertunduk malu.


"Jangan menunduk!" Tangan Satria mengangkat dagu Gayatri. Secara perlahan, Satria mendekatkan wajahnya dan akhirnya, bibirnya menyentuh bibir istrinya dengan sangat lembut.

__ADS_1


Gayatri memejamkan matanya. Ini adalah ciuman pertamanya. Ciuman yang membuat seluruh bagian tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik. Satria masih terus mencium istrinya, mengajarinya dengan lembut agar Gayatri akhirnya membalas ciumannya.


"Mandilah! Aku sudah tak sabar menunggu malam pengantin kita." bisik Satria lalu mengecup daun telinga Gayatri. Tangannya secara perlahan menurunkan resleting kebaya atas Gayatri.


Saat Gayatri mandi, Satria pun membuka jasnya. Ia sendiri merasa tegang namun begitu penasaran. Bagaimana mereka nantinya akan melalui ini. Mereka sama-sama belum memiliki pengalaman.


Ketika Gayatri sudah selesai mandi dan keluar dengan gaun tidurnya, Satria menelan salivanya. Ia baru menyadari betapa bahwa tubuh Gayatri begitu menggoda untuk disentuh.


Setelah Satria pun mandi, kini keduanya saling berhadapan kembali.


"Mas Satria, aku mencintaimu!" ujar Gayatri membuat Satria langsung kembali menyambar bibir Gayatri. Kali dengan tanpa.menahan-nahan diri lagi. Gayatri berusaha mengikuti gerakan suaminya. Ia membalas ciuman Satria.


Malam ini pun akhirnya, sang perjaka dan perawan sama-sama merasakan indahnya hubungan intim yang membawa kenikmatan itu.


**********


Hari ini Wisnu akan dilantik sebagai kepala desa. Ia sudah mengenakan pakaian berwarna putih-putih, lengkap dengan segala atribut yang sudah disiapkan oleh panitia yang ada.


Para penduduk desa pun nampak sangat antusias. Mereka sejak pagi sudah bersiap-siap untuk ke kota untuk mengikuti pelantikan kepala desa pilihan mereka semua.


Semua sudah siap untuk naik ke dalam mobil.


"Ibu, Naura mana?" tanya Wisnu yang tak melihat Naura ada diantara mereka. Bayi kembar mereka sudah ada di pelukan Kumala dan bi Aisa.


"Tadi dia sudah selesai berdandan. Apakah dia kesulitan dengan kebaya nya?" Kumala mencoba menebak.


"Aku di sini." Ujar Naura.


Wisnu menoleh ke arah suara itu. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka sedikit. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukan dengan kebaya Naura yang nampak sangat indah membungkus tubuh rampingnya. Bukan juga dengan make up natural yang membuat Naura semakin cantik. Namun apa yang kini membungkus kepala Naura. Istrinya itu menggunakan hijab putih. Senada dengan kebaya yang dipakainya.


Kumala pun tersenyum melihat putrinya. "Alhamdulillah. Ibu senang kau memutuskan untuk berhijab, nak."


Naura tersenyum. Ia mendekati suaminya. "Mas, ayo kita pergi!" ajak Naura.


"Sayang, kau terlihat sangat cantik."


"Aku akan mendampingi mu, mas Wisnu. Sebagai ibu kades. Dan aku memutuskan mulai hari ini hendak menutup aurat ku. Aku akan terus berhijab."


Wisnu tak dapat menahan rasa harunya. Ia langsung memeluk Naura dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia merasa beruntung memiliki Naura yang sangat luar biasa ini.

__ADS_1


**********


Duh, manis kan? Satu episode lagi ya para pembacaku yang setia.....


__ADS_2