Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Permintaan Lisa


__ADS_3

"Non Lisa, apakah kita sudah bisa pulang sekarang? Ayah non menelepon dan meminta paman untuk segera ke pabrik." kata Gading.


Lisa menatap Gading dan Jeslin secara bergantian.


"Paman Gading, bolehkah aku di sini bersama bibi Jeslin? Kalau pulang ke rumah sekarang rasanya bosan. Bibi Aisa dan bibi Saima nggak bisa di ajak main game di ponsel." Tanya Lisa dengan wajah penuh permohonan.


"Paman tanya sama ayah dulu ya?"


Gading terlihat berbicara dengan Wisnu dan tak lama kemudian ia mengangguk. "Kata ayah boleh asalkan pulangnya sama bunda Naura karena ayah nanti malam baru pulang ke rumah sedangkan bibi Aisa dan bibi Saima sedang berada di rumah desa."


"Baiklah."


Gading tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mendekati Jeslin, mengatakan sesuatu yang juga bisa di dengar oleh Lisa. Mereka bertiga pun tos bersama lalu Gading pun pamit untuk pergi.


"Mas Gading kemana?" tanya Naura saat melihat Gading pergi dan Lisa masih ada di sini.


"Juragan memanggilnya. Lisa nggak mau ikut karena ia bosan jika harus ada di apartemen sendiri. Makanya ia ingin tinggal aja di sini. Jam kerja loe dua jam lagi selesaikan?"


"Iya."


"Gue temani Lisa sebentar di apartemen. Nanti setelah loe datang gue akan pergi lagi ke rumah. Nyokap masih kangen jadi gue masih tinggal di rumah aja."


Naura mengangguk. Ia mencium Lisa sebelum gadis kecil itu berlalu bersama Jeslin.


********


Jam 5 sore, Naura sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia bergegas pulang ke apartemen karena memikirkan Lisa. Namun, saat ia sampai di lobby apartemen, ia terkejut melihat Regina ada di sana.


"Mba Regina?" panggil Naura tak percaya. Regina menatap Naura dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia tak percaya melihat Naura berseragam salah satu minimarket.


"Kamu bekerja?" tanya Regina tak percaya.


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Mas tidak memberi kamu uang lagi sampai kamu harus bekerja?"


Naura tersenyum. "Aku yang nggak mau menerima uang dari mas Wisnu. Ada apa mba kesini?"


"Saya mau bertemu dengan Lisa. Saya kangen dengan Lisa. Katanya Lisa sama mas tinggal di sini ya?"


"Apakah mba sudah minta ijin sama mas Wisnu?"


Regina menggeleng. "Sebenarnya jadwalku untuk bertemu Lisa nanti lusa. Namun aku mulai besok ada seminar yang akan dilaksanakan selama 1 minggu di Bangkok. Aku pasti akan merindukan Lisa jika tak bertemu sekarang."


"Ijin dulu sama mas Wisnu."


"Aku takut mas Wisnu tak akan mengijinkan. Aku mohon Naura. Biarkan aku bertemu dengan Lisa. 15 menit saja."


Naura melihat wajah kerinduan seorang ibu. Ia pun mengajak Regina masuk dan segera menuju ke apartemennya Wisnu.


"Ibu......!" Lisa langsung berlari dan memeluk ibunya. Keduanya saling melepas rindu sambil duduk di ruang tamu dan saling bercerita.


"Loe membiarkan wanita ular itu masuk? Gimana kalau dia akan menculik Lisa? Juragan kan bisa marah." kata Jeslin dengan tatapan curiga pada Regina.


"Nggak mungkinlah. Lagi pula dia tahu kalau gue mengawasinya dari sini. Gue juga nggak akan ijinkan jika dia minta pergi berdua dengan Lisa."


Selama setengah jam Regina melepaskan kerinduannya bersama Lisa. Setelah itu, ia pamit untuk pulang. Saat Naura mengantarnya sampai di depan pintu, Regina menatap Naura dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku, Naura. Seharusnya aku bisa lebih sabar denganmu. Aku dan Indira termakan cemburu buta dan melakukan apa yang jahat padamu. Terima kasih karena tak menuntut kami untuk masalah penculikan itu."


"Aku sendiri sudah melupakannya."


Regina menarik napas panjang. "Aku harap kalau kau dan mas Wisnu akan kembali bersama."

__ADS_1


"Mba, menikahlah dengan dokter Reno. Jangan berbuat zinah terus. Siapa tahu dokter Reno mau menikahi mba." Kata Naura dengan wajah penuh ketulusan.


Regina menunduk sedih. "Reno sudah bertunangan dengan perempuan lain. Dia memutuskan hubungan kami saat tahu kalau aku adalah dalang penculikan dirimu." Regina berusaha tersenyum. "Aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah mengijinkan aku untuk bersama dengan Lisa hari ini. Tolong jaga Lisa untukku. Selamat sore." Regina langsung pergi sebelum Naura melihat ada air bening yang mengalir di pipinya.


Setelah Regina pergi, tak lama kemudian Jeslin pun pamit untuk ke rumah orang tuanya. Naura langsung mengajak Lisa mandi dan setelah itu ia.menyiapkan makan malam.


Wisnu datang di saat Naura dan Lisa sudah selesai menyiapkan makan malam. Wisnu lun langsung bergabung di meja makan begitu Lisa memanggilnya.


"Ayah, sebentar lagi kan Lisa ulang tahun, Lisa boleh minta kado yang spesial nggak?" tanya Lisa saat mereka sudah selesai makan dan sementara menikmati salad buah yang Naura siapkan.


"Boleh. Lisa mau minta apa saja akan ayah kabulkan."


Lisa tersenyum lalu menatap Naura. "Bunda, apakah Lisa bisa meminta kado yang spesial?"


"Tentu saja, nak. Asalkan jangan yang mahal-mahal ya? Kan bunda belum gajian." Ujar Naura membuat Wisnu menatapnya tajam karena Naura masih saja menolak uang bulanan darinya.


"Hadiahnya nggak pakai uang. Hadiahnya hanya bisa diberikan oleh ayah dan bunda." ujar Lisa sambil tersenyum penuh misteri.


"Memangnya Lisa ingin hadiah apa?" tanya Wisnu penasaran.


"Lisa ingin adik. Adik yang lahir dari perut bunda."


Huk.....huk....huk...


Naura yang baru saja memasukan sepotong apel di mulutnya langsung tersedak.


"Ra..., sayang...., kamu kenapa?" Wisnu langsung memberikan segelas air pada Naura dan istrinya itu langsung meneguknya sampai habis..Wajah Naura bahkan sedikit memerah.


"Bunda, kenapa? Apakah permintaan Lisa membuat bunda kaget?" tanya Lisa sambil menyentuh tangan Naura.


"Bukan sayang bunda hanya kurang hati-hati makan buahnya." ujar Naura sambil tersenyum. Ia tak mau membuat Naura sedih.


"Ayah, malam ini Lisa bobo di kamar Lisa saja. Soalnya kata bibi Jeslin agar adiknya cepat datang, bunda dan Ayah harus tidur sendiri. Lisa nggak boleh mengganggunya." kata Lisa lagi.


"Lisa, bunda mau tidur di apartemen sebelah." kata Naura.


Wajah Lisa langsung cemberut. Matanya saja langsung berkaca-kaca. Air bening itu siap jatuh ke pipinya. "Bunda nggak mau memberikan adik untuk Lisa ya? Apakah karena Lisa bukan anak bunda?"


"Bu...bukan seperti itu sayang. Hanya saja...."


"Kan Bunda Jeslin nggak ada. Bobo di rumah papa mamanya. Bunda Naura kan bilang nggak marahan sama ayah jadi kenapa juga harus tidur di sana?"


Naura yang biasanya banyak akal, kini merasa kehilangan akal. Apalagi jika melihat wajah Lisa yang penuh dengan air mata, perempuan itu sungguh tak sanggup untuk menolaknya.


Dan Wisnu? Pria itu hanya diam saja. Menahan senyum karena ia tak menduga kalau Lisa akan meminta hal yang tak sanggup ditolak oleh Naura dan dirinya.


"Baiklah, sayang. Bunda akan tidur di sini." kata Naura akhirnya.


"Di kamar ayah." tuntut Lisa.


"Iya, sayang. Bunda akan tidur di kamar ayah." Kata Wisnu membuat Naura ingin sekali menonjok wajah Wisnu.


"Hore....! Semoga adik Lisa segera datang." kata Lisa sambil melompat kegirangan.


Akhirnya, jam tidur pun tiba. Lisa menatap.Wisnu dan Naura yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Awas ya kalau nggak tidur di kamar yang sama. Tengah malam Lisa mau bangun untuk memeriksa." Kata Lisa membuat Naura semakin menahan kesal pada Wisnu.


Keduanya pun meninggalkan kamar Lisa dan berjalan menuju ke kamar Wisnu.


"Aku tidur di sofa sa.....!" Naura terkejut melihat sofa yang dipakai oleh Lisa kemarin malam untuk ia tiduri sudah tak ada.

__ADS_1


"Kemana sofa yang ada di sini?" tanya Naura sambil menggaruk kepalanya.


"Aku nggak tahu." Kata Wisnu sambil mengangkat kedua tangannya.


Naura mengeram kesal. Pasti ini perbuatan Jeslin.


"Tidurlah, Ra. Bukankah besok kamu masuk kerja pagi?" tanya Wisnu.


"Kenapa juga kita harus tidur sekamar, seranjang. Ini pasti yang kamu mau kan?" Naura melotot ke arah Wisnu.


"Ini permintaan Lisa, sayang. Aku nggak tahu apa-apa. Lagian kita kan sudah berjanji untuk memberikan Lisa adik."


"Bagaimana kita bisa memberikan Lisa adik sedangkan kita sudah akan bercerai?"


"Aku tak akan pernah menceraikan mu, Ra." Wisnu mendekat. Ia mengambil tangan Naura dan menggenggamnya erat. "Aku mencintai kamu, Ra. Aku ingin membangun hubungan ini lagi dari awal."


Naura menarik tangannya dari genggaman Wisnu. Ia langsung naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut sebelum membaringkan tubuhnya.


Tangan Wisnu langsung menekan saklar lampu sehingga keadaan kamar menjadi gelap. Yang ada hanyalah pancaran lampu balkon kamar.


Perlahan Wisnu naik ke atas tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya di samping Naura. Merasa kalau Wisnu terlalu dekat, Naura menggeser tubuhnya menjauh. Wisnu kembali mendekat, Naura pun menjauh. Sampai akhirnya Naura tak menyadari kalau ia sudah berada di pinggiran tempat tidur. Ia hampir saja jatuh kalau tangan Wisnu dan segera menariknya dan membuat tubuh mereka saling berdekatan.


"Lepaskan aku....!" sentak Naura sambil mendorong Wisnu namun pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan malam ini kita saling berpelukan, Ra. Aku tahu kalau dirimu menginginkan aku sebesar aku menginginkan dirimu."


"Aku nggak mau....!" Naura memukul dada Wisnu.


"Aow...sakit, Ra!" kata Wisnu namun sama sekali tak melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Naura.


"Kamu mau apa sih?"


"Mari kita berikan Lisa adik." kata Wisnu lembut.


"Aku nggak mau!" kata Naura sambil membuang muka.


Tangan Wisnu yang ada di pinggang Naura perlahan naik ke atas.


"Eh...juragan apa yang kamu lakukan?" Naura menahan tangan Wisnu namun jari Wisnu sudah memegang erat benda kenyal yang ada di dada Naura.


"Aku tahu bukan hanya aku yang menahan gairah ini, sayang." bisik Wisnu membuat Naura hampir kehilangan pertahanan dirinya.


"Aku tak mau." .


"Sungguh?" tanya Wisnu lalu membalikan tubuhnya agar berada di atas Naura.


"Juragan, menjauh....!"


"Aku tak mau....!"


"Aku akan memukulmu!"


"Pukullah aku sesukamu. Namun aku tak akan melepaskan mu malam ini."


"Kenapa?"


"Aku ingin memberikan hadiah yang Lisa inginkan."


**********


Apakah Wisnu berhasil menaklukkan Naura malam ini??

__ADS_1


Dukung emak terus ya......


__ADS_2