Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Terperangkap


__ADS_3

Tawa bahagia Jeslin terdengar saat mereka keluar dari tenda rumah setan. Gading terlihat begitu pucat dan terlihat sedikit loyo.


Tadi saat mereka jalan-jalan, Mereka melewati pasar malam. Dan Gading mengajak Jeslin untuk masuk ke dalam. Semua wahana dicoba mereka berdua. Mulai dari kora-kora, bianglala, dan permainan menantang lainnya. Jeslin memang sering berteriak karena takut, geli dan merasa heboh. Tapi Gading terlihat tenang. Ia hanya terlihat sedikit kaku saat Jeslin karena takutnya memeluk Gading atau melingkarkan tangannya di lengan kekar pemuda itu.


Namun saat Jeslin meminta Gading untuk masuk ke rumah hantu, Gading menolak mati-matian. Namun bukan Jeslin namanya kalau tak berhasil mengajak Gading untuk masuk.


Dan Jeslin menemukan kesenangan lainnya saat berada dalam rumah hantu. Gading terlihat sangat ketakutan. Pria itu tanpa sadar memegang tangan Jeslin sangat kuat.


"Mas Gading takut?" tanya Jeslin saat keduanya sudah berada di luar.


"Bukan takut, nona. Hanya geli saja. Aku paling nggak suka dengan sesuatu yang gelap terus ada lampu merah, biru, kuning. Jadi pusing."


"Berarti mas Gading nggak suka masuk diskotik ya? Pada hal aku ingin mengajak mas Gading ke sana."


Gading tersenyum. "Aku pernah beberapa kali ke diskotik saat bersama tuan Wisnu."


"Juragan suka ke diskotik juga?" tanya Jeslin kaget.


"Sebenarnya tuan Wisnu nggak suka diskotik. Katanya berisik. Namun kami ke sana karena mengikuti kalian. Tuan takut kalau nona sampai mabuk atau berbuat yang tak wajar dengan dokter Satria."


Jeslin berhenti. Lalu duduk di salah satu bangku yang ada di sana. " Juragan sangat sayang kepada Naura ya? Dulu aku juga merasa sangat disayang oleh Yuda. Walaupun sebenarnya Yuda nggak romantis banget kayak cerita-cerita drama Turki."


"Non suka nonton drama Turki? Aku pikir para gadis suka nonton drama Korea."


Jeslin menatap Gading yang duduk di sampingnya. "Drama Korea memang bagus tapi aku lebih suka drama Turki. Cowoknya macho, romantis dan kalau adegan ciumannya lebih seksi terlihat."


"Ih nona....! Kok yang dilihat hanya adegan ciumannya. Bukan jalan ceritanya."


Jeslin tertawa. "Jalan ceritanya juga dong." Mata Jeslin menatap penjual gulali. "Aku belum pernah makan gulali."


"Benarkah? Itu kan sangat disukai oleh anak-anak."


"Waktu kecil aku sering sakit-sakitan. Nggak boleh makan ini, nggak boleh makan itu. Semuanya harus serba steril. Mamaku selalu melarang aku untuk makan gulali. Katanya nggak higienis, bisa merusak gigi dan masih banyak lagi alasannya." Jeslin tertawa sumbang. "Bersahabat dengan Naura membuat aku banyak berubah. Walaupun kadang kami harus lewat jendela saat pulang diskotik."


Gading berdiri. Jeslin terkejut saat melihat Gading mendekati si penjual gulali dan membeli dua bungkus.


"Sekarang ayo kita makan bersama. Aku juga sudah lama nggak makan gulali. Terakhir mungkin saat kelas 1 SMP."


Hati Jeslin menjadi hangat. Tanpa sadar ada air bening yang mengalir di pipinya. "Terima kasih mas Gading." kata gadis itu lalu mencium pipi Gading dengan cepat. Mata Gading langsung terbelalak. Seumur-umur, ia tak pernah dicium oleh seorang gadis.


Keduanya menikmati gulali. Jeslin terus berkomentar tentang rasa gulali ini. Sampai ia tak sadar kalau ada gulali yang tertinggal di sudut bibirnya.


"Non, ada gulali di situ."


"Dimana?"


"Di sudut bibir, non."


"Mas Gading tolong bersihkan dong. Kan aku nggak bisa melihat."


"Tapi non...."


"Please dong mas Gading."


Tangan Gading agar bergetar ketika ibu jarinya menyentuh sudut bibir Jeslin. Apalagi jarak diantara mereka yang begitu dekat.


Jeslin sendiri merasa dadanya bergemuruh. Ini bukan kali pertama ia berdekatan dengan seorang laki-laki namun rasanya sentuhan kecil itu membuat hatinya bergetar.


Jeslin menahan tangan Gading yang masih membersihkan sudut bibirnya. Entah dorongan dari mana yang ia rasakan sehingga ia memegang tangan Gading dan menciumnya dengan sangat lembut. "Sekali lagi makasih mas Gading."

__ADS_1


Tubuh Gading menegang. Ini belum pernah ia alami seumur hidupnya. Karena sejak kecil yang Gading lakukan hanyalah belajar, agar menjadi orang sukses. Dan ia bersyukur bisa menjadi tangan kanan Wisnu. Gading tak punya waktu untuk dekat dengan gadis manapun juga.


"Wajah mas Gading kok merah sih?" Jeslin menarik hidung Gading dengan gemas. "Kita ke diskotik sebentar ya, mas? Boleh kan?"


Gading mengangguk. Ia tak ingin membuat Jeslin kecewa malam ini.


**********


Tangan Naura memeluk punggung Wisnu dengan sangat erat. Ia memejamkan matanya, menanti pelepasannya untuk yang kesekian kalinya. Ia juga dapat merasakan kalau Wisnu hampir mencapai puncaknya. Karena saat itu datang, Wisnu akan mencium bibirnya dengan rakus dan gerakan punggungnya akan semakin cepat. Naura sungguh gila dibuatnya.


"Wisnu......!" Naura akhirnya meneriakan nama Wisnu dengan sangat kuat sambil memejamkan matanya.


Wisnu tersenyum bahagia. Ia kembali mencium Naura, membungkam teriakan istrinya itu dengan bibirnya karena ia tahu bahwa kamar ini tak kedap suara dan Lisa bisa saja mendengarkan mereka.


Akhirnya, Wisnu tidur terlentang di sebelah Naura saat keduanya sudah bersama mencapai puncaknya. Ini adalah ronde kedua bagi mereka. Nikmatnya masih seperti di ronde yang pertama. Walaupun Naura terlihat belum begitu aktif dalam bercinta, namun Wisnu bahagia karena ia tak seperti kemarin malam, yang menahan suara teriakannya.


Napas keduanya saling memburu. Naura terlihat masih memejamkan matanya, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang sudah dicapainya.


Wisnu kemudian memiringkan badannya. Menatap istrinya yang nampak masih memejamkan matanya. Ia tak dapat menahan diri untuk tak menyentuh wajah Naura. Menyeka keringat di dahi istrinya dan akhirnya membuat Naura membuka matanya.


"Juragan, aku ngantuk." Suara Naura terdengar manja dan sedikit memelas.


"Aku tahu. Aku tak akan menyentuhmu lagi. Tidurlah." Kata Wisnu lalu mencium dahi Naura.


"Tolong selimutnya." Ujar Naura sambil membalikan badannya, membelakangi Wisnu.


Tangan Wisnu meraih kaosnya yang ada di lantai, lalu menyeka keringat yang ada di punggung Naura, barulah kemudian ia menyelimuti tubuh istrinya. Setelah itu, Wisnu turun dari tempat tidur, mengenakan celana pendeknya, lalu membuka lemari untuk mengambil kaos yang bersih. Setelah itu ia berjalan keluar kamar untuk minum.


Alangkah terkejutnya Wisnu melihat Lisa sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati kue coklat dan nonton TV.


"Lisa? Kenapa bangun sayang?" tanya Wisnu sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah satu malam.


Wisnu jadi malu. "Oh....itu, ayah sama bunda sedang main perang-perangan."


"Oh gitu ya? Sesekali ajak Lisa main ya?"


Wisnu hanya tertawa sambil membersihkan bekas coklat yang ada di pipi Lisa.


"Setelah ini gosok gigi lagi ya?"


"Ok. Apakah bunda sudah tidur?"


"Sudah, nak. Bunda capek."


"Main perang-perangan bikin capek ya?"


Wisnu hanya mengangguk. Ia berpikir kalau mereka nantinya akan tinggal bersama maka kamar mereka semuanya harus kedap suara.


**********


Gading mengantarkan Jeslin sampai di depan pintu apartemen karena Jeslin sedikit mabuk. Walaupun gadis hanya minum sedikit dan Gading langsung menyambar gelas gadis itu dan meminum minuman itu sampai habis.


"Mas Gading, ayo masuk!" ajak Jeslin saat pintu terbuka.


"Nggak enak non, ini sudah jam setengah dua."


"Ayo, nggak apa-apa." Naura menarik tangan Gading sehingga cowok itu masuk dan ia langsung menutup pintunya.


"Duduk saja. Aku mau mengambilkan air es dulu. Mas Gading mau minum?"

__ADS_1


"Nggak non." Gading nampak agak ragu untuk duduk. Namun ia juga tak tega meninggalkan Jeslin sendiri.


Jeslin kembali sambil membawa segelas air es. Ia duduk di samping Gading. Sangat dekat sampai lengan mereka saling bersentuhan.


"Pasti dia sekarang sementara menikmati malam pertama nya dengan gadis itu."Kata Jeslin lalu meminum semua air es itu sampai habis. Ia meletakan gelas kosong itu di atas meja. Lalu mulai terisak kembali.


"Aku benci.....! Sangat membenci Yuda!"


"Sabar, non."


Gading membiarkan Jeslin menangis sepuasnya. Di diskotik tadi, Jeslin hanya sebentar saja menggoyangkan badannya. Katanya tak seru karena Naura tak ada. Mereka bahkan tak sampai satu jam ada di sana.


Jeslin membaringkan kepalanya di bahu kekar Gading. Ia merasa nyaman bersandar di bahu pria itu.


"Mas Gading, maukah kamu menolongku?"


"Kalau aku bisa, aku pasti akan menolong nona."


"Jangan panggil aku nona. Terlalu formal. Panggil saja Jeslin."


"Tapi..."


"Ayo mas, panggil Jeslin."


"Baiklah, Jeslin."


Jeslin tersenyum. Ia berdiri dan duduk di pangkuan Gading membuat pria itu sangat terkejut.


"Jangan....." Jeslin mendorong dada Gading saat cowok itu akan berdiri. Jeslin mengubah posisinya yang tadi menyamping kini duduk dipangkuan Gading dengan kedua kakinya yang ada diantara paha Gading.


"Jes....lin, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Gading sambil menekan salivanya. Gading merasa tubuhnya panas.


"Bantu aku menghapus semua jejak Yuda pada diriku. Aku harus melupakannya. Mengingatnya akan membuatku berdosa."


"Ta...tapi bagaimana caranya?"


Jeslin melingkarkan tangannya di leher Gading. Ia menempelkan dahinya di dahi Gading. Lalu perlahan ia mendekat dan mencium bibir Gading membuat pria itu merasa semakin panas. Ini adalah ciuman pertama Gading di sepanjang 32 tahun kehidupannya.


"Kenapa?" tanya Jeslin sambil melepaskan ciumannya. "Mas Gading tak membalas ciumanku? Apakah aku tak menarik?"


"Bu....bukan..., aku hanya....." Tak tahu bagaimana cara berciuman. Sambung Gading dalam hati.


"Mas Gading, cium aku seperti aku mencium mu." Kata Jeslin lalu kembali mencium Gading. Pria itu secara natural membalas ciuman Jeslin. Awalnya masih kaku. Namun lama kelamaan, Gading mendapatkan sesuatu yang nikmat dalam ciuman itu. Ia semakin keras mencium Jeslin.


Jeslin memejamkan matanya. Ia akan menikmati ciuman Gading yang walaupun kesannya masih amatiran namun membuat ia mampu merasa tenang. Selamat tinggal Yuda, aku tak akan pernah mengingat lagi apa yang pernah kau lakukan padaku.


Gading, pria berusia sangat matang namun tak punya pengalaman apapun soal wanita merasa jantungnya berdetak tak beraturan. Jeslin melepaskan pelukannya lalu turun dari pangkuan Gading. Ia menarik tangan Gading menuju ke kamarnya.


"Mas Gading, maaf kalau aku akan merusak mu malam ini." bisik Jeslin lalu mendorong Gading sampai pria itu terbaring di atas ranjang.


*********


Apa yang terjadi guys????


Mampukah Gading menolak pesona.gadia cantik, setengah mabuk dan sedang patah hati itu?


Bagaimana reaksi Naura saat keesokan harinya Lisa mengajak dia main perang-perangan?


dukung emak terus ya guys....

__ADS_1


love you pull


__ADS_2