Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Mulai Bekerja


__ADS_3

"Selamat, anda diterima bekerja di sini." Kata Benny, salah satu manager di perusahaan mini market yang tersebar di seluruh Indonesia ini.


Naura terkejut."Apakah tidak ada tes?"


"Tidak. Kami memang sangat membutuhkan orang yang menguasai komputer. Salah satu pegawai di sini untuk membimbing anda agar bisa menjadi kasir. Kami akan melihat kinerja anda selama 2 minggu barulah kontrak kerja akan anda tandatangani."


"Terima kasih. Kapan saya bisa mulai kerja?"


"Besok pagi. Anda harus datang jam 6.30 pagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum tukar jam kerja. Anda akan mulai bekerja dari jam 7 pagi sampai dengan jam 3 sore. Karena anda masih pegawai percobaan maka jam kerja anda seperti itu selama 2 minggu. Nanti setelah anda tandatangan kontrak maka akan dibagi jam kerja sebagaimana pegawai yang lain."


Naura keluar dari mini market itu dengan senyum bahagia. Kemarin ia memasukan lamarannya dan tadi pagi mereka sudah memanggilnya. Untuk sementara Jeslin memberikan ponsel bekasnya pada Naura untuk digunakan. Naura menolak keinginan Jeslin untuk membelikannya sebuah ponsel baru.


Dari jauh Wisnu memperhatikan Naura yang keluar dari minimarket itu dengan wajah bahagia. Naura terlihat cantik dengan rok hitam selutut dan kemeja putih lengan pendek. Ah, Wisnu rindu memeluk tubuh langsing itu yang kelihatan lebih kurus dari biasanya. Ia rindu mencium harum rambut tebal itu. Amat terlebih Wisnu rindu Naura akan kembali tinggal bersamanya.


Kaki jenjang Naura melangkah ringan menuju ke apartemen tempatnya tinggal bersama Jeslin. Pagi ini Jeslin sedang ke kampus sehingga Naura hanya seorang diri datang ke minimarket yang letaknya memang tak terlalu jauh dari kompleks apartemen itu. Tak ada beban yang terlihat di wajah cantiknya.


Hati Wisnu bertanya, apakah Naura sama sekali tak terbeban dengan perpisahan mereka? Apakah benar Naura tak sedih berpisah dengannya?


Gadis itu tiba di lobby apartemen, menempelkan kartu berwarna hitam untuk membuka pintu itu.


"Nona Naura?" panggil pak Somat, si penjaga pintu masuk.


"Ya." sahut Naura sambil menoleh.


"Ini, ada titipan untuk anda."


Naura menatap buket bunga mawar dan sekotak kue coklat yang merupakan kesukaannya.


Tak ada nama pengirimnya. Pasti dari kak Satria. Dia kan tahu kalau aku paling suka dengan bunga mawar dan kue coklat.


Dengan langkah riang, Naura segera memasuki lift dan menuju ke unit tempat ia dan Jeslin tinggal. Sebelum masuk, Naura menoleh ke pintu yang ada tepat di depannya. Sepertinya ada penghuni baru.


Ia pun melangkah masuk ke dalam apartemen kakaknya Jeslin. Ia duduk dan langsung menikmati kue coklat itu dengan sangat lahap.


***********


"Selamat datang, selamat belanja...!" sapa Naura pada pelanggan yang baru masuk.


Itu yang diajarkan kepadanya setiap kali pintu terbuka dan ada pelanggan yang masuk.


Ini adalah hari ketiga Naura bekerja di sini dan ia menikmatinya. Walaupun kakinya terkadang sakit karena berdiri sangat lama jika pembeli cukup banyak. Naura baru merasakan betapa tidak mudahnya mencari uang.


Hari ini, Jeslin sendiri saja di dalam toko karena Yuli, temannya yang juga sama-sama masih dalam masa percobaan, tiba-tiba saja sakit perut, wajahnya pucat dan sedikit berkeringat dingin.


Karyawan yang lain nanti akan tiba jam 12 siang. Naura bersyukur karena sejak pagi pelanggannya tak terlalu ramai sehingga ia tak merasa repot harus bertugas di kasir atau menerima panggilan pembeli yang ingin menanyakan ini dan itu.


Pintu terbuka dan Naura pun bersiap untuk menyapa pembeli yang datang.


"Selamat datang, selamat berbelanja!" Kata Naura sambil menatap ke arah pintu. Jantungnya langsung berdetak dengan sangat cepat melihat siapa yang baru masuk.


"Bunda Naura....!"


Naura yang terlalu fokus menatap pria tampan yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh kerinduan, mengalihkan pandangannya pada sosok mungil yang sedang memegang tangan Wisnu.

__ADS_1


"Lisa....?"


Naura langsung keluar dari balik meja kasir. Lisa pun melepaskan tangannya dari genggaman Wisnu dan segera berlari dan memeluk Naura.


"Lisa kangen sekali dengan bunda Naura."Kata Lisa sambil mencium pipi Naura berulang kali.


"Bunda juga kangen, sayang." Naura melepaskan pelukannya. "Tumben bisa tahu bunda di sini." Ujar Naura sambil melirik sedikit pada Wisnu. Ia curiga bahwa Wisnu mengikutinya.


"Lisa tadi kepingin makan es cream. Ayah bilang nanti di rumah saja tapi sudah nggak tahan. Makanya kami mampir di sini. Ternyata bunda kerja di sini ya?"


"Iya sayang. Mau es cream yang mana?" Tanya Naura sambil menuntun Lisa ke tempat es cream berada.


"Lisa mau yang rasa coklat dan Vanila." Lisa menoleh ke belakang. "Boleh ambil dua kan ayah?"


"Boleh."


Naura membuka penutup kulkas lalu membiarkan Lisa mengambil es cream yang dia mau.


"Ayah, bolehkah Lisa makan di sini?"


Wisnu menatap Naura. "Boleh. Tapi jangan menganggu bunda Naura bekerja ya?" ujar Wisnu.


"Kalau ada pembeli, Lisa akan duduk manis. Nggak akan menganggu."


Naura mengangguk. Ia langsung membawa Lisa duduk di kursi yang tersedia di sudut ruangan. Keduanya asyik bercerita sambil sesekali Naura membersihkan mulut Lisa yang belepotan karena es cream yang mencair.


Untunglah tak ada pembeli yang datang.


"Ayah, Lisa mau membeli kue dan juga susu." Ujar Lisa ketika ia sudah menghabiskan 2 bungkus es cream.


"Bunda, sekarang Lisa tinggal dengan ayah. Namun Lisa sering bosan karena ayah kadang pergi untuk bekerja. Kenapa bunda nggak tinggal lagi bersama ayah?" tanya Lisa sementara Naura memasukan belanjaan Wisnu ke kantong belanja yang ada.


"Eh.....bunda kan bekerja." Jawab Naura sedikit gugup karena ia tak tahu harus menjawab apa.


"Bunda kan nggak bekerja sampai malam. Jadi kalau malam bunda bisa menemani Lisa bobo. Bolehkan bunda?" tanya Lisa.


"Nanti ya, kalau bunda nggak ada pekerjaan. Soalnya bunda kan masih karyawan baru di sini, jadi belum boleh melanggar aturan. Nanti bunda di pecat."


Lisa menatap Wisnu. "Minta saja uang dari ayah. Ayah kan banyak uang. Pasti bisa memberikan uang buat bunda."


Naura hanya bisa tersenyum. Ia mengambil kartu yang Wisnu sodorkan, menggeseknya pada mesin yang ada lalu kemudian mengembalikannya pada Wisnu dengan bukti pembayaran. Saat tangan mereka saling bersentuhan, Naura dapat merasakan ada aliran listrik yang menggetarkan seluruh permukaan kulitnya. Namun ia berusaha untuk menepis rasa itu.


"Lisa, ayo kita pulang!" ajak Wisnu. Lisa kelihatan masih enggan meninggalkan tempat itu. Di pandangannya Naura dengan wajah sendu.


"Lisa pulang sama ayah, nanti besok ke sini lagi." kata Naura membuat gadis kecil itu mengangguk patuh dan segera keluar. Wisnu menatap Naura. Dengan tatapan penuh kerinduan.


"Aku rindu, Ra." Ujarnya pelan sebelum membuka pintu dan menyusul Lisa yang sudah masuk ke dalam mobil di dampingi Gading.


Naura tak tahu bicara apa. Ia hanya menatap punggung Wisnu yang sudah menjauh. Hati Naura merasakan kepedihan yang mendalam. Namun sekali lagi ia berusaha menepiskan nya.


*********


Hari ini Naura pulang malam. Salah satu karyawan tetap nggak bisa masuk karena orang tuanya meninggal. Naura diminta untuk lembur sampai jam 11 malam sampai karyawan yang lain datang.

__ADS_1


Ketika ia keluar dari toko, hujan mulai turun rintik-rintik. Jika ia memutuskan untuk jalan kaki sampai ke apartemen, ia pasti akan basah. Namun mau bagaimana lagi? Ia tak mungkin meminta Jeslin untuk menjemputnya karena sejak kemarin Jeslin kelihatannya sedang bersedih. Naura sudah bertanya namun Jeslin hanya mengatakan bahwa ia sedang ada masalah dengan salah satu kerabatnya.


Naura memeluk tubuhnya sendiri. Ia memutuskan untuk berlari menembus hujan rintik-rintik.


Di dalam mobilnya, Wisnu yang mengawasi Naura dari seberang jalan bermaksud akan turun dari mobil dan menjemput Naura dengan payung namun langkahnya terhenti melihat mobil Satria yang masuk ke halaman parkir mini market itu.


Satria turun dengan payung yang ada di tangannya. "Naura, ayo!"


"Satria, bagaimana bisa tahu kalau aku ada di sini?"


"Tadi aku menelepon Jeslin untuk mengajak kalian makan malam, namun Jeslin bilang kamu kerja sampai jam 11 malam. Aku bersama Jeslin di apartemen dan saat aku lihat sudah hujan, Jeslin meminta aku untuk ke sini dan menjemputmu."


"Makasih ya." Kata Naura bernaung di bawah payung yang sama dengan Satria, keduanya berjalan bersama menuju ke mobil Satria.


Dari seberang jalan, Wisnu yang melihat semua itu merasakan kalau hatinya sakit. Ia terbakar dengan rasa cemburu namun berusaha mengendalikan emosinya.


Naura tak tahu kalau Wisnu datang menjemputnya jadi Naura nggak salah. Demikianlah Wisnu mengatakannya pada dirinya sendiri.


Satria mengantarkan Naura sampai di depan lobby.


"Makasi ya, Satria." Ujar Naura sambil membuka sabuk pengamannya.


Sebelum Naura membuka pintu, Wisnu menahan tangan Naura. "Na, tolong hibur Jeslin ya? Ia putus dengan Yuda."


"Apa?"


"Yuda akan menikah dengan gadis lain."


"Bukankah Yuda mencintai Jeslin?"


"Yuda menghamili gadis lain."


"Apa? Dasar Yuda brengsek!" Naura mengepal tangannya.


"Aku pergi dulu ya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu namun karena ini sudah larut malam, aku tahu kamu juga capek, jadi besok saja kita bicara. Kamu besok pulangnya jam berapa?"


"Jam 3 sore."


"Kalau begitu jam 4 aku jemput di sini."


"Ok." Naura pun keluar dari mobil Satria, melambaikan tangan pada cowok itu sebelum mobil itu kembali berjalan.


Perlahan Naura menaiki tangga, menggesekkan kartu pada pintu masuk sehingga pintu itu bisa terbuka. Saat ia melangkah masuk, pak Somat, penjaga pintu masuk kembali memanggil nya.


"Nona Naura, ini ada titipan untuk nona."


Naura menerima plastik berisi kotak makanan itu. Saat ia membukanya, perutnya langsung keroncongan saat melihat paket nasi dan ayam bakar. Ia tersenyum. Kak Satria, tahu aja kalau aku sudah kangen dengan ayam bakar yang ada di dekat kampus.


Tanpa Naura sadari, dari balik kaca Wisnu sedang menatapnya. Tersenyum bahagia karena Naura nampak senang menerima kotak makanan itu. Selamat makan, istriku!


**********


Kok Wisnu nggak terus terang saja kalau makanan itu berasal darinya? Jangan dulu mengatakan kalau Wisnu bodoh ya....

__ADS_1


Baca dulu episode berikutnya. Emak nggak tahu bisa up kapan lagi karena emak masih lemah guys....


isolasi mandiri hari ke-7


__ADS_2