
Apakah di dunia ini ada orang benar-benar sempurna? Tidak! Setiap kita manusia memiliki kekurangan dan kelemahan. Dan kadang kelemahan dan kekurangan itu sering membuat kita jatuh dalam persoalan hidup yang sama.
Namun kelemahan sering menjadi proses bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Karena nggak ada orang yang langsung sempurna saat dewasa.
Apa kelemahan Naura? Dia selalu merasa serba bisa. Karena apa dia jadi begitu? Saat ia sebenarnya sangat membutuhkan perhatian orang tua, dia kehilangan mereka sekaligus. Makanya, dia berusaha menjaga diri nya sendiri. Sang kakek pun memanjakan Naura tanpa bersikap tegas akan sikap pembangkangnya.
selama bertahun-tahun Naura terbentuk dengan sifat seperti itu, apakah merubahnya hanya sekejap saja? Nggak! Ingat sekali lagi, Naura menikah dengan Wisnu baru 3 bulan.
Usia Naura yang masih sangat muda dengan pengalaman hidup yang hanya seputar kampus, diskotik dan rumah membuat Naura belumlah bijaksana dalam bersikap dan berpikir. Makanya jangan heran dalam episode-episode mendatang, sifat kekanakan Naura akan nampak namun justru itu akan memberikan dia pelajaran untuk semakin dewasa.
Dan Wisnu, apa kelemahannya? Dia terlalu cemburu buta. Cemburu buta akan membuat orang tak bisa berpikir jernih. Karena ia baru saja mengalami jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun mencintai orang yang sudah mati, yang tak dapat berbagi kasih dengannya. Kelemahan Wisnu yang lain adalah, ia mau menjalani poligami tanpa tahu poligami yang benar itu bagaimana. Jadi Wisnu juga perlu diberi pelajaran. Karena yang membuat Regina dan Indira bersikap liar itu juga karena Wisnu.
Lalu apakah Naura bodoh? Banyak yang komen Naura bodoh tanpa tahu pesan seperti apa yang Naura terima.
Apakah konflik ini kesannya bertele-tele? Konflik ini banyak terjadi di dunia nyata. Kelicikan manusia itu banyak. 18 tahun aku bekerja di duniaku karena itu aku tahu, banyak hal yang membuatku yakin bahwa skenario yang sering kita lihat di film/sinetron, itu adalah realita dalam kehidupan manusia. Ada yang terkuak, ada yang tidak dan ada yang memilih menyembunyikan nya karena merasa malu.
Jadi, maaf jika kali ini emak komen banyak. Bukannya emak nggak mau terima komentar pedas, namun sebagai penulis, emak berhak menjelaskan kenapa tokoh ceritanya dibuat seperti itu. Bagi yang nggak suka, yang jadi malas baca, emak nggak kecewa jika nggak mau dilanjutin. Mungkin ada penulis lain yang mau mengikuti semua keinginan pembacanya.
Emak adalah orang yang nggak pernah memperdulikan berapa banyak yang sudah baca novel emak, yang selalu Mak harapkan, ada pelajaran berharga yang boleh kita petik dari cerita ini.
Wassalam.
***********
Flashback on
Beberapa menit sebelum Naura menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, di pasar, Kumala secara sengaja di tabrak oleh orang yang tak dikenal juga. Seorang lelaki bertubuh besar dan mengenakan baju hitam.
Kumala terjatuh, membuat pria itu memegang bahu Kumala dan membantunya berdiri lalu menuntun Kumala untuk duduk sebentar.
Dari jarak jauh, ada seseorang yang mengambil foto itu. Seorang fotografer handal yang membuat foto itu akan nampak bahwa Kumala sedang dibawa oleh seorang laki-laki.
Foto itu kemudian dikirim kepada Naura dengan tulisan seperti ini :
Kami tahu kalau Kumala adalah ibumu
saat ini ia ada bersama kami. Jika kamu ingin
ibumu selamat, naiklah ke mobil yang akan
menjemputmu saat ini juga. Jangan ajak bodyguard mu atau telepon siapapun karena kami **mengawasimu**. kami tak segan-segan membunuh ibumu.
Naura yang menerima pesan dan foto itu langsung panik. Ia nggak mau kehilangan Kumala. Ia baru saja mendapatkan kasih atsayang dan perhatian dari seorang ibu setelah kehilangan kasih sayang seperti itu sejak 7 tahun yang lalu. Naura yang merasa bahwa ia bisa menangani masalah ini sendiri, dalam keadaan panik, langsung naik ke dalam mobil yang sudah menjemputnya. Naura sudah tak waspada karena pikirannya hanya tertuju pada ibu Kumala.
Ketika ia naik itulah, mereka langsung membius Naura dan di bawa ke hotel.
Hotel itu adalah milik sahabat Indira yang sama jahatnya dengan Indira. Demi mencapai tujuannya, Indira dan Regina menyogok resepsionis sehingga dapat melaporkan kalau kamar itu dipesan oleh Naura. Mereka juga menyewa tukang cleaning service gadungan yang sengaja sudah menunggu Wisnu sehingga dengan mudanya Wisnu dapat membuka pintu kamar itu.
Hanya berbeda 10 menit ketika mereka berhasil membius Naura, mereka mengirim foto Naura dengan mulut yang diikat dan tangan yang terikat kepada Satria yang saat itu sedang bertugas di puskesmas. Isi pesannya untuk Satria adalah :
Jika kau ingin Naura selamat, datanglah ke hotel California kamar nomor 3021. Datang sendiri tanpa melapor pada siapapun, Keselamatan Naura ada di tanganmu.
Mendapatkan foto dan pesan seperti itu, siapa yang nggak panik? Satria masih sangat mencintai Naura. Ia tak ingin Naura terluka. Makanya ia pamit kepada kepala Puskesmas dengan alasan ingin melihat pasien yang sakit di desa. Ia pun berangkat ke hotel itu.
Satria langsung membuka pintu yang memang tak dikunci itu. Pandangannya langsung tertuju pada Naura yang terikat di kursi. Ia melangkah masuk dengan perasaan panik dan tak menyadari bahwa seseorang sudah menunggu di belakang dan memukul tengkuk Satria sampai akhirnya ia pingsan.
Siapa yang akhirnya masuk ke kamar itu? Regina, Indira dan Hartono.
Dan lelaki yang memukul Satria adalah Jupri yang kini menjadi buron.
Bagaimana mereka bisa tahu kalau Wisnu tak ada? Wina lah yang menjadi mata-mata mereka di rumah itu. Wina juga yang mengatakan semua rencana Naura untuk bersama Kumala hari itu. Wina juga yang dengan sengaja tak mengingatkan Naura akan kuenya yang tertinggal. Mereka menyewa pria berkemeja hitam itu untuk menghalangi Kumala pulang lebih cepat dari pasar.
Rencananya, mereka akan menculik Naura dan Gayatri bersama. Namun ponsel Gayatri yang tertinggal membuatnya selamat.
Setelah itu, Regina membuka baju Naura dan Satria. Hartono nampak menelan salivanya saat melihat tubuh Naura yang polos dan nampak menggoda itu.
__ADS_1
Ada rasa kesal di wajah Regina dan Indira saat melihat ada beberapa tanda merah yang nampak masih baru di dada Naura. Mereka tahu kalau Naura baru saja menghabiskan malam bersama Wisnu.
Ponsel Naura berbunyi. Ada panggilan dari Wisnu. Indira pura - pura mendesah dan Hartono menirukan suara Satria. Mereka yakin kalau Wisnu akan percaya kalau itu suara Naura dan Satria.
Sebagai dokter, Regina tahu kapan saatnya Naura dan Satria akan bangun. Ia hampir saja menambahkan dosis obat biusnya namun tak jadi saat mendengar laporan kalau Wisnu sudah ada di lobby.
Kedua istri Wisnu itu tersenyum. Mereka mengambil ponsel Satria dan Naura, lalu menghapus pesan yang tadi mereka kirim. Walaupun ponsel itu harus menggunakan password untuk membukanya, itu bukan masalah bagi salah satu anak buah Hartono.
Hartono sendiri sudah tak tahan ingin meniduri Naura. Obsesinya pada perempuan itu belum hilang sekalipun ada Indira yang kini melayaninya. Ada rasa cemburu saat melihat Naura yang tak berpakaian itu harus berpelukan dengan Satria. Namun ia harus memendam hasratnya kali ini karena menurut informasi kalau Wisnu sudah ada di lobby.
Demikianlah Naura dan Satria dijebak. Dapatkah mereka membuktikan kalau mereka tak bersalah?
********
Flashback off
Mobil yang dibawa oleh Gading akhirnya memasuki kompleks rumah bukit. Di belakang mobil Gading, ada mobil Regina dan Indira.
"Aku mau turun di villa." Kata Naura membuat Gading menatap Wisnu dari kaca spion. Wisnu hanya mengangguk. Gading pun membelokan mobilnya ke arah Villa, sedangkan mobil.Regina dan Indira naik ke atas.
Saat mobil berhenti, Naura langsung turun tanpa menunggu Gading yang membukanya. Ia masuk ke dalam villa dan langsung ke kamar.
Wisnu mengikuti Naura. Wajahnya masih terlihat sangat emosi. Ketika ia.melihat Naura yang sedang duduk di atas kursi meja rias, tiba-tiba saja Wisnu menarik tangan Naura ke kamar mandi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Naura sambil berusaha menarik tangannya namun Wisnu begitu kuat mencengkeram tangannya.
Sesampai di dalam kamar mandi, Wisnu membuka kaos dan celana jeans yang Naura pakai sampai akhirnya Naura tak memakai apapun. Ia kemudian mengambil pakaian Naura dan membuangnya ke tempat sampah.
"Bersihkan dirimu dari bekas sentuhan lelaki itu. Kalau kamu berpikir aku akan menceraikan mu setelah melihat apa yang kalian lakukan, kamu salah besar. Aku tak akan pernah menceraikan kamu! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu mendapatkan Satria dan menikah dengannya.!" teriak Wisnu dengan emosi yang masih sangat tinggi.
Tatapan mata Naura menunjukan bahwa ia juga membenci Wisnu. Naura benci karena Wisnu ternyata tak pernah mengingat apa yang pernah Naura katakan padanya bahwa Naura paling benci dituduh berbuat sesuatu yang tak pernah Naura lakukan. Makanya perempuan itu kembali menunjukan sifat pembangkangnya. Ia memutar keran air dan membiarkan tubuhnya basah. Setelah di rasa cukup, keraN air dimatikan, lalu Naura menuangkan sabun ke tangannya, menggosok ke seluruh bagian tubuhnya. Kemudian ia membuka lagi keran air dan membasuh tubuhnya di bawa shower. Setelah bersih, Naura kembali menuangkan sabun ke tangannya. Di tatapnya Wisnu dengan penuh kebencian.
"Akan ku tunjukan di mana Satria menyentuhku." Katanya lalu meletakan tangannya di dadanya. "Dia menyentuh ku di sini. Jadi harus di bersihkan." Kata Naura sambil menggosok kedua gundukan itu dengan keras. Kemudian tangannya turun ke perut. "Ia menciumku di sini. Jadi harus juga di bersihkan." Tangan Naura menyentuh inti tubuhnya. "Dia juga menyentuhku di sini, sangat lama dan membuat aku sangat puas." Naura kemudian menyentuh bibirnya. "Yang ini, tak akan aku bersihkan karena ciuman Satria sangat memabukkan. Dia lebih pintar berciuman dari padamu, juragan."
"Murahan katamu? Tanyakan itu pada Regina dan Indira karena mereka yang lebih tahu apa arti kata murahan!"
"Apa maksudmu?"
Naura tersenyum sinis. "Aku tak akan memberitahukannya padamu. Aku ingin kau menyesal karena telah melakukan ini padaku."
"Ah......!" Teriak Wisnu meluapkan seluruh rasa amarahnya.
Buk.....!
Wisnu meninju dinding yang ada di depannya. Tanpa memperdulikan tangannya yang berdarah, Wisnu keluar dari kamar mandi. Terdengar ia membanting pintu kamar.
Naura berjongkok di atas lantai kamar mandi sambil memeluk dirinya sendiri.
"Kakek......., kakek.......!" Naura menangis sambil mengingat kakeknya. Ia merasa hatinya hancur.
**********"
Regina membalut luka di tangan Wisnu dengan kain kasa. "Mas, kau harus meminum obat anti nyeri dan anti biotiknya. Luka ini cukup parah. Tangan mas bahkan sudah bengkak." Kata Regina.
Wisnu tak menjawab. Pikirannya saat ini sedang kacau. Bayangan Naura yang berpelukan dengan Satria dalam keadaan tanpa busana membuat dadanya sesak.
Indira datang membawakan secangkir teh hijau.
"Mas, ayo minum!" Kata Indira.
Wisnu menggeleng.
"Mas, nanti mas Wisnu sakit. Ayo di minum dulu."
Wisnu menurut. Ia tahu kalau Indira tak akan menyerah. Makanya ia mengambil teh itu dan meminumnya sampai habis.
__ADS_1
"Tolong tinggalkan aku sendiri." Kata Wisnu setelah selesai meminum teh itu.
"Obatnya, mas?"
"Nanti sebentar saja."
Regina dan Indira meninggalkan kamar Wisnu. Mereka turun ke bawa. Ada senyum kepuasan di bibir mereka. Dan saat Aisa melihatnya, wanita paru baya itu menjadi sangat marah.
***********
Jam 10 malam, Wisnu keluar dari kamarnya. Ia sama sekali tak bisa tidur. Pikirannya kacau.
Saat ia menuruni tangga, nampak Regina dan Indira sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati kopi.
"Mas, mau makan?" tanya Regina.
"Aku mau ke villa." Kata Wisnu.
"Naura nggak ada di sana, mas. Dia sudah pergi." Kata Indira.
"Apa?" Wisnu terkejut. "Kenapa tidak ada yang memberitahukannya kepadaku?"
"Kami pikir mas sedang tidur. Tadi kedua bodyguard sudah mencegahnya namun Naura tetap saja pergi. Dia.....dia....."Regina nampak ragu menjawabnya. "Dia dijemput oleh Satria."
Tangan Wisnu terkepal dengan keras. Rahangnya bahkan mengeras. Ia segera menelepon Johan.
"Di mana kalian?" teriak Wisnu saat panggilan itu tersambung.
"Ada di depan rumah juragan."
"Mengapa kalian tak mengikuti istriku?"
"Kata nyonya Regina nggak perlu karena juragan pasti nggak akan perduli dengan nyonya ketiga lagi."
Wisnu menatap Regina dengan mata yang menyala. "Kenapa kau meminta bodyguard untuk tidak mengikuti Naura?"
"Aku pikir mas nggak mau lagi dengan perempuan murahan itu!" Kata Regina kesal.
"Iya, mas. Naura pasti sudah biasa melakukan itu. Dia kan gadis yang liar sebelum menikah dengan mas." sambung Indira.
"Liar katamu? Dia masih perawan saat menikah denganku." Sentak Wisnu marah membuat Indira dan Regina terkejut. Wisnu kemudian keluar rumah.
"Gading......!" teriaknya.
"Ya, tuan!" Gading mendekat.
"Periksa GPS ponsel Naura."
Gading mengangguk. Dulu, saat ia membeli ponsel Naura, ia memang memasang GPS khusus yang akan memudahkan mereka menemukan dimana ponsel itu berada. Pengaturannya ada di ponsel Wisnu dan juga ponsel Gading.
"Tuan, ponselnya ada di villa." kata Gading.
Wisnu mengarahkan kakinya menuju ke villa. Saat ia membuka pintu kamar, ia melihat ponsel itu ada di atas meja. Di atas ponsel ada kartu ATM dan kartu kredit yang pernah Wisnu berikan. Namun laptop dan buku Naura tak ada. Saat Wisnu membuka lemari pakaian, semua pakaian Naura yang Wisnu belikan masih ada di sana. Hanya baju yang Naura beli sendiri yang nampaknya sudah dibawa.
Wisnu mengambil ponsel dan kartu itu. Ia.kemudian keluar dari villa lalu menatap Gading yang berdiri di pintu masuk.
"Cari Naura, temukan dia!" ujar Wisnu dengan dada yang semakin terasa sesak. Wisnu tak menyangka kalau Naura akan pergi dengan Satria.
**********
Cemburu buta sangat menakutkan bukan?
Dan apakah benar Naura pergi dengan Satria?
Sampai jumpa ke episode berikut ya guys???
__ADS_1