
Setelah Gading datang membawakan obat, Satria memberikan beberapa untuk Naura minum setelah itu ia pun pamit pulang sambil berpesan kalau besok pagi ia akan datang untuk membawa Naura ke rumah sakit sehingga beberapa lebam di perut Naura bisa diperiksa.
Saat dokter Satria pulang, Regina dan Indira masih ada di kamar menemani Naura. Tak lama kemudian Hartono sang kepala desa datang ditemani asistennya Jupri. Sebenarnya Wisnu tak mengijinkan mereka menganggu istirahatnya Naura. Namun karena Naura sendiri yang bersikeras untuk menemui mereka, dengan berat hati Wisnu mengijinkan mereka masuk ke kamar Naura.
"Nyonya, apakah kau tahu siapa yang menculik mu?" tanya Hartono.
"Saya tak bisa mengenali mereka karena menggunakan penutup wajah. Namun saat mereka mengira kalau saya sedang pingsan, saya mendengar mereka berbicara ditelepon. Katanya ada dua orang yang menyuruh mereka. Selebihnya aku tak mendengar apapun. Saya hanya fokus untuk memikirkan cara bagaimana mengalahkan mereka."
"Nyonya katanya memukul mereka?" tanya Hartono lagi.
"Iya. Saat mereka jatuh saya langsung lari sekencang mungkin."
Hartono merasa kagum dengan Naura. Ia berhasil meloloskan diri dari serangan orang-orang yang menculiknya.
"Aparat desa sudah memeriksa tempat yang nyonya sebutkan. Itu adalah gubuk tua. Tak ada orang di sana namun mereka menemukan tali yang mungkin dipakai untuk mengikat tangan nyonya Naura dan sebuah topi. Besok pagi polisi akan datang. Juragan tenang saja, aku akan mengusut tuntas kasus ini sampai selesai." Kata Hartono sebelum pulang.
Wisnu menatap Naura dengan penuh kasih. "Ada sesuatu yang kau butuhkan lagi?" tanya Wisnu sambil memegang tangan Naura.
"Aku nggak mau tidur di sini, sayang. Aku mau tidur di kamarmu." Kata Naura dengan gaya manjanya.
"Baiklah. Tapi aku gendong kamu ke atas ya?"
"Ok." Naura tersenyum senang sambil melirik ke arah Regina dan Indira yang masih tetap ada di kamar itu.
Wisnu mengangkat tubuh Naura ala bridal style. Naura mengalungkan tangannya di bahu Wisnu. .
"Regina, Indira, kami ke atas dulu ya?" pamit Wisnu lalu segera melangkah ke luar kamar.
"Sialan! Mengapa dia masih bisa lolos?" bisik Regina menahan marah.
"Kita terlalu memandang rendah pada Naura. Siapa yang mengira kalau dia bisa beladiri?" Indira mengepal tangannya. Namun ia bersyukur karena Naura tak mengenali para penculik karena jika mereka tertangkap maka habislah ia dan Regina.
"Kita harus susun rencana lagi. Tapi kali ini dengan melibatkan si Hartono." kata Regina dengan senyum liciknya.
"Kenapa harus dengan kepala desa mesum itu?"
"Kau tak melihat caranya memandang Naura? Aku percaya kalau ia terobsesi dengan Naura. Hanya memandang Naura saja, aku melihat juniornya mengeras di balik celana jeans yang ia kenakan."
"Mba memperhatikan sampai ke situ?"
"Aku cukup tahu laki-laki mana yang tak bergairah dan mana yang sudah bergairah. Kita manfaatkan ketertarikan Hartono pada Naura untuk menjauhkan Naura dari mas Wisnu." ujar Regina lalu melangkah keluar dari kamar. Indira pun mengikutinya dengan patuh.
***********
Wisnu akhirnya bisa makan malam setelah Naura tertidur. Ia menghabiskan teh manis buatan Saima lalu segera kembali ke kamarnya.
Ada perasan damai dalam hatinya saat melihat Naura yang sudah tertidur nyenyak. Ia tadi ia ketakutan dan sangat frustasi karena Naura menghilang. Wisnu berjanji akan lebih ketat lagi menjaga Naura.
Ia pun masuk ke kamar mandi, untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai, perlahan Wisnu naik ke atas tempat tidur. Gerakannya membuat Naura membuka mata.
"Sayang, apakah aku membangunkan mu?" Tanya Wisnu sambil mendekat dan membelai wajah Naura dengan punggung tangannya.
"Aku masih takut, juragan. Rasanya seperti mimpi saja bisa ada di kamar ini." Ujar Naura dan tanpa di duga ia memeluk lengan Wisnu. Sebenarnya Naura sama sekali tak takut. Sejak dulu ia sudah terbiasa berkelahi dengan siapa saja. Namun Naura sedang memainkan caranya untuk mengambil 1 minggu jatah Indira. Karena sebenarnya, ketiga penjahat itu babak belur dipukuli oleh Naura. Ia bahkan berhasil membuat mereka mengaku siapa yang sebenarnya dalang dibalik penculikan ini. Namun Naura belum akan melaporkannya pada Wisnu karena ia ingin melihat, bagaimana rencana mereka untuk nya. Naura merasa tertantang ingin menggagalkan lagi rencana mereka.
Melihat bagaimana Naura yang begitu takut, dan bagaimana Naura memeluknya dengan erat membuat Wisnu menjadi semakin posesif kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Aku ada di sini. Aku akan menjagamu." Kata Wisnu lalu mencium puncak kepala Naura dengan sangat lembut.
"Terima kasih, sayang." kata Naura membuat hati Wisnu berbunga mendengar panggilan itu.
"Tidurlah." Kata Wisnu lalu menarik pundak Naura agar kepala istrinya itu berbaring di dadanya. Naura pun memejamkan matanya kembali. Ia tak bohong kalau ini. Pelukan Wisnu sangat menenangkannya.
***********
Keesokan paginya, Selesai sarapan, Satria datang menjemput Naura untuk ke rumah sakit. Tentu saja Wisnu tak mengijinkan mereka pergi sendiri. Ia ikut bersama dengan Naura.
Hasil rontgen menunjukan bahwa lebam yang ada di perut Naura tidak menyebabkan ada organ dalamnya yang terluka.
Setelah semua proses pemeriksaan selesai, begitu juga dengan laporan ke polisi selesai, Naura dan Wisnu kembali ke desa.
"Juragan, aku mau ke villa saja.' Ujar Naura membuat Wisnu hanya mengangguk dan segera menelepon Aisa menyiapkan kamar di villa.
Begitu mereka tiba di villa, Kumala ternyata sudah ada.
"Ibu, kenapa ke sini?.Ibu kan masih sakit." ujar Wisnu.
Kumala hanya tersenyum lalu menatap Wisnu dan Naura secara bergantian. "Saya sudah merasa agak baikan. Saya ke sini membawa obat ramuan untuk nyonya."
Ada perasaan senang di hati Naura saat mendengar perkataan Kumala. Ia pun meminum obat yang dibawa Kumala walaupun rasanya agak pahit.
Wisnu pamit sebentar untuk menengok pekerjaannya di ladang dan Kumala bersikeras menjaga Naura. Ia bahkan sempat makan siang bersama sebelum akhirnya kembali ke rumahnya saat hari sudah sore.
"Ra, jangan dulu melakukan pekerjaan apapun." ujar Wisnu mengingatkan. Ia masuk ke kamar dan melihat bahwa istrinya itu sedang mengerjakan sesuatu di lemarinya.
"Aku hanya mencari kaos ku yang agak besar supaya badanku akan terasa enak kalau memakai baju yang nggak ketat." Naura baru yang baru selesai membersihkan diri di kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk untuk melilit tubuhnya.
"Pakai punyaku saja." kata Wisnu lalu membuka pintu lemari yang satu dan mengambil kaosnya. Naura tersenyum mengangguk. Ia menerima kaos itu, meletakkannya di atas sofa lalu ia membuka handuk yang melilit tubuhnya. Wisnu langsung menelan salivanya melihat tubuh Naura yang polos. Ia terus memperhatikan dari Naura mulai mengenakan ****** ********, sampai akhirnya Naura menggunakan kaos dan celana panjang berbahan kain.
Naura mengangguk. Kaos Wisnu yang dipakainya tidaklah terlalu tebal sehingga puncak dadanya yang tidak dilapisi apapun tergambar dengan jelas.
Dalam hati Naura menahan tawanya melihat Wisnu yang kelihatan mulai tak bisa menahan hasratnya.
"Ki...kita makan malam? Regina dan Indira juga ingin makan malam bersama kita di villa."
"Sayang.....!" Naura menahan tangan Wisnu. Ia lalu memeluk Wisnu dengan erat. "Apakah kau tak merindukan bukit dan jalan menuju ke lembah?" tanya Naura lalu ia mencium leher Wisnu.
"Tapi Ra, badanmu kan masih sakit dan...."
Naura langsung mencium Wisnu dengan cepat sehingga perkataan pria itu tak bisa diteruskannya lagi.
"Aku mau sekarang!" bisik Naura tepat di depan wajah Wisnu saat ciuman mereka selesai.
"Tapi badanmu masih sakit kan?"
"Aku yakin juragan akan melakukannya dengan pelan." Naura melirik jam dinding. "Kita masih punya 15 menit sebelum jam makan malam."
"Kamu yakin, sayang? Aku takut menyakitimu. Aku memang sangat ingin menyentuhmu saat ini. Kau sendiri tahu bagaimana diriku begitu tergila-gila dengan tubuhmu."
"Ayo kita lakukan!" bisik Naura lalu kembali mencium Wisnu dengan mesra.
Wisnu menyambut ciuman istrinya dengan gairah yang sama. 5 hari setelah percintaan mereka di kota tentu saja membuatnya tak tahan untuk menyentuh istrinya itu.
__ADS_1
Regina dan Indira sudah ada di ruang makan villa dan mata keduanya tertuju pada pintu kamar utama. Ada suara-suara aneh yang terdengar di sana.
"Sialan...., apakah mereka bercinta di dalam?" tanya Indira geram. Ini adalah malamnya bersama Wisnu. Ia bahkan sudah mempersiapkan diri dari sore.
"Entahlah. Namun sepertinya iya. Mereka sedang bercinta. Cobalah lihat waktunya sudah hampir jam setengah delapan."
Aisa yang sedang mengatur makanan dapat mendengar pembicaraan istri pertama dan istri yang kedua walaupun mereka berbicara sambil berbisik.
Tak lama kemudian, Naura dan Wisnu keluar kamar. Naura dengan senyum manisnya menggandeng tangan Wisnu. Rambutnya diikat satu dengan sengaja karena ingin menunjukan bukti percintaannya bersama Wisnu yang tercetak jelas di leher jenjangnya.
Mereka pun makan malam bersama. Tak banyak percakapan yang tercipta. Sampai akhirnya mereka selesai makan dan Regina serta Indira kembali ke rumah utama.
"Juragan, kenapa belum pergi? Malam ini sudah jadwalnya mba Indira kan?" tanya Naura saat ia melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 10.malam
"Aku tak tega membiarkan kamu sendiri."
"Kan ada bi Aisa yang menjagaku." kata Naura sambil tersenyum.
"Tapi sayang...."
"Pergilah, juragan!" Naura mendekat, memeluk Wisnu dengan erat lalu mengecup bibir suaminya dengan sangat mesra.
"Pergilah! Mba Indira pasti sudah menunggu." Katanya lalu mendorong tubuh Wisnu perlahan.
"Tapi, telepon aku jika kau butuh sesuatu ya?"
Naura mengangguk. Wisnu pun melangkah dengan berat hati meninggalkan kamar untuk segera ke rumah utama.
2 jam kemudian.........
Indira nampak kesal karena Wisnu malam ini menolaknya dengan alasan sangat lelah. Pria itu bahkan sudah terlelap dalam mimpinya.
Tak lama kemudian ponsel Wisnu berbunyi dan membangunkan pria itu. Wisnu langsung mengangkatnya saat melihat nama Naura di sana.
"Sayang, aku nggak bisa tidur. Bayangan tiga orang yang menculik ku terbayang terus." rengek Naura dari seberang.
"Aku ke sana sekarang." Wisnu langsung memutuskan sambungan telepon dan turun dari tempat tidur."
"Mas, mau kemana?" tanya Indira.
"Kamu tidurlah! Aku mau tidur di villa. Naura nampaknya ketakutan dan masih trauma dengan peristiwa penculikan itu."
"Mas, inikan masih giliran ku! Mas sungguh tak adil."
"Lebih tak adil lagi kalau aku membiarkan Naura sendiri. Aku pergi dulu ya?" ujar Wisnu lalu segera meninggalkan kamar.
Indira berteriak kesal. Ia membuang semua bantal yang ada di atas ranjang. Awas kau Naura! Aku akan melenyapkan mu sekarang juga!
Sementara itu di villa, Naura dan Wisnu sedang berpelukan dengan mesranya di bawah selimut yang tebal. Tubuh keduanya polos karena mereka baru saja selesai bercinta. Wisnu tak dapat menolak sentuhan Naura yang dengan modus mengatakan ingin mengalihkan ingatannya dari peristiwa penculikan itu dengan bercinta. Tentu saja Wisnu tak bisa menolaknya.
Senyum kepuasaan di wajah Naura terlihat jelas saat merasakan bagaimana posesifnya Wisnu memeluknya. Maafkan aku, Indira. Penjahat yang kalian suruh menculik ku hampir saja memperkosaku. Jadi sebagai balasnya, aku mengambil malam mu untuk bersama Juragan.
"Tidurlah, sayang!" bisik Wisnu sambil semakin kuat menarik tubuh Naura agar menempel di tubuhnya.
**********
__ADS_1
Jahatkah Naura?
Maaf ya jika sikap Naura kali ini kesannya suka membalas dendam 🤔🤔😂😂🙏🙏