Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Kelahiran


__ADS_3

Wisnu berjalan bolak balik di depan ruang operasi. Tadi pagi, Naura harus masuk untuk persiapan operasi. Karena Naura tak kunjung mengalami kontraksi walaupun sudah genap bukan, makanya dokter menyarankan agar Naura dioperasi saja.


"Wisnu, nak, ayo duduk dulu." ajak Kumala.


Wisnu menatap mertuanya. "Aku tegang, Bu."


"Kenapa, nggak masuk saja?"


"Aku justru akan merasa lebih tegang. Makanya dokter menyarankan agar aku di luar saja."


Kumala akan bicara namun sudah terdengar suara tangisan bayi. Jantung Wisnu langsung berdetak penuh kebahagiaan. Tak berselang lama, terdengar lagi suara tangisan bayi selanjutnya. Wisnu semakin bahagia. Tanpa ia sadari dari air bening yang membasahi sudut matanya. Ia kini menjadi ayah. Walaupun ini bukan yang pertama karena ia dulu pernah juga menunggui Regina yang melahirkan, namun rasanya tentu saja berbeda. Ini adalah darah dagingnya. Dulu Wisnu justru menangis karena ingat kakaknya. Namun sekarang ia menangis karena tahu bahwa sebagian dari dirinya ada dalam kehidupan anak-anak nya.


"Tuan Furkan, mari silahkan melihat anak anda." kata salah satu perawat.


"Bagaimana istri saya?"


"Istri tuan baik-baik saja."


Tangan Wisnu bergetar saat pertama kali ia menyentuh tangan anak-anaknya.


"Ya, Allah. Mereka sangat cantik dan tampan." guman Wisnu dengan perasaan haru.


"Benar, tuan. Oh ya, nyonya Furkan tadi berpesan tuan mengazani si kembar di depan dia. Sebentar lagi nyonya akan selesai dan di bawa keluar."


Wisnu mengangguk. Ia menunggu saat Naura selesai dengan segala tindakan medis yang dilakukan kepadanya barulah ia melakukan tugasnya sebagai ayah.


Air mata keharuan nampak meleleh di pipi Naura saat melihat Wisnu mengazani kedua anak mereka. Naura merasa bangga bisa melahirkan anak-anak bagi Wisnu.


"Yang pertama adalah perempuan, engkau kunamai ELMIRA ADELIA FURKAN dan yang kedua adalah laki-laki. Engkau kunamai ERDANA ADELIO FURKAN. Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang kuat, taat beribadah, punya akhlak yang baik, dan bisa berguna bagi bangsa, negara dan agama. Kalian akan menjadi anak-anak yang memiliki cinta kasih yang tulus kepada siapa saja. Amin." Wisnu mencium dahi kedua anaknya secara bergantian. Setelah itu perawat membawa mereka ke kamar bayi.


Wisnu mendekati Mereka Naura. Di ciumnya dahi sang istri dengan hati yang bergetar. "Terima kasih sudah mau melahirkan anak-anak yang sangat tampan dan cantik itu. Kau melewati masa ngidam dan masa kehamilan yang tidak mudah. Aku bangga padamu karena kamu sama sekali tak mengeluh, sayang. Kau menjalaninya dengan sabar dan ikhlas."


"Aku bisa karena mas selalu ada untukku. Aku bisa karena mas melimpahkan aku dengan cinta dan kasih sayang. Aku bahagia mendapatkan suami seperti mas Wisnu. Aku yakin kita akan bisa membesarkan, mendidik dan mengurus anak-anak kita dengan baik, mas."


Wisnu kembali mencium dahi Naura. "Pasti sayang. Cinta kita akan membuat kita kuat dalam menjalani hari-hari ke depan."


"Lisa mana, mas?"


"Bi Aisa sedang menjemputnya bersama sopir. Namun ia mungkin akan pulang kembali karena besok, Regina akan menikah."


"Oh ya? Semoga ia bahagia dengan pernikahannya."


"Amin."


***********


Sebulan kemudian.....


Gading berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ibu mertuanya baru saja menelepon dia dan mengabarkan kalau Jeslin masuk rumah sakit dan akan segera melahirkan. Pada hal menurut perkiraan medis, masih 2 Minggu lagi baru Jeslin akan melahirkan makanya Gading masih diijinkan Jeslin untuk ke Bandung kemarin hari.


Jeslin sudah sebulan ini tinggal kembali di kota. Untunglah saat Gading pamit hendak mengurus proyek di Bandung, Jeslin pun menginap di rumah orang tuanya.


Saat Gading tiba di depan ruang bersalin, Elsa langsung meminta menantunya itu untuk masuk. Di klinik melahirkan ini, suami diijinkan masuk untuk mendampingi istri.


Gading masuk setelah mengenakan pakaian berwarna hijau.

__ADS_1


"Mas....!" Panggil Jeslin saat melihat Gading yang masuk.


"Aku di sini, sayang." bisik Gading sambil memegang tangan kanan Jeslin.


"Sakit, mas." rengek Jeslin.


Gading menatap dokter yang baru selesai memeriksa Jeslin. "Dok, apakah sudah dekat?"


"Mungkin sekitar 30 menit lagi. Nyonya, jangan dulu mengejan sebelum aku perintahkan ya?"


Jeslin mengangguk. Wajahnya sudah basah dengan keringat. Gading mengeringkan keringat di wajah Jeslin dengan tissue yang ada.


"Yang kuat ya, sayang. Aku tahu ini pasti sangat sakit. Tapi aku percaya kamu pasti bisa melakukannya."


"Iya, mas....!"


Sakit di perut Jeslin semakin bertambah. Gading dengan sabar menguatkannya. Sampai akhirnya tibalah waktu untuk melahirkan. Jeslin menjadi istri yang sangat kuat. Ia mengikuti semua petunjuk dokter dan bidan yang ada dan akhirnya, ia bisa melahirkan dengan selamat.


Suara tangisan bayi perempuan itu terdengar. Gading pun menangis haru.


"Selamat datang anak perempuan ku. Kau kunamai Mentari Maftania Gading Putri." ujar Gading setelah selesai mengazani anaknya.


Gading menamai anaknya Mentari karena ia ingin anaknya itu memberikan kehangatan kasih kemana saja ia pergi dan berada.


************


"Indira sudah kembali, sayang. Anaknya seorang laki-laki. Usianya sudah 6 bulan. Ia sudah menandatangani surat perceraiannya. Jadi kami akhirnya resmi bercerai." Kata Wisnu saat ia menemui Naura sepulang dari pabrik.


"Apakah ia memilih akan tetap merahasiakan siapa ayah dari anaknya?" tanya Naura sambil meletakan baby Er di ranjangnya lalu mengambil baby El untuk diberikan ASI.


"Aku senang semuanya sudah berjalan dengan baik, mas."


Wisnu memperhatikan Naura yang sedang menyusui anak perempuan mereka. "Tak terasa ya, mereka kini sudah berusia 10 Minggu."


"Alhamdulillah, mas. Mereka anak yang manis dan nggak cengeng. Aku bahagia mengurus mereka. Ibu Kumala juga selalu jadi nenek siaga."


Wisnu sabar menunggu sampai Naura selesai menyusui anak mereka karena ada sesuatu yang penting yang harus mereka bicarakan. Sebulan setelah melahirkan, Naura dan Wisnu memutuskan untuk kembali ke desa.


"Ada apa, mas?" tanya Naura setelah membaringkan putrinya di keranjang bayinya.


"Sayang, aku memutuskan untuk menerima permintaan penduduk desa ini untuk menjadi kepala desa di sini. Bagaimana menurutmu?"


"Aku setuju, mas. Aku pasti akan mendukungmu."


"Siap menjadi ketua tim penggerak PKK ?"


"Alhamdulillah siap, mas."


Wisnu menarik napas lega. Ia memeluk Naura dengan perasan haru.


"Terima kasih sayang."


"Aku senang kau mau mendengar permintaan penduduk desa ini, mas."


"Aku ingin membangun desa ini agar lebih maju, sayang."

__ADS_1


Naura mencium pipi suaminya. "Aku tahu kamu bisa, mas." Katanya lalu hendak berdiri namun Wisnu menarik tangan Naura sehingga istrinya itu jatuh ke pangkuannya.


"Mas....!"


"Sudah dua bulan lebih. Apakah aku sudah boleh menyentuhmu? Kangen nih....!"


"Ini kan masih sore, mas."


"Sore satu ronde nanti malam satu ronde lagi kalau si kembar nggak menganggu."


"Kamu masih mesum juga ya...."


"Harus mesum supaya Er da El cepat dapat adik." ujar Wisnu lalu mulai mencium.leher Naura


"Mas, Wisnu! Genit ah...." Naura berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya namun Wisnu sudah menggendong Naura menuju ke ranjang.


"Jangan berisik, nanti si kembar bangun." bisik Wisnu sambil membuka gaun yang dipakai Naura.


********


"Gayatri, maukah kau menikah denganku?"


Gayatri yang sedang membersihkan ruang praktek Satria terkejut dan menoleh ke arah Satria. "Dokter bercanda?"


"Aku serius."


"Tapi dokter orang kaya, saya orang miskin."


"Orang tuaku tak pernah mempermasalahkan soal perbedaan status sosial. Asalkan ia gadis yang Soleha, mereka pasti menyetujuinya."


Gayatri diam. Ia masih sock dengan permintaan Satria. Selama ini ia memang sudah diam-diam mencintai Satria namun tak berani berharap.


Satria mendekat. Lalu meraih tangan Gayatri dan menggenggamnya erat. "Aku yakin hanya kamu yang bisa membuat aku move on dari mas laluku. Hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia. Jadilah pendampingku dan aku siap menjadi imam mu."


"Dokter aku...."


"Orang tuaku akan datang melamarmu secara resmi besok. Namun aku harus pastikan dulu kalau kau akan menerimaku."


Gayatri menangis haru. "Dokter Satria..."


"Mas Satria..."


Gayatri tersenyum malu. "Mas Satria, aku bersedia."


"Alhamdulillah. Terima kasih, sayang." Satria mencium kedua tangan Gayatri dengan perasaan lega. Ia bahagia karena kembang desa ini mau menerimanya.


**********


Sudah siap untuk tamat kan?


jangan lupa dukung novel emak yang lain ya?


CINTA SANG PEMILIK TAHTA


besok sudah up yang pertama

__ADS_1


__ADS_2