Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Wisnu Sakit


__ADS_3

"Kamu tidak sedang bercanda kan, Ra?"


Naura menatap Wisnu dengan tajam. "Apakah aku terlihat bercanda? Aku hanya ingin merasa bebas. Menjadi istri ketiga mu, hidupku ada dalam masalah. Ada begitu banyak kebencian dan iri hati sehingga menyebabkan orang melakukan kejahatan. Aku ingin menyelesaikan kuliahku, menjadi wanita karir dan menikah dengan orang yang sederhana. Yang hanya akan setia pada satu pasangan saja."


"Tapi, Ra. Aku mencintaimu!" tegas Wisnu sedikit frustasi.


"Akankah juragan mencintaiku jika mba Dina masih hidup? Dapatkah juragan menikahi ku jika mba Dina masih ada? Nggak kan? Awal pernikahan kita, juragan mengakui menikahi ku atas permintaan kakek dan juga pernikahan ini sangat menguntungkan usaha juragan. Kini, disaat juragan sudah tahu perjodohan kita semenjak kecil, alasan itu akan juragan pakai untuk mempertahankan pernikahan ini. Lepaskan aku. Karena bukan aku yang juragan cintai. Jangan jalani hidup atas dasar janji pada orang lain. Seperti pernikahan juragan dengan mana Regina dan Indira." Naura memalingkan wajahnya.


"Ra, aku memang sangat mencintai Dina. Tapi tempat Dina secara perlahan telah diisi olehmu."


"Sudahlah juragan! Seperti yang kukatakan tadi. Aku nggak mau hidup di bawah bayang-bayang mba Dina." Kata Naura lalu naik ke atas tempat tidur setelah menaruh laptopnya ke atas meja. "Aku lelah. Aku ingin istirahat."


Wisnu ingin bicara lagi namun Naura terlihat sudah memejamkan matanya. Wisnu mendesah kesal namun tak mampu melakukan apapun. Saat ia menyadari bahwa napas Naura terlihat teratur, Wisnu menyadari kalau Naura benar-benar lelah. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju ke rumah utama di bukit.


Regina sedang duduk di ruang tamu saat Wisnu masuk ke dalam rumah.


"Mas!" panggil Regina ketika Wisnu nampak tak peduli dengannya dan akan menaiki tangga.


"Ada apa?" tanya Wisnu sambil menghentikan langkahnya.


"Kenapa hubungan kita menjadi seperti ini? Mengapa tak ada lagi rasa damai diantara kita? Aku dan Indira mungkin melakukan kesalahan karena begitu cemburu dengan Naura. Mas berubah setelah Naura masuk ditengah keluarga kita. Kenapa mas?"


Wisnu menatap Regina dengan wajah yang nampak bingung. "Aku hanya ingin istirahat, Regina. Biarkan aku tidur sebentar. Aku merasa pusing."


"Baiklah, mas. Aku tak akan mengganggumu. Aku ada di kamarku jika mas sudah siap berbicara dengan ku. Sebenarnya aku bersama Indira. Namun ia tak berani datang ke sini dia ada di rumah perkampungan. Apakah aku boleh mengajaknya ke sini?"


"Terserah!" kata Wisnu lalu kembali menaiki tangga. Sesampainya di kamar, Wisnu langsung mandi. Ia butuh menyegarkan pikirannya untuk mencermati apa yang Naura katakan tadi.


Apapun yang terjadi, Wisnu tak akan pernah menceraikan Naura. Sekalipun Naura memintanya berulang kali, Wisnu akan menemukan seratus macam cara untuk menolaknya.


Selesai mandi, Wisnu merasa badannya agak lemah. Ingin rasanya ia pergi ke villa dan tidur di samping Naura namun tenaganya bagai terkuras. Ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


*********


Aisa dan Mona sudah selesai mengatur makan malam di atas meja. Saima sedang mengantar makanan ke villa karena Naura tadi menelepon bahwa ia ingin makan malam sendiri di villa.


Indira sudah berada di rumah ini sejak 2 jam yang lalu. Kedua istri Wisnu itu sedang duduk di ruang tamu sambil menunggu Wisnu untuk turun dan makan malam bersama.


"Ini sudah hampir setengah delapan malam. Apakah aku harus memanggil tuan di kamarnya?" tanya Aisa sambil mendekati kedua nyonya itu.


"Apakah Naura tidak naik untuk makan malam?" tanya Regina.


"Nyonya Naura mau makan sendiri di bawah


Bi Saima sudah mengantar makan malamnya."


"Kalau begitu, biar aku saja yang memanggil mas Wisnu." Regina segera menaiki tangga menuju ke kamar Wisnu. Kamar yang sama sekali belum pernah dimasukinya karena selalu hanya ada Naura di kamar ini.


"Mas.....! Mas Wisnu saatnya makan malam, mas." kata Regina sambil mengetuk pintu.


Tak ada sahutan apapun. Regina memutuskan untuk masuk dan menemukan ruangan dalam keadaan gelap. Ia mencoba mencari saklar lampu dan berhasil menemukannya. Saat ruangan menjadi terang, Regina melihat kalau Wisnu terbaring di atas ranjang. Ia pun mendekat untuk membangunkan Wisnu. Tapi saat tangan Regina menyentuh tangan Wisnu ia terkejut merasakan panasnya kulit tangan Wisnu. Naura pun menyentuh dahinya dan merasakan bahwa di sana sangat panas juga.


"Mas...., mas Wisnu!" panggil Regina sambil menepuk pipi Wisnu namun pria itu sama sekali tak membuka matanya.


Regina langsung berlari ke arah pintu, berteriak untuk memanggil orang rumah karena ia tahu Wisnu sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Karena Regina tak membawa peralatan apapun ia meminta Gading untuk memanggil ibu bidan. Untunglah di sana ada Satria. Sebagai seorang dokter, Satria mengesampingkan rasa egonya dan datang ke rumah itu.


"Panasnya sangat tinggi. 40 derajat celsius. Kita harus membawanya ke rumah sakit." Kata Sakti selesai memeriksa Wisnu.


"Kenapa panasnya sangat tinggi?" tanya Regina heran. Selama menikah dengan Wisnu, ia tak pernah melihat Wisnu sakit. Wisnu adalah pria yang sangat menjaga kesehatan dirinya. Pola makannya sangat teratur dan ia sangat rajin berolahraga.


Akhirnya Wisnu di bawa ke rumah sakit dengan mobil yang dikendarai oleh Gading. Rumah sakit swasta yang ada di kecamatan. Sebenarnya Regina dan Indira ingin agar Wisnu dirawat di rumah sakit yang ada di kota namun karena kondisi Wisnu, untuk sementara mereka pun setuju Wisnu dirawat di sana.


Para medis langsung melakukan tugasnya. Sambil menunggu hasil pemeriksaan darah keluar, Wisnu di tempatkan dalam ruangan khusus. Wajah pria itu terlihat merah karena tingginya panas yang ia alami.


"Ra.....Naura.....!" Wisnu mengigau memanggil nama istri ketiganya itu. Satria yang sementara menuliskan hasil pemeriksaannya di buku cek list kesehatan sejenak menghentikan kegiatannya itu. Ia dapat melihat wajah istri pertama dan kedua pun nampak cemberut karena mendengar nama Naura yang berulang kali Wisnu panggil.


Di desa, Aisa segera memberitahukan Naura apa yang terjadi. Naura cukup terkejut mendengarnya namun ia tak mau hanyut dengan perasaan melancolis yang berlebihan.


"Jika nyonya mau pergi, para bodyguard sudah siap untuk mengantar nyonya."


"Aku tak akan pergi. Aku capek." Kata Naura dingin.


"Mungkin, juragan membutuhkan nyonya."


"Ada mba Regina dan mba Indira kan? Jadi aku nggak perlu khawatir. Lagi pula yang akan menjaga pasien hanya boleh 1 orang. Aku akan pergi besok saja."


Aisa terlihat terkejut mendengar perkataan Naura namun ia tak bisa membantahnya. Ia pun meninggalkan sang nyonya dan kembali ke rumah utama.


Naura menarik napasnya pelan saat Aisa pergi. Sisi hatinya yang lain mengatakan kalau ia harus pergi. Namun sisi hatinya yang lain juga menyarankan agar dia tak pergi. Naura tak ingin berhadapan dengan Regina dan Indira. Naura juga tak ingin ketemu Satria. Karena ia semakin memantapkan diri untuk berpisah dengan Wisnu.


**********


Pagi pun datang. Perlahan Wisnu membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya dalam keadaan diinfus dan sedang ada dalam ruangan serba putih. Ia juga melihat ada Regina dan Indira yang sedang tertidur di sofa yang ada dalam ruangan perawatan ini.


Apakah Naura tidak ada? Ataukah dia sudah pulang?


"Jam berapa ini?"


Regina menatap jam tangannya. "Setengah tujuh pagi. Mas butuh sesuatu?"


"Aku hanya ingin minum." ujar Wisnu.


"Aku akan ambilkan." Regina menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu membawanya ke hadapan Wisnu. Dengan bantuan Regina yang memegang punggungnya agar Wisnu bisa duduk sedikit, Wisnu menghabiskan seluruh air yang ada dalam gelas itu.


"Mas mau tambah lagi?"


Wisnu menggeleng. Ia pun berbaring lagi karena merasakan tubuhnya sangat lemas.


Indira pun terbangun. Agak ragu-ragu ia mendekat dan berdiri di samping tempat tidur.


"Mas, bagaimana perasaan sekarang ini?" tanya Indira dengan suara lembutnya.


"Aku hanya merasa lelah."


"Kata dokter lambung mas sedikit bermasalah dan mas kelelahan dan stres. Namun juta nasih akan menunggu hasil darahnya keluar hari ini." ujar Indira.


Wisnu hanya mengangguk lalu memejamkan matanya lagi. Bayangan wajah Naura kini melintas di kepalanya. Ia begitu merindukan istrinya itu dan berharap Naura ada di sini untuk menjaganya.


***********

__ADS_1


Naura akhirnya datang ke rumah sakit saat hari sudah menjelang sore. Ia datang karena Gading yang memaksanya.


Ketika ia membuka pintu ruangan perawatan Wisnu, Naura melihat kalau Regina dan Indira tak ada. Mungkin kedua perempuan itu sedang mandi atau makan.


Wisnu sedang tertidur dan Naura tak mau membangunnya. Ia memilih duduk di sofa sambil membuka majalah yang ada di atas meja.


Gading yang masuk bersama Naura membawakan baju ganti untuk Wisnu dan juga makanan yang disiapkan bibi Aisa untuknya.


Tak lama kemudian, Wisnu terbangun. Wajahnya langsung senang melihat kedatangan Naura. Gading memilih keluar kamar karena ia tahu kalau Wisnu sangat menantikan kehadiran Naura.


"Ra, kau datang?" tanya Wisnu.


"Ya." Jawab Naura lalu mendekati tempat tidur Wisnu. "Bagaimana keadaan juragan?"


"Sudah agak baik. Hasil pemeriksaan darahnya juga bagus. Aku hanya terkena bakteri dan sedikit radang usus karena kemarin aku tak makan sama sekali."


"Baguslah!" kata Naura sambil tersenyum.


Wisnu akan bicara lagi namun pintu ruangannya diketuk dan dokter Satria masuk bersama seorang suster.


"Naura....!" Satria tersenyum melihat Naura.


"Hallo, kak!" sapa Naura.


"Bagaimana kabarmu setelah penculikan itu?" tanya Satria lagi sambil membiarkan sang suster mengukur suhu badan dan tensi darah Wisnu.


"Alhamdulillah aku nggak apa-apa. Hanya beberapa luka gores saja."


"Tadi siang polisi memanggilku untuk di wawancara. Mereka sudah mulai menyelidiki kasus ini."


"Baguslah!"


Wisnu agak cemberut karena kedua orang itu bercakap-cakap dengan akrab dan Naura terlihat senang bersama Satria. Jujur Wisnu cemburu.


"Suhu tubuhnya masih 37,6 dok. Tensinya 100/80." lapor sang suster.


"Suhunya masih tinggi ya?" tanya Naura.


"Ya. Bakteri masuk ke tubuh tuan Wisnu karena ia tak makan dan imun tubuhnya menurun. Kami sudah memberikan antibiotik dan obat penurun panas. Mudah-mudahan besok panasnya sudah turun." Satria menatap Wisnu. "Semoga cepat sembuh tuan Wisnu." Ia kemudian menatap Naura. "Aku permisi dulu." Wisnu menepuk pundak Naura dan segera meninggalkan ruangan Wisnu.


"Ra, malam ini....."


Pintu dibuka lagi dan menghentikan kalimat Wisnu. Regina dan Indira masuk dengan rambut yang basah sebagai tanda bahwa mereka baru selesai mandi. keduanya nampak terkejut melihat Naura ada di sana.


"Mas, Lisa mau bicara. Ia Videocall kamu." Regina langsung memberikan ponselnya pada Wisnu.


Naura memilih untuk duduk di sofa. Kembali memegang majalah yang tadi dibacanya. Wisnu terdengar bahagia saat berbicara dengan Lisa.


Setelah Lisa mengahiri panggilan Videocall nya, Naura pun beranjak dari tempat duduknya.


"Mas, aku pulang ya? Kepalaku agak sedikit pening. Nanti aku balik lagi besok. Mba Indira, mba Regina, aku pergi ya?"


Kedua perempuan itu hanya mengangguk.


Wisnu tak berkata apapun. Ia sungguh kecewa bahkan teramat kecewa karena Naura meninggalkannya.

__ADS_1


*********


Duh, kok Naura tega banget ya? Kasihan babang Wisnu.


__ADS_2