Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Lisa yang Cerdik


__ADS_3

Naura menatap Lisa yang nampak begitu ingin agar agar Naura bisa memenuhi keinginannya.


"Lisa sayang, boleh nggak nanti berikut aja kita tidur bersama. Soalnya bunda belum mandi dan rumah ayah kan agak jauh dari sini nanti kita kemalaman sayang."


"Rumah ayah kan di sini." ujar Lisa.


"Di sini?"


"Ya. Tuh...!"Lisa menunjuk pintu yang ada di depan apartemen tempat Naura tinggal.


"Kalian tinggal di....." Naura tak meneruskan kalimatnya. Ia menatap Wisnu dengan tajam.


"Bunda jangan marah, ya. Kata ayah kita harus tinggal dekat bunda supaya jika kangen kita bisa lihat bunda dari jauh, bisa datang ke tempat kerja bunda dengan cepat. Iya kan ayah?" Lisa menatap Wisnu yang nampak salah tingkah. Sang juragan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mata Naura melotot ke arah Wisnu.


"Lisa sayang, bolehkah bunda berbicara sebentar dengan ayahmu?" tanya Naura.


"Tentu saja."


Naura menarik tangan Wisnu agak menjauh dari Lisa. Dengan suara pelan ia bicara. "Ngapain kamu tinggal di sini? Mau memata-matai aku?"


"Bukan, Ra. Aku hanya nggak bisa aja jika sehari tak melihat dirimu. Aku tinggal di sini karena ingin menjagamu dari jauh. Kamu seperti candu bagiku. Aku bisa gila jika tak mengetahui kabar dari mu, Ra."


"Gombal." Naura berusaha agar tak terpengaruh dengan kata-kata manis Wisnu.


"Jangan marah, Ra. Anggap saja aku ini seperti judul novel-novel yang ada. Tetanggaku canduku."


"Ih.... juragan, kamu kenapa jadi lebai begini?"


Wisnu tertawa. "Aku merindukan panggilan itu."


"Kamu....!"


"Bunda, masih lama bicaranya? Lisa sudah kepingin mandi."


Naura menatap Lisa. "Ya, sayang."


"Ayo kita ke apartemen." Kata Lisa menarik tangan Naura menuju ke apartemen Wisnu.


"Ayah, ayo buka pintunya." Lisa menatap Wisnu.


Wisnu menekan enam angka digital yang Naura tahu itu adalah tanggal pernikahan mereka. Saat pintu apartemen terbuka, Lisa langsung menarik tangan Naura ke salah satu kamar.


Naura pun memandikan Lisa sampai akhirnya, ia ikut mandi bersama Lisa di dalam bak mandi.


"Duh, bunda nggak punya baju ganti nih!" Ujar Naura yang sudah membungkus tubuhnya dengan Jubah handuk, demikian juga dengan Lisa yang sudah dibungkus dengan jubah mandi miliknya sendiri.


"Baju bunda ada kok di lemari." Ujarnya Lisa sambil keluar bersama Naura.


"Baju bunda ada di sini?" Naura jadi heran.

__ADS_1


"Iya. Kemarin saat jalan-jalan bersama ayah, Lisa melihat ada baju kembar untuk anak dan ibunya. Lisa meminta ayah untuk membelinya. Dan ayah membeli dua pasang."


"Bukankah baju itu lebih cocok digunakan oleh Lisa dan ibu Regina?"


"Nggak. Kata ayah itu lebih cocok untuk Lisa dan bunda Naura."


"Oh ya?"


Lisa meminta Naura membuka lemari yang ada di depan mereka. Di gantungan yang ada dalam lemari ada dua pasang gaun bermotif Hello Kitty dan Mini Mouse. Gaun berbahan kaos yang terlihat indah dan lucu.


Atas usulan Lisa, mereka memilih untuk memakai corak Mini Mouse hari ini. Gaun itu terlihat sangat cocok di badan mereka. Wisnu juga menyediakan baju dalam untuk Naura di dalam lemari.


Keduanya pun keluar kamar dengan gaun yang sama dan rambut basah yang tergerai panjang melewati bahu keduanya.


"Ayah, coba lihat penampilan kami." Seru Lisa.


Wisnu yang sedang menyiapkan teh hangat untuk mereka menoleh dan langsung tersenyum. "Cantik!" katanya sambil mengangkat kedua jempolnya.


Wajah Lisa langsung tersenyum bahagia. Ia menatap Naura yang berdiri di sampingnya. "Bunda Naura, kata ayah kalau kita berdua cantik kan? Sekarang, ayo kita berikan ciuman pada ayah yang sudah membelikan baju ini." Kata Lisa. Ia langsung melepaskan tangan Naura yang memegang tangannya. Berjalan mendekati Wisnu dan meminta ayahnya untuk berjongkok.


"Terima kasih ayah, sayang." kata Lisa lalu mencium pipi Wisnu secara bergantian kiri dan kanan. Ia kemudian menatap Naura. "Sekarang giliran bunda untuk mencium ayah."


"Tadi kan bunda sudah mencium ayah." kata Naura berusaha untuk menghindari kontak fisik dengan Wisnu.


"Tadi kan untuk membuktikan kalau ayah dan bunda nggak lagi marahan. Sekarang sebagai tanda terima kasih. Bunda kan selalu bilang kalau kita harus selalu berterima kasih pada orang-orang yang sudah berbuat baik pada kita."


Lisa, kamu kok pintar banget sih! Aku jadi serba salah gini. Gerutu Naura dalam hati.


Naura melangkah mendekati Wisnu. Entah kenapa jantungnya justru berdebar tak beraturan. Tatapannya bertemu dengan tatapan Wisnu.


Wajah Naura menjadi merah saat ia akhirnya mendaratkan bibirnya di pipi kiri dan kanan Wisnu.


"Nah, gitu dong. Sekarang kita masak untuk makan malam. Lisa sudah lapar." ujar Lisa sambil berjalan ke arah dapur.


Akhirnya mereka bertiga masak bersama. Ketika masakan hampir siap, Wisnu pamit untuk mandi.


Mereka pun makan malam bersama. Jeslin mengirim pesan bahwa ia tak akan pulang karena masih kangen dengan kedua orang tuanya.


Selesai makan, Naura membersihkan dapur sedangkan Wisnu pergi membuang sampah.


"Bunda, ayo tidur. Lisa sudah mengantuk." ajak Lisa.


"Sebentar, sayang. Bunda mau mengeringkan tangan bunda dulu." Kata Naura sambil mengeringkan tangannya dengan lap yang ada di sana. Wisnu pun sudah kembali dari membuang sampah.


"Ayah, ayo kita tidur." Lisa memegang tangan Naura dan Wisnu di sisi kanan dan kirinya. Mereka bertiga memasuki kamar. Lisa tidur di tengah-tengah sedangkan Wisnu ada di sebelah kanan dan Naura ada di sebelah kiri.


Wisnu membacakan cerita untuk Lisa. Naura pura-pura ikut tertidur karena sebenarnya ia agak risih berada di ranjang yang sama dengan Wisnu.


Tak lama kemudian, Lisa tertidur dan Naura juga ikut tertidur. Wisnu tersenyum senang melihat dua wanita yang sangat disayanginya itu. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh mereka bertiga. Wisnu pun ikut membaringkan tubuhnya. Ia bahagia. Walaupun ada Lisa diantara mereka, namun ia bahagia karena Naura akhirnya ikut tidur bersama mereka.


Menjelang subuh, Naura terbangun dari tidurnya. Ia merasakan ada sesuatu yang hangat pada tubuhnya. Ia membuka matanya perlahan dan terkejut melihat bahwa ia dan Wisnu sekarang saling berhadapan. Ia ada dalam dekapan pria itu.

__ADS_1


Di mana Lisa? Bukankah Lisa tadi ada di antara mereka?


Naura dapat merasakan hangatnya napas Wisnu yang menyapu kulit wajahnya. Untuk sesaat ia diam. Naura mengingat kembali malam-malam panas yang pernah mereka lalui bersama membuat bulu kuduk nya berdiri. Ia mengingat lembutnya bibir Wisnu yang menyentuh seluruh permukaan kulitnya. Jantung Naura mulai berdetak lebih kencang. Ia hampir saja kehilangan akal sehatnya dan ingin mencium bibir Wisnu yang sangat dekat dengan bibirnya.


Tidak....!


Naura bergerak menjauh dan membuat Wisnu terbangun. Ia terlihat juga sangat terkejut karena Naura sangat dekat dengannya.


Tatapan keduanya bertemu. Wisnu juga merasakan jantungnya hampir copot. Ia begitu merindukan momen seperti ini. Naura ada di ranjang yang sama dengannya dan ia bisa menyentuh lagi tubuh istrinya yang membuat Wisnu akan mendapatkan lagi kepuasaan batin. Bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhannya sebagai lelaki normal namun juga rasa damai yang selalu Wisnu dapatkan hanya saat ia melakukannya bersama Naura.


"Ra.....!" Wisnu menahan lengan Naura yang ingin menggeser tubuhnya untuk semakin menjauhi Wisnu.


"A...a...da apa?" Naura merasakan tenggorokannya menjadi kering.


"Aku rindu...." kata Wisnu sangat pelan. Ia mendekat, dan tanpa bisa Naura cegah, suaminya itu sudah berada di atasnya dan mencium bibirnya dengan sangat keras dan penuh kerinduan.


Di atas ranjang itu, dua tubuh yang saling merindukan itu kini mulai terbakar gairah. Ciuman mereka menjadi semakin panas dan gaun yang dipakai Naura sudah terangkat ke atas melewati pinggangnya.


Mereka berdua hampir saja melupakan keberadaan Lisa sampai akhirnya suara batuk gadis kecil itu membuat Naura tersentak kaget dan dengan cepat mendorong tubuh Wisnu yang ada di atasnya. Ia mencari sumber suara itu dan menemukan Lisa sedang tidur di atas sofa.


Dengan cepat Naura turun dari atas tempat tidur, dan segera mendekati Lisa. "Lisa sayang, kenapa tidur di sini, nak?"


Lisa membuka matanya. Ia perlahan bangun, sambil menggosok matanya dengan punggung tangannya. "Tadi ayah peluk Lisa, bunda juga peluk Lisa. Jadinya panas dan sesak. Lisa bangun saja dan tidur di sofa."


Naura melirik ke arah Wisnu yang berdiri di sampingnya. "Ayo kita bobo lagi sayang." kata Naura sambil memegang tangan Naura dan membawa gadis kecil itu kembali ke atas ranjang.


"Lisa bobo di pinggir, bunda di tengah dan ayah di sebelah bunda supaya Lisa nggak merasa panas lagi kalau di peluk sama ayah dan bunda secara bersamaan." kata Lisa lalu segera tidur di pinggir. Naura ingin protes namun melihat Lisa yang tertidur lagi ia tak tega membangunkannya. Ia pun membaringkan tubuhnya perlahan. Wisnu masih duduk di tepi tempat tidur. Naura menelan salivanya saat Wisnu perlahan membaringkan tubuhnya di sebelah Naura. Ia sendiri menarik napas panjang, berusaha meredam hasratnya yang belum juga hilang.


"Jangan macam-macam, juragan! Ada Lisa." Naura berbalik ke arah Wisnu dan memberikan tatapan tajam saat ia merasakan kalau Wisnu lebih mendekat ke arahnya.


Wisnu tersenyum. "Hanya mendekat, Ra. Soalnya dingin."


"Jangan memeluk ya?" Naura membesarkan bola matanya lalu segera berbalik ke arah Lisa. Wisnu mengangguk. Segini aja aku sudah puas, Ra. Walaupun sebenarnya sangat menyiksa.


***********


Jeslin dan Gading tertawa mendengar cerita Lisa.


"Jadi Lisa melakukan apa yang bibi Jeslin dan paman Gading ajarkan?" tanya Jeslin.


"Iya. Bunda Naura dan Ayah Wisnu tak bisa menolak semua yang Lisa mau. Semalam Lisa pindah saja ke sofa karena gerah dipeluk sama ayah dan bunda. Saat Lisa pindah, ayah dan bunda justru saling pelukan."


Tawa Jeslin semakin menjadi. Ia tahu kalau Naura sangat keras kepala, namun ia sudah bertekad untuk membuat Wisnu dan Naura baikan lagi. Untunglah Gading mau diajak kerja sama. Dengan bantuan Lisa, rencana Jeslin menjadi semakin lancar.


Naura yang sedang berada dalam toko, melihat ke arah dinding kaca. Hari ini Jeslin datang menemuinya dan kebetulan Lisa sedang berada di toko bersama Gading untuk membeli es cream. Ia penasaran apa yang membuat Jeslin tertawa. Namun ada rasa bahagia dalam hatinya melihat sahabatnya itu tertawa.


"Kita akan buat rencana apa lagi bibi Jeslin?" tanya Lisa membuat Jeslin menatap Gading. Cowok itu pun mengerutkan dahinya dan memutar otaknya agar mendapat ide yang cemerlang.


********


Apa yang akan Jeslin, Gading dan Lisa lakukan? Bagaimana juga kabar Regina dan Indira. Tunggu di episode berikut ya guys

__ADS_1


__ADS_2