
Banyak yang belum mengerti dengan istilah "Rahim Pengganti ya? Nih aku kasih tahu:
Bagaimana ibu pengganti/Rahim pengganti bisa hamil? Caranya adalah ibu pengganti dihamili melalui inseminasi buatan dengan ****** pasangan pria. Saat hamil, sel telur istri dan ****** suami menjalani fertilisasi in vitro, dan embrio yang dihasilkan dapat ditanamkan pada sang surrogate mother/ibu pengganti. Biasanya dalam prosedur yang dijalankan, ibu pengganti akan menyerahkan semua hak pada orangtua aslinya.
Naura tetap anak Aura dan Ardi namun dibesarkan di rahimnya ibu Kumala karena rahim Aura bermasalah. Aku sudah jelasin bahwa sifat tomboy, suka bela diri dan juga menari itu diturunkan dari ibu kandung Naura yaitu Aura yang kebetulan lahir dari kandungan Kumala.
sebenarnya Ardi sudah jatuh cinta dengan kesabaran Aura di 2 tahun pernikahan mereka, Ardi tak mempersalahkan apakah Aura hamil atau tidak. Cinta Ardi untuk Kumala sudah dikalahkan oleh kebaikan hati seorang gadis bangsawan yang sederhana seperti Aura.
Jadi Dina dan Naura mirip karena bapaknya sama yaitu Ardiansa. Namun Kumala juga sudah seperti ibu kandung Naura karena ia lahir dari rahim Kumala.
**********
Air mata Naura jatuh saat tahu yang sebenarnya. Bagaimana ia bisa lahir dan mengapa wajahnya mirip dengan Dina. Bagaimana sang kakek begitu kuat ingin menikahkan dia dengan juragan sekalipun tahu kalau Juragan memiliki 2 istri.
Mata Naura masih menatap rekaman itu.
"Cucuku, kakek tahu ini akan menyakitkan bagimu. Namun inilah jalan yang dipilih oleh ibumu sendiri. Ia begitu ingin memilikimu makanya segala cara ditempuhnya. Bukan salahnya juga memilih Kumala untuk menjadi rahim tempatmu tumbuh. Ia tak tahu tentang masa lalu antara papamu dan Kumala. Ia tahu justru di saat kau sudah berusia 13 tahun. jangan membenci papamu dan juga Kumala. Karena mereka tak pernah menjalin hubungan apapun semenjak ayah dan ibumu menikah. Kumala orang baik dan ayahmu juga orang baik. Takdirlah yang membuat kau dan Dina harus lahir dari rahim yang sama walaupun berbeda ibu."
Naura menekan tombol pause. Ia tak sanggup lagi mendengarnya. Ia dan Dina ternyata memiliki hubungan darah. Tumbuh dari beni Ardiansa, walaupun dari embrio wanita yang berbeda, namun berkembang di rahim yang sama yaitu rahim Kumala.
Dengan cepat Naura menghapus air matanya. Ia keluar kamar. Ia segera ke rumah atas. Mencari bibi Aisa. Wanita paru baya itu sedang membersihkan dapur.
"Bibi, boleh kita bicara?" tanya Naura.
Aisa mengangguk. Ia mencuci tangannya lalu duduk di depan Naura, di batasi oleh meja pantri yang ada.
"Ada apa, nona?"
"Kenapa bibi nggak pernah cerita siapa ibu Kumala? Bukankah aku lahir dari tangan bibi?"
"Nona...itu....."
"Jadi benar kalau aku lahir bukan dari rahim ibu Aura? Benar aku lahir dari rahim ibu Kumala? Benar juga kalau aku dan almarhumah Dina adalah saudara se-ayah?"
"Iya, non. Sebenarnya, sejak nona di dalam perut, nona sudah dilamar oleh juragan. Hanya saja, hubungan nona dan juragan terputus semenjak tuan Selim meninggal. Juragan justru jatuh cinta dengan Dina. Kumala sudah melarang hubungan mereka karena Kumala tahu bahwa nona lah yang sudah dijodohkan dengan juragan. Namun saat itu juragan dan Dina seakan sulit dipisahkan lagi. Mereka bahkan nekat menikah secara diam-diam di kota. Tuan Wisnu yang mendengar pernikahan mereka menjadi sangat kecewa. Namun dia tak bisa juga mempersalahkan nona Dina karena begitulah cinta anak muda. Saat mendengar kalau Dina meninggal karena sakit, tuan Wisnu selalu mencari cara bagaimana bisa mempersatukan kalian. Sampai akhirnya, juragan tertarik membeli perkebunan ini dan cerita selanjutnya nona sendiri yang sudah menjalaninya."
Dada Naura sesak oleh suatu rasa yang ia sendiri sulit untuk mengatakannya. Makanya ia pergi meninggalkan dapur. Hatinya saat ini ingin pergi ke kuburan keluarganya. Makanya Naura segera menuju ke garasi. Ia mengeluarkan sepeda motor Wisnu dan mengambil helm. Naura pergi ke kota.
********
"Tuan, nyonya pergi ke kota dengan motor." Wisnu yang baru saja bangun terkejut mendengar laporan Gading.
"Ada urusan apa Naura naik motor ke kota? Bagaimana jika para penjahat mengikutinya? Dan apa yang dilakukan oleh para bodyguard sehingga tak bisa mencegat Naura?"
__ADS_1
"Kejadiannya begitu cepat tuan. Para bodyguard sedang istirahat makan siang, dan nyonya tiba-tiba saja pergi. Namun mereka kini ada di belakang nyonya."
Tangan Wisnu langsung terkepal. Rahang nya mengeras. Naura, apalagi yang kamu lakukan?
"Gading, siapkan mobil. Ayo kita ke kota." perintah Wisnu lalu segera menuju ke wastafel, mencuci wajahnya sebentar.
"Tapi tuan belum makan." Gading mengingatkan.
"Kamu pikir aku bisa makan dalam keadaan seperti ini?"
"Lalu bagaimana jika nyonya Regina datang? Aku yakin kalau nyonya sebentar lagi akan sampai."
Wisnu yang sedang membasuh wajahnya dengan sebuah handuk kecil menatap ke arah Gading dengan tatapan jengkel. "Kamu sekarang bertambah cerewet, Gading!"
"Maaf, tuan!"
Mereka pun akhirnya berangkat ke kota. Saat akan meninggalkan desa, terlihat mobil Regina yang berpapasan dengan mobil mereka. Namun Gading memilih diam saja karena ia tak mau menganggu mood tuannya yang sedang tidak baik.
"Ganding, tanyakan kepada para bodyguard ada di mana istriku sekarang?" tanya Wisnu saat mereka hampir sampai di kota.
Gading pun segera menelepon.
"Katanya nyonya baru saja memasuki kompleks pekuburan mewah di heaven hills, tuan."
Akhirnya, mobil Wisnu pun berhenti di kompleks pekuburan itu. Ia dapat melihat motor yang di tumpangi Naura dan juga mobil bodyguard nya.
Kuburan kakek Zumi berdampingan dengan kuburan istrinya Liliana. Sedangkan kuburan kedua orang tua Naura berada tak jauh dari sana.
Wisnu melihat Naura sedang berjongkok di antara malam kedua orang tuanya dan menangis. Suara tangisannya terdengar sangat keras dan membuat hati Wisnu hancur.
Gading berdiri di antara bodyguard dan membiarkan sang tuan berjalan mendekati istrinya.
"Ra, sayang, ada apa?" tanya Wisnu sambil ikut berjongkok di samping istrinya. Naura menatap Wisnu sejenak, ia sama sekali tak terkejut melihat suaminya ada bersamanya. Ia tahu pasti para bodyguard yang mengatakannya.
Perlahan Naura menghentikan tangisnya. Ia sama sekali tak mau menangis di hadapan Wisnu. Ia menghapus air matanya sendiri lalu berdiri. Di ambilnya botol yang berisi air yang dibelinya sebelum memasuki makam ini, lalu ia mencuci nisan papa dan mamanya secara bergantian. Setelah itu, Naura kembali berjongkok. Ia mencium batu nisan ibunya. Ada air mata yang tercurah walaupun tanpa Isak tangis.
Ibu, terima kasih karena begitu ingin memilikiku. Kau membiarkan aku tumbuh di rahim wanita lain. Tapi, ayah adalah pria yang mencintaimu, aku percaya dengan apa yang diceritakan kakek. Tenanglah di atas sana, ibu. Aku sudah tahu cerita yang sebenarnya namun tak mengubah rasa sayang dan cintaku padamu.
Wisnu sangat penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya. Mulut Naura terlihat mengucapkan kata-kata namun sama sekali ia tak bisa mendengarnya.
Naura kemudian melangkah menuju ke kubur kakek Zumi dan nenek Liliana. Ia juga membersihkan nisan mereka. Setelah itu ia menatap Wisnu yang masih setia menemaninya tanpa bertanya apapun.
"Ayo kita pulang!"
__ADS_1
Wisnu mengangguk. Ia mengambil tangan Naura dan menautkan jari mereka. Naura membiarkan. Saat mereka sudah tiba di dekat mobil Wisnu, Naura menyerahkan kunci motornya pada Gading.
"Gading, kau bawa pulang saja motornya. Biar aku yang mengendarai mobilnya." Kata Wisnu dan Gading hanya bisa pasrah.
Saat mobil bergerak meninggalkan kompleks pekuburan itu, Wisnu pun bertanya, "Ra, kita di rumah kota saja ya?"
"Aku mau pulang ke villa. Ponselku tertinggal di sana." ujar Naura.
"Baiklah. Kita ke villa."
Sepanjang perjalanan ke desa Naura tak bicara. Wisnu juga tak mau berkata apapun. Ia membiarkan istrinya itu tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Mereka pun tiba di desa. Saat Wisnu membelokan mobilnya ke arah villa, ia dapat melihat mobil Regina sudah ada di garasi.
Naura turun dari mobil tanpa menunggu Wisnu membukakan pintu baginya. Ia masuk ke dalam villa dan segera membuka kulkas untuk meneguk segelas air putih.
"Ra, kamu mau cerita ada apa?" tanya Wisnu saat Naura sudah memasuki kamar mereka.
Naura mengeluarkan CD nya dari dalam laptop lalu memasukannya lagi ke dalam amplop nya.
"Maaf, aku tak sengaja menemukannya di laci meja kerja juragan saat mencari pulpen tadi." Kata Naura lalu menyerahkan amplop itu ditangan Wisnu. Ia sendiri kemudian duduk di atas sofa sambil memiringkan tubuhnya dan menatap keluar jendela. Hari sudah sore.
"Aku yang merekam ini untuk kakek. Kamu ingatkan, saat di rumah sakit dan aku begitu lama ada di ruangan kakek? Itulah yang kami lakukan bersama. Merekam ini untukmu." Kata Wisnu lalu ia mengambil tempat duduk di samping Naura.
"Lalu kenapa juragan tak langsung memberikan nya saat kakek sudah meninggal?"
"Aku bingung harus memberikan pada saat yang tepat itu, kapan? Makanya aku memilih untuk menyimpannya dulu dan ternyata kau sudah menemukannya."
Naura menatap Wisnu sejenak lalu kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
"Aku tak tahu takdir semacam apa yang sedang aku jalani sekarang. Aku sama sekali tak ingin menjadi istri ketiga namun ternyata kita sudah ada dalam hubungan perjodohan ini sejak aku dalam kandungan. Dan kalung ini ternyata adakah pemberian mu. Pantas saja kakek sangat marah saat aku mengatakan bahwa kalung ini hilang."
Wisnu mengambil kedua tangan Naura dan menggenggamnya erat. "Ra, aku akan membahagiakanmu. Apapun yang terjadi aku tak akan pernah melepaskan mu. Aku bahkan merasa kalau aku sudah jatuh cinta padamu."
Naura tersenyum sumbang. "Juragan, kau sendiri pasti sudah melupakan perjodohan diantara kita karena cintamu pada kak Dina. Nanti setelah kau mendengar cerita ini dari kakek barulah kau mengingatnya. Kau mencintai kak Dina dan bukan aku. Kau bahkan masih menyimpan semua fotonya. Baik di rumah bukit, di rumah yang ada di perkampungan dan rumah yang ada di kota. Kau masih rajin mengunjungi makam nya setiap bulan. Aku tak marah atau cemburu saat mengetahuinya karena memang perasaanku padamu hanya sebatas rasa hormat dan tanggungjawab sebagai seorang istri."
"Aku akan membuat kau jatuh cinta padaku, Ra. Dan soal Dina, aku memang masih menyimpan segala sesuatu tentang dia. Aku memang masih sering berada di ruang kerja ku dan memandang foto nya. Namun akhir-akhir ini, aku tak pernah lagi melakukannya. Karena aku tahu hati dan pikiranku hanya tertuju padamu." Kata Wisnu tanpa melepaskan tangannya dari tangan Naura."
"Jika aku tahu kalau kak Dina adalah kakakku, maka aku tak mau menikah denganmu sekalipun kakek mengancamnya. Karena aku tak mau ada dalam istilah turun ranjang. Aku mau pria yang menikahi ku tulus mencintaiku tanpa ada embel-embel kisah masa lalu apalagi persamaan wajah. Juragan mungkin akan bahagia dengan pernikahan ini. Namun aku tak akan bahagia. Aku tak mau hidup dibawa bayang-bayang Kak Dina. Aku tak mau berbagi apapun dengan wanita lain sepanjang hidupku. Karena itu, sebelum itu, aku akan melanggar janjiku pada kakek Zumi."
"Apa maksudmu, Naura?"
"Ayo kita berpisah."
__ADS_1
Wisnu terkejut. Ia merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. Apakah ia salah mendengarkannya?