Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Cerita Kakek Zumi


__ADS_3

Sepanjang hari, Wisnu tak bisa konsentrasi bekerja. Apa yang dikatakan oleh Naura saat di kamar tadi sungguh sangat mengganggunya. Naura tak ingin hamil karena merasa trauma. Ia juga tak ingin hamil karena masih menjadi istri ketiga? Haruskah Wisnu menceraikan Regina dan Indira?"


"Tuan, ada apa?" tanya Gading yang melihat Wisnu kurang konsentrasi hari ini. Keduanya sedang berada di ladang untuk memeriksa beberapa macam tanaman yang sudah mulai tumbuh lagi setelah panen beberapa minggu yang lalu.


"Ayo kita ke rumah saja. Aku capek." Kata Wisnu lalu segera melangkah diikuti oleh Gading. Keduanya menaiki motor masing-masing dan segera pergi ke rumah Wisnu yang ada di perkampungan.


Sesampai di rumah, Wisnu langsung mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya, lalu ia meminta pelayan membuatkan segelas kopi untuknya.


"Tuan, detektif yang kita sewa untuk mengawasi nyonya Regina baru saja melaporkan bahwa nyonya sedang menuju ke tempat ini."


Wisnu yang sedang memijit pangkal hidungnya nampak kaget. "Ada apa Regina ke sini?"


"Mungkin tuan lupa kalau ini masih gilirannya nyonya Regina."


Wisnu berdecak kesal. Ia benci dengan keadaan ini. Namun ia tak bisa begitu saja menghentikannya. Ia terikat janji.


"Lalu, dimana Naura."


"Kata para bodyguard, nyonya ketiga di dalam rumah saja. Ia memang tadi keluar menyapa para pekerja di kebun teh. Setelah itu masuk lagi ke dalam rumah."


"Baguslah." Wisnu meneguk kopinya sampai setengah gelas lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. "Aku ingin istirahat sebentar."


"Tuan mau aku siapkan makan siang di sini?"


"Tidak! Aku akan pulang. Namun biarkan aku beristirahat selama 1 jam."


Gading meninggalkan Wisnu sendiri. Ia pun segera ke dapur untuk membuat segelas kopi juga karena ia merasa mengantuk.


*********


"Bibi, lihat pulpen? Aku ingin menulis resep kue yang ku lihat di TV." kata Naura saat masuk ke dapur.


"Pulpen nya ada di dalam ruang kerja juragan. Nyonya mau aku ambilkan?" tanya Saima


"Biar aku saja, bi." Naura berjalan ke ruang kerja Wisnu. Boleh dikata, ia jarang sekali memasuki ruangan ini. Mungkin ini kali kedua ia masuk ke sini.


Setelah membuka pintu bercat coklat itu, Naura masuk sambil kepalanya langsung dipenuhi dengan memori masa kecilnya. Ia ingat ruangan ini juga adalah ruang kerja sang kakek.


Tak ingin berlarut dalam kesedihan saat mengingat kakek nya, Naura segera mencari pulpen. Ia membuka laci meja kerja Wisnu dan menemukan pulpen di sana. Ia akan menutup lagi laci itu saat matanya menatap sebuah foto berukuran 5R. Foto perempuan cantik. Naura mengenalnya. Ini Dina, istri pertama dan cinta sejati Wisnu. Naura tersenyum menatap foto itu. Mba Dina sangat cantik. Pantas saja juragan tak bisa melupakan mba walaupun sudah lama meninggal.


Saat Naura akan meletakan kembali foto itu di laci, mata Naura kembali melihat sebuah amplop warna putih.

__ADS_1


Untuk Naura Cucuku.


"Apa ini?" Naura membalikan amplop itu. Nampaknya sebuah surat Itu adalah tulisan tangan Kakek nya. Naura membuka amplop itu. Ada sebuah kaset CD di dalamnya. Penasaran, Naura membawa CD itu ke villa. Ia memasukan CD itu ke dalam laptopnya, dan terkejut saat tahu kalau itu rekaman dari sang kakek.


"Hai cucuku, jika kamu melihat CD ini, itu berarti kakek sudah meninggal. Jangan sedih. Hidup harus tetap berjalan. Kakek juga tidak tahu kapan Wisnu akan memberikan rekaman ini padamu. Karena kakek berpesan, berikanlah rekaman ini disaat yang tepat. Kalau Wisnu sudah memberikannya padamu, berarti ini adalah saat yang tepat."


Demikianlah cerita sang kekek.......


***********


Ardiansah Bragmanto, adalah pria tampan, anak tunggal dari pengusaha sukses bernama Zumi Bragmanto. Ia lulusan universitas Amerika namun sangat rendah hati dan tidak sombong.


Saat kuliahnya selesai, Ardi, demikianlah ia biasa di sapa, langsung membantu ayahnya. Ia bahkan tak segan-segan datang ke desa, untuk melihat perkebunan teh dan tinggal di villa milik keluarganya.


Suatu malam, Ardi melihat pertunjukan tari di sebuah perayaan pesta pernikahan. Matanya langsung terpana melihat wajah cantik salah satu penari yang sangat menarik perhatiannya. Setelah ia bertanya, akhirnya ia tahu nama gadis itu adalah Kumala.


Sejak malam itu, Ardi secara diam-diam berusaha mendekati Kumala. Ia selalu mencari tahu apa kegiatan gadis itu dan berusaha menarik perhatian Kumala. Sampai akhirnya, di suatu sore, saat ia berhasil mencegat Kumala yang baru pulang dari sungai selesai mencuci, Ardi menyatakan perasaannya.


"Aku mencintaimu, Kumala. Maukah kau menjadi pacarku?"


Kumala terkejut. Ia memang tahu selama ini Ardi selalu memperhatikannya. Namun ia tak pernah menduga kalau putra pemilik perkebunan teh itu menyukainya.


"Tuan, kau tak boleh jatuh cinta padaku. Aku hanyalah rakyat jelata. Hubungan kita tak mungkin mendapat restu dari orang tua, tuan."


Kumala menolak Ardi. Namun dari hari ke hari, Ardi tak pernah menyerah mengejar cinta Kumala. Walaupun Kumala sudah mengatakan kalau ia berpacaran dengan Hasan, kakaknya Hartono (sang Kades).


Sampai di suatu hari, pertahanan Kumala akhirnya runtuh. Ia mengakui ketangguhan Ardi dalam mengejar cintanya. Kumala yang saat itu masih berusia 21 tahun dan merupakan kembang desa, akhirnya jatuh dalam pesona sang pemuda dari kota. Mereka diam-diam pacaran. Tak ada seorang pun yang tahu kecuali Aisa, pembantu di rumah keluarga Bragmanto yang usianya hampir sama dengan Kumala.


Liliana Bragmanto yang akhirnya mengetahui hubungan mereka, segera mendatangi Kumala. Ia tak mau ribut. Hanya saja secara diam-diam meminta agar Kumala meninggalkan Ardi karena anaknya itu sudah dijodohkan dengan orang lain.


Kumala sebenarnya ingin meninggalkan Ardi dengan pergi secara diam-diam ke kota. Namun, saat tahu kalau dirinya hamil, Kumala menjadi bingung. Ardi juga yang tahu kalau Kumala hamil, segera memberitahukan kepada orang tuanya. Liliana tetap tak menerimanya. Ia tak mau sampai perjodohan itu dibatalkan karena akan mencoreng nama baik keluarga. Akhirnya, Zumi mengambil jalan tengah. Ardi diijinkan untuk menikah siri dengan Kumala tanpa diketahui oleh siapapun. Namun jika anak itu sudah lahir, Ardi harus menikah dengan gadis yang telah dijodohkan dengannya semenjak ia kecil. Gadis dari keluarga yang sama dengan mereka.


Ardi tak setuju namun Kumala setuju. Namun dengan satu syarat, ia tak akan menyerahkan anak itu pada keluarga Bragmanto karena ia akan mengurusnya sendiri.


Hasan yang sangat mencintai Kumala menjadi setres saat Kumala menghilang dan dikabarkan hamil. Dalam keadaan kecewa, Hasan menikahi seorang gadis dari desa seberang. Namun Hasan tak mencintai gadis itu. Apalagi saat mendengar kalau Kumala sudah kembali dengan membawa seorang anak, Hasan kembali mengejar Kumala. Namun Kumala tak mau meladeni Hasan. Bertahun-tahun lamanya Hasan hidup dalam rasa depresi karena cintanya yang tak terbalas. Akhirnya Hasan mati karena keracunan alkohol. Tanpa ia ketahui, kalau istrinya sedang hamil dan melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Wina. Waktu anak itu lahir, Dina telah berusia 7 tahun.


Kumala yang telah melahirkan seorang anak perempuan, saat itu kembali ke desa. Dina Anjani adalah nama yang diberikan Ardi untuk anak itu. Kumala kembali ke desa dan meminta Ardi agar tak menganggu hidupnya lagi.


Sebagai bentuk tanggungjawab pada Kumala, Zumi membelikan sebuah rumah sederhana dan memberikan modal bagi Kumala untuk melanjutkan hidupnya. Zumi bahkan secara diam-diam masih sering bertemu dengan Dina, melalui Aisa yang akan membawa Dina ke rumah bukit.


Enam bulan setelah Kumala melahirkan, Ardi pun menikah dengan gadis yang dijodohkan oleh orang tuanya. Gadis dari keluarga kaya dan masih berdarah bangsawan. Ardi sama sekali belum bisa melupakan Kumala. 2 tahun pertama pernikahannya dijalaninya dengan hampa. Ia sama sekali tak pernah menyentuh istrinya itu yang bernama Aura Lindani.

__ADS_1


Aura adalah gadis yang sedikit tomboy dan jago bela diri. Namun ia juga suka menari. Ia tetap menjalani perannya sebagai istri yang baik sekalipun tahu Ardi tak mencintainya. Sampai akhirnya, kebaikan hati Aura mulai meluluhkan Ardi. Dan Ardi pun mulai menjalani kehidupan pernikahannya secara benar.


Di usia pernikahan mereka yang ke-8, Aura belum juga hamil. Berbagai usaha sudah mereka lakukan namun tak membuahkan hasil. Ardi tak mempermasalahkan itu namun Aura ingin sekali agar ia bisa hamil. Dokter menyarankan bahwa mereka masih bisa mempunyai keturunan dengan meminjam rahim orang lain karena rahim Aura bermasalah .


Aura pun pergi ke desa. Ia sebenarnya ingin menenangkan hatinya di sana. Sampai akhirnya Aura ketemu Kumala yang sedang mengajar tari pada anak-anak. Aura menjadi dekat dengan Kumala tanpa tahu kalau anak Kumala adalah anaknya dari suaminya. Dan entah bagaimana mula nya, Aura justru meminta Kumala untuk meminjam rahimnya agar anaknya bersama Ardi dapat tumbuh. Walaupun Ardi dan Zumi melarangnya, namun Aura tetap pada keinginannya. Dia ingin seorang wanita sederhana yang akan menjadi tempat anaknya tumbuh dalam kandungannya.


Liliana yang saat itu harus berobat di Amerika karena sakit yang dialaminya, tak pernah tahu dengan proses kelahiran anak Aura dan Ardi. Kumala akhirnya setuju karena Ardi sendiri yang meminta padanya. Demi kebaikannya, Kumala diminta untuk tinggal di villa dan Aura berpura-pura hamil untuk mengelabui orang lain.


Sampai suatu hari, Aura yang sedang berpura-pura hamil itu kedatangan tamu. Tuan Selim dan cucunya yang bernama Wisnu.


"Bibi, apakah ini bayi perempuan?" tanya Wisnu sambil memegang perut Aura yang sebenarnya hanya berisi bantal.


"Iya. Dokter mengatakan kalau dia seorang perempuan."


"Apakah dia akan secantik bibi saat lahir?"


"Mungkin dia akan lebih cantik dari bibi. Memangnya kenapa?"


"Apakah jika aku dewasa nanti bibi akan mengijinkan aku untuk menikah dengannya?"


Aura tersenyum. "Jika kau mau mencintainya dengan tulus, akan bibi ijinkan."


Ketika Wisnu dan kakeknya pulang, Aura langsung pergi ke vila. Ia memegang perut Kumala yang sudah memasuki usia kehamilan ke-7 bulan.


"Sayang, ada seorang anak laki-laki yang sudah melamarmu. Mama suka dengannya. Mama rasa dia akan menjadi pendampingku yang sejati." Kata Aura sambil terus mengusap perut Kumala.


"Siapa dia, nyonya?"


"Namanya Wisnu. Cucu tuan Selim Furkan."


Kumala saat itu hanya bisa mengangguk. Ia berharap agar anak ini bisa menjadi anak yang membanggakan.


Akhirnya tibalah waktunya Kumala untuk melahirkan. Ia hanya melahirkan di villa saja dan didampingi oleh Aisa. Anak itu lahir dengan selamat dan langsung di bawa ke kota keesokan harinya. Anak perempuan yang sangat gemuk dan sehat. Di beri nama Naura Kiana Bragmanto Putri.


Beberapa waktu kemudian, Wisnu kecil kembali datang bersama kakeknya. Memberikan sebuah hadiah berupa kalung berliontin bunga matahari. Kalung yang sejak Naura kecil tak pernah dilepaskan dari leher Naura. Namun, Wisnu kecil jarang ketemu Naura. Ia lebih senang berada di desa dan bermain dengan Dina. Apalagi ketika kakek Selim meninggal, Wisnu bahkan melupakan janjinya untuk menikahi Naura. Wisnu jatuh cinta dengan Dina yang sebenarnya adalah kakak Naura.


Di hari kecelakaan Ardi dan Aura, saat usia Naura masih berusia 13 tahun, Aura sebenarnya baru tahu kebenarannya bahwa Kumala adalah wanita dari masa lalu Ardi. Walaupun Ardi sudah menjelaskan bahwa ia sama sekali tak pernah berhubungan lagi dengan Kumala, Aura yang sudah dibakar cemburu terus menumpahkan kemarahannya di sepanjang perjalanan mereka menuju ke kota.


Kecelakaan itu pun terjadi. Ardi meninggal di tempat, sedangkan Aura masih sempat dirawat selama 3 hari. Ia sendiri yang meminta pada kakek Zumi untuk menceritakan tentang proses kelahiran Naura dan meminta kakek Zumi untuk tetap menikahkan Naura dengan Wisnu.


***********

__ADS_1


Bagimana reaksi Naura saat mengetahui kebenaran tentang masa lalunya?


__ADS_2