
Tanpa sepengetahuan nyonya Elsa, Jeslin dan Naura, Surya Suratinojo ikut membiayai pernikahan itu. Awalnya Gading menolak. Ia merasa bahwa ia masih bisa membiayai pernikahannya walaupun harus menguras hampir sebagian besar tabungannya. Bagi Gading, uang bisa dicari lagi. Asalkan ia bisa menikah dengan Jeslin. Namun, papa Jeslin berpendapat bahwa ia juga ingin membiayai pernikahan anaknya karena pesta dengan konsep mewah seperti itu hanyalah keinginan istrinya yang memang sudah lahir dan besar ditengah keluarga yang kaya raya.
Selama ini, ada begitu banyak gadis yang coba mendekati Gading. Namun hanya Jeslin yang mampu membuatnya membuka hati dan berjuang untuk mendapatkan hubungan yang resmi. Gading bisa saja tak menikahi Jeslin. Toh Jeslin tak menuntut apa-apa. Namun Gading merasa ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya ingin mengikat hubungan mereka dalam pernikahan. Dan kini Gading tahu itu adalah cinta.
Sementara Jeslin sibuk dengan urusan persiapan pernikahan, Naura sibuk dengan persiapan acara wisudanya.
Ia sudah berhenti bekerja saat tahu kalau Wisnu merupakan salah satu pemegang saham di minimarket tempatnya bekerja.
"Kamu keterlaluan juragan. Selalu ikut campur dalam urusan kehidupanku." Kata Naura saat hari itu ia mengetahui mengenai keberadaannya di terima kerja karena ada campur tangan Wisnu.
"Sayang, kamu kan istriku, masa sih aku nggak masuk campur?"
Naura masih pura-pura memasang tampang cemberut namun akhir-akhir ini hatinya selalu bergetar setiap kali mendengar Wisnu memanggilnya sayang.
"Sayang masih marah?" tanya Wisnu sambil memeluk Naura dari belakang. Ia rindu pada istrinya ini karena Wisnu baru saja pulang dari Bandung. Selama 5 hari di sana, ia dan Gading menyelesaikan proyek mereka di sana karena Gading ingin konsentrasi pada urusan pernikahannya dan membantu Jeslin menyelesaikan tugas akhirnya.
"Tentu saja. Aku baru menerima gaji pertamaku. Rasanya sangat menyenangkan saat melihat SMS banking yang memberitahukan gajinya sudah masuk ke rekeningku. Itu adalah hasil pertamaku.Rasanya menyenangkan sekali."
"Tapi aku kan memberikan kamu uang bulanan juga."
"Tapi kan yang juragan berikan adalah hasil kerja juragan. Bukan hasil kerjaku."
Wisnu meletakan dagunya di pundak Naura. "Siapa bilang uang itu aku berikan tanpa ada hasil usahamu?" Satu ciuman lembut Wisnu berikan di bahu Naura. "Kau sudah membuat aku semangat bekerja. Bersamamu selama beberapa bulan ini, aku sudah mendapatkan 2 kontrak besar untuk pekerjaan dengan nilai miliaran rupiah." Wisnu memberikan dua kecupan di bahu Naura. "Kamu telah membuat Lisa bahagia walaupun aku dan mamanya bercerai. Dan kamu juga telah melayani aku dengan menyiapkan keperluanku, walaupun tak setiap hari karena ada acara melarikan diri, namun itu sudah membuatku bahagia. Apalagi urusan ranjang, kau sangat memuaskan ku. Kepuasaan yang tak pernah aku dapatkan dari wanita manapun." Wisnu memberikan banyak kecupan di bahu Naura.
"Juragan....!" Naura mulai tak konsentrasi. Ia mau melepaskan diri dari Wisnu namun suaminya itu dengan cepat menarik kembali tubuhnya. Ia membalikan tubuh Naura sehingga keduanya kini saling berhadapan. "Aku kangen, Ra. Semenjak kamu datang bulan, aku dibiarkan."
Naura tertawa setiap kali memandang wajah Wisnu yang cemberut. "Bukan sengaja membiarkan, namun memang nggak bisa kan? Saat aku selesai, juragan harus ke Bandung."
"Jadi sekarang sudah bisa?" tanya Wisnu dengan tatapan menggoda.
"Masih sore."
"Lisa kan sedang bersama Regina. Jadi aman." Wisnu mulai mencium pipi Naura.
"Nanti ada yang mencari."
"Kita pura-pura saja sedang tidur sore." imbuh Wisnu sambil terus mencium wajah Naura sementara tangannya membuka kemeja yang Naura kenakan.
"Juragan.....!" Naura semakin gelisah. Ia juga merindukan sentuhan suaminya.
Kemeja Naura jatuh ke lantai. Kini giliran Naura yang membuka kemeja yang Wisnu pakai.
Setelah itu keduanya langsung saling berciuman dan melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Untuk selanjutnya hanya ada suara deru napas dua anak manusia yang saling menuntaskan hasrat.
************
2 jam kemudian......
Wisnu duduk sambil bersandar di kepala ranjang dan Naura berbaring di dadanya.
"Ra, nggak usah lagi bekerja ya? Kamu di sini saja bersamaku. Pekerjaanmu hanyalah menemaniku dan melayani aku."
"Dasar mesum!" Naura mencubit dada Wisnu dengan gemas.
"Aow...., sakit sayang."
"Rasakan!"
Wisnu mencium kepala Naura lalu membelai punggung polos istrinya itu. "Ra, jangan panggil aku juragan lagi ya? Masa sama Gading kamu memanggilnya mas Gading lalu ke aku dipanggil juragan."
__ADS_1
"Ih....cemburu ya sama mas Gading?"
"Sedikit."
Naura tertawa. Wisnu jadi gemas. Ia mencubit pipi Naura pelan. "Aku pernah dengar kalau kamu pernah bilang ke Jeslin bahwa Gading itu tampan."
Tawa Naura terdengar lagi. Ia menjauhkan dirinya dari Wisnu, menahan selimut di dadanya dan menatap suaminya itu. "Mas Gading memang lebih tampan sedikit darimu mas Wisnu."
"Tuh kan....!" Wisnu mengerucutkan bibirnya.
"Namun mas Wisnu lebih tampan 1000 kali dari mas Gading. Di mataku dan di hatiku."
Ucapan Naura membuat Gading tersenyum. "Benarkah?"
Naura mengangguk.
"Ra, apakah kamu sudah mencintaiku?" tanya Wisnu sambil memajukan badannya.
Naura menggeleng sambil tersenyum.
"Jangan mempermainkan aku, Ra. Aku selalu menanti hari dimana kau akan mengatakan kalau kau mencintai aku juga. Kedekatan kita bukan hanya sekedar urusan ranjang tapi juga perasaan." Wisnu kembali mendekat.
Naura kembali mundur. Lalu tangannya mengambil sebuah undangan dari atas nakas.
"Ini. Undangan wisudaku. Mas Wisnu hadir ya?"
"Kenapa aku harus hadir? Kamu kan tidak mencintaiku." kata Wisnu sambil membuka undangan itu dan membacanya. Ternyata 3 hari lagi Naura akan diwisuda.
"Mas Wisnu istimewa."
"Apanya yang istimewa?"
"Ya...., istimewa saja." Naura menjawab asal.
"Jelaskan apa yang kau maksud dengan istimewa?" tanya Wisnu sambil menatap Naura dengan intens. Wajah mereka begitu dekat.
Naura terdiam. Ia hanya memandang Wisnu tanpa bicara membuat Wisnu semakin penasaran.
"Ra, kalau kamu nggak jelaskan, aku akan menghukum mu!" Suara Wisnu terdengar penuh ancaman.
"Apa hukumannya?"
"Aku akan mengajakmu bercinta dua ronde lagi sehingga genap 5 untuk hari ini."
"Kalau begitu, aku memilih untuk dihukum." bisik Naura dengan suara manja dan menggoda.
"Kamu.....!" Wisnu akan mencium Naura namun istrinya itu menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan membuat Wisnu semakin gemas. Karena tak berhasil mencium bibir Naura, Wisnu mencium leher Naura. Lalu semakin ke bawah. Semakin ke bawah.
"Mas....!" Naura mulai terbakar gairah.
"Ayah......! Bunda.....!" Terdengar suara Lisa sambil mengetuk pintu. Naura dan Wisnu terkejut. Kenapa Lisa pulang hari ini? Bukankah nanti besok jadwalnya untuk pulang?
Tanpa di komando, keduanya langsung turun dari atas ranjang dan mengenakan pakaian mereka.
"Iya. Sebentar sayang...."Teriak Wisnu agak keras karena kamarnya ini memang kedap suara. Ia berharap agar Lisa boleh mendengarnya.
"Pintunya di kunci mas?" tanya Naura.
"Kayaknya....."
__ADS_1
"Hallo.....!" Lisa membuka pintu dan langsung masuk. Ia berlari dan langsung memeluk Wisnu. Pria itu langsung berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka.
"Kangen sama ayah." ucapnya sambil mencium pipi Wisnu berulangkali.
"Kok pulangnya sekarang? Bukankah nanti besok?" tanya Wisnu sambil mengacak rambut Lisa. Ia kembali berdiri.
"Aku tadi telepon. Kata bibi Saima, ayah sudah pulang. Aku minta ijin sama ibu untuk pulang ke sini. Kebetulan ibu mau keluar rumah. Jadi sekalian ibu antar ke sini." Kata Lisa sambil tersenyum. Namun senyumnya menjadi hilang. Ia mundur beberapa langkah, menatap Naura dan Wisnu secara bergantian dan tak lama kemudian tawanya langsung pecah.
"Ada apa sayang?" tanya Naura bingung.
"Mengapa ayah memakai kemeja bunda dan bunda memakai kemeja ayah? Kan jadinya lucu. Kemeja bunda kekecilan di badan ayah. Sampai nggak bisa di kunci. Kemeja ayah kebesaran di pakai bunda. Di kancingnya juga nggak rapih."
Naura dan Wisnu memandang kemeja mereka masing-masing. Wajah keduanya menjadi merah.
"Kok ketukar sih? Lagi main perang-perangan ya?"
"Iya sayang. Tadi kami tukaran baju untuk mengelabui musuh." Jawab Wisnu asal.
"Terus musuhnya mana?" tanya Lisa sambil melihat seluruh ruangan.
"Musuhnya sudah kabur saat mendengar Lisa datang." kata Wisnu membuat Lisa mengerutkan dahinya. Pandangannya ke arah pintu balkon yang memegang agak terbuka.
"Makanya, pintu dan jendela harus di kunci agar musuh nggak mudah kabur." ujar Lisa sambil melangkah dan menutup pintu balkon. Naura dan Wisnu saling berpandangan sambil menahan tawa. Untung setelah itu Lisa tak bertanya lagi.
*********
Hari Wisuda pun tiba. Naura menggunakan kebaya berwarna merah, demikian juga Lisa dan Wisnu menggunakan batik yang sama dengan bagian bawah kebaya Naura.
Mereka bertiga berangkat ke gedung tempat pelaksanaan Wisuda bersama. Lisa bahkan meminta agar rambutnya di sanggul seperti Naura.
Ada 5 orang wisudawan yang mendapat predikat cum laude termasuk juga Naura. Wisnu dan Lisa yang duduk di bagian depan merasa bangga melihat wanita yang mereka kasihi itu mendapatkan pujian.
Gading dan Jeslin juga hadir. Keduanya kompak menggunakan baju batik couple. Sepanjang acara, Gading sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya dari Jeslin. Keduanya terlihat romantis dan manis membuat iri yang melihatnya. Teman-teman Jeslin terkejut saat melihat Jeslin sudah mendapatkan pacar baru setelah ditinggal Yuda menikah.
selesai acara Wisuda, mereka pun mengadakan acara foto bersama. Wisnu sengaja menyewa tukang foto khusus agar tak perlu antri dengan tukang foto yang disiapkan oleh pihak panitia.
"Bunda sama ayah foto sendiri dulu. Buat yang besar supaya bisa di taruh di rumah yang ada di desa." kata Lisa.
Naura mengangguk setuju. Jadilah mereka.foto bersama. Naura, Wisnu dan Lisa. Kemudian Naura dan Wisnu.
Jeslin menatap sahabatnya itu dengan wajah gembira. "Akhirnya, Naura menemukan kebahagiaannya. Aku yakin kalau sahabatku itu sudah mencintai juragan. Hanya saja ia gengsi untuk mengakuinya."
"Ya. Aku juga tak pernah melihat tuan Wisnu sebahagia ini sepanjang hidupnya setelah kematian nyonya Dina. Selama ini aku pikir kalau hati tuan Wisnu sudah membeku. Ternyata nyonya Naura bisa mencairkannya kembali." kata Gading.
"Naura memang istimewa."
"Kau juga istimewa."
Jeslin menatap Gading. "Aku istimewa? Aku bahkan tidak virgin...."
"Ssst....!" Gading meletakan telunjuknya di bibir Jeslin. "Jangan rendahkan dirimu. Karena bagiku, apapun masa lalumu, kau adalah anugerah terindah dalam hidupku."
Jeslin berusaha menahan air matanya namun ia tak bisa. Air bening itu sudah terkanjur membasahi pipinya.
"Hei paman, kenapa membuat bibi menangis? Aku akan memukul paman." Lisa menatap Gading dengan tatapan tajam.
Ah, Lisa...., jangan bilang kalau kamu sudah tertular bar-bar nya Naura. Guman Gading dalam hati.
***********
__ADS_1
Duh, bentar lagi tamat nih..
Ada yang setuju???