
Saat tahu kalau Naura sudah kembali dari kota, para pekerja dan beberapa pemuda yang sangat dekat dengan Naura datang mengunjungi Naura ke rumah bukit. Mereka sangat senang karena Naura sudah sembuh dan kembali lagi di desa.
"Kami pikir nyonya Naura akan menetap di kota. Kami jadi sedih memikirkannya." kata salah salah ibu-ibu yang bekerja sebagai pemetik dauh teh.
"Iya. Alhamdulillah kalau nyonya masih mau tinggal di sini. Semoga Allah menggantikan anak yang hilang itu dengan anak-anak yang lain, yang nantinya akan ada di rahim nyonya Naura. Mereka akan menjadi anak yang Soleh dan Soleha."
"Amin.....amin....."
Wisnu yang mendengarnya menjadi haru dan bangga. Ia tak menyangka kalau Naura akan disukai oleh banyak penduduk desa. Pada hal sikap Naura selama ini padanya kadang judes dan agak kasar.
Hari itu, Wisnu meminta semua pelayan yang ada di rumahnya untuk membuat makanan yang akan dinikmati oleh seluruh pekerjanya sebagai tanda syukur karena Naura boleh sembuh. Ia juga meminta tukang tenda untuk membuat tenda yang besar di depan rumah agar bisa menampung seluruh pekerja kebun dan ladangnya yang berjumlah ratusan orang.
Acara syukuran dilaksanakan jam 4 sore diawali dengan doa yang dipimpin imam masjid yang ada di desa. Setelah itu mereka pun makan bersama dengan hati yang gembira. Selama mereka mengenai keluarga Furkan dan juga keluarga Brahmantyo, yang adalah pemilik perkebunan yang sangat besar di desa ini, baru hari ini dilaksanakan acara makan bersama khusus para pekerja. Bahkan makanan sisa yang jumlahnya sangat minyak, diminta oleh Wisnu untuk dibungkus kan dan dibagi kepada seluruh pekerja yang ada.
Wina yang melihat semua itu segera melapor ke Regina.
*********
Ada senyum di wajah Wisnu saat ia membuka pintu kamar mandi dan melihat bahwa istri ketiganya itu sudah tertidur di atas ranjang mereka. Wisnu sebenarnya ingin agar Naura tidur di kamarnya yang ada di rumah utama. Namun akhirnya, Naura berhasil membujuk dia untuk berada di villa.
perempuan ini selalu berhasil merubah semua keputusan yang sudah aku buat. Apakah karena aku sudah mulai merasakan sesuatu yang khusus kepadanya?
Wisnu duduk di pinggir ranjang sambil menatap wajah Naura. Tangannya terulur lalu membelai wajah cantik istrinya itu.
Merasa tidurnya terganggu, perlahan Naura membuka matanya. "Juragan, ada apa?" tanya Naura dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Capek sampai jam segini sudah tidur?" tanya Wisnu tanpa melepaskan tangannya dari wajah istrinya itu.
"Aku makannya kebanyakan jadi deh cepat ngantuk. Memangnya sekarang sudah jam berapa?" Tanya Naura lalu perlahan bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Jam 9 malam."
Naura memegang perutnya yang masih terasa kenyang.
"Kenapa?"
"Aku masih kekenyangan. Perutnya terasa penuh."
Wisnu tersenyum. "Dulu, kalau aku kekenyangan dan susah untuk tidur, kakekku selalu mengajak aku jalan-jalan di sekitar rumah. Kau mau jalan-jalan malam ini?"
Naura berpikir sejenak lalu akhirnya ia mengangguk. Wisnu mengambil sebuah jaket dan dipakaikan nya pada Naura. Lalu keduanya keluar kamar bersama sambil bergandengan tangan.
Bulan purnama sedang bersinar dengan indahnya. Sinarnya yang menerpa air danau membuat suasana malam di dekat danau terlihat sangat indah.
Wisnu sama sekali tak melepaskan tangan Naura saat keduanya berjalan menyusuri sepanjang jalan di pinggir danau. Mereka bagaikan sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1
Walaupun Wisnu berpacaran dengan Dina cukup lama namun mereka jarang kencan di malam hari karena aturan di desa saat itu tak boleh ada anak muda yang kedapatan berduaan di luar rumah di atas jam 8 malam. Makanya Wisnu dan Dina lebih banyak kencan di sore hari dan mereka hanya pergi ke danau. Wisnu dan kedua istrinya yang pertama bahkan tak pernah berkencan dan langsung menikah. Sebenarnya dengan Naura pun begitu. Namun saat ini keduanya seakan menikmati saat-saat berdua seperti layaknya orang berkencan.
Setelah puas jalan-jalan, Wisnu mengajak Naura duduk di salah satu bangku beton yang menghadap ke danau.
"Ra, kamu suka dengan desa ini?"
"Sebenarnya nggak terlalu suka. Desa ini nggak ada mall, nggak ada diskotik, nggak ada pusat keramaian, nggak ada tempat makan favoritku. Namun apa daya, aku hanyalah istri ketiga yang harus taat pada suami." kata Naura dengan nada sesal seolah tak berdaya.
"Tapi penduduk di sini menyukai kamu."
"Untuk bisa kerasan di tempat ini, aku kan memang harus belajar mencintai apa saja yang ada."
Wisnu kembali memegang tangan Naura. "Kau ingin tinggal di kota?"
"Jika juragan ijinkan."
"Kalau aku tak ijinkan?"
Naura menoleh ke samping. Pandangan mata mereka bertemu. "Aku akan mencoba mencintai tempat ini. Walaupun rasanya agak sulit"Jawab Naura.
Wisnu memegang pipi Naura dan membelainya lembut. "Aku ingin membangun desa ini, Ra. Entah mengapa, aku selalu merasa senang jika ada di sini. Dan aku ingin kamu bersamaku."
"Kenapa nggak mengajak mba Regina dan mba Indira?"
"Mereka nggak mau di sini. Mereka lebih suka tinggal di kota." Lalu Wisnu menunduk dan mencium pipi Naura dengan sangat lembut. Ciuman itu kemudian bergeser ke bibir Naura. Untuk sesaat keduanya berciuman dibawa sinar bulan purnama. Begitu lamanya mereka berciuman sampai Naura tak menyadari bahwa Wisnu sudah mengangkat tubuhnya dan mendudukkan Naura di atas pangkuannya.
"Ju...ra....gan, nanti ada yang melihat." kata Naura saat ia merasakan kalau tangan Wisnu sudah menyentuh tempat favorit nya di tubuh Naura.
"Tak ada yang akan melihat kita." Kata Wisnu sambil mencium leher Naura.
"Ki..ta pindah ke kamar saja." kata Naura pelan sambil berusaha turun dari pangkuan Wisnu.
Wajah tampan Wisnu tersenyum. Ia menahan tangan Naura. "Naiklah ke punggungku. Kamu pasti sudah capek saat kita jalan-jalan tadi."
"Aku masih kuat."
"Untuk dua ronde?" tanya Wisnu dengan tatapan menggoda.
"Tiga pun aku masih sanggup."
"Benar?"
"Ayo kita lomba. Siapa yang lebih dulu tiba di villa maka ia bisa menentukan berapa banyak ronde kita akan bercinta malam ini."
"Ok. Siapa takut....!"
__ADS_1
Naura dan Wisnu sama-sama bersiap.
"Kita lari dalam hitungan tiga ya. Satu, dua, tiga...!" teriak Naura dan langsung melesat jauh meninggalkan Wisnu. Wisnu pun mengejar Naura dengan sekuat tenaga. Ia tak menyangka kalau istri kecilnya ini memiliki tenaga yang kuat dalam berlari.
Naura akhirnya sampai lebih dulu di depan Villa. Ia bersorak gembira sambil menatap Wisnu dengan tatapan mengejek.
"Ah...kau sangat kencang larinya. Seperti kijang saja." kata Wisnu saat sampai dengan napas yang terengah-engah.
Naura tertawa. Ia langsung melangkah masuk ke dalam villa untuk mengambil air minum bagi mereka.
Selesai minum, Wisnu menatap Naura. "Jadi, berapa ronde yang kau mau? Jangan hanya satu ya?" kata Wisnu dengan wajah memelas.
"Kita bisa empat ronde." Kata Naura pelan sambil menahan senyumnya.
"Sungguh?"
"Lima pun bisa, selama kau mampu, juragan." bisik Naura menggoda dan segera berlari ke dalam kamar. Wisnu menyusulnya dengan jantung yang berdetak cepat karena bahagia.
************
Hari ini adalah hari bebas Wisnu yang terakhir. Besok adalah harinya Regina dan Wisnu sudah mengatakan kalau ia harus ke kota selama satu minggu untuk menemani Regina. Namun Wisnu juga berjanji kalau ia akan datang ke desa setiap hari dan nanti sore kembali ke kota.
"Juragan, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Naura saat melihat Wisnu yang baru datang dari ladang.
"Boleh. Ada apa?" tanya Wisnu sambil menarik tangan Naura sehingga Naura duduk menyamping di pangkuannya.
Wisnu selalu suka dengan aroma Naura setiap kali ia selesai mandi. Semalam mereka tak bercinta karena Naura tertidur lebih awal dan Wisnu tak mau mengganggunya. Dan sore ini, saat Naura datang menemuinya saat ia baru selesai mandi, Wisnu sudah tak tahan ingin memeluknya.
"Rumah juragan yang ada di perkampungan kan halamannya sangat luas, boleh kak di bagian halaman yang tak ada tanamannya aku membuat taman bermain untuk anak-anak para pekerja? Aku kasihan melihat mereka bermain di dekat persawahan yang baru selesai di panen. Kadang mereka harus terluka. Aku ingin membuat beberapa fasilitas permainan dan sebuah pendopo yang besar sehingga setiap hari minggu, kita bisa memberikan mereka makan tambahan yang bergizi."
"Boleh. Berapa dana yang kau butuhkan?"
"Juragan, uang bulanan ku yang juragan berikan sangat banyak. Aku pikir itu bisa membangun fasilitas untuk bermain seperti lapangan sepak bola, ayunan, luncuran dan beberapa mainan lainnya."
Wisnu mencium pipi Naura. "Kau sangat baik hati, sayang. Kau lakukan apa saja yang kau inginkan dengan halaman rumah itu, jika kau membutuhkan dana tambahan, jangan segan untuk memintanya padaku."
"Terima kasih." kata Naura lalu mengecup bibir Wisnu dengan sangat lembut. Lalu ia turun dari pangkuan Wisnu.
"Mandilah. Aku akan membuatkan kopi untuk juragan." Kata Naura lalu sedikit berlari ia menuju ke dapur. Ia dapat membaca pancaran mata Wisnu yang bergairah padanya.
Namun Naura tak akan memberikannya sekarang, ia akan menghindar dulu lalu menggoda Wisnu di saat giliran Regina tiba.
Tunggulah mba, aku akan merebut malam giliran mu.
********
__ADS_1
maaf emak baru up karena hari Minggu biasanya emak nggak.
Emak baru pulang liburan.