Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Mencoba Bertahan


__ADS_3

Usia 20 tahun, Naura seharusnya sedang menikmati indahnya masa mudah, apalagi dia salah satu mahasiswa yang sangat berprestasi walaupun terkenal cukup bandel.


Cita-cita Naura sederhana saja. Ingin menyelesaikan kuliahnya, menjadi wanita karir dan menikah dengan pria yang mencintainya dan juga dicintainya. Sekalipun Naura dibesarkan dengan limpahan kasih sayang dan harta kekayaan namun Naura tak pernah bermimpi memiliki suami seorang konglomerat. Karena kakeknya sendiri selalu mengajarkan kalau harta kekayaan hanya titipan. Tak akan pernah dibawa mati apalagi menambah amal.


Dan kini, karena suatu janji, Naura harus menjadi istri Wisnu, harus masuk dalam kehidupan pernikahan yang sama sekali tak diinginkannya, apalagi menjadi istri ketiga. Belum lagi kenyataan tentang masa lalu dirinya yang baru saja ia ketahui. Naura yang masih labil itu menjadi resah, bingung, ingin rasanya membebaskan diri dan menemukan lagi indahnya masa muda seperti yang ia alami sebelum masuk dalam kehidupan pernikahannya.


Naura kini berdiri di depan danau. Memandang indahnya air danau yang disinari sinar rembulan. Ia tahu dengan sikapnya yang seakan tak peduli dengan Wisnu telah membuat pria itu sangat kecewa. Di sisi hatinya yang lain, Naura merasa kalau ia sudah sangat berdosa karena kesannya tak peduli dengan Wisnu. Bagaimana pun ketika Naura sakit beberapa waktu yang lalu, Wisnu selalu setia mendampinginya, merawatnya dan memperhatikan semua kebutuhannya. Namun Naura tak ingin Wisnu akhirnya bergantung pada perhatiannya, bukankah ia sudah minta cerai?


"Nyonya.....!"


Naura menoleh. Ia kaget melihat Kumala ada di sana. "Bibi? Apa yang bibi lakukan di sini malam-malam?"


Kumala mendekat. "Bibi nggak bisa tenang saat Aisa mengatakan kalau kamu sudah tahu yang sebenarnya. Bibi takut kalau kamu akan membenci bibi. Ayahmu orang baik. Kami tak pernah berhubungan lagi semenjak ia menikahi ibumu. Dina pun tak pernah tahu kalau ayahnya..."


"Ibu.....!" Naura tiba-tiba saja memeluk Kumala dan membuat wanita itu terkejut.


"Nyo...."


"Jangan panggil aku nyonya! Ibu tahu kalau akau dilahirkan oleh ibu walaupun dari benih papa Adrian dan mama Aura. Kenapa ibu tak mau berterus terang padaku? Aku sudah lama kehilangan kasih sayang orang tua kandung. Tuhan sangat baik dengan memberikan aku orang tua kandung yang lain."


Hati Kumala menjadi hangat mendengar perkataan Naura. Ia tak menduga kalau Naura akan menerimanya. Ia tadi sempat ketakutan membayangkan Naura akan membencinya.


Akhirnya kedua wanita berbeda generasi itu menangis dalam keharuan sambil terus berpelukan. Kedua bodyguard yang melihat itu dari jauh, Gayatri dan juga Gading yang ada di sana, ikut terharu. Gayatri bahkan menitikan air mata. Ia yang selama ini sudah menganggap ibu Kumala seperti ibunya juga dapat merasakan kebahagiaan yang kini ibu Kumala rasakan. Walaupun sebenarnya Gayatri masih bingung dengan istilah rahim pengganti, namun ia tahu kalau ibu Kumala kini adalah ibunya nyonya ketiga.


**********


"Kau tak pergi ke rumah sakit?" tanya Kumala saat ia dan Naura sudah duduk di ruang tamu villa.


Naura yang sedang berbaring di pangkuan Kumala menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Aku mau bercerai dari juragan Wisnu."


"Kenapa, nak?"


"Aku nggak mau Regina dan Indira akan menjadi penjahat karena aku."


"Kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya pada Wisnu bahwa mereka yang menyebabkan mu keguguran."


"Ibu tahu?"


"Aisa juga tahu. Ia mendengar percakapan mereka ketika kau juga mendengarkan itu pada waktu yang sama."


"Aku hanya ingin juragan mengetahuinya sendiri bukan dari mulutku. Aku hanya istri ketiga. Perkataan ku nanti dianggap sebagai bentuk iri hati pada istri pertama dan kedua."


"Nak, apakah kau tak mencintai Wisnu?"


"Aku mencintai dokter Satria. Dia adalah cinta pertamaku. Namun aku tahu, jalanku untuk bersamanya sudah tertutup. Bahkan kalau aku sudah resmi bercerai dari juragan pun aku tak mungkin bersamanya. Ia harus mendapatkan gadis yang lebih baik, lebih cantik dan tentu saja bukan bekas laki-laki lain seperti aku."


Kumala membelai rambut anaknya. Ia sebenarnya ingin memberikan banyak nasehat pada Naura. Namun ia belum ingin melakukannya sekarang. Mereka baru saja kembali bersama. Kumala tak ingin merusak kesan baik diantara mereka.


***********


Keesokan harinya, Wisnu memaksakan diri untuk pulang walaupun ia merasa masih sedikit lemah. Sesampai di rumah, ketika Regina dan Indira sudah turun, Wisnu meminta Gading mengantarnya ke villa. Gading menggunakan kesempatan itu untuk menceritakan tentang Kumala dan Naura yang sudah saling terbuka. Kumala bahkan menginap di villa bersama dengan Gayatri dan mereka sudah kembali ke rumah Kumala pagi-pagi sekali.


Wisnu ikut bahagia mendengarnya. Ia berharap Kumala akan menasehati Naura untuk membuang keinginannya bercerai dari Wisnu.


Ketika Wisnu masuk di dalam Villa, Naura sedang menelepon seseorang. Perempuan itu hanya sekilas menatap ke arah Wisnu lalu kembali konsentrasi dengan panggilan teleponnya.


Hampir 15 menit Wisnu menunggu. Dari gaya bicaranya, nampak Naura sedang berbincang dengan Jeslin. Soalnya cara panggilannya "elo-gue"

__ADS_1


Naura kemudian menatap Wisnu yang sedang duduk di atas sofa. Wajah tampannya terlihat masih sedikit pucat. Ada lingkar hitam di bawa matanya sebagai tanda bahwa ia tak mendapatkan tidur yang nyenyak selama ada di rumah sakit.


"Juragan masih pucat. Kenapa sudah memaksakan diri untuk pulang?" tanya Naura lalu duduk di hadapan Wisnu.


"Aku merindukanmu." Kata Wisnu sambil menatap Naura dengan pancaran mata yang penuh kerinduan. Ingin rasanya ia memeluk Naura dan tidur di pangkuan istrinya itu.


Hati Naura bergetar mendengar kata rindu itu. Namun ekspresinya wajahnya terlihat biasa saja.


"Jangan merindukanku. Karena kita akan terbiasa saling berjauhan."


Hati Wisnu sakit mendengarnya. "Haruskah kita berpisah, Ra? Aku baru saja menemukan rasa cinta yang baru bersama denganmu, haruskah aku kehilangan lagi? Jika kau pergi maka seumur hidupku, aku tak akan pernah memiliki cinta sejati lagi." Wisnu beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Naura. Ia berlutut di hadapan Naura dan memegang kedua tangan Naura dengan kuat. "Jangan tinggalkan aku, Ra. Aku hanya mau dirimu. Ijinkan aku membuktikan padamu kalau aku sungguh-sungguh mencintai mu. Bahwa aku tak ingin menjadikanmu sebagai bayang-bayang Dina. Aku berjanji tak akan pernah menyentuh Regina atau Naura. Hanya kamu wanita yang akan ku sentuh."


"Tapi....."


"Aku mohon!"


"Aku tak mencintaimu, juragan!"


"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan menghapus semua bayangan Satria dari dalam hatimu."


"Percuma saja kalau aku tetap menjadi istri ketiga."


"Aku sedang menyelidiki kehidupan Regina. Aku merasa kalau Regina selingkuh di belakangku. Itu akan menjadi alasan kuat bagiku untuk menceraikan dia. Begitu juga dengan Indira. Aku akan mencari alasan yang tepat untuk menceraikannya. Bagaimana pun mereka berdua ada dalam kehidupanku karena rasa bakti ku pada kakak dan ibuku. Karena itu aku harus punya alasan yang mendasar untuk menceraikan mereka." Wisnu menyentuh wajah Naura. "Aku ingin terus menjagamu. Jika kita berpisah, maka aku tak punya kewajiban untuk menjagamu lagi. Aku harus tahu siapa selama ini yang berusaha menculik mu sampai 2 kali. Aku ingin mereka di penjara."


Naura merasa hatinya galau. Ia ingat bagaimana keinginannya untuk membalas dendam pada Regina dan Indira yang telah menyebabkan nya keguguran.


"Baiklah! Asal mulai saat ini mas jangan tidur di kamar Regina maupun Indira. Karena aku tak mau berbagi."


Wisnu bernapas lega. Ia langsung memeluk Naura dengan hati yang bahagia.


"Terima kasih, sayang." Kata Wisnu lalu mencium dahi istrinya itu.


Naura hanya tersenyum walaupun ia bingung dengan keputusannya untuk membiarkan Wisnu tetap ada di sisinya.


**********


"Juragan mau makan siang berdua dengan nyonya Naura di villa." Kata Aisa.


"Makan dengan Naura? Lalu kami dianggap apa? Mengapa selalu harus Naura?" Regina nampak emosi.


"Mungkin karena juragan masih lemah makanya nggak mau naik ke atas." Kata Aisa.


"Diam Aisa! Aku tak meminta pendapat darimu!" kata Regina dengan emosi yang mulai tak terkendali.


"Sabar, mba. Ayo kita makan saja. Bi Aisa, tolong buatkan teh hijau untuk aku ya?" Ujar Indira sambil menepuk lembut pundak Regina yang ada di sampingnya.


Keduanya pun makan bersama. Setelah itu Regina segera menghubungi Reno.


"Hallo Reno, apakah kamu ada waktu malam ini?" tanya Regina.


"Tentu saja, sayang. Selesai praktek, kita akan ketemu di hotel mana?" tanya Reno nampak senang dari nada suaranya.


"Kita jangan ketemu di hotel. Aku akan ke apartemen mu saja. Jam berapa kau selesai praktek?"


"Jam 8 malam. Kita ketemu jam 9 di apartemen Ku. Jika kau lebih dulu sampai, kau sudah tahu kodenya kan?"


"Ok." Ujar Regina lalu mematikan ponselnya. Pikirannya kacau saat ini. Wisnu rasanya terlalu jauh untuk dia peluk lagi. Regina butuh pelampiasan. Walaupun ia tak mencintai Reno, namun lelaki itu mampu memenuhi kebutuhan batinnya. Dan Reno sangat memanjakan Regina. Sangat lembut saat mereka bercinta. Regina bertekad tak akan pernah melepaskan Reno namun dia juga tak ingin bercerai dari Wisnu. Karena lelaki itu adalah sumber kekayaannya. Wisnu sangat loyal padanya apalagi menyangkut kebutuhan Lisa.


"Mba mau pulang?" tanya Indira melihat Regina yang sudah memegang kunci mobilnya.

__ADS_1


"Iya. Aku mau ke kota. Lisa sendirian. Dan kamu?"


"Aku juga harus ke kota untuk mengurus butik ku. Ada sedikit masalah di butik yang baru. Namun aku akan balik lagi karena besok adalah giliran ku untuk bersama mas." Kata Indira.


"Semoga saja kau boleh tidur dengan mas. Karena mas sepertinya tidak menginginkan aku lagi."


"Naura itu pasti memiliki ilmu pelet. Masa setelah menikah dengan Naura, mas jadi bertambah dingin dengan kita. Aku akan mencari dukun yang hebat untuk mematahkan sihirnya Naura. Dasar pelakor!" Indira berguman dengan nada geram.


"Ya. Kita cari dukun yang hebat agar Naura dan mas saling membenci."


Indira membisikan sesuatu. "Bagaimana menurut mba?"


"Apakah menurutmu kali ini usaha Hartono akan berhasil?"


"Katanya begitu. Soalnya kalau saling culik menculik, Naura tangguh. Kita akan gunakan sesuatu yang berhubungan dengan kelemahannya."


Regina tersenyum licik. "Dan mas Wisnu paling nggak suka ada orang yang membohonginya. Ya sudah aku mau pulang dulu. Kau akan pergi sekarang?"


"Aku ada janji dengan Hartono. Walaupun dia sudah agak tua dan nggak setampan mas Wisnu namun dia sangat hebat dalam masalah ranjang." kata Indira setengah berbisik lalu segera menuju ke mobilnya.


********


Naura menatap jadwal ujian skripsi yang sudah keluar. 1 Minggu lagi maka ia akan ujian. Naura sendiri sudah tak sabar untuk segera menyelesaikan kuliahnya.


Wisnu yang baru bangun dari tidur sorenya, tersenyum menatap Naura yang sedang duduk di depan meja belajarnya. Perlahan Wisnu turun dari tempat tidur dan mendekati Naura. Ia memeluk istrinya itu dari belakang dan mencium puncak kepala Naura.


"Kau belajar terus tanpa beristirahat." Kata Wisnu sambil terus memeluk Naura.


"Ujiannya sudah minggu depan. Jadi aku mau serius belajar. Aku nggak mau lulus dengan nilai yang pas-pasan."


"Kau memang pintar. Jika ujian nanti, aku boleh kan mengikutinya?"


Naura mengangguk.


Ponsel Wisnu berbunyi. Ternyata dari Gading.


"Hallo Gading, ada apa?"


"Nyonya pertama dan nyonya kedua sudah kembali ke kota."


"Baguslah."


"Penyidik dari kepolisian juga menelepon. Salah satu penjahat yang selamat, kini sudah sadarkan diri. Dan polisi berhasil mendapatkan nama orang yang menyewa mereka."


"Lalu siapa?"


"Japri."


"Siapa Japri?"


"Asistennya kepala desa."


Rahang Wisnu mengeras. Pandangan matanya menggelap karena emosi yang langsung memuncak.


"Ada apa, juragan?" tanya Naura sambil berdiri dan menatap Wisnu. Ia tak pernah melihat wajah Wisnu terlihat begitu menakutkan seperti saat ini. Naura bisa merasakan kalau ia melihat sisi gelap Wisnu yang ternyata sangat menyeramkan.


*************


Jangan merasa kasus ini terlihat lambat ya....

__ADS_1


coba baca alurnya baik-baik. Kalian pasti bisa menemukan kalau cerita beberapa episode ini belumlah bergeser satu minggu. Makanya jangan komen kalau penyelesaian kasus penculikan Naura kesannya lama. Karena emak selalu menyampaikan waktunya secara detail.


Happy reading guys


__ADS_2