
Hari ini, akan dilaksanakan doa dan syukuran karena taman bermain sudah selesai. Sejak pagi para ibu-ibu yang biasa bekerja di ladang, sudah menyiapkan makanan yang nanti akan dimakan seluruh penduduk desa selesai doa.
Naura hanya sesekali melihat persiapan itu dari atas balkon kamar karena ia sendiri harus menjauh dari bau makanan yang membuatnya muntah.
Atas perintah Wisnu, telah dibuat tenda yang sangat besar di depan rumahnya. Ini juga sekalian dengan syukuran karena Naura hamil anak kembar.
Gading dan Jeslin pun datang bersama sejak kemarin. Jeslin akhirnya yang menggantikan tugas Naura untuk membantu para ibu mengatur semuanya sesuai dengan keinginan sang nyonya rumah karena Wisnu juga tak mengijinkan Naura untuk keluar kamar sebelum semua persiapan selesai.
"Sayang, sudah makan siang?" tanya Wisnu yang baru masuk kamar.
"Belum, mas. Aku nungguin kamu." kata Naura dan langsung memeluk Wisnu. Wajah pria itu jadi senang. Ia suka dengan sikap manja Naura. Semenjak hamil Naura memang berubah manja padanya.
"Memangnya nggak lapar?" tanya Wisnu lalu mencium kepala Naura.
"Lapar sih. Tapi maunya ditemani sama mas Wisnu." Naura melepaskan pelukannya. Keduanya saling bertatapan mesra. Wisnu menunduk dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Ayo kita ke dapur!" ajak Wisnu.
"Aku nggak suka bau makanan, mas. Makannya di balkon kamar saja ya?"
Wisnu mengangguk. "Kamu mau makan apa?"
"Makan apa saja. Asal ada rasa pedas nya. Hamil membuat aku suka dengan makanan pedas."
Wisnu menunduk dan mencium perut Naura. "Tunggu sebentar ya anak, ayah." Lalu ia segera meninggalkan kamar dan menuju ke dapur untuk mengambil makan siang bagi dirinya dan Naura.
**********
Acara pengajian dan doa bersama di gelar di sore hari. Semua penduduk desa datang untuk menyaksikan pembukaan taman bermain untuk anak-anak.
Naura akhirnya bisa keluar kamar. Dengan menggunakan baju gamis berwarna putih, Naura ikut bergabung dengan para ibu, demikian juga dengan Jeslin. Lisa juga ikut duduk di samping Naura. Gadis kecil itu terlihat bahagia. Semua yang hadir bangga melihat Naura dan Lisa nampak seperti ibu kandung dan anaknya karena menggunakan gaun yang sama.
Para penduduk desa yang hadir pun saling berbisik. Kehamilan telah membawa banyak perubahan pada Naura. Ia terlihat semakin cantik dan ayu.
Selesai acara baca doa, dilanjutkan dengan tausiyah dari pak ustadz, acara peresmian taman bermain itu pun dilakukan. Wisnu pun memberikan pidato singkatnya.
"Alhamdulillah, akhirnya taman ini boleh selesai. Ide ini datang dari istri ku tercinta, Naura. Ia merasa kasihan melihat anak-anak yang selalu bermain di lapangan atau di ladang dengan fasilitas seadanya. Makanya ia meminta agar dibuatkan taman bermain. Ada lapangan bola kaki mini, ada lapangan bulutangkis dan beberapa arena bermain seperti ayunan, komedi putar, seluncuran dan lain sebagainya. Taman ini di buka hanya setiap hari Sabtu dan Minggu, atau ada tanggal merah lainnya. Supaya anak-anak dapat sekolah dan belajar mengaji sore harinya. Setiap Sabtu sore ada pemberian makanan bergizi. Terima kasih istriku dan juga anakku, Lisa. Terima kasih juga untuk seluruh penduduk desa yang hadir saat ini." Wisnu pun menggunting pita yang ada.
Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Sebagian anak-anak nampak tak sabar dan segera mencoba segala macam jenis permainan.
"Nyonya, ayo kita main bola." ajak salah satu anak yang bernama Bagas.
"Bagas sayang, untuk sementara aku nggak bisa main bola. Ada Ade bayi di perutku. Aku harus menjaga nya. Tunggu 9 bulan lagi ya?"
__ADS_1
Wisnu tertawa mendengar perkataan istrinya. Ia tak mengira kalau istrinya ini akan tetap menyukai sepak bola saat sudah menjadi ibu.
*********
Jeslin naik ke atas tempat tidur dan ikut bergabung dengan Gading. Ia membaringkan kepalanya di dada sang suami dan Gading langsung membelai kepalanya.
Mereka sekarang ada di kamar yang biasa Gading tempati saat berada di rumah Wisnu.
"Mas, aku suka berada di sini. Udaranya sejuk. Aku suka danaunya, suka dengan pemandangannya, dan tentu saja aku suka dengan pekerjaanmu di sini."
Gading tersenyum. "Kalau begitu, aku meminta tuan Wisnu agar jangan memindahkan ku ke kota. Supaya kita akan punya banyak waktu di desa. Soalnya kemarin tuan Wisnu mengatakan bahwa akan memberikan semua tanggungjawab di perusahaan dan pabrik kepadaku karena beliau ingin menghabiskan banyak waktu di desa ini."
"Terserah mas sajalah. Aku akan ikut kemana mas akan membawa aku. Ke kota atau di desa, asalkan aku bisa melihat mas setiap saat, aku sudah bahagia."
Sebuah kecupan manis Gading berikan di pipi istrinya. "Aku suka pipi mu kelihatan cabi. Sepertinya kamu naik badannya ya?"
Jeslin mengangguk dalam dekapan Gading. "Kita baru sebulan lebih menikah dan berat badanku naik hampir 3 kg. Awas ya kalau aku jadi gemuk lalu mas melirik wanita lain."
Gading terkekeh. "Nggaklah, sayang. Kau mau segemuk apapun, aku tetap cinta. Aku akan berpaling justru kalau kau menjadi semakin kurus."
Jeslin mengangkat kepalanya dan menatap suaminya. "Mengapa?"
"Kalau kamu terlalu kurus, itu memalukan aku, sayang. Nanti orang mengira kalau aku nggak bisa membahagiakan kamu."
Jeslin tersenyum. Ia mendekat, lalu mengecup bibir suaminya. "Kamulah sumber kebahagiaanku." Lalu ia kembali mencium bibir Gading.
"Otong?"
"Tuh....!" Gading menunjuk bagian inti tubuhnya dengan dagunya. Jeslin jadi tertawa.
"Bagaimana kalau aku ingin membuat Otong senang malam ini?" tanya Jeslin sambil duduk dan mulai menarik tali gaun tidurnya.
"Boleh. Asal jangan terlalu berisik. Kamarnya nggak kedap suara."
"Aku nggak janji. Soalnya mas pintar membuat aku berteriak...!"
Gantian Gading yang tertawa. "Kalau begitu aku putar TV aja." Gading meraih remote Tab yang ada di atas nakas dan menyalahkan TV dengan suara yang keras.
"Ide yang nggak terlalu baik namun cukup membantu." Kata Jeslin lalu menurunkan gaun tidurnya.
30 menit kemudian......
Bi Saima baru saja mengantarkan susu ke kamar Lisa. Kini anak itu sudah tertidur. Ia memang agak lama ada di kamar Lisa karena menunggu gadis kecil itu tertidur. Kamar Lisa hanya berbeda satu ruangan kamar Gading. Saat ia melewati kamar Gading, ia terkejut mendengar ada suara TV yang kuat. Agak aneh juga sebenarnya karena selama ini Gading tak pernah putar TV dengan suara yang keras.
__ADS_1
Nonton acara apa? kok ada suara-suara aneh kayak gitu? Apa jangan-jangan nonton film xxx gitu?
Saima hanya tertawa. Ia tahu Gading dan istrinya masih pengantin baru. Pastilah sedang hangat-hangatnya. Apalagi Gading sudah terlalu lama menjomblo.
**********
Di kamar atas, Naura dan Wisnu pun baru saja selesai dengan aktifitas malam panas mereka. Ini adalah percintaan mereka yang pertama sejak pulang dari Turki. Wisnu harus menahan hasratnya selama ini karena tak tega membangunkan Naura yang sering kelelahan karena kebanyakan muntah dan mual.
Naura masih asyik berbaring di dada Wisnu sambil jari-hari tangannya bergerak di dada berbulu suaminya.
"Mas, tadi aku lihat bicara serius dengan pak Sekdes. Ada masalah ya?" tanya Naura.
"Nggak. Pak Sekdes hanya menyampaikan keinginan penduduk desa. Kan sebentar lagi akan ada pemilihan kepala desa yang baru. Mereka nggak ingin ada calon lain selain aku."
"Terus jawaban mas, apa?"
"Aku masih mau pikir-pikir dulu. Hubungan kita baru saja membaik, aku juga punya proyek kerja yang besar. Di samping itu aku ingin punya banyak waktu untuk bisa bersamamu dan anak-anak kita. Aku nggak mau kamu merasa terabaikan, sayang."
Naura membalikan badannya. Ia tidur tengkurap, masih di dada suaminya. Pandangan mereka bertemu. "Mas, kalau memang itu keinginan penduduk desa, berarti itu kepercayaan yang mereka berikan untuk mas Wisnu."
"Kamu mau mendukung aku?"
Naura tersenyum. "Apapun keputusan mas, aku akan tetap berdiri di samping mas Wisnu. Mas adalah hidupku."
Wisnu memegang pipi Naura. "Terima kasih, sayang. Biarkan aku pikirkan dulu ya?"
"Iya." Naura kembali membaringkan kepalanya di dada Wisnu. Membuat gerakan-gerakan abstrak di atas dada sang suami.
"Ra....!" panggil Wisnu dengan suara yang agak serak.
"Ada apa, mas?"
"Jadi kepingin lagi, nih. Boleh nggak? Kamu rasa mual atau kepingin muntah?"
"Nggak." Naura bangun dan duduk menghadap suaminya. "Kayaknya aku tahu apa obat yang membuatku nggak merasa mual atau muntah lagi."
"Apa?"
"Bibir mas. Rasanya manis." kata Naura sambil mengedipkan matanya nakal.
Wisnu tertawa. Ia menarik Naura dan memeluknya erat. "Kamu nakal. Tapi aku suka." bisik Wisnu lalu kembali membawa istrinya itu dalam balutan hasrat yang tak terbantahkan.
**********
__ADS_1
Duh.....manis2 begini enaknya dibuat apa ya??
jangan lupa dukung emak ya.....