Menjadi Istri Ketiga Juragan

Menjadi Istri Ketiga Juragan
Istri Kesayangan


__ADS_3

Napas Wisnu belum juga stabil saat Naura bergerak turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Wisnu.


"Aku mau ke kamar mandi. Perutku tiba-tiba saja tak enak." Kata Naura sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai dan memakainya kembali secara cepat karena mata suaminya tak berkedip memandangnya.


Wisnu tersenyum melihat Naura yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia membaringkan tubuhnya kembali sambil mengingat bagaimana percintaan mereka sangat panas hari ini. Naura sangat aktif selama mereka bercinta. Ia bahkan dengan berani menyentuh bagian tubuh Wisnu yang paling sensitif. Dan yang lebih membuat Wisnu semakin bergairah adalah saat di ronde kedua, istrinya itu yang mendominasi permainan mereka. Ia berada di atas Wisnu dan menggerakkan tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang walaupun terlihat amatir namun membuat Wisnu merasakan sensasi yang luar biasa sehingga Wisnu mendapatkan pelepasan yang sangat luar biasa.


Ada apa dengan Naura? Apakah karena 4 hari Wisnu tak menyentuh nya sehingga Naura menjadi begitu agresif?


Pintu kamar mandi terbuka, Naura keluar sambil memakai jubah mandi.


"Jurahan, bagaimana aku bisa tidur di sini sedangkan pakaianku semuanya ada di villa."


Wisnu turun dari tempat tidur. Ia mengenakan celana boxer nya kembali lalu membuka lemari pakaiannya.


"Aku sudah meminta Bi Aisa untuk membawa beberapa potong pakaian mu."


Naura mengambil sebuah gaun rumah berwarna biru (karena memang yang dibawa bi Aisa semuanya gaun). Tanpa merasa malu lagi, ia berganti pakaian di hadapan Wisnu lalu duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.


Wisnu memperhatikan semua yang dilakukan oleh istrinya itu sambil tersenyum. Mungkin hanya pandangannya saja atau karena hatinya yang saat ini sedang bahagia, yang pasti Naura terlihat semakin cantik. Wisnu tak dapat menahan dirinya lagi. Ia berjalan mendekati Naura, berdiri di belakang istrinya, lalu tangannya memegang bahu Naura dari belakang. Pandangan keduanya bertemu melalui pantulan cermin yang ada di depan meja rias.


"Ada apa?" tanya Naura sambil menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyisir rambutnya.


"Kamu cantik, sayang."


Naura berusaha menepis rasa hangat yang menjalar di dadanya saat Wisnu mengucapkan kalimat itu. Karena Naura tahu pasti bukan hanya kepadanya Wisnu mengucapkan kata-kata itu.


"Jangan merayuku, tak akan mempan. Mungkin itu biasa juragan lakukan untuk merayu mba Regina dan mba Indira."


"Aku tak pernah merayu mereka. Aku bahkan tak pernah memanggil mereka dengan sebutan sayang."


"Waw..., berarti aku ini istimewa dong...."


Wisnu menunduk lalu mencium puncak kepala Naura. "Kesayangan, mungkin."


Tawa Naura terdengar renyah. "Mungkin? Berarti juragan masih ragu kalau aku ini adalah kesayangan?"


"Bukan ragu. Hanya saja, aku takut jika kau tak akan merasa bahwa dirimu kesayangan."


"Kenapa?" Naura mendongak. Menatap Wisnu secara langsung.


"Karena kau tak menerima pernikahan poligami."


Naura kembali menatap Wisnu dari cermin yang ada di depannya. "Makanya, kita jangan libatkan perasaan, juragan. Karena jika hati sudah terlibat, maka semuanya akan menjadi tak terkendali. Cinta kadang posesif dan egois. Dan aku takut jika caraku mencintai akan seperti itu. Cinta yang posesif dan egois, tak akan cocok dibawa dalam pernikahan poligami."


Kata-kata Naura langsung menohok ke dalam hati Wisnu. Tangannya yang masih ada di bahu Naura, kini turun mengusap lengan Naura. "Kalau memang kau ingin mencintaiku, maka aku ijinkan cintamu seperti itu."


Naura tersenyum miring. "Dan jika juragan akhirnya mencintaiku juga, apakah cinta juragan akan posesif dan egois? Nggak mungkin kan? Jadi lupakan tentang perasaan." Naura berdiri, hendak pergi dari kamar namun Wisnu menahan tangannya dan memaksa gadis itu untuk berhadapan dengannya.


"Mau tahu yang kurasakan saat ini kepadamu?" tanya Wisnu sambil menangkup kedua sisi wajah Naura.


"Apa?" tanya Naura datar.


"Kau adalah kesayanganku. Melebihi dari apa yang kurasakan pada Regina dan Indira."


Naura mengecup bibir Wisnu dengan singkat. "Ayo kita makan. Aku lapar."

__ADS_1


"Aku ganti pakai baju dulu. Bi Aisa akan pingsan jika melihat aku hanya memakai boxer."


"Sesekali bibi lihat yang begini kan nggak apa-apa. Anggaplah juragan kasih bonus ke bibi yang sudah lama menjanda."


"Naura!" Wisnu melotot.


Tawa Naura terdengar membuat Wisnu kembali merasa gemas pada istri mudanya itu. Ia tak pernah seintim pada Regina dan Indira. Wisnu jarang sekali berkomunikasi ketika mereka selesai bercinta. Wisnu memilih untuk tidur bahkan tanpa memeluk mereka. Sangat berbeda saat bersama Naura. Wisnu selalu ingin memeluknya ketika mereka tidur bersama. Bahkan kini Wisnu meras, akhir-akhir ini, tidurnya tak nyenyak saat ia berada di kamar istrinya yang lain.


Selesai makan malam, bi Aisa permisi untuk kembali ke rumah bukit. Ia sengaja meninggalkan Wisnu dan Naura karena Bu Aisa tahu, Naura adalah wanita yang tepat untuk menjadi istri Wisnu.


Sementara itu, Naura setelah makan memilih untuk kembali ke kamar. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi dosen pembimbingnya, menanyakan tentang jadwal konsultasi yang kedua. Sementara Wisnu sedang berbicara sebentar dengan Gading di ruang tamu. Selesai berbicara dengan Gading, Wisnu segera ke kamar atas sedangkan Gading menuju ke kamarnya. Gading memang tidur di rumah ini jika ia ada di desa. Dan jika mereka ke kota, Gading akan menginap di rumahnya sendiri. Rumah besar yang dibangun dari hasil kerjanya sendiri sebagai asisten Wisnu selama bertahun-tahun. Sayangnya rumah itu sepi karena belum juga ada nyonya rumahnya.


Saat Wisnu masuk ke kamar, ia tak menemukan Naura. Namun ada suara dari balkon kamar. Di lihatnya Naura sedang menelepon seseorang dan Wisnu tertarik untuk menguping pembicaraan itu.


"Jadi anak-anak mau membeli seragam tari yang baru? Apa masih sempat? Kegiatannya kan sudah dekat. Oh...., ada seragam yang sudah jadi? Pesannya di mana? Oh, gitu ya? Nanti kita bicarakan besok deh. Ok bye...."


"Seragam menari untuk siapa?" tanya Wisnu sambil memeluk Naura dari belakang.


Naura membalikan tubuhnya dan tetap membiarkan tangan Wisnu melingkar di perutnya.


"Anak-anak gadis yang akan mengisi acara untuk ulang tahun desa. Tadi mereka meminta aku untuk bertanya pada juragan, apakah ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan di ladang agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli seragam menari yang baru. Uang mereka soalnya belum cukup."


"Memangnya berapa yang mereka butuhkan?"


"Masih 3 juta lagi. Ah, andai aku punya tabungan untuk membantu mereka."


Wisnu menyingkirkan anak-anak rambut Naura yang menutupi wajahnya kemudian menyisipkan di belakang telinga. "Tabunganmu lebih dari cukup untuk membantu mereka. Kemarin aku baru saja menambah saldo di rekening mu."


"Yang lalu kan masih banyak."


"Aku memberikannya sebagai kewajiban ku untuk menafkahi hidup istriku."


"Ya. Tapi tak sebanyak yang aku berikan padamu. Karena Regina dan Indira sudah memiliki penghasilan yang banyak melalui pekerjaan mereka masing-masing."


"Duh juragan, sungguh malang dirimu mendapatkan diriku. Aku pembangkang, suka memberontak, tak mencintaimu, pengangguran dan hanya bisa menghabiskan uangmu saja."


Wisnu tersenyum. Tangannya kembali membelai pipi Naura dengan lembut. "Aku tak perduli jika kamu pembangkang, pemberontak, pengangguran dan hanya bisa menghabiskan uangku saja. Aku orang kaya. Uang yang kuberikan padamu tak akan membuat tabunganku menjadi miring. Mungkin yang ku inginkan adalah kau belajar mencintaiku."


"Kenapa?" tanya Naura pelan, namun dengan suara yang bergetar karena wajah mereka menjadi begitu dekat.


"Supaya kau tak akan meminta cerai dariku."


"Memangnya kenapa kalau kita bercerai?"


Wisnu menunduk, menyatukan dahi mereka berdua. "Seperti yang kukatakan padamu, bahwa hanya dirimu yang bisa memberikan aku kepuasan yang tiada tara."


"Di ranjang?"


"Mungkin juga di hatiku." Lalu Wisnu menyentuh bibir Naura dengan bibirnya. Menyesap bibir tipis itu yang sudah menjadi candu baginya. Naura membalas ciuman Wisnu dengan sama lembutnya. Tangannya melingkar di leher Wisnu dengan kakinya yang sedikit berjinjit. Namun ia ingat sesuatu dan akhirnya melepaskan ciumannya.


"Ada apa?" tanya Wisnu kecewa. Ia kembali melingkarkan tangannya di bahu Naura


"Juragan, aku ikut latihan bersama mereka untuk menari di ulang tahun desa. Apakah boleh aku menari?"


"Memangnya kamu bisa menari? Kamu kan tomboy."


"Ihs..., jangan meragukan kemampuanku."

__ADS_1


"Aku ingin melihat kemampuan mu menari di hadapanku."


"Boleh."


"Tapi tanpa menggunakan ini." Kata Wisnu sambil menarik tali gaun tidur Naura.


"Kalau begitu aku tak akan menari di atas lantai."


"Kau akan menari di mana?" tanya Wisnu heran.


"Di atas ranjang." bisik Naura membuat mata Wisnu membulat namun dengan senyum yang berbinar oleh hasrat yang tiba-tiba muncul karena bisikan istrinya.


"Sekarang?"'Wisnu menelan salivanya.


Naura tersenyum menggoda. Ia mencium leher suaminya dengan sangat lembut. "Besok." Katanya lalu segera masuk ke dalam kamar sambil memperbaiki tali gaun tidirnya


"Naura....!" Wisnu mengeram kesal.


Naura tertawa. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan segera naik ke atas tempat tidur. Wisnu menyusulnya sambil menutup pintu balkon yang ada di belakangnya. Ia pun menyusul Naura untuk naik ke atas ranjang mereka. Istrinya itu sudah tidur miring dan memunggunginya. Tangan Wisnu melingkar di pinggang Naura dan menarik istrinya agar menempel padanya tanpa jarak. Wisnu suka tidur seperti ini. Ia dapat mengirup harum tubuh Naura. Ia tahu kalau istrinya itu lelah karena aktivitas mereka tadi sebelum makan malam. Sebenarnya Wisnu masih ingin menyentuh istrinya ini. Gairahnya masih belum reda juga. Namun ia memutuskan untuk tidur.


"Tidurlah, Ra! Aku tak sabar menunggu besok untuk melihat kau menari." kata Wisnu sambil memejamkan matanya. Naura pun tersenyum sambil terus mencoba memejamkan matanya. Ia sungguh lelah, tapi lelah yang sangat terpuaskan oleh sesuatu yang tak juga Naura mengerti.


*********


Selama 2 hari, Wisnu menemani Naura ke kota untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya sekaligus juga menyelesaikan beberapa pekerjaannya di sana. Wisnu juga akhirnya membelikan kostum menari untuk para gadis yang akan menari di ulang tahun desa.


Selama di kota, Naura dan Wisnu tinggal di rumah peninggalan orang tua Wisnu.


Pagi ini, setelah sarapan rencananya mereka akan kembali ke desa. Setelah mandi, seperti biasa Naura menyisir rambutnya. Matanya tertuju pada foto pernikahannya bersama Wisnu yang di gantung di kamar tidur Wisnu.


"Ada apa?" tanya Wisnu yang baru masuk ke kamar. Ia memilih mandi di kamar mandi yang lain karena jika mereka mandi bersama maka Wisnu pasti tak akan sekedar mandi saja di sana. Karena selama 2 hari di kota, Naura dan Wisnu tak bisa saling bersentuhan kulit sedikit saja. Keduanya akan saling menuntaskan hasrat. Wisnu merasa kalau mereka berdua sudah sedikit maniak atau apalah istilahnya.


"Di mana foto pernikahan juragan bersama mba Regina dan mba Indira?"


"Mungkin di rumah mereka masing-masing. Entahlah. Aku juga lupa apakah ada foto seukuran ini." Jawab Wisnu sambil memakai pakaiannya.


Naura menatap dengan seksama foto pernikahan itu. Ada tanggal pernikahan mereka yang tertulis di sana. Ternyata mereka menikah tanggal 1, bulan yang lalu.


"Sekarang tanggal berapa?" tanya Naura.


"Tanggal 14. Memangnya kenapa?"'


"Tanggal 14?" Naura terkejut.


"Ya. Ada apa?"


Naura diam. Ia duduk sambil mengingat bahwa ia mendapatkan tamu bulannya 3 hari setelah pernikahan mereka. Itu adalah tanggal 4. Berarti aku sudah terlambat haid selama kurang lebih 10 hari. Aku kan tidak pernah terlambat datang bulan.


"Ada apa, Ra?" tanya Wisnu sambil menyentuh bahu istrinya.


Naura menggeleng. Ia berusaha menepis sebuah jawaban yang muncul dalam hatinya. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. *Kalau ini benar, aku harus bagaimana?


**********


Bagaimana menurut kalian guys


jangan lupa like, komen, vote ya...

__ADS_1


biar emak semangat*


__ADS_2